Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 100


__ADS_3

setelah memastikan bayi itu telah diambil oleh si pemilik rumah, mereka bergerak untuk pulang karena tubuh mereka letih butuh istrahat.


mereka berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Vino mengantar Starla terlebih dahulu setelah itu ia akan pulang ke rumahnya. begitu pula dengan Bara yang akan mengantar pulang Nisda.


Adam dan El-Syakir pulang ke rumah Zidan, rumah sebagai tempat yang aman untuk mereka. bukan rumah utama Sanjaya grup, melainkan rumah yang biasa dijadikan markas untuk Zidan dan pengawalnya.


Furqon dan Ardi kembali ke apartemen, kedua pria itu akan ke rumah markas setelah esok hari karena mereka masih butuh istrahat yang cukup setelah kejadian yang mereka lalui.


rumah besar itu di jaga oleh beberapa pengawal. El-Syakir menekan klakson motornya dan pagar segera dibuka oleh pengawal.


"makasih pak" ucap El


El-Syakir langsung menjalankan kembali motornya karena pagar dan parkiran kendaraan masih sedikit jauh.


pengawal yang membuka pagar untuk El-Syakir sangat dibuat heran karena pasalnya tadi ia melihat El-Syakir sedang bersama Alana baru saja masuk ke dalam rumah, mereka baru pulang dari toko ayah Adnan. setelah itu ia tidak melihat lagi El-Syakir keluar rumah.


"kalau tuan muda keluar, lewat mana ya. perasaan kan dari tadi aku di sini" ucapnya menggaruk kepala


"kenapa kamu...?" tanya teman pengawal lainnya


"kamu liat kan tadi kalau tuan muda El dan nona Alana baru saja masuk ke dalam rumah...?"


"iya, terus...?"


"nah tadi pas aku buka pintu yang masuk pake motor kan tuan muda El. terus dia keluarnya lewat mana. kita kan dari tadi ada di sini"


"lewat belakang rumah kali, udah ah jangan banyak pikiran yang macam-macam. kita harus fokus berjaga jangan sampai musuh datang menyerang"


"masa iya sih" pengawal itu masih tidak percaya


El-Syakir dan Adam segera masuk ke dalam rumah. saat masuk iya berpapasan dengan Alana yang sedang duduk santai di ruang tengah.


"loh kak, bukannya tadi kakak di kamar. ini kok kakak dari luar...?" tanya Alana


El-Syakir mengernyitkan keningnya saat Alana bertanya seperti itu padanya. sejak kemarin dirinya tidak ada di rumah, bahkan bukan di alam mereka. lalu bagaimana bisa dirinya sekarang berada di dalam kamar.


"kakak kan memang dari luar" jawab El


"hah...?" Alana bengong


"kalau kakak keluar terus lewat mana. harusnya Lana liat dong karena Lana sejak tadi di sini" ucap Alana


El-Syakir menatap Adam dengan bingung, hantu itu hanya mengangkat bahu tidak tahu menahu.


"kakak lewat sini kok, kamunya aja yang nggak merhatiin kakak. sibuk main handphone sih"


"Lana nggak pegang handphone loh kak, Lana lagi baca ini" Alana menunjukkan buku novel di tangannya


"emmm... kakak masuk dulu ya. capek banget nih" El meninggalkan Alana yang menatap bingung punggung kakaknya


"mau kemana kak...?" tanya Alana


"kamar" jawab El


"kamar kita kan di lantai atas, ngapain masuk di kamar itu" ucap Alana


"hehehehe... lupa" El berbalik dan cengengesan


"hihihihihihi.... kamu lucu" Adam cekikikan melihat tingkah bodoh El


El-Syakir segera menaiki anak tangga satu persatu, sedang Alana hanya geleng-geleng kepala.


"aneh banget, sama kamar sendiri aja lupa" ucapnya


setelah dilantai atas El-Syakir bingung yang mana kamarnya. Adam memeriksa kamar satu persatu dan kemudian kembali menghampiri El.


"di situ" tunjuk Adam ke sebuah kamar


El segera masuk dan benar saja semua barang-barang miliknya telah tertata rapi di kamar itu.


namun El berteriak histeris ketika pintu kamar mandi terbuka dan sosok yang sangat mirip dengannya keluar dari kamar mandi.


"kyaaaaaaaa" El melompat ke punggung Adam


"aduh... sakit tau El" ucap Adam


"siapa lu...?" El melihat seseorang yang mirip dengannya itu sedang memakan odol


"lama sekali kamu datangnya. sekarang tugasku sudah selesai. aku pergi dulu" sosok itu menghilang begitu saja tanpa terlihat lagi


"sepertinya itu suruhan ratu Sundari untuk menggantikanmu selama kamu berada di alamnya" ucap Adam


El turun dari punggung Adam dan langsung membanting dirinya di kasur. tidak berapa lama suara dengkuran halus terdengar pertanda dirinya sudah terlelap tidur.


pagi harinya kamar El-Syakir di ketuk. El yang sudah siap dengan seragam sekolahnya membuka pintu dan terlihat Alana sedang berdiri di depan kamarnya.


"mau kemana kak, pakai seragam sekolah segala" tanya Alana


"sekolah lah, kemana lagi" jawab El


"buuahahahaha" Alana tertawa terbahak-bahak


"ada yang lucu kah...?" El bingung melihat adiknya itu tertawa bagai orang kesurupan


"aduh perut Lana sakit" Alana memegang perutnya


"syukurin... kualat itu mah" cebik El


"lagian kakak, mimpi apa semalam sih kak, sampai lupa kalau hari ini itu hari minggu" ucap Alana masih menahan tawa


"hahahaha" kali ini Adam yang ngakak di dalam kamar

__ADS_1


El langsung menatap Adam dengan tatapan sengit membuat hantu itu menghentikan tawanya dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"hehehehe" Adam hanya nyengir kuda dan El memutar bola matanya


"udah sana" El mengusir Alana


"ngambek nih eee.... Lana datang manggil kakak buat sarapan. yang lain sudah menunggu di meja makan"


"iya iya, nanti kakak turun"


Alana pergi dari kamar El sementara El menutup pintu kamarnya dan berjalan ke arah lemari pakaian.


"ganti baju lagi bang...?" ledek Adam


"ledekin aja terus" jawab El ketus


"ulu ulu... adik kakak ngambekan" Adam mengacak rambut El


setelah berganti pakaian, El turun ke bawah dan menuju meja makan. semuanya telah berkumpul, hanya dirinya yang ditunggu.


"kusut banget mukamu nak, kurang tidur ya" ucap Ibu Arini


"nggak kok bu" jawab El


"lesu banget sih El, kayak orang nggak makan aja" ucap Zidan


"capek paman" jawab El


"capek habis ngapain...?" tanya ayah Adnan


"habis main pedang-pedangan di kuburan" timpal adam namun tentu tidak di dengar


"nggak ngapa-ngapain yah" jawab El


sarapan pagi mereka di awali dengan candaan. ibu Arini melayani suaminya mengambilkan makanan, begitu juga dengan Vania yang melayani Zidan. pengantin baru itu selalu saja terlihat mesra dan romantis di setiap harinya.


Thalita yang duduk di samping Vania hanya tersenyum simpul melihat kemesraan pengantin baru itu.


"sudah hubungi Helmi, Zidan...?" tanya ayah Adnan


"sudah mas, mungkin dalam perjalanan ke sini bersama Sisil" jawab Zidan


"ayah jadi berangkat ke luar kota...?" tanya ibu Arini


"jadi bu, ayah berangkat bersama Helmi" jawab ayah Adnan


"Sisil itu siapa...?" tanya El


"sekretaris ayah" jawab ayah Adnan


El-Syakir manggut-manggut, dan setelahnya yang dibicarakan datang juga. Helmi datang bersama Sisil. mereka berdua yang akan menemani ayah Adnan untuk perjalanan bisnis ke luar kota.


setelah sarapan selesai, ayah Adnan pamit kepada istri dan anak-anaknya. dua mobil meninggalkan pekarangan rumah. satu mobil yang di tumpangi ayah Adnan, Helmi dan Sisil dan mobil yang mengikuti mereka adalah mobil para pengawal. baru saja mereka pergi, Randi dan Pram baru tiba di tempat itu.


"pak Adnan udah pergi...?" tanya Randi menghampiri Zidan


"iya. kalian lama banget sih, ditungguin dari tadi" jawab Zidan


"lagi dandan dia makanya lama" timpal Pram


"cih, lu pikir aku manusia jadi-jadian" cebik Randi


mereka bertiga melangkah menuju ruangan tempat mereka selalu berdiskusi. Thalita yang baru saja keluar dari kamarnya berpapasan dengan ketiganya.


"duluan saja nanti aku nyusul" ucap Randi


"ck... mau kasmaran lagi. ingat tugas woi" cebik Pram


Randi hanya menjulurkan lidahnya, sementara Zidan dan Pram meninggalkan mereka berdua.


"mau kemana...?" tanya Randi


"ke dapur ambil cemilan untuk nona Vania" jawab Thalita


Randi melihat sekelilingnya, merasa sepi dan tidak ada orang, pria itu menarik tubuh langsing Thalita dan memeluknya.


"jangan seperti ini, nanti ada yang lihat bagaimana" Thalita berniat melepaskan diri


"sebentar saja, aku kangen" ucap Randi memeluk erat tubuh Thalita


"aku juga kangen" Thalita membalas pelukan Randi


"maaf ya kalau aku kurang perhatian padamu akhir-akhir ini"


"nggak apa-apa, aku ngerti bagaimana tugasmu"


Randi dan Pram baru saja pulang dari menjalankan sebuah tugas yang diperintahkan oleh Zidan. karena itulah, Randi yang sibuk tidak menyempatkan waktu untuk menghubungi kekasihnya itu.


Randi mencium kening wanitanya itu cukup lama. Thalita memejamkan mata menikmati bibir tipis kekasihnya menyentuh keningnya.


"aaaaa so sweet" Starla dan Nisda histeris melihat pemandangan romantis itu


wajah Thalita bersemu merah karena kepergok oleh remaja-remaja itu namun tidak dengan Randi, ia terlihat biasa saja.


"ganggu aja kalian ini" cebik Randi


"lanjutkan paman, kami akan tutup mulut" ucap Vino menutup kedua matanya dengan tangannya


"tutup mata ayang" ralat Starla gemes dengan pacarnya itu


"iya iya, tutup mata" ucap Vino

__ADS_1


"maaf paman kami mengganggu, silahkan diteruskan adegan selanjutnya" ucap Leo


para remaja itu meninggalkan Randi dan Thalita. setelah kepergian mereka, Thalita memukul dada Randi karena malu.


"sakit sayang" ringis Randi


"aku malu tau" ucap Thalita


"ngapain malu sih, anggap aja mereka lalat yang lewat" ucap Randi yang kembali memeluk Thalita


setelah puas melepas rindu, Randi menyusul Zidan dan Pram yang telah menunggunya.


"jadi bagaimana, ada pergerakan apa dari mereka...?" tanya Zidan


"belum ada pergerakan sama sekali. tapi kita harus tetap waspada" jawab Pram


"kalian tidak melihat mas Bahar...?" tanya Zidan


"tidak, kami hanya melihat seorang pria yang keluar dari rumah itu" jawab Randi


"apa mungkin dia tidak bersembunyi di rumah itu tapi berada di tempat lain. karena sudah tiga hari kita mengawasi rumah itu namun tidak ada tanda-tanda adanya pak Baharuddin di sana" ucap Pram


"bisa saja kan dia berada di dalam rumah dan tidak keluar. aku sudah mengirim orang-orang kita untuk terus mengawasi rumah itu" timpal Randi


"lakukan yang terbaik, kita harus tau setiap pergerakannya. aku tidak ingin kejadian seperti di hari pernikahan ku terulang lagi" ucap Zidan


"baik bos"


tim samudera sedang berkumpul di halaman belakang rumah. sudah ada cemilan dan minuman yang menemani mereka.


"tau nggak, nyokap gue sampai teriak histeris dan pingsan karena melihat gue ada dua, gue dan sosok yang menyamar menjadi diri gue"


Leo menceritakan saat pulang semalam, dirinya langsung ke kamarnya dan tidur tanpa ia sadari kalau ada sosok lain di kamarnya itu. saat pagi menjelang mama Melisa mengetuk pintu kamar Leo. Leo membuka pintu dengan wajah bantalnya namun betapa kagetnya mama Melisa saat melihat sosok yang mirip Leo baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"loh... kok" mama Melisa tercengang dan menunjuk sosok yang mirip anaknya berdiri di pintu kamar mandi sedang tersenyum ke arahnya


Leo pun sama terkejutnya dan dirinya bagai sedang bercermin saat melihat remaja yang sangat mirip dengannya itu.


"Aaaaa.... papa, bughh" mama Melisa pingsan


"mah... mama" Leo panik saat ibunya itu pingsan


Leo melihat sosok itu yang kemudian menghilang menyisakan handuk yang ia pakai jatuh ke lantai.


"meski begitu kalian harus berterimakasih kepada ratu Sundari. kalau dia tidak mengirim para jin yang akan menggantikan kalian, sudah pasti kalian dicari-cari oleh orang tua kalian" ucap Adam


"humm benar kata Adam. pantas saja ya waktu itu ratu Sundari bilang mereka tidak akan mencari kita, ternyata ada jin suruhan sang ratu yang menggantikan memainkan peran kita" timpal Starla


"eh tapi ngomong-ngomong apa kabar mba Surip sama Samsul ya. semalam kita nggak liat mereka di kuburan" ucap Bara


"udah metong mungkin atau udah pergi dari tempat itu. nggak mungkin kan mereka di tempat itu terus. paling Samsul membawa mbah Surip kabur, karena cuman dia yang nggak terluka sama sekali. hanya pingsan di pukul kak Furqon" timpal Nisda


"iya juga sih" angguk Bara


Alana datang bergabung bersama mereka, ia membawa pisang goreng yang masih panas. pisang goreng yang masih panas memang sangat enak untuk dinikmati.


Alana duduk di samping Leo, gadis itu terus mencuri pandang ke arah Leo yang sedang menikmati pisang gorengnya. Adam yang memperhatikan Alana hanya tersenyum tipis karena pasti ia sudah tau apa yang dirasakan adiknya itu kepada sahabatnya.


"kak El, besok kita berangkat bareng ya ke sekolah" ucap Alana


"kita kan nggak searah dek" jawab El


"udah searah kak. kakak lupa ya, Lana kan sudah jadi siswa di SMA xxx" ucap Alana


"hah.... sejak kapan...?" kening El berkerut


"kakak kenapa sih, aneh banget. kakak sakit ya, dari semalam tingkahnya aneh banget" Alana memegang kening El


"nggak panas kok" ucapnya


"emmm Lana udah mendaftar ya di sekolah SMA xxx...?" tanya Nisda


"udah kak, setelah kalian ujian terus penaikan kelas setelah itu Alana mendaftar online dan kumpul berkas udah satu minggu" jawab Alana


"ujian, penaikan kelas...?" mereka saling pandang satu sama lain


perasaan barusan kemarin mereka pulang dari sekolah dan kemudian ke alam ratu Sundari. tiga hari di alam ratu Sundari, pulang-pulang mereka telah melakukan ujian dan penaikan kelas. hal itu membuat mereka sangat sangat bingung.


"dek, ambilkan kakak air dingin" perintah El dan segera Alana meninggalkan mereka untuk menuju dapur. sengaja El menyuruh Alana agar dia tidak mendengar percakapan mereka


setelah Alana pergi, mulailah mereka bertanya-tanya dengan keadaan mereka sekarang.


"kita kan tiga hari disana, masa iya pulang-pulang kita sudah ujian, udah naik kelas pula" ucap Vino


"ho'oh, aneh bin ajaib" ucap Leo


"kak bisa jelaskan...?" El beralih menatap Adam


"perputaran waktu di sini dan di alam lain itu beda. kalian merasa disana tiga hari padahal perhitungan waktu di sini mungkin sudah satu bulan atau bahkan lebih" jawab Adam


"satu bulan...?" mereka semua kaget menganga tidak percaya


"iya. apa kalian masih ingat saat aku menggantikan Vino dulu dan pertama kali ke alam ratu Sundari. di sana aku hanya satu hari tapi saat aku kembali El bilang aku sudah pergi dua minggu lamanya" ucap Adam


"sungguh mengejutkan" ucap Bara


"Kira-kira, nilai gue gimana ya. apa para jin itu menjawab dengan benar atau nggak. bisa mampus gue kalau nilainya jelek" ucap Vino


"alamat nggak dapat jatah uang jajan ini mah" ucap Nisda


aduh kepala gue sakit" Leo berbaring di lantai karena pusing memikirkan bagaimana nilai rapornya

__ADS_1


__ADS_2