Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 161


__ADS_3

Deva mulai merekam setiap detik perjalanan mereka sementara El-Syakir fokus menyetir di sampingnya. Adam bersiul di kabin tengah dengan menikmati pemandangan yang mereka lewati.


"maka izinkanlah aku mencintaimu" Melati mengikuti lirik lagu yang ia dengarkan di headset bersama Alana


"aku izinkan" ucap Adam tanpa melihat ke arah gadis itu


seketika mata gadis itu membulat sempurna, matanya seperti lampu disko yang ia kedip-kedipkan.


sedangkan Zahra yang berada di belakang mereka bersama Wulan, gadis itu juga terkejut mendengar perkataan Adam. entahlah, dirinya merasa sangat tidak suka dengan kedekatan Adam dan Melati namun ia tidak berhak untuk marah, karena dirinya sadar ia bukan siapa-siapa Adam.


"cieeee...udah dapat lampu hijau tuh" Alana menggoda Melati


"kamu serius...?" tanya Melati kepada Adam


"serius apa...?" tanya Adam


"itu yang kamu katakan tadi" ucap Melati


"memangnya aku mengatakan apa...?"


"ish kamu itu udah lupa atau pura-pura lupa" Melati mulai kesal


"bukan pura-pura tapi memang aku tidak tau apa yang kamu maksud"


"ck, percuma bicara sama kamu" Melati yang jengkel pun langsung menjaga jarak dengan Adam, padahal tadi mereka berdekatan


"kalau nggak serius, jangan PHP kali kak" ucap El


"kak Adam dan kakak ini pacaran ya...?" tanya Wulan yang sejak tadi hanya mendengar saja


"Wulan, nggak usah banyak tanya. kita diam saja" Zahra berbisik di telinga Wulan


pertanyaan Wulan tidak dijawab oleh Melati maupun Adam membuat gadis itu merapatkan bibir dan tidak bersuara lagi.


"itu sudah lampu hijau, jangan menyerah. kak Dirga nggak mau mengulangi ucapannya mungkin karena dia malu banyak yang mendengar. itu sudah satu kemajuan loh kak, selama ini kak Dirga cuek aja kan sama kakak. tapi setelah kakak meminta kesempatan kepadanya, apa kakak nggak melihat kalau kak Dirga memberikan ruang untuk kakak masuk. percaya sama Lana, apa yang dikatakannya tadi itu adalah kebenarannya" Alana berbicara pelan kepada Melati. dia memegang tangan gadis itu untuk meyakinkannya


apa yang dikatakan Alana ada benarnya dipikiran Melati. setelah dirinya yang dulu meminta kesempatan untuk membuka hati Adam, sejak saat itu sikap dinginnya berubah. meskipun masih terlihat cuek namun tidak seperti dulu lagi.


Melati melirik ke Adam yang sedang menikmati indahnya pemandangan di luar jendela mobil. ia pun kembali menggeser dirinya agar lebih dekat dengan Adam.


"ada apa...?" tanya Adam saat melihat Melati sedang menatapnya


"nggak kenapa-kenapa, aku hanya ingin melihat wajahmu saja" jawab Melati tersenyum


Adam membalas senyuman Melati dan tanpa Melati sangka, Adam menyandarkan kepalanya di bahu Melati.


"aku mengantuk" Adam menutup matanya


"tidurlah, akan aku bangunkan kalau kita sudah sampai" ucap Melati


"kira-kira berapa jam perjalanan nih kita sampai...?" tanya El kepada Deva


"nggak lama, paling satu jam saja. puncak Boneng itu, hutannya tembus di desa Bone tadi. di ujung desa, adalah hutan yang tembus dengan puncak tersebut" jawab Deva terus merekam


"berarti kita ini hanya memutar saja ya, jalan cepatnya ada di desa itu. tapi nggak mungkin kan kita lewat hutan untuk sampai di puncak" ucap El


"kak Deva" Zahra memanggil


"iya, kenapa dek...?" Deva menyahut, kepalanya memutar ke arah belakang untuk dapat melihat Zahra


"apa kakak tidak ingin mengatakan sesuatu kepada mereka...?" tanya Zahra


"mengatakan sesuatu, memangnya sesuatu apa...?" Alana bertanya


"bukan saatnya, waktunya tidak tepat. nanti setelah kita pulang dari puncak Boneng barulah aku memberitahu kalian. yang terpenting jangan melarang pantangan yang sudah aku katakan semalam" Deva kembali melihat ke arah depan


"memangnya ada apa sih kak, sebaiknya katakan saja agar kita dapat mengetahui keadaan terburuknya jika terjadi sesuatu nanti" Melati menimpali


"tidak akan terjadi apa-apa jika tidak melanggar pantangan. lagipula ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya" ucap Deva


El-Syakir, Melati dan Alana semakin dibuat penasaran. sementara Zahra dan Wulan terdiam dan saling pandang, mereka hanya saling menggenggam tangan. untuk Adam, dia sudah tertidur di bahu Melati.


"ini memang jalannya seperti ini...?" tanya El saat mereka melewati jalan yang sisi kanan kirinya hutan


"iya, tidak lama lagi kita akan sampai" jawab Deva


sedangkan di mobil Bara, mereka tampak santai dan saling berbincang seperti biasa. Bara yang sedang menyetir langsung mendapatkan panggilan entah dari siapa. dia pun mengambil handphonenya namun handphone itu jatuh dibawah kakinya.


"ah sial" Bara menghela nafas dan berusaha mengambil handphonenya yang terus bergetar


"susah banget sih"


"mana lagi ini handphone"


"BARA AWAS"


teriakan Leo yang ada di sampingnya membuat bara mendongakkan kepalanya melihat ke depan. seekor kucing hitam secara tiba-tiba datang melompat di tengah jalan dan alhasil bara menginjak rem secara mendadak.


buuuk


buuuk


"aaw"


kepala mereka semua terbentur, namun bukan itu yang membuat Bara khawatir. dia cemas kucing hitam itu telah ia tabrak.

__ADS_1


"a-apa gue menabraknya...?" Bara melihat ke arah Leo


"kita turun, yang lain tunggu di sini saja" Leo mengajak Bara untuk keluar dari mobil, Vino pun ikut turun


"stop El stop" Deva menyuruh El untuk berhenti, dan El menghentikan laju mobilnya


"kenapa kak...?" tanya El


"sepertinya mobil Bara bermasalah" ucap Deva yang melihat di kaca spion mobil


"biar gue lihat dulu" El keluar sementara Deva pun ikut juga. dirinya tidak ingin berdiam diri di dalam mobil


sebelum keluar dari mobil, Deva menyuruh yang lainnya untuk tetap berada di dalam mobil.


"gimana Le, kucingnya ketabrak nggak...?" tanya Bara saat Leo sedang menunduk melihat ke bawah mobil


"mati Bar" Leo berdiri dan melihat Bara


"maksudnya...?" tanya Bara


"kucingnya udah mati, elu tabrak dia" jelas Leo


"astaghfirullahaladzim, terus gimana ini...?" Bara pun panik


"kenapa Bara...?" tanya El yang datang bersama Deva


"gue nabrak kucing, udah mati"


Deva menunduk melihat ke bawah mobil, memang ada seekor kucing yang sudah bersimbah darah.


"ada yang punya kain atau apa gitu untuk membungkus kucingnya" tanya Deva


"kain mah nggak ada, pakai tisu aja gimana...?" Vino masuk ke dalam mobil dan mengambil tisu


"kenapa sayang...?" Starla bertanya


"Bara nabrak kucing" jawab Vino


mereka semua pun keluar dari mobil, begitu juga penumpang di mobil El-Syakir, mereka sudah berada di tempat itu.


"nih kak, pakai tisu ini aja" Vino memberikan sebungkus tisu kepada Deva


Deva pun berjongkok kembali dan meraih tubuh kucing hitam itu. kemudian ia menyelimuti kucing itu dengan banyaknya tisu dan mencari tempat untuk menguburnya. karena banyaknya darah yang keluar, tisu tersebut mulai basah dan berwarna merah, tangan Deva pun sudah terkena darah.


"kubur di sana saja, ayo" Adam menunjuk tempat yang jauh dari jalan raya. ia dan Deva melangkah ke tempat itu untuk menguburkan kucing tadi


"kasian sekali kucingnya" Seil merasa iba dengan kucing yang sudah tidak bernyawa itu


"gue sudah membunuh makhluk Tuhan yang nggak berdosa" ucap Bara merasa bersalah


"nggak apa-apa yank, kamu kan nggak sengaja" Nisda mengelus lengan Bara


"kayak dingin loh, padahal nggak hujan" ucap Wulan lagi


"perasaan kamu aja kali Lan. malah panas gini kok" ucap Seil


setelah menunggu, Adam dan Deva pun datang. Melati segera mengambil air minum di dalam mobil untuk keduanya cuci tangan karena habis menggali tanah.


"ini kita tabrak kucing, bukan pertanda buruk kan...?" tanya Nisda


"jangan berpikir yang macam-macam, kita sekarang berada di tempat yang mempunyai pantangan yang harus dijaga. sekarang kita lanjutkan lagi perjalanan" ucap Adam


mereka kembali ke mobil masing-masing. Leo menggantikan Bara untuk menyetir, dia tidak ingin temannya itu menabrak sesuatu lagi. apalagi sekarang perasaan Bara belum tenang karena kucing yang ia tabrak tadi.


matahari yang tadinya panas kini berganti dengan langit yang mulai mendung. bahkan perjalanan mereka mulai lambat karena di tempat itu mulai gelap dan El-Syakir serta Leo harus menyalakan lampu mobil.


"kok cuacanya jadi begini" ucap Alana melihat ke langit


"akan turun hujan, apa nggak apa-apa kita tetap mendaki ke puncak kalau cuacanya berubah seperti ini" El mulai ragu untuk melakukan kegiatan mereka


"kalau tidak memungkinkan ya kita batalkan saja dan kita cari hari lain" timpal Deva


mobil mereka mulai memasuki wilayah puncak. mereka kemudian memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan, kemudian setelah itu mereka turun dari mobil.


beberapa orang sedang menikmati makanan mereka di beberapa warung yang terdapat di tempat itu. di pohon-pohon besar, terdapat beberapa tempat duduk untuk dijadikan tempat bersantai dan ada juga dari sebagian orang yang sedang mengambil gambar, mengabadikan momen indah di tempat itu.


beberapa tulisan warna warni ada di setiap pohon. bahkan taman indah yang dihiasi berbagai macam bunga begitu elok di pandang dan dinamakan taman alam.


"banyak orang ternyata" ucap Alana melihat sekitar


"di puncak sana lebih indah lagi kak daripada di bawah sini" timpal Wulan


"kalian sering ke sini ya...?" tanya Melati


"sering sih nggak, tapi ya pernah lah sekali atau dua kali mungkin" Zahra menjawab


"kita naik sekarang atau istrahat dulu sejenak...?" tanya Vino


"lanjut aja deh, mumpung belum hujan. kalau seandainya kita sudah sampai di atas lalu turun hujan, kita bisa mencari tempat untuk berteduh" Starla menjawab


"yang lain bagaimana...?" El meminta persetujuan


"aku mengikut saja, asal jangan ke jurang ya aku belum mau metong" ucap Adam


"ya sudah, kita naik sekarang saja"

__ADS_1


mereka pun mulai bersiap, dan melangkah untuk mendaki ke puncak tempat tertinggi di tempat itu.


"ini nggak ada penjaganya ya...?" tanya Melati


"nggak ada, di sini bukan seperti puncak yang ada di kota. namun meskipun begitu kita tidak boleh sembarangan dalam melakukan hal-hal yang tidak baik. ingat ya, apa yang aku katakan semalam" Deva memperingatkan lagi


"kami ingat kok, ayo jalan. udah mulai rintik-rintik hujan nih" ucap Melati


"kak Deva, mulai merekam lagi ya" ucap El


"sip" Deva mengangkat jempol kanannya


"hai gays, jadi sekarang ini kami sudah berada di puncak Boneng. untuk saat ini kami masih berada di bawah, kalian lihat jalanan yang ada dibelakang kami itu. itu adalah jalanan yang akan kami tempuh untuk mencapai puncak Boneng di atas sana" El menunjuk tempat tertinggi


"ikuti kami terus ya"


El-Syakir, Adam, Leo, Vino dan Melati berada di depan. karena memang mereka yang harus terlihat oleh kamera sedangkan yang lain mengikuti mereka dari belakang.


"tempatnya indah kan gays, kalian harus datang di tempat ini untuk melihat lebih jelasnya lagi pemandangan yang indah di sini" ucap Melati


Deva mengarahkan kamera ke tempat lain. semakin mereka naik ke atas maka semakin terlihat jelas pemandangan yang ada di bawah sana. meskipun mendung dan terlihat gelap namun tetap saja mereka terus melangkah untuk sampai ke puncak dan Deva terus merekam.


mereka bahkan berpapasan dengan orang-orang yang mulai turun dari puncak, Adam tersenyum ramah dan menyapa keempat remaja seperti mereka, dua laki-laki dan dua perempuan. sepertinya mereka adalah pasangan kekasih.


"halo kak" sapa Adam


"halo juga" jawab seorang laki-laki


"di atas rame nggak kak.." tanya Adam sopan


"rame kok, hanya saja banyak yang udah turun karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" jawab laki-laki itu


"emang nggak ada tempat berteduh...?" tanya Adam


"ada, mungkin mereka ingin meminum kopi hangat di bawah sana. di atas kan nggak ada yang menjual. ya udah kami turun dulu ya"


"iya kak hati-hati"


"kak merekamnya di skip aja, nanti tiba di atas baru merekam lagi" Adam memberitahu Deva


"ya sudah, kita percepat langkah kalau begitu" jawab Deva


rintik-rintik hujan mulai membasahi pakaian mereka. jalanan yang tadinya lurus kini berubah menjadi berbelok-belok.


dari arah yang berlawanan, ada lagi banyak orang yang mulai memilih turun ke bawah. kalau bukan karena tugas mungkin mereka akan ikut turun juga namu karena sudah terlanjur naik alhasil mereka tetap melangkah naik ke atas.


meong.... meong


"eh, dengar suara kucing nggak...?" Wulan bertanya, telinganya mendekati suara kucing


"ditempat seperti ini mana ada kucing Lan. lagian aku nggak dengar ada suara kucing" ucap Zahra yang


"benaran loh, aku dengar suara kucing" Wulan tetap kekeuh bawah ia mendekati suara kucing


"kenapa Zahra...?" tanya Nisda saat kedua gadis itu berhenti


"nggak ada kak, ayo Lan, udah nggak ada suara kucing di sini" Zahra menarik Wulan untuk kembali melangkah


sekitar 30 menit perjalanan, kini mereka telah tiba di atas. tempat paling tertinggi di puncak itu. terlihat sepi namun bukan berarti tidak ada orang. masih ada beberapa yang sedang berteduh di gazebo-gazebo kecil yang disediakan dari rintik-rintik hujan yang jika terus terkena maka pakaian akan basah juga.


"haaah...haaah, ya ampun...capek banget gue" Starla ngos-ngosan setelah sampai di puncak


"malah haus lagi, ada yang megang air minum nggak...?" tanya Starla


"nih, kebetulan gue pegang tadi" El memberikan botol air mineral kepada Starla


bukan hanya Starla yang merasa haus dan capek, yang lainnya pun merasa lelah. mereka istrahat sejenak di gazebo untuk melepaskan penat.


"kamu nggak apa-apa kan sayang...?" Starla bertanya kepada Vino. ia khawatir Vino yang tidak bisa berada dibawah guyuran hujan terlalu lama, membuat dirinya ambruk seperti pada saat mereka ikut perkemahan dulu


"nggak apa-apa, nggak terlalu basah juga" Vino menjawab dan memeluk dirinya karena dingin


"kita lanjutkan atau bagaimana...?" tanya Deva


"lanjut aja deh, mulai merekam" jawab El


Deva pun mulai merekam kembali, sedangkan El-Syakir bersama teman kelompoknya memperlihatkan setiap tempat-tempat indah di sekitar mereka. yang lain hanya menunggu di gazebo-gazebo yang ada di dekat pohon-pohon besar.


harusnya hari ini mereka bersenang-senang, menikmati keindahan alam dan mengabadikan setiap momen dengan mengambil gambar mereka. namun karena cuaca yang tidak memungkinkan, terpaksa mereka hanya menikmati rintik-rintik hujan yang semakin lama semakin mulai deras.


Leo menggantikan Deva memegang kamera ponsel. Deva menjadi salah seorang yang mereka wawancarai terkait puncak Boneng tersebut. karena banyak yang Deva ketahui mengenai tempat itu, dirinya lah yang dijadikan narasumber pada kegiatan mereka.


"aku pengen buang air kecil nih, kalian tunggu di sini. jangan pulang dulu sebelum aku datang" Wulan segera mencari tempat yang aman untuk dirinya membuang hajat


karena di atas itu tidak ada toilet atau WC, akhirnya Wulan semakin masuk ke dalam hutan karena tidak mungkin baginya untuk buang air kecil di tempat terbuka


"kita kok sial banget sih, niatnya datang jalan-jalan malah di kena hujan" ucap Alana


hujan yang tadinya hanya rintik kini berubah menjadi deras. bahkan langit di atas sana sudah semakin gelap. saat melihat di sekitar, sudah tidak orang selain mereka saja. padahal saat tiba tadi, masih ada beberapa orang yang sedang berada di gazebo, namun sekarang tinggal hanya mereka yang berada di atas puncak itu.


"pulang aja yuk" ucap Leo


"kamu nggak lihat hujan deras gini, nanti Vino pingsan lagi bagaimana...?" jawab Adam


"udah nggak ada orang, Seil kok malah jadi takut" Seil merapat di dekat Zahra

__ADS_1


"sini, kalian sama kakak" Deva memeluk kedua adiknya itu


semakin lama hujan semakin deras saja, tidak ada tanda-tanda akan berhenti. bahkan kini petir pun mulai menyambar guntur terdengar mengerikan di tempat hutan seperti itu.


__ADS_2