Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 143


__ADS_3

"kak Nilam kenapa ya kak, kok teriak-teriak gitu" Alana bertanya pada El-Syakir saat mereka telah tiba di rumah


mereka masih berada di halaman rumah, dan duduk istirahat sejenak di teras rumah.


"kakak juga nggak tau" jawab El


dia juga kebingungan kenapa Nilam seperti itu. Nilam yang dia kenal adalah gadis yang ceria bahkan lembut dalam bersikap. melihatnya kemarin yang wajahnya pucat membuat El-Syakir berpikir kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja. apalagi perilaku ibunya yang terlihat kasar.


"apa mungkin dia kerasukan...?" tanya Nisda


"nah itu dia yang gue bilang tadi" Vino menimpali ucapan Nisda


"udah ah ngapain juga mikirin itu. masuk yuk, lapar nih" Bara mengajak


"nih, bukain pintunya" El-Syakir memberikan kunci kepada Bara


Bara mengambil kunci yang ada di tangan El-Syakir kemudian membuka pintu masuk.


"ayo" ajak Bara


mereka semua masuk ke dalam rumah. sebelum makan malam, mereka bersih-bersih terlebih dahulu kemudian melaksanakan sholat isya karena waktunya yang sudah tiba. setelah sholat mereka menuju meja makan, Melati dan Nisda menyediakan makanan sedang Starla menuang air minum ke dalam gelas.


"teh melatiku mana...?" tanya Adam


"nih" Melati memberikan gelas yang berisi teh melati kepada Adam


"terimakasih" ucap Adam


"sama-sama" Melati menjawab dengan tersenyum


mereka makan dengan lahap, sesekali bercerita hingga makanan mereka habis tanpa sisa.


para laki-laki langsung ke ruang tengah sedang perempuan membersihkan meja makan dan mencuci piring. setelah itu mereka menyusul yang lain di ruang tengah.


"bikin apa nih biar seru...?" tanya Leo


"petak umpet" jawab Adam asal


"ck, main petak umpet entar elu diumpetin jurik baru tau rasa" cebik Vino


"ya udah, aku main berdua sama dia aja. gampang kan" jawab Adam enteng dan Vino mendengus


"nonton aja yuk, kebetulan gue bawa iPad nih" Starla mengambil benda yang lebar itu di sampingnya


"boleh tuh, nonton yang horor aja ya, biar tegang dan ada aura-aura mistisnya" Adam bersemangat


"jangan yang horor, Lana takut" Alana tidak setuju


"tenang saja, ada aku kok" Leo tersenyum manis ke arah Alana


"ekhem, nggak osah kegenitan ya, entar matanya aku colok" Adam memicingkan matanya ke arah Leo


"orang gue cuman senyum doang. curigaan banget sih" cebik Leo


"karena tampang kamu itu memang tampang mencurigakan" jawab Adam


"terus gue harus gimana dong, masa iya cemberut"


"kak Leo tetap ganteng kok walau cemberut" ucap Alana membuat Leo malu-malu memuakkan


"pen muntah gue" ucap El-Syakir


"pegangin Leo Mel, nanti dia terbang saking malu-maluin" ucap Nisda mengejek


"ck, teman durhaka" Leo mencebik


"jadi kita nonton apa ini...?" tanya Starla


mereka kini dalam posisi melantai, dan iPad milik Starla di simpan di di atas meja. ingin nonton di laptop sayangnya mereka tidak membawa laptop, di televisi pun hanya sinetron saja yang alurnya sudah sangat bisa ditebak oleh penonton.


"horor" jawab Adam


"action" ucap Bara


"psikopat saja deh, tentang pembunuhan, itu yang seru" jawab Leo


"boleh, gue juga suka film psikopat" timpal Melati


"oke, kita nonton film psikopat aja. gue juga suka yang itu" Starla mulai mencari film yang bagus kemudian memutarnya dan ikut bergabung duduk di lantai bersama yang lain.


mereka menonton dengan serius, tidak ada satupun suara yang keluar dari bibir mereka. Alana bersandar di bahu Leo, Starla merangkul lengan Vino, Nisda bersandar di dada Bara, El-Syakir bersandar di ujung sofa, sedang Melati dan Adam...? mereka berdua duduk di atas sofa dalam posisi masing-masing dimana Adam mengambil bantal sofa untuk menggunakan tumpuan sikunya dan kedua tangannya menopang wajahnya sedang Melati tampak duduk melipat kedua kakinya.


ketegangan demi ketegangan nampak di wajah mereka. hingga saat dimana seorang psikopat akan membunuh korbannya, belum sempat berteriak suara teriakan diluar mengagetkan mereka semua.


"aaaaa".


"astaghfirullah" Melati yang kaget refleks melompat ke arah Adam dan duduk di pangkuannya


tentu saja Adam kaget karena gerakan refleks Melati. tangannya berpegang di pinggang gadis itu yang sekarang tampak takut melihat ke arah pintu.


bukan hanya Melati yang kaget, semula pun tentunya sangat kaget. Bara berdiri untuk melihat keadaan diluar namun Nisda menahan dan menggeleng kepala hingga akhirnya Bara duduk kembali.


"apa kamu nyaman seperti ini...?" tanya Adam kepada Melati


Melati menoleh untuk melihat Adam namun ternyata wajah Adam sudah sangat dekat dengan dirinya. dapat dilihat jelas bagaimana rupa tampan pewaris Sanjaya grup itu.


mereka yang melihat ke arah keduanya tampak terkejut karena posisi keduanya sangatlah intim.


"m-maaf" Melati perlahan turun dari pangkuan Adam dan menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Adam

__ADS_1


"suara apa itu ya...?" Nisda bertanya. dia sengaja mengalihkan perhatian yang lain agar Melati tidak merasa malu


"kayak suara teriakan cewek, tapi siapa yang teriak malam-malam begini" jawab Leo


"gue periksa dulu" El-Syakir bangkit dari tempat duduknya untuk pergi melihat ada siapa diluar sana


Bara mengikutinya karena dia penasaran siapa yang berteriak tadi. mereka tidak membuka pintu namun hanya menyibakkan gorden untuk melihat ke arah luar sana.


"nggak ada siapa-siapa" ucap Bara


sepi dan sunyi di luar sana. tidak ada seorangpun yang berada di luar. hanya lampu jalan yang menerangi kompleks sekitar itu.


"orang iseng mungkin, balik yuk" ucap El-Syakir


sebelum kembali, El mengunci pintu terlebih dahulu agar tidak orang yang bisa masuk. setelah itu dia dan Bara kembali ke ruang tengah bergabung bersama yang lain.


"gimana...?" tanya Adam


"nggak ada siapa-siapa" jawab El yang duduk di samping Adam. mereka semua kini duduk di sofa


"terus kalau nggak ada orang, siapa yang teriak keras banget kayak tadi" tanya Vino


"mungkin makhluk halus, secara kan sekarang sudah larut malam. udah jam 11 malam, orang-orang juga nggak bakalan keluar rumah kalau hanya untuk sekedar teriak nggak jelas" jawab Starla


"atau mungkin orang gila" ucap Melati


"nggak ada orang gila di kompleks ini kak" jawab Alana


"ganggu orang nonton aja" cebik Leo


"lanjut lagi yuk" ucap Nisda


"udah larut malam, mending sekarang kita tidur" usul El


"iya, aku udah ngantuk" Adam menguap


"ya sudah kita tidur saja. untuk perempuan di kamar Alana dan laki-laki di kamar El" ucap Nisda


mereka mengangguk dan mulai beranjak untuk pergi ke kamar. namun saat melangkah satu langkah mereka dikagetkan dengan suara jendela yang seperti ditabrak sesuatu sehingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras.


braaaakkk


"innalilahi" Vino terlonjak kaget begitu juga yang lain


"Alana takut" Alana memegang lengan Leo dengan erat


"kalian tetap di sini" ucap Adam


Adam melangkah pelan ke arah jendela, yang lain mengawasinya dengan was-was. El-Syakir melangkah mendekati Adam, mereka menyibakkan gorden untuk memeriksa jendela dan tidak ada benda apapun di sana. bahkan burung atau hewan apapun tidak ada. Adam dan El-Syakir saling pandang kemudian kembali lagi.


"gimana...?" tanya Leo


"sebaiknya kita istrahat saja" lanjut Adam


merekapun masuk ke kamar El-Syakir dan Alana. ranjang keduanya tidak begitu besar sehingga yang lainnya tidur di bawah dengan kasur yang sudah disediakan.


dikamar Alana, Alana dan Nisda tidur di atas sedang Melati dan Starla tidur di bawah. di kamar El-Syakir, Leo dan Vino tidur di atas sedang Adam, El dan Bara tidur di bawah.


mereka mulai memejamkan mata. sayangnya baru saja terlelap teriakan tadi terdengar lagi, bahkan suara itu sudah sangat dekat dengan rumah El-Syakir. bisa di bilang sudah berada di teras rumah.


"aaaaaa"


"ya Allah, Lana jadi takut" Alana merapat di dekat Nisda


"kita pindah ke kamar El" ucap Melati


segera mereka bangun dan keluar dari kamar Alana. baru saja mengetuk pintu, El sudah membuka pintu dan seketika keempat gadis itu langsung menerobos masuk.


"kami tidur di sini ya, kami takut di kamar sebelah" ucap Nisda


"tambah sempit kalau begitu" ucap Vino


"ayang tega banget sih kita" Starla memberenggut


"bukan gitu yank, disini emang sempit" jawab Vino


"tapi kita nggak mau tidur di kamar sebelah, takut" ucap Melati


"ya sudah, kita tidur di sini. kalian kembali lagi ambil kasur, bantal dan selimut kemudian datang lagi ke sini" ucap Adam


keempatnya kembali ke kamar Alana mengambil apa yang dikatakan Adam kemudian kembali lagi di kamar El-Syakir.


di atas ranjang, Alana dan Nisda yang menempati sedangkan yang lain di bawah. tentu saja ada jarak antara laki-laki dan perempuan. setelah mengatur tempat tidur, Adam pergi keluar untuk memeriksa suara itu ditemani oleh El-Syakir.


cek lek


pintu di buka, angin malam seketika langsung masuk ke dalam dan menerpa wajah mereka. keduanya berdiri di teras rumah dan melihat sekitar. sunyi dan sepi tanpa seorangpun. Adam melihat ke pohon mangga, teman gaibnya tidak ada ditempat biasa mereka tempati. kedua makhluk itu entah pergi kemana, sehingga pohon mangga itu tidak berpenghuni.


"sepi kak" ucap El


"kita masuk" timpal Adam


keduanya akan masuk ke dalam namun langkah Adam terhenti saat melihat seseorang di depan pagar sana sedang berdiri menghadap ke arah mereka. El-Syakir pun ikut berhenti dan melihat ke arah depan. wajah sosok itu tidak terlihat karena lampu yang ada di depan itu tidak menyala padahal tadi masih baik-baik saja.


"siapa itu...?" ucap El


baru hendak mendekati sosok itu, telinga Adam seketika berdengung. jika sudah seperti itu maka tentu sesuatu yang buruk akan terjadi hingga kemudian terdengar suara teriakan dari dalam. Adam dan El langsung berlari ke dalam menuju kamar El-Syakir.


"Lana" Leo memanggil Alana yang sedang duduk di lantai dengan rambut yang menutupi wajahnya

__ADS_1


"Alana kenapa...?" tanya El saat tiba di dalam kamarnya bersama Adam


"nggak tau. tiba-tiba saja di teriak terus setelah itu dia jadi seperti ini. dipanggil pun nggak menyahut" Melati menjawab dengan wajah khawatir


"Lana" Adam mendekati gadis itu


"diam ditempat mu" ucap Alana dengan suara berat seperti monster, bukan lagi suara asli gadis itu


"astaga, dia kerasukan" Starla tampak panik


El-Syakir maju ke depan namun Adam menghadang El dengan tangannya. gelengan kepala menandakan kalau Adam melarangnya El-Syakir untuk maju. dia mengisyaratkan kepada semuanya agar mereka mundur menjauh.


"siapa kamu...?" tanya Adam kepada Alana


"hahahaha" Alana tertawa tanpa menjawab pertanyaan Adam


"aku tanya siapa kamu...?" tanya Adam lagi


"aku suka gadis ini" ucap Alana dengan suara beratnya


"ya ampun, Alana serem banget" Nisda merangkul erat lengan Bara


"keluar dari tubuhnya atau aku lakukan secara paksa" ucap Adam


"kalau aku tidak mau...?" jawab Alana


"El, pinjam kerismu" ucap Adam


tanpa banyak tanya El-Syakir membaca mantra hingga seb keris sakti keluar dari tubuhnya. keris itu melayang ke arah Adam. Adam berniat menggunakan keris larangapati untuk mengancam makhluk yang ada di dalam tubuh Alana namun belum juga Adam beraksi Alana sudah jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


"Lana" El-Syakir dengan cepat mendekat Alana


El-Syakir menggendong Alana dan membawanya ke tempat tidur. dia duduk di samping kanannya sedang Adam duduk di samping kiri.


"siapa sebenarnya yang merasuki Alana...?" tanya El


"dia bilang, dia menyukai Alana. apa iya dia pernah bertemu dengan Alana. tapi dimana...?" ucap Leo. dia sangat khawatir dengan keadaan Alana sekarang


"kita tidak tau siapa yang merasuki Alana. namun yang pasti kita harus waspada dan siaga, bisa jadi bukan hanya Alana yang dia inginkan tapi yang lain juga" Adam memegang tangan Alana


"kok sekarang di sini malah jadi angker sih El" ucap Vino


"kenapa saat mendengar teriakan tadi, gue jadi teringat Nilam ya, yang teriak pas kita pulang tadi" ucap Leo


"maksud elu, elu mau bilang kalau itu adalah Nilam yang kalian maksud itu...?" tanya Bara


"nggak mungkin. ngapain Nilam datang kesini hanya untuk teriak ditengah malam dan mengganggu orang" El tidak percaya


"itu juga, ngapain coba dia datang teriak nggak jelas di sini. ganggu orang istrahat aja" ucap Vino


"tapi kak, orang yang tadi berdiri di pagar itu siapa...?" El melihat Adam


"orang...? emang tadi di luar ada orang...?" tanya Melati


"ada dan aku nggak tau dia siapa" jawab Adam


"jangan-jangan dia pelakunya" ucap Starla berasumsi


"jangan soudzon yank, bisa jadi kan dia orang yang lewat saja dan berhenti untuk istirahat mungkin" timpal Vino


"sebaiknya kalian tidur, aku mau mengunci pintu dulu" Adam meninggalkan mereka


sebelum mengunci pintu, Adam keluar dan berdiri di teras. sosok yang berdiri di pagar tadi sudah tidak ada, sepertinya dia sudah pergi. setelah memastikan keadaan aman, Adam masuk ke dalam dan mengunci pintu kemudian kembali ke kamar El-Syakir.


mereka mulai mengambil posisi masing-masing untuk istirahat. Alana belum juga sadarkan diri hingga mereka semua tertidur dan bangun pada saat adzan subuh.


"dek, kamu nggak apa-apa...?" El-Syakir dan Adam menemani Alana tidur di ranjang.


"Alana nggak apa-apa kak" jawab Alana bersandar di kepala ranjang


"kita sholat dulu" Adam turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi


mereka melaksanakan sholat subuh di ruang tengah karena di kamar El-Syakir tidak memungkinkan untuk shalat berjamaah di karenakan kasur yang masih terbentang dan bantal yang berhamburan.


setelah sholat subuh, mereka menunggu pagi menjelang. ibu Arini menghubungi Adam menyuruh mereka untuk pulang karena hari ini adalah hari bahagia ketiga pengawal andalan Sanjaya grup.


setelah matahari mulai menyapa bumi, mereka bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing dan akan bertemu lagi di hotel yang telah disediakan untuk pernikahan.


saat pulang, mereka melewati laundry ibu Arini yang tentu belum buka karena masih begitu pagi. di samping laundry itu mereka juga melewati rumah gadis yang bernama Nilam. ternyata gadis itu sedang berdiri di pinggir jalan dan saat itu juga dia melambaikan tangan menghentikan motor yang di bawa oleh El-Syakir.


"Nilam, ada apa...?" tanya El


wajah gadis itu masih sama seperti kemarin, pucat pasi dan bibirnya mengering. matanya masuk ke dalam seakan menandakan dia sangat kelelahan.


"El" panggilannya dengan suara bergetar


"kenapa Nilam, elu kenapa...?" El menduga kalau gadis itu ingin mengatakan sesuatu


"pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi" ucap Nilam sesekali melihat ke belakang seperti takut ada seseorang yang datang


"memangnya kenapa, apa yang elu sembunyikan...?" tanya El begitu penasaran


"gue hanya mau kalian nggak kenapa-napa. sekarang pulanglah dan jangan kembali"


"Nilam"


suara panggilan keras di dalam sana mengagetkan gadis itu. dia kemudian buru-buru pergi dengan tergesa-gesa bahkan kakinya tersandung dan hampir terjatuh. untung saja keseimbangannya tidak goyah, kemudian dirinya masuk ke dalam rumah dan tidak terlihat lagi.


tim samudera merasa ada yang aneh dengan gadis itu. setelahnya mereka kembali pulang dengan berbagai pertanyaan yang ada di kepala mereka.

__ADS_1


__ADS_2