
sreeet......
wanita itu menarik kerisnya sehingga tangan Adam di lukainya. darah hantu itu menetes di tubuh Vino yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"berani sekali kamu mengganggu ritualku anak muda" ucapnya dengan mimik wajah yang dingin
"dia temanku nyai, hamba mohon jangan jadikan dia tumbalmu" Adam duduk bersimpuh di tanah memberi hormat
"sedang apa dia..?" gumam El melihat Adam yang menundukkan kepalanya
"dia telah menjadi targetku, aku tidak bisa melepaskannya"
"bagaimana sebagai gantinya aku saja yang menjadi korbannya asal lepaskan dia nyai"
(korban, tumbal...apa maksudnya...?) El bersembunyi di pohon yang besar
"kamu hanyalah arwah, aku membutuhkan manusia seperti dia bukan arwah seperti dirimu" wanita itu menyimpan kembali keris kecilnya yang terdapat batu delima di pegangannya, batu delima merah. keris itu masuk ke dalam tubuhnya
"bukankah nyai setelah membunuhnya maka dirinya akan menjadi arwah sepertiku. lagipula hamba lebih bisa memuaskan mu daripada dia nyai. hamba juga masih perjaka, nyai membutuhkan yang masih tersegel bukan. hamba belum tersentuh oleh wanita manapun. kemampuanku bisa nyai andalkan untuk menjadi suami nyai"
"daripada dia yang harus nyai bimbing terlebih dahulu untuk bisa nyai andalkan lebih baik hamba yang sudah nyai tau kemampuan hamba seperti apa" Adam masih menunduk
(suami, Adam akan dijadikan suami oleh wanita itu. ini sungguh tidak masuk akal, aku harus menghentikan ini tapi bagaimana caranya) El nampak memikirkan sesuatu
"Adam" panggil El menghampiri hantu dan wanita itu
"kamu membawa teman untuk melawanku...?"
"bukan nyai, kami tidak bermaksud melawan. tolong kembalikan remaja ini dan bawa aku sebagai gantinya" ucap Adam cepat agar wanita itu tidak melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa El dan Vino
"dam, ngomong apa sih lu. gue nggak akan biarkan elu dibawah oleh wanita jadi-jadian ini" ucap El
"berani sekali kamu bicara seperti itu padaku. kamu tidak punya ketakutan rupanya" wanita itu menatap tajam El-Syakir
"aku punya Tuhan, untuk apa takut dengan makhluk seperti dirimu yang hanya seekor monyet"
"kurang ajar"
murka sudah wanita itu. ia dengan kemarahannya memanggil semua pasukannya, pasukan monyet yang datang dari berbagai arah. monyet putih dan hitam bergerombolan mengelilingi mereka, mungkin jumlah mereka ratusan atau bahkan lebih.
monyet-monyet itu menatap tajam ke arah El bersiap melakukan penyerangan. El melihat banyaknya monyet itu tidak membuat hatinya gentar. dirinya mengambil kayu besar yang ada di bawah kakinya dan memegangnya kuat untuk dijadikan senjatanya.
"hahahaha, kamu pikir dengan kayu mu itu bisa mengalahkan mereka" tawa wanita itu melengking ke seluruh hutan
"tamat riwayatmu anak muda. serang dia" teriaknya memberikan komando
monyet-monyet yang berwajah tidak bersahabat itu langsung menyerang El-Syakir dengan bringas. Adam langsung melesat melindungi El berdiri di depannya membuat semacam pelindung gaib sehingga para monyet itu tidak sampai menyerang mereka.
"jangan melawan. ikuti apa yang aku katakan. bawa Vino pergi dari sini setelah aku berhasil meluluhkan wanita itu" ucap Adam menatap El
"nggak, gue nggak mau. elu lebih memilih menjadi suami wanita itu daripada ikut menyerang bersama gue. pokoknya gue nggak mau elu dibawa wanita jadi-jadian itu" tolak El menggeleng
"jangan membantah El, atau kamu mau Vino menjadi tumbalnya dan membawanya ke alamnya"
"tapi gue juga nggak mau elu dibawa ke alamnya"
"El-Syakir" Adam memegang bahu El
"aku selalu percaya padamu, jadi tolong kali ini percayalah padaku" Adam menatap dalam mata remaja itu
"tapi....." masih ada keraguan dihatinya
"jangan banyak berpikir. ikuti saja perintahku"
Adam berbalik dan melesat melayang ke arah wanita itu membiarkan El yang masih terlindungi oleh pelindung yang dibuat oleh Adam.
sesaat setelah itu, para monyet itu hilang seketika karena perintah dari wanita itu yang telah berhasil dibujuk oleh Adam.
"bawa Vino kembali" ucap Adam menatap El
wanita itu memegang tangan Adam dan akhirnya mereka berdua menghilang dari pandangan El.
"Adam" panggil El
"Adam"
tidak ada sahutan, hanya suara burung hantu yang saling bersahutan. El menghampiri Vino yang masih dalam keadaan pingsan.
"El" panggil ayah Adnan yang telah menemukan mereka
"ayah"
ayah Adnan mendekat dan langsung menggendong Vino berjalan cepat meninggalkan tempat itu. sementara El, sesekali ia melihat ke arah belakang berharap Adam kembali namun sayangnya hantu itu benar-benar pergi.
"itu mereka" tunjuk starla saat cahaya senternya menerpa tubuh ayah Adnan dan El
"Vino kenapa om...?" starla nampak khawatir
"dia pingsan, El tolong buka pintu mobil nak"
El segera membuka pintu mobil dan membaringkan tubuh Vino. starla juga masuk menjadikan pahanya sebagai bantal kepala remaja itu.
"kenapa Randi, celana dan bajumu koyak seperti itu" tanya ayah Adnan
"sesuatu yang tidak terduga pak. sepertinya malam ini kita harus menginap di sini sampai besok pagi" jawab Randi yang bersandar di mobil
"kalau begitu kita semua masuk ke dalam mobil dan istrahat di dalam daripada duduk di aspal seperti ini"
mereka semua masuk ke dalam mobil. tubuh Vino dibangunkan menjadi posisi duduk bersandar di bahu starla agar ayah Adnan bisa duduk bersama mereka. Randi dan Helmi di depan sedang Leo dan El di belakang.
malam itu mereka lewati dengan perasaan tidak menentu. El yang terus kepikiran Adam pada akhirnya terlelap setelah fajar menyapa.
__ADS_1
pagi menyapa dengan sinar mentari yang tersenyum hangat. Randi yang telah sedikit bertenaga langsung memperbaiki kembali keadaan mobil mereka hingga memakan waktu 2 jam mobil itu akhirnya menyala juga.
"syukurlah, sekarang mari kita pulang" ucap ayah Adnan
segera Helmi menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan tempat angker itu. karena merasa lapar, mereka berhenti di warung makan untuk mengisi perut mereka yang sejak tadi malam tidak mendapatkan asupan makanan.
Vino sudah sadar dari pingsannya, kepalanya masih terasa pusing. ia memutuskan untuk di mobil saja. karena malas keluar akhirnya El, starla dan Leo pun akan menunggu di mobil.
"kalian benar tidak ingin turun...?" tanya Helmi
"tidak paman, kami di sini saja" jawab starla
"baiklah, kami akan membungkuskan kalian makanan" ucap ayah Adnan kemudian keluar dari mobil bersama dua pengawalnya
setelah ketiga pria itu pergi, starla tidak dapat lagi menahan diri untuk bertanya.
"sebenarnya apa yang terjadi yank, kenapa kamu malah menghilang masuk ke dalam hutan...?" tanya starla penasaran
"aku kan pergi kencing terus pas kelar mau balik, aku liat kamu berdiri di tengah jalan ya aku samperin. eh taunya itu bukan kamu, malah demit yang nyamar jadi kamu. setelahnya aku diseretnya dan di bawa masuk ke dalam hutan" jawab Vino
"untung El dan ayah Adnan nemuin elu. eh tapi ngomong-ngomong Adam mana kok nggak keliatan dari semalam. dia kan juga ikut mencari Vino" ucap Leo
"dia dibawa wanita itu" ucap El
"wanita. wanita siapa...?" tanya ketiganya
"wanita yang membawa kabur Vino semalam. agar Vino selamat sebagai gantinya dia yang menggantikan Vino untuk dijadikan suami oleh wanita itu" jawab El
"suami...?" ketiganya tercengang
"jadi sekarang Adam akan menikah dengan wanita itu...?" tanya Leo
"gue juga nggak tau, Adam dibawa ke alamnya" jawab El lesu
"ya ampun dam, sampai segitunya elu yang rela korbanin diri demi gue" ucap Vino lirih
"kita nggak akan bisa liat dia lagi. bagaimana dengan tubuhnya yang masih koma jika rohnya sudah pergi ke alam lain" ucap starla
"kita nggak bisa melakukan apapun padahal dia yang selalu membantu kita" timpal Leo
"dia menyuruh kita untuk percaya padanya" ucap El
"maksudnya...?" kening starla mengkerut
"dia hanya bilang agar aku percaya padanya dan membawa Vino pergi. mungkin dia sedang merencanakan sesuatu karena tidak bisa melawan wanita itu yang sepertinya mempunyai kekuasaan"
"kalau memang seperti itu maka kita harus percaya padanya" ucap Vino yang sempat meneteskan air mata
ayah Adnan kembali, dia membungkuskan makanan untuk ke empat remaja itu. keempatnya makan di dalam mobil. Helmi segera tancap gas menuju kota yang masih lumayan jauh perjalanan.
hampir seminggu setelah kepulangan mereka dari kampung Sintia dan kesialan yang mereka dapatkan dalam perjalanan pulang, maka sudah selama itu juga Adam belum kembali.
El menjalani hari-harinya dengan tidak bersemangat karena ketidak hadiran Adam yang biasanya selalu mengekorinya kemanapun ia pergi.
"kamu kenapa nak, sakit...?" tanya ibu Arini
"nggak Bu, El baik kok" jawabnya
"kakak seperti orang putus cinta saja. habis diputusin pacar ya" goda Alana
"udah tau cinta-cintaan kamu ya sampai bicara begitu" jawab El menatap Alana
"Lana hanya nebak kak, lagian kakak lesu banget nggak seperti biasanya" timpal Alana
"udah udah tidak usah banyak debat. ayo makan dengan tenang" ayah Adnan kembali menambah nasinya
Zidan masih bergulat dengan pekerjaannya, kemudian pintu ruangan terbuka menampakkan wanita cantik yang sedang berdiri di sana.
"datang kok nggak bilang-bilang" ucap Zidan saat melihat Vania
"kejutan" jawabnya tersenyum
"iya aku terkejut. sini" Zidan merentangkan tangan ingin memeluk wanita itu
"kamu sibuk ya" ucap Vania setelah melepas pelukannya
"tidak terlalu. sebentar lagi juga selesai. mau menunggu ku...?"
"tentu" mengangguk kecil
"aku pesankan minum...?"
"boleh deh, aku mau yang dingin ya" ucapnya beralih ke sofa
Zidan menelpon Mita untuk memesan minuman boba yang dingin dan juga makanan karena dirinya sejak tadi pagi belum sarapan.
setelah menghubungi Mita, Zidan kembali dengan pekerjaannya sedang Vania bermain ponsel di sofa ruang kerja kekasihnya itu.
Pram melangkah menuju lift menuju ruangan Zidan. saat tiba di lantai ruangan bosnya, ia melihat Mita yang juga akan masuk ke ruangan itu dengan beberapa makanan dan minuman di tangannya.
karena kesulitan membuka pintu, Zidan mendorong pintu sehingga wanita itu menoleh namun sayangnya keseimbangannya goyah dan dirinya hampir jatuh. untungnya Pram segera merengkuh tubuh wanita itu dan memeluknya.
Mita menatap wajah tampan Pram yang mulus yang tidak ada jerawat pun yang hinggap. Mita akui kalau pria itu masuk dalam kriteria pria idamannya.
(tampan) pujinya dalam hati
"kamu tidak apa-apa...?" pertanyaan Pram membuyarkan lamunan Mita
"ah...iya, aku tidak apa-apa. maaf sekali pak dan terimakasih" ucapnya kikuk
"silahkan masuk" Pram mempersilahkan Mita masuk terlebih dahulu
__ADS_1
wanita itu melenggang masuk dan menyimpan makanan serta minuman ke atas meja.
"terimakasih" ucap Vania tersenyum
"sama-sama Bu" jawab Mita
"jangan panggil aku ibu, panggil nama saja. aku merasa seperti ibu-ibu komplek kamu panggil seperti itu"
"emmm tapi....."
"sudah jangan membantah. sekarang temani aku ya karena sepertinya bosmu akan membicarakan hal penting" Vania melirik Zidan yang sedang berbicara dengan Pram
"aku....masih ada pekerjaan Bu eh maksud saya Vania"
"sayang" panggil Vania
"ada apa...?" tanya Zidan melihat kedua wanita itu
"aku ajak sekretaris mu jalan ya, sepertinya kamu dan Pram sedang membicarakan hal yang serius"
"ah maaf Vania aku nggak bisa, aku harus kerja. masih ada yang harus aku kerjakan" Mita menolak
"tidak apa-apa Mita, temani saja. aku bisa meminta bantuan Ridwan" ucap Zidan
"tapi pak"
"udah ah, kamu kelamaan. sayang aku pergi dulu ya maaf tidak bisa menunggu kamu"
"hati-hati"
Pram melirik sekilas ke arah Mita yang digandeng tangannya oleh Vania dan membawanya keluar.
"bagaimana keluarga pak Adnan, aman kan...?" tanya Zidan
"aman untuk sekarang dan semoga kedepannya akan terus seperti itu" Pram beralih ke sofa dan mengambil satu minuman boba
"aku minum ya" ucapnya
"makan juga boleh. hubungi Randi dan Helmi, aku ingin mendengar cerita mereka saat dari kampung karyawan mas Adnan"
"sepertinya akhir-akhir ini Randi sangat dekat dengan Thalita, aku jadi curiga" ucap Pram sambil merogoh handphonenya
"memangnya kenapa kalau dekat, kamu cemburu...?" goda Zidan
"cih, pikiranmu terlalu jauh" cebik Pram
"oh ya Furqon dan Ardi kembali bekerja kan setelah sehari mereka libur karena Randi dan Helmi menggantikan mereka saat mas Adnan dan El pergi ke kampung"
"iya, keduanya sedang menjalankan tugas"
El dan sahabat-sahabatnya berada di kantin sekolah. semuanya tampak menikmati makanan yang mereka pesan.
"woi"
"uhuk uhuk"
"sialan lu Bara, kebiasaan banget sih bikin jantungan orang" Vino melemparkan pipet minumannya
"maaf maaf, gue sengaja" Bara duduk di samping Leo sedang Nisda di samping starla
"hai starla" ucap Nisda
starla hanya tersenyum karena mulutnya penuh makanan tidak bisa menjawab sapaan gadis itu.
"gue nagih utang woi" ucap Bara
"sejak kapan kita punya utang sama elu" timpal Leo
"hummm pura-pura amnesia, mau aku sebarin videonya"
"akan gue jelaskan tapi nggak sekarang, mungkin besok sepulang sekolah" jawab El
"ok, gue tunggu besok"
sepulang sekolah tim samudera berkumpul di rumah El seperti biasa. kini semuanya sedang berada di ruang tengah.
"elu yakin El mau memberitahu Bara...?" tanya Leo
"kenapa, kalian nggak yakin...?" tanya El balik
"gue ragu dan sangat ragu" jawab Vino
"sama, gue juga. gue nggak yakin dia bisa menutup mulut setelah tau tentang Adam. jangan sampai dia melakukan hal diluar dugaan kita, gue nggak mau mengambil resiko"
"benar kata starla. sekarang ini banyak yang memanfaatkan makhluk seperti Adam untuk tujuan tertentu. gue nggak mau itu terjadi" timpal Leo
"kalian berpikir terlalu jauh" ucap El
"kita harus memikirkan kemungkinan terburuknya El" ucap Leo
"entahlah, gue pusing. andai Adam ada di sini" El menyandarkan tubuhnya di sofa
"iya. dia selalu punya ide yang kadang-kadang ngawur namun cemerlang" timpal Vino
"gue jadi merindukannya. ada saja tingkah konyolnya, ngambeknya yang seperti anak kecil namun hal itu yang membuat kita selalu ingat padanya." starla bersandar di bahu Vino"
"kapan ya dia akan kembali atau jangan sampai dia nggak akan pernah kembali lagi" ucap Leo
"Adam" panggil El dengan lirih dan menutup mata
hening, semuanya terdiam dan membisu. entah kenangan apa yang terlintas di pikiran mereka tentang hantu itu namun yang pasti sekarang ini mereka sedang memikirkannya.
__ADS_1
"ekhem" suara deheman membuyarkan lamunan mereka