
Helmi mengendarai kereta besi berwarna hitam itu dengan kecepatan sedang. ayah Adnan tidak ingin menaiki pesawat, dirinya ingin ke kota K dengan mengendarai mobil. itu sudah biasa ia lakukan saat bepergian jauh sebelum menjabat menjadi pimpinan Sanjaya grup.
di samping pria itu ada Sisil, wanita yang bekerja sebagai sekretaris ayah Adnan. ayah Adnan duduk kursi bagian tengah dan membiarkan Sisil mengambil tempat duduknya yang seharusnya berada di depan.
sepanjang jalan, Sisil terus memeriksa handphonenya. beberapa kali ia mendesah berat, entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Helmi hanya melirik sekilas kemudian fokus pada kemudi mobilnya.
"kita berhenti di tempat peristirahatan Helmi" ucap ayah Adnan
"baik Pak" jawab Helmi
Helmi berhenti di tempat peristirahatan. mereka segera keluar dari mobil memilih warung makan yang tidak terlalu ramai orang-orang.
Sisil sejak tadi selalu fokus dengan handphonenya dan tangannya berselancar di benda pipih itu, sepertinya ia sedang berkirim pesan dengan seseorang.
Helmi menanyakan apa yang dibutuhkan oleh ayah Adnan. pria itu hanya memesan secangkir kopi saja untuk menemaninya beristirahat sejenak.
"kamu tidak ingin memesan sesuatu Sisil...?" tanya Helmi
Helmi bertanya kepada wanita itu namun Sisil tidak menjawabnya karena lebih fokus kepada handphonenya.
"Sisil" panggil Helmi namun lagi, Sisil tidak menyahut
"Sisil" Helmi memegang bahu wanita itu membuat Sisil tersentak kaget bahkan ia menjatuhkan handphonenya
"kamu baik-baik saja...?" tanya Helmi menatap Sisil yang wajahnya pucat karena kaget, padahal Helmi hanya memegang bahunya
"a-aku baik, aku baik-baik saja" jawab Sisil terbata
ayah Adnan melihat Sisil begitu lain dari biasanya. ia menangkap gelagat yang tidak biasa dari sekretarisnya itu, atau hanya perasaannya saja. itulah yang dipikirkan ayah Adnan
Helmi menunduk mengambil handphone Sisil yang jatuh namun secepatnya Sisil mengambil benda itu dan izin untuk ke kamar mandi "
"aku ke kamar mandi sebentar" tanpa menunggu jawaban, Sisil berlalu begitu saja
(aneh sekali dia hari ini) batin Helmi menatap Sisil menjauh
kopi yang di pesan oleh Helmi untuk ayah Adnan telah datang. seorang wanita menyimpan cangkir itu di depan ayah Adnan dan kembali berlalu pergi. karena merasa ingin juga meminum kopi, Helmi pun memesan satu untuknya.
di kamar mandi, Sisil sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
📞Sisil
aku ingin bicara dengannya
📞Mr A
dia sedang bermain dengan mainan barunya. tidak perlu khawatir sayang, aku menjaganya dengan sangat baik.
📞Sisil
tolong, aku hanya ingin mendengar suaranya. aku merindukannya
📞Mr A
maka tetap bersikap manis dan banyak tingkah jika kamu masih ingin melihatnya
📞Sisil
kamu benar-benar licik
📞Mr A
hahahaha..... kita berdua sama sayang. tidak perlu bersikap polos seperti itu. masih ingat dengan peristiwa di pernikahan Zidan, kamu bahkan banyak terlibat sayang dan karena kamu memalsukan data orang untuk undangan palsu seseorang.
📞Sisil
apa maumu...?
📞Mr A
kamu akan tau apa yang aku mau
tuuuuuuuuuut
panggilan di matikan bahkan sebelum Sisil menjawab. wanita itu begitu takut dan benar-benar bingung sekarang, apa yang harus ia lakukan. dirinya bagai memakan buah simalakama.
Sisil melihat walpaper handphonenya, foto dirinya dan juga putranya Azam. ia mengelus wajah anaknya itu dan perlahan air matanya jatuh.
Sisil kembali, namun saat keluar dirinya bertemu dengan Helmi yang sedang berdiri menatapnya tanpa ekspresi.
"H-Helmi" Sisil kaget karena pria itu berdiri tidak jauh darinya
"k-kamu ngapain d-disni...?"
"menurutmu, kalau orang datang ke kamar mandi mau ngapain...?" Helmi bertanya datar
Sisil tidak menjawab dan hanya meneguk ludah, ia tidak berani membalas tatapan Helmi yang menatapnya tanpa beralih ke arah lain.
"kembalilah, kita harus melanjutkan perjalanan" ucap Helmi meninggalkan Sisil yang berkeringat dingin
mereka kembali melanjutkan perjalanan dan hanya beberapa jam saja, mereka tiba di kota K. Helmi membawa ayah Adnan ke hotel yang telah dipesannya satu hari sebelum mereka berangkat. mereka memesan empat kamar hotel. untuk ayah Adnan, untuk Sisil, untuk Helmi dan satu lagi untuk pengawal lain yang jikalau mereka membutuhkan istrahat dan bergantian menjaga bos mereka.
"Sisil, apa jadwal ku hari ini...?" tanya ayah Adnan saat mereka sedang makan di restoran hotel itu.
"nanti malam bapak akan menghadiri pesta pernikahan putri dari Wisnu Angguna, besok pagi pukul 10.00 bapak akan ke perusahaan cabang untuk memeriksa setiap kinerja dan seluruh data yang berkaitan dengan perusahaan cabang Sanjaya grup"
"apa tidak bisa untuk semua data itu dan segala pengeluaran dan pemasukan perusahaan cabang, diwakilkan oleh Helmi saja...?"
"tidak bisa pak. hal ini memang selalu rutin dilakukan oleh pimpinan perusahaan pusat Sanjaya grup. karena belajar dari peristiwa dulu, banyak yang memalsukan data penghasilan dan keuangan dan hampir saja perusahaan cabang ditutup karena keteledoran orang yang dipercaya"
__ADS_1
"baiklah, tapi untuk ke pesta pernikahan aku ingin kalian berdua mewakili ku. kalian bisa kan...?" tanya ayah Adnan
Sisil tidak menjawab dan hanya menatap Helmi menunggu jawaban dari pria itu.
"bisa pak, kami akan mewakili bapak" jawab Helmi
"terimakasih Helmi, aku serahkan itu pada kalian berdua" ucap ayah Adnan
Helmi mengangguk dan melihat Sisil yang sedang memperhatikannya. wanita itu langsung menundukkan kepalanya dan melanjutkan makannya. entah kenapa saat ini Sisil tidak berani membalas tatapan Helmi, padahal biasanya mereka begitu akrab dan Helmi sering kali membantunya entah itu urusan pekerjaan atau urusan yang berkaitan dengan Azam, anaknya.
selesai makan, ayah Adnan kembali ke kamarnya untuk istrahat. dua orang pengawal mengikutinya dan berjaga di depan kamarnya. untuk dua orang pengawal lainnya selain Helmi, mereka sedang beristirahat di kamar dan akan bergantian menjaga kamar ayah Adnan.
"bagaimana aku bisa ke pernikahan itu, aku tidak memiliki baju" ucap Sisil
"maka kita beli. tidak perlu cemaskan itu" jawab Helmi
ting......
pesan masuk di handphone Sisil, ia membaca pesan itu dan kemudian tanpa membalas ia menyimpan kembali handphonenya.
ting.......
pesan masuk lagi. Helmi yang tidak begitu penasaran hanya melirik sekilas ke arah Sisil yang sedang membalas pesannya.
"bagaimana kabar Azam...?" tanya Helmi
"A-Azam...?" Sisil bertanya
"iya. bagaimana kabarnya...?"
"baik, dia baik" jawab Sisil mencari posisi duduk yang baik
"syukurlah. sepertinya dia memang baik-baik saja" ucap Helmi. dirinya masih ingat saat melihat Sisil dipeluk oleh pria yang tidak ia kenali dan di sana juga ada Azam yang tersenyum bahagia melihat Sisil
mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istrahat dan akan bertemu nanti malam untuk menghadiri pesta pernikahan putri Wisnu Angguna, salah satu pengusaha kaya di kota K yang bekerjasama dengan Sanjaya grup.
karena saat tiba sudah menjelang sore, maka pergantian ke malam hari tidak memerlukan waktu banyak. hanya beberapa jam saja siang berganti dengan malam.
tok... tok... tok
pintu kamar Sisil di ketuk. saat dibuka, seorang pelayan hotel membawakan Sisil sebuah bingkisan yang entah apa isinya. Sisil mengambil kota besar itu dan menutup pintunya.
ting..... pesan kembali masuk di handphonenya
Helmi : kamu sudah menerima kiriman ku...? maaf kalau bajunya tidak sesuai keinginan mu. aku ingin kamu memakai gaun itu
Sisil membuka kotak besar itu dan isi di dalamnya adalah gaun berwarna navy yang sangat cantik dan indah. polos dan tidak terbuka namun tetap elegan dipandang. ada juga sebuah kalung cantik di kotak kecil. Sisil tersenyum simpul dan membalas pesan Helmi.
Sisil : terimakasih, aku sangat menyukainya
Helmi membaca pesan wanita itu dan kemudian menyimpan kembali handphonenya. setelah bersiap-siap Helmi keluar dari kamarnya dan menghampiri pengawal yang ada di depan kamar bos mereka untuk tetap waspada dan jangan lengah dalam bertugas.
di dalam mobil, Sisil mengirim pesan kepada seseorang. dirinya begitu gugup dan ia meremas ujung bajunya.
"kamu kenapa...?" tanya Helmi melirik wanita itu
"tidak, aku tidak kenapa-kenapa" jawab Sisil mencoba untuk tetap tenang
ia kemudian membuka handphonenya dan membaca pesan yang masuk.
"lakukan dan bersikap biasa. aku sedang dalam perjalanan" itulah pesan yang masuk di handphone Sisil
hanya beberapa menit mereka sampai di hotel yang menjadi tempat pesta pernikahan. sudah banyak tamu undangan yang datang. Helmi dan Sisil keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
"sebenarnya kita mau kemana Zidan...?" tanya Randi
mereka bertiga berada di dalam mobil. tanpa ada angin dan hujan, Zidan langsung memberitahu mereka berdua untuk ke suatu tempat.
"menyelamatkan nyawa" jawab Zidan yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi
"nyawa siapa...?" tanya Pram
Zidan memberitahu mereka apa yang sebenarnya terjadi. Randi dan Pram mulai gelisah berharap mereka tidak terlambat tiba di sana.
"nak Zidan, Randi dan Pram mau kemana Vania, kenapa mereka terlihat buru-buru sekali...?" tanya ibu Arini saat melihat ke tiga pria itu berlari menuju mobil dan bahkan beberapa pengawal mengikuti mobil mereka
"Vania nggak tau bu. semoga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan" jawab Vania yang sebenarnya penasaran kemana suaminya akan pergi
"berdoa saja nona, semoga tidak terjadi apa-apa" ucap Thalita
"perasaan ibu mulai tidak enak ya. ibu jadi kepikiran ayahnya El" ibu Arini merasakan ketakutan
"in shaa Allah pak Adnan baik-baik saja bu" Vania menenangkan
"iya, semoga saja" jawab ibu Arini
ibu Arini ingin menghubungi ayah Adnan. ia pergi ke dalam kamarnya dan mengambil handphonenya untuk menelpon suaminya.
"kenapa tidak diangkat"
kembali ibu Arini terus menghubungi ayah Adnan namun handphone pria itu tidak ia angkat. ibu Arini semakin kalut dengan perasaannya.
"ada apa bu...?" El dan Alana masuk ke dalam kamar ibu mereka
"ayah tidak mengangkat telepon ibu" jawab ibu Arini
"mungkin ayah sudah tidur bu atau ayah sedang sibuk" ucap Alana
"mungkin saja. tapi perasaan ibu sangat tidak enak, entah kenapa ibu takut terjadi sesuatu kepada ayah" raut wajah khawatir begitu terlihat di wajah cantik wanita yang tidak lagi muda itu
__ADS_1
"kita berdoa semoga ayah baik-baik saja dan Allah selalu melindunginya" ucap El
"Aamiin" ucap Alana dan ibu Arini
"lebih cepat lagi Zidan" ucap Randi
mobil yang dikendarai Zidan melaju dengan sangat kencang. tidak peduli apapun yang terjadi, mereka harus segera sampai di tempat tujuan
di tempat lain, ayah Adnan menerima pesan dari Helmi bahwa mobil mereka mogok di tempat jalanan yang sepi. Helmi meminta bantuan agar ayah Adnan menyusulnya karena tidak mungkin menunggu taksi yang akan lewat tengah malam seperti itu.
"mau kemana bos...?" tanya pengawal yang berjaga di kamarnya
"menyusul Helmi, mobilnya mogok" jawab ayah Adnan
"berikan alamatnya, biar kami berdua yang pergi" ucap pengawal itu
"baiklah, harap cepat ya"
"baik bos"
kedua pengawal itu pergi dan mereka memanggil dua pengawal lainnya untuk menggantikan mereka berjaga di depan kamar ayah Adnan.
saat beberapa menit handphone ayah Adnan berdering.
📞ayah Adnan
Helmi, bagaimana......
📞Helmi
jangan keluar kamar pak. tetap berada di dalam kamar, jangan keluar
suara Helmi begitu berat seakan menahan sakit yang ia rasakan.
📞ayah Adnan
apa yang terjadi Helmi, kamu dimana sekarang
📞Helmi
jangan keluar pak. apapun yang terjadi. hubungi pihak hotel bahwa bapak dalam keadaan terancam. suruh mereka untuk menghubungi polisi
bughh...
bughh...
"Helmi, lepaskan aku keparat. lepaskan" seorang wanita teriak histeris. itu adalah suara Sisil
terdengar seseorang menendang Helmi dan itu sungguh sangat menyayat hati ayah Adnan.
📞Helmi
kalau kamu tidak segera datang, maka nyawa keduanya akan melayang.
suara itu, bukanlah suara Helmi melainkan suara yang seseorang yang saat ini menjadi dalang dari semuanya
📞ayah Adnan
aku akan datang. jangan sakiti mereka
📞Helmi
bagus.... aku tunggu kedatangan mu direktur Sanjaya grup. datang sendiri tanpa pengawal kalau tidak, aku pastikan akan menggorok leher pengawalmu ini dan juga sekretarismu
tuuuuuuuuuut
tanpa menunggu lagi ayah Adnan segera keluar dari kamarnya.
"mau kemana bos...?"
"jangan ikuti aku, kalian tetap di sini"
"tapi bos"
"aku tidak punya waktu. berikan pistol kalian"
"tidak, kami akan ikut kemanapun bos pergi"
"kalau kalian ikut bisa-bisa Helmi dibunuh sekarang juga. berikan pistol kalian"
"mereka tidak akan tau kalau kami berdua ikut. saat tiba di sana maka bos yang akan menemui mereka dan kami berdua akan menyelinap masuk. aku lebih baik mati jika hanya berdiam diri di tempat ini" ucap salah satu pengawal
"baiklah. aku hanya punya kalian berdua sekarang. teman kalian yang lain pasti pergi ke tempat jebakan dimana Helmi bilang kalau mobilnya mogok padahal itu bukan Helmi. apapun yang terjadi nanti, selamatkan Helmi dan Sisil. mengerti"
"kami juga akan melindungi bos. itu tugas kami" mereka bertiga berangkat menuju tempat dimana Helmi dan Sisil di sekap.
Sisil menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Helmi yang babak belur. hidung dan mulutnya berdarah, bahkan tangan pria itu terluka karena menahan pisau yang akan melukainya.
"maafkan aku...maafkan aku" Sisil memeluk erat tubuh Helmi dengan linangan air mata
"jangan menangis. aku tidak bisa melihat wanita yang aku cintai menangis" ucap Helmi lirih dan berusaha tersenyum
hal itu membuat Sisil merasa sangat bersalah dan menangis sejadi-jadinya memeluk Helmi.
"aku juga mencintaimu. aku mohon bertahanlah"
Sisil sangat berharap agar Zidan, Randi dan Pram segera datang. wanita itu sebelum melakukan tugasnya, ternyata sudah menghubungi Zidan di dalam mobil saat mereka akan ke hotel pesta pernikahan.
"lakukan dan bersikap biasa. aku sedang dalam perjalanan" itulah pesan dari Zidan saat dirinya memberitahu apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Sisil terpaksa melakukan perintah mantan suaminya karena dia tidak ingin pria itu menyakiti anaknya. namun ternyata Sisil juga memberitahu Zidan. biarlah dirinya dimarahi oleh pria itu yang terpenting sekarang dirinya sudah memberitahu.