Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 37


__ADS_3

setelah merasa lebih baik, ayah Adnan menyuruh Randi dan Helmi untuk mengantarnya pulang kembali ke hotel, sedangkan Jordi, pria itu kembali ke kantor. ia meninggalkan ayah Adnan bersama dua pengawalnya.


harusnya ayah Adnan akan bertemu dengan rekan bisnis perusahaan Sanjaya grup namun karena insiden itu, pertemuan dibatalkan dan akan dijadwalkan ulang oleh Sisil sekretarisnya.


"bapak yakin tidak mau dirawat dulu...?" tanya Helmi


"saya baik-baik saja. kata dokter luka saya tidak terlalu parah kan, itu berarti hanya memakan waktu nanti juga akan sembuh" jawab ayah Adnan


"baiklah, mari pak kami antar kembali ke hotel" ucap Randi


mereka bertiga pulang ke hotel setelah dokter yang menangani ayah Adnan mengizinkan untuk pulang. meskipun begitu sang dokter tetap memberikan hal-hal yang belum bisa dilakukan dan juga memberikan resep obat untuk ditebus di apotek nanti.


"kapan kita bisa pulang...?" tanya ayah Adnan


"sebenarnya dua hari lagi pak, tapi pak Zidan menyuruh kita untuk pulang secepatnya" jawab Randi


"kalian memberitahu Zidan tentang kejadian ini..?"


"pak Zidan harus tau pak, ini bukan masalah kecil. perencanaan pembunuhan yang hampir membuat nyawa kita melayang bukan hal yang harus ditutupi. pak Zidan mencari cara untuk membalas" ucap Helmi


"membalas, apa itu tidak berlebihan...?"


"tentu saja tidak. tidak ada belas kasih bagi musuh yang menggangu ketenangan musuh lainnya" ucap Randi


drrrrtttt.... drrrrtttt


๐Ÿ“žayah Adnan


halo bu, Assalamualaikum


๐Ÿ“žibu Arini


wa alaikumsalam. ayah lagi dimana...?"


๐Ÿ“žayah Adnan


dijalan pulang Bu


๐Ÿ“žibu Arini


pulang ke rumah ya yah...?


๐Ÿ“žayah Adnan


ke hotel Bu. in shaa Allah besok ayah pulang


๐Ÿ“žibu Arini


jaga diri baik-baik ya yah, ayah harus pulang dengan selamat


๐Ÿ“žayah Adnan


iya, ibu jangan khawatir


pasangan suami istri itu berbicara cukup lama di telpon dan tanpa terasa mobil mewah itu telah sampai di depan hotel.


ayah Adnan mengakhiri pembicaraan dengan istrinya.


"sore nanti antar saya membeli oleh-oleh untuk keluargaku"


"baik pak" jawab keduanya


ketiganya masuk ke dalam hotel untuk mengistirahatkan diri sebelum waktu sore tiba.


*********************************************


karena tidak membawa baju seragam sekolah, akhirnya El dan para sahabatnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing mengambil baju seragam dan akan bertemu di rumah Vino nanti.


Adam sudah dari tadi terus merengek untuk kembali berbelanja namun mereka memasang telinga pura-pura tuli tidak mendengar rengekan hantu itu.


"aku sebel sebel sebel" hantu itu mendaratkan kakinya di tanah dan menghentakkan seperti anak kecil yang sedang ngambek


'kenapa lagi sih dam, kita kan udah belanja tadi. nih lihat, semua ini belanjaan elu bukan punya gue." ucap El setelah turun dari angkot


keduanya menggunakan angkot karena El yang belum mempunyai motor. di tangan kiri dan kanannya menjinjing belanjaan Adam yang tidak mungkin hantu itu yang akan menjinjing belanjaannya sendiri.


"punya aku kan nggak banyak. hanya ada....1, 2, 3, 4, 5, 6, 7" Adam menghitung belanjaannya


"hanya ada tujuh" lanjutnya enteng


"hanya ada tujuh elu bilang dan itu belum banyak...? gue aja cuman satu Adam, satu dan elu punya tujuh masih aja bilang dikit" cibir El


"aku kan maunya banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer"


"cari duit sendiri sana baru belanja tumpah-tumpah, lumer-lumer" kesal El berjalan meninggalkan Adam


"dasar pelit" gerutu Adam


keduanya berjalan menuju rumah, lebih tepatnya hanya El yang berjalan kaki sementara Adam melayang di sampingnya.


hantu itu terus saja mengomel yang tidak jelas, namun El tidak menanggapinya dan bahkan sesekali El tertawa kecil saat mendengar perkataan Adam yang menurutnya lucu.


(dasar setan) batin El terkekeh


"halo mba Kun" Adam mengangkat tangannya menyapa teman hantunya di atas pohon mangga


El yang penasaran melihat ke atas. benar saja, di atas sana wanita berbaju putih dan rambut panjang sedang duduk manis di pohon itu sambil membalas lambaian tangan Adam


"jadi itu mba Kun yang jadi temanmu...?" tanya El


"iya, ada juga mas poci tapi sepertinya dia sedang mencari mangsa"


"mangsa...?"


"mangsa manusia penakut untuk ditakut-takuti"


"elu juga gitu...?" kali ini El menatap Adam tajam


"nggak...nggak, aku kan hantu baik" Adam menggeleng cepat


"baguslah"


El masuk ke dalam rumah dan Adam menyusulnya dengan melambaikan tangan kembali ke arah mba Kun.


mereka berdua masuk ke dalam kamar. dengan cepat Adam mengambil belanjaannya dan memeriksanya satu persatu sedangkan El, ia keluar menuju dapur.


di sana ia melihat ibu Arini yang baru saja selesai melakukan pembicaraan lewat telepon.


"ibu bicara dengan siapa...?" tanya El duduk di kursi meja makan

__ADS_1


ibu Arini menoleh dan tersenyum melihat putranya pulang.


"ibu habis telponan dengan ayah" jawab ibu Arini


"lalu kapan ayah pulang...?"


"ayah bilang besok"


El manggut-manggut dan membuka toples kerupuk, mengambilnya lalu memakannya.


"adek mana Bu, kok El nggak lihat...?"


"dia ke rumah Meri, ada tugas kelompok katanya"


ibu Arini melanjutkan pekerjaannya, memasak untuk makan malam nanti karena hari sudah semakin sore.


rencananya El akan meminta izin untuk menginap di rumah Vino namun ia tidak tega meninggalkan ibu dan adiknya hanya berdua saja di rumah tanpa ada laki-laki yang menemani.


sambil memakan kerupuk, El mengirimkan pesan kepada para sahabatnya.


grup Trio kece


El : sorry ya, gue nggak bisa ikut nginap di rumah Vino


1 detik, 2 detik, 3 detik


Leo : lah kenapa...?


Vino : kok gitu sih, kan udah janji tadi. El mah suka gitu ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข


El : gue nggak bisa ninggalin ibu sama Alana berdua aja di rumah


Leo : ok lah, kalau gitu rencana nginapnya kita ubah


Vino : diganti hari lain maksudnya...?


Leo : nggak, diganti dari rencana nginap di rumah elu, kita ganti nginap di rumah El. gimana...?


starla : gue setuju....setuju bangeeeeet ๐Ÿ‘Œ๐Ÿค—๐Ÿฅฐ


Vino : lah sejak kapan nih anak nongol di sini...?


Leo : gue yang kasi nongol


Vino : main kasi masuk aja lu, nggak bilang-bilang juga


Leo : gue udah bilang kok sama El


Vino : elu bilang sama El tapi sama gue nggak....gue benar-benar cekewa ๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜ 


starla : kecewa markonah, gitu aja salah ๐Ÿ˜


El : kalau mau datang, gue tunggu ya


Vino : tau ah, gue ngambek ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ


starla : ulu ulu ulu.....ngambek ya, cini aku peluk sayang sayang


Leo : nggak usah drama deh. gue mau siap-siap dulu...bye


El : gue tunggu ya, bye


Vino : udah, pergi aja semua...nggak usah muncul-muncul ๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜ 


ting....


notifikasi pesan masuk di handphone Vino. dengan malas, Vino membuka layar handphone.


starla : jemput gue ya, gue nggak bawa motor


"cih, nih cewek sukanya sama El tapi gue mulu yang dia hubungi, heran gue"


"ok, bentar lagi gue jemput" send


Vino segera mengambil handuknya dan bergegas untuk mandi.


"Bu, masak yang banyak ya... teman-teman El mau nginap di sini" ucap El


"Leo sama Vino...?"


"iya. El bantu ya"


"tidak usah, kamu mandi sana bentar lagi magrib"


"ya sudah... makasih ya Bu" El memeluk ibu Arini dengan sayang


"hummm manjanya" ibu Arini mengelus lembut kepala anak sambungnya itu


cek lek


El membuka pintu kamar dan yang pertama ia lihat ialah baju yang berserakan di lantai, sedangkan teman hantunya sedang melihat dirinya di cermin.


"gantengnya diriku... gantengnya diriku, tak jenuh jenuh aku memandangnya...asik...taarik bang" Adam menyanyi di depan cermin dengan sisir sebagai microfonnya


"ekhem ekhem" El berdehem


Adam langsung menoleh dan tersenyum memperlihatkan gigi-giginya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"hehehe...hola" Adam mengangkat tangannya menyapa El yang sudah memiliki tanduk kecil di kepalanya


"beresin nggak"


"jangan dulu, aku belum mencoba semuanya"


"ya tapi jangan berantakan gini juga dam, elu pikir ini kandang ayam. beresin atau gue kasi kembali semuanya" ancam El


"his...iya iya, aku beresin nih. marah-marah mulu"


Adam melayang mengambil satu persatu pakaian yang berserakan di lantai dan menyimpannya di atas kasur.


"sepatu jangan simpan di sini Adam Hawa, noh di rak sepatu sana"


Adam mengambil sepatu-sepatu yang dia beli tadi dan menyimpannya di rak sepatu. kemudian ia kembali berkutat di depan cermin dengan menyisir rambutnya.


"udah rapi, ganteng, mau kemana pak...?" tanya El memperhatikan teman hantunya itu


"mau kencan" jawab Adam asal


"kencan di pohon mangga sama mba Kun...?"

__ADS_1


"bukan, tapi sama sundel bolong. ck, udah tau kita mau ke rumah Vino, pake nanya lagi" kesal Adam


"ke rumah Vinonya nggak jadi, batal" El mengambil handuknya berniat untuk mandi


"yaaah kok batal sih, aku kan sudah siap 46...sudah ganteng pula" seketika wajah Adam menjadi murung


"ganteng juga nggak ada yang liat, palingan cuman mba Kun" El melengos masuk ke kamar mandi


"huaaaaaa...sebel sebel sebel" Adam meraung-raung di atas kasur


buuukkk...


"aw" ringis El terkena lemparan bantal dari Adam


gleg.....


(alamaaa.... pertanda alarm bahaya akan berbunyi nih) Adam menelan ludahnya susah mendapat tatapan tajam dari El


"Adam sukardiiiiiiiiiii" teriak El dengan perasaan kesal


"kabooooooor" dengan merapatkan kedua tangannya, Adam seketika menghilang dari pandangan El


"awas aja lu ya kalau nongol, gue cincang jadikan sate"


dengan kesal El mengambil bantal yang digunakan Adam tadi untuk melemparnya dan menaruhnya di tempat seharusnya kemudian ia pergi masuk ke kamar mandi.


"mah...kakak ke rumah El ya" Leo bergelayut manja di lengan mamanya


"sudah izin sama papa belum...?" tanya ibu Melisa, mamanya Vino


"udah kok, tadi kakak telpon dan papa izinin"


"ya sudah, hati-hati ya. nih sekalian bawa untuk El dan keluarganya" ibu Melisa memberikan bingkisan kepada Leo


"apa ini...?" Leo melihat isi di dalamnya


"kue buatan mama"


"makasih mah, pasti mereka suka karena kue buatan mama kan enak banget"


Leo mencium tangan ibu Melisa kemudian pergi keluar rumah menuju rumah El


"kak, aku pergi dulu ya" pamit Vino pada Rain yang berada di ruang keluarga


"mau kemana...?" tanya Rain melihat Vino membawa tas ransel


"ke rumah El, sekalian mau nginap"


"udah izin sama mama papa belum...?"


"papa udah"


"mama...?" Rain menatap adiknya itu


"nggak perlu"


Vino mencium tangan Rain dan melangkah pergi namun Rain memanggilnya kembali


"dek, kakak sama papa nggak pernah ngajarin sikap seperti itu kan"


langkah Vino terhenti, ia menghela nafas panjang. bukannya tidak ingin namun Vino lebih tidak ingin mendengar cacian lagi dari ibunya itu.


"pergi saja sana, kalau perlu tidak usah kembali" ucap mama Nifa yang baru datang dari arah dapur


"mah, bisa nggak sih sehari saja mama nggak marah-marah terus. salah Vino dimana...?" kini Vino berbalik menatap mamanya


"salahmu karena sudah menghancurkan hidupku, masih berani bertanya kamu' mama Nifa menunjuk Vino dengan marah


bahkan kejadian yang menyebabkan tangan Vino terluka kembali karena menyuruh mamanya untuk menusuknya, tidak membuat mama Nifa sadar akan semua perbuatannya.


"kalau mama menyalahkan kelahiran ku, bukankah itu artinya mama menyalahkan Tuhan juga yang telah menitipkan ku ke rahim mama" Vino menatap sendu wanita yang menjadi ibunya itu


mama Nifa terdiam, ia tidak menjawab perkataan anaknya itu.


"andai bisa memilih, Vino juga tidak ingin terlahir dari rahim seorang wanita yang menginginkan Vino mati" sekuat hati Vino menahan air matanya agar tidak tumpah


"namun Vino tidak bisa melawan takdir Tuhan yang melahirkan Vino dari rahim mama. meskipun mama sangat membenci Vino, tapi Vino sangat menyayangi mama"


Rain berdiri memeluk Vino yang sepertinya akan menangis. mama Nifa terpaku di tempatnya tanpa sepatah katapun.


Vino melepas pelukan Rain dan berpamitan kembali. ia menyalakan motornya dan meninggalkan rumah mewah itu


"entah kapan mama akan sadar dan menerima Vino. jangan sampai mama menyesal dikemudian hari" Rain pergi meninggalkan mama Nifa


๐Ÿ“ž Vino


halo, keluar lu...gue udah di depan pagar rumah lu nih


๐Ÿ“žstarla


oke


klik...


Vino mematikan panggilannya, hanya beberapa menit menunggu starla datang menghampirinya.


"hai" senyum starla


"elu diizinkan nggak nginap di rumah El...?"


"iyalah, kalau nggak mana bisa gue keluar"


mereka berdua meninggalkan rumah starla menuju rumah El. menjelang magrib memang jalan sangatlah macet. Vino mengambil jalan pintas agar tidak terkena macet.


hampir malam, suara adzan berkumandang. Vino menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah El namun tiba-tiba saja ada seseorang yang berdiri menghalangi jalan sehingga dengan terpaksa Vino membanting motornya ke arah kanan.


braaakkk....


Vino menabrak pohon besar, keduanya jatuh dari atas motor.


"La, starla" panggil Vino karena ia tidak melihat starla di dekatnya


Vino membuka helmnya dan melihat sekelilingnya, menjelang magrib suasana di sekitar menjadi gelap.


"starla" panggil Vino keras


"V-Vino... t-tolong" teriak starla dengan lirih


"La"

__ADS_1


Vino berlari menghampiri starla yang terlempar jauh darinya. ia gunakan senter handphonenya sebagai penerangan. namun kakinya seketika berhenti saat melihat siapa yang bersama dengan starla.


seorang wanita menduduki perut starla dan mencekik lehernya. saat Vino datang, wanita itu melihat Vino dengan tatapan tajam dan senyum yang mengerikan.


__ADS_2