Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 166


__ADS_3

senja digantikan malam, matahari tenggelam di telan malam yang gelap gulita di puncak Boneng. suara burung saling bersahutan, burung hantu yang dipercaya banyak orang bahwa makhluk itu adalah makhluk membawa pertanda buruk.


"bagaimana kita akan sholat sementara kita nggak bawa mukenah" ucap Melati


"ibu punya mukenah tapi hanya satu. kita bisa sholat secara bergantian dan untuk laki-laki sebaiknya kalian ganti baju dulu"


"kami nggak punya baju ganti bu, kami tidak tau kalau akan seperti ini kejadiannya" El-Syakir menjawab


"kalau begitu pakai sarung saja, jangan memakai pakaian basah seperti itu nanti kalian masuk angin dan demam" ibu itu berjalan ke arah dapur warungnya. di dapur itu ada satu kamar yang memang di sediakan oleh suaminya jika mereka butuh istirahat


si ibu kembali lagi dengan membawa pakaian ganti untuk El-Syakir dan Vino.


"pakai pakaian ini, ganti pakaian kalian dengan baju dan celana yang ibu ambilkan ini"


"pakaian siapa ini bu...?" tanya Vino


"anak ibu. tadinya ibu ingin mengambikan kalian sarung namun ternyata anak ibu menyimpan beberapa potong pakaiannya di sini. pakailah setelah itu kalian sholat. tempat berwudhu ada di belakang di dekat tempat cuci piring"


"terimakasih banyak bu" El-Syakir dan Vino mengambikan pakaian itu


El-Syakir dan Vino sholat berdua berjamaah sementara untuk perempuan mereka harus saling bergantian karena keterbatasan mukenah yang mereka punya.


sambil menunggu anak-anak itu selesai sholat, ibu Nurul pemilik warung itu memasak sesuatu untuk mereka makan. tidak mungkin menunggu kedatangan suaminya dengan membiarkan anak-anak itu kelaparan.


"Mel, gue pengen pipis nih" Starla mengapit kakinya


"harus banget ya La...?" tanya Melati. mereka berdua telah selesai sholat, tinggal yang lainnya


"banget, masa iya gue nahan sampai pagi, auto bocor nanti"


"ya udah gue temani keluar, tapi minta senter dulu sama ibu tadi. sebentar gue ke dapur" Melati meninggalkan Starla dan yang lainnya menghampiri ibu Nurul di dapur


"kita kan nggak boleh keluar kak, itu pesan bapak tadi" ucap Zahra


"nggak mungkin gue pipis di sini kan Zahra, dimana lagi kalau bukan di luar" jawab Starla


"minta temani sama kak El atau kak Vino saja, setidaknya harus ada laki-laki yang menemani jangan cuman berdua aja sama kak Melati, di luar berbahaya" Alana memberi saran


"kenapa sayang...?" Vino baru saja datang bersama El-Syakir setelah melakukan sholat


"pengen pipis" jawab Starla dengan gelisah


"La, ayo gue antar" Melati datang dengan memegang sebuah senter di tangannya


"gue aja yang temani Mel, sini senternya" Vino mengambil alih senter yang dipegang oleh Melati


"ayo sayang" ajak Vino


"hati-hati Vin, jangan jauh-jauh. disekitar warung ini saja" El memperingati


"iya, di belakang warung kok" jawab Vino


Vino membuka pintu dapur, ia keluar di susul oleh Starla.


"jangan jauh-jauh ya nak" pinta ibu Nurul


"iya bu" jawab Vino dan Starla


"bawa satu obor untuk berjaga-jaga" perintah ibu Nurul


Vino mengambil satu obor dan berjalan menjauh dari warung sementara Starla di sampingnya. ibu Nurul segera menutup pintu namun tidak menguncinya, karena tidak mungkin mengunci kedua anak itu di luar sana.


"kamu di sini aja yank, aku mau ke situ"


"nih, pegang senter ini untuk penerangan mu" Vino memberikan senter kepada Starla


dengan senter yang ada ditangannya, Starla menerangi jalannya. di tempat itu sangat gelap tanpa cahaya apapun selain dari cahaya obor yang ada di warung dan yang dipegang oleh Vino.


setelah sedikit jauh dari Vino, Starla duduk di balik pohon untuk buang air kecil sementara Vino membelakangi gadis itu. matanya menelisik ke segala arah, ia dengan waspada mengawasi jangan sampai ada makhluk yang menyerang mereka.


"sayang" panggil Starla pelan


Vino berbalik, gadis itu sudah berdiri tepat di belakangnya.


"sudah...?" tanya Vino


"udah, ayo balik" Starla mengapit lengan Vino


mereka berdua tiba di pintu dapur. Vino segera menyimpan kembali obor yang ia ambil dan mereka masuk ke dalam. tanpa mereka tau dari kejauhan sepasang mata yang mengerikan sedang mengintai mereka. bukan hanya sepasang mata tapi beberapa mata sejak matahari tenggelam sudah mengintai mereka sejak tadi.


mobil pickup hitam pada malam itu menembus gelapnya malam di tengah perjalanan dari puncak Boneng. pak Samsul yang mengemudi semenjak Leo dan Bara duduk di sampingnya.


malam itu mobil mereka keluar dari kawasan puncak Boneng dan menuju ke jalan raya.


"kita cari pakaian untuk kalian berdua dulu, bisa sakit jika kalian terus memakai pakaian yang basah seperti itu" ucap pak Samsul


"iya pak, saya sudah tidak betah pakai baju basah seperti ini" timpal Leo


"kalau begitu kita ke rumah bapak dulu. kalian bisa meminjam pakaian anak bapak"

__ADS_1


"masih jauh ya pak...?" tanya Bara


sekitar satu kilo lagi" jawab pak Samsul


karena sudah berada di jalan raya, maka kini mobil pickup itu tidak sendiri lagi dalam membelah jalan raya. banyak kendala lain yang berlalu-lalang. seperti yang dikatakan pak Samsul, satu kilo dari jalan tempat keluar puncak Boneng, mereka telah sampai di desa tempat tinggal pak Samsul.


"loh bukannya ini desa Boneng ya" ucap Bara


"kalian tau desa ini...?"


"tau pak, bahkan kami memang menginap di desa ini. di rumah pak Firman dan ibu Nurman. teman kami yang hilang itu salah satunya adalah kak Deva dan Adam kakak teman kami yang masih ada di puncak Boneng" Leo memberitahu dimana mereka tinggal di desa itu


"kalau seperti itu kita langsung saja ke rumah pak Firman" mobil pak Samsul berbelok ke arah kanan


sama seperti malam pertama mereka menginap, di desa itu setiap rumah di kelilingi obor bahkan tidak seorangpun yang mereka lihat di luar rumah. semua pintu-pintu rumah tertutup rapat.


mobil pak Samsul memasuki halaman rumah pak Firman. pak Firman dan ibu Nurma yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka seketika langsung melangkah cepat ke arah pintu dan membukanya.


"pak Samsul...?" pak Firman bingung mengapa laki-laki itu datang di rumahnya. ia kira Deva dan teman-temannya yang datang namun ternyata bukan. tidak ada Deva, yang ada hanya Leo dan Bara serta pak Samsul


"kenapa Kalian berdua saja, mana yang lain...?" ibu Nurma langsung memberi pertanyaan


"lebih baik kita masuk ke dalam pak Firman, di luar sangat rawan" usul pak Samsu


"baiklah, ayo masuk" ajak pak Firman


setelah semuanya berada di dalam, pak Firman buru-buru menutup pintu dan menguncinya


ibu Nurma menyuruh Leo dan Bara untuk mengganti pakaian mereka. sedangkan para orang tua menunggu di ruang tamu.


"ada apa ini pak Samsul...?" tanya pak Firman sangat penasaran


"anak-anak ini mengalami masalah pak Firman" jawab pak Samsul


"masalah...? masalah bagaimana maksudnya pak...?" tanya ibu Nurma


"biarkan kedua anak itu yang memberitahu kalian. namun sekarang kami tidak boleh lama di sini, kami harus ke rumah pak Zainal"


"ke rumah pak Zainal...?" tanya pak Firman


belum sempat menjawab, Leo dan Bara telah datang dan bergabung bersama mereka.


"Leo, Bara. tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya" ucap ibu Nurma


"begini bu"


Leo mulai menceritakan kejadian yang mereka alami saat berada di puncak Boneng. mulai dari awal saat mobil Bara menabrak kucing hitam. hingga saat tiba di puncak dan mereka kehilangan Wulan yang pada saat itu izin kepada yang lain untuk buang air kecil.


"astaghfirullahaladzim pak, anak kita" ibu Nurma histeris mendengar Deva menghilang di puncak Boneng


"jadi itu alasannya kalian ke rumah pak Zainal...?" tanya pak Firman


"benar pak Firman, hanya beliau saat ini yang dapat membantu kita. sebelum malam bulan purnama sebelum masuk jam 12 malam, kita harus menemukan mereka. jika tidak sangat bahaya, karena malam ini mereka akan keluar untuk mencari mangsa" ucap pak Samsul


"mereka siapa pak...?" tanya Leo yang begitu penasaran


"tidak punya waktu untuk menceritakan itu, kita harus segera ke rumah pak Zainal"


"kalau begitu saya ikut pak Samsul, saya ingin mencari Deva"


"lalu siapa yang menemani ibu Nurma, pak Firman...?"


"kami akan berusaha semampu kami untuk menemukan kak Deva dan Adam pak. biar kami saja yang ke rumah pak Zainal" ucap Bara


"berhati-hatilah, jika kalian tidak menemukan mereka sebaiknya hentikan pencarian sebelum jam 12 malam" pak Firman memperingati


"baik pak. kalau begitu kami harus pergi sekarang. tidak banyak waktu yang kami punya" ucap pak Samsul


pak Samsul, Leo dan Bara keluar dari rumah. mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah pak Firman. sangat sunyi dan sepi desa itu, seperti desa mati yang tidak berpenghuni.


"pak bagaimana jika Deva tidak kembali seperti korban hilang yang lainnya" ibu Nurma begitu frustasi memikirkan keadaan anaknya


"jangan berpikir yang buruk dulu bu, semoga Deva dan Adam baik-baik saja termasuk juga Wulan" pak Firman berusaha menenangkan istrinya


"bagaimana ibu tidak berpikiran buruk, sudah tiga korban yang hilang dan sampai saat belum juga di temukan"


"kita harus berpikir positif bu, bukankah Deva bukan anak sembarangan. dia punya ilmu yang diwarisi dari kakeknya. dengan ilmu yang dimilikinya, dia bisa menjaga diri"


"sekarang kita harus ke rumah pak Banu, mereka harus tau kalau Wulan hilang di puncak Boneng"


pak Banu adalah ayah dari Wulan sedang istrinya bernama Murni.


"tapi diluar itu bahaya pak"


"bapak akan membawa obor, ibu di rumah saja. tutup dan kunci pintunya"


pak Firman keluar dari rumah dan ia mengambil obor. entakah obor itu akan melindungi dirinya atau menerangi jalannya, tapi yang pasti warga desa itu sangat membutuhkan obor untuk keselamatannya mereka.


mobil pak Samsul terus menyusuri jalan raya, kini sudah dua kilometer mereka menjauh dari desa Boneng.

__ADS_1


"apa masih jauh pak...?" tanya Leo yang sebenarnya sudah tidak sabar untuk sampai di rumah sewa yang mereka perlukan bantuannya


"tidak jauh lagi" jawab pak Samsul


"pak boleh saya bertanya...?" tanya Bara


"kamu pasti penasaran ada apa sebenarnya dengan desa Boneng dan puncak Boneng kan...?" pak Samsul melirik Bara sekilas


"iya. memangnya desa itu kenapa pak. dari pertama kami datang kami sudah curiga ada yang tidak beres dengan desa itu" Bara sangat ingin tau begitu juga dengan Leo


"kita sampai" bukan menjawab, pak Samsul hanya memberitahu kalau mereka telah sampai di rumah yang di tuju


"ini rumahnya...?" tanya Leo


"iya, ayo turun" ajak pak Samsul


ketiganya turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah rumah yang yang bercat putih itu.


"assalamualaikum" pak Samsul mengucap salam


"wa alaikumsalam"


cek lek


"pak Samsul, mari masuk pak" seorang wanita baya mempersilahkan mereka masuk


"maafkan saya bu Ainun telah mengganggu malam-malam"


"sama sekali tidak pak. ada apa ya...?" tanya ibu Ainun, istri dari pak Zainal


"begini bu, kami datang ingin menemui pak Zainal" pak Samsul memberitahu maksud tujuan mereka


"oh mau bertemu pak Zainal. bapak ada, tapi sekarang dia masih di masjid mungkin sebentar lagi pulang" ibu Ainun menjawab dengan santun


"astaghfirullah" Leo dan Bara mengucap istighfar


"kenapa nak...?" tanya ibu Ainun kepada keduanya


"maaf bu, boleh kami menumpang untuk sholat...?" Bara memberanikan diri untuk bertanya. sebenarnya maksud dari keduanya beristigfar adalah karena mereka melupakan untuk sujud kepada Tuhan mereka. bahkan magrib tadi mereka melewatkan begitu saja


"oh iya boleh boleh. mari saya antar ke tempat wudhu" ibu Ainun mengangguk mempersilahkan


sembari menunggu kepulangan pak Zainal, ketiga tamu ibu Ainun melaksanakan sholat di mushola rumahnya. wanita itu membuatkan minuman untuk para tamunya.


"assalamualaikum" suara salam terdengar dari luar


"wa alaikumsalam" ibu Ainun menjawab


suaminya baru saja pulang dari masjid, ia duduk di sofa dan mengerutkan kening saat melihat empat cangkir minuman tersedia di atas meja.


"buat siapa bu...?" tanya pak Zainal


"buat tamu yang mencari bapak, tapi sekarang mereka masih sholat" jawab ibu Ainun


"tamu...? siapa...?"


"nah itu mereka datang"


pak Zainal melihat ke arah para tamunya, seorang pria baya dan dua anak remaja.


"pak Samsul"


"iya pak ini saya, apa kabar pak...?" pak Samsul menyalami tangan pak Zainal


"Alhamdulillah baik, silahkan duduk"


"tadinya saya penasaran siapa yang datang bertamu malam-malam, rupanya itu anda pak Samsul"


"maafkan saya sudah mengganggu waktu istirahatmu pak Zainal"


"sama sekali tidak. ada apa, apakah ada hal yang mendesak...?"


"begini pak, kedua anak-anak ini membutuhkan pertolongan bapak"


pak Zainal menatap Leo dan Bara bergantian. kedua remaja itu tersenyum sopan dan maju mendekat mencium tangan pak Zainal.


"saya Leo pak dan ini teman saya Bara" Leo memperkenalkan diri


"ada apa sampai mencari saya...?" tanya pak Zainal


Leo dan Bara saling pandang, mereka seakan segan untuk mengutarakan niat mereka menemui pria itu.


"tiga orang teman mereka hilang di puncak Boneng pak Zainal" pak Samsul yang kini memberitahu


"puncak Boneng...?" tanya pak Zainal


"iya pak" jawab pak Samsul


pak Zainal menatap kedua remaja itu dengan tatapan menelisik. namun yang lebih ia telisik adalah Bara yang ia tatap secara begitu lekat.

__ADS_1


"kamu.....telah melakukan kesalahan" pak Zainal menatap tajam Bara yang kini sedang kaku meneguk ludahnya


__ADS_2