
POV (El-Syakir)
kami melewati orang-orang itu yang tergeletak di tanah akibat asap beracun yang dilemparkan oleh paman Randi tadi. ku dekati pintu vila dan mencoba untuk membukanya dan beruntung, pintu belakang tidak di kunci.
aku membuka sedikit pintu kemudian memasukkan kepalaku ke dalam, melihat situasi apakah aman atau tidak. di dapur terlihat sepi, berarti aman untuk kami masuki.
"gimana...?" tanya Vino
"aman aman" jawabku
aku membuka pintu dengan lebar kemudian kami semua masuk ke dalam. dengan mengendap-endap bagai pencuri, kami mengawasi setiap sudut jangan sampai ada orang yang melihat kami.
"nggak ada orang, kita ke ruang tengah" ucap Leo
baru hendak melangkahkan kaki ke ruang tengah, ada dua orang yang datang ke arah kami. refleks kami mencari tempat persembunyian namun sayangnya tidak ada tempat yang cocok untuk bersembunyi sehingga kedua orang itu melihat kami berempat.
"hei....sia"
buaaaak
buaaaak
duhg
Vino dan Bara menendang kedua kepala mereka sedang aku dan Leo menabrakkan kepala mereka masing-masing ke tembok hingga keduanya jatuh pingsan.
"aduh, pasti sakit banget tuh" ucap Bara meringis melihat dahi keduanya memerah dan benjol
"elu mau dibuat seperti itu, kalau mau sini gue bantu" ucap Vino yang ingin memegang kepala Bara
"nggak lah, gila lu" Bara mencebik dan menjauh dari Vino
dua orang telah kami eksekusi, kini kami kembali melangkah menuju ke ruang tengah.
"kamar tante Vania dimana El...?" tanya Leo
"sebelah kanan, bersebelahan dengan kamar Gibran" jawabku mengintai setiap sudut
"yang dua itu kah...?" tanya Bara menunjuk dua kamar yang saling berdampingan
"iya, tapi kok kamarnya terbuka lebar begitu ya" jawabku
"jangan-jangan" Vino menerka-nerka
gegas aku berlari ke arah kamar tante Vania berada, saat masuk tante Vania sudah tidak ada di dalam. aku beralih ke kamar Gibran dan dia juga tidak ada di dalam. apa iya mereka sudah ditangkap atau dibawa ke tempat persembunyian oleh Furqon.
"kak Furqon, kakak dimana...?" aku mencoba memanggil kak Furqon lewat headset yang aku punya namun tidak ada jawaban
malah telingaku berdengung dan headset yang aku pakai serasa panas. aku mencopot headset yang ada di telingaku dan benda itu jatuh ke lantai.
"kenapa El...?" tanya Bara
"panas, headsetnya panas" jawabku mengusap telinga
"sepertinya terbakar, tapi kok bisa ya" Vino berjongkok dan mengambil headset itu
"kalau sudah rusak berarti kita nggak bisa komunikasi dengan yang lain. bagaimana ini...?" ucap ku frustasi karena benda satu-satunya yang menjadi alat komunikasi untuk kami, telah rusak
"sudah lupakan tentang headset, sekarang kita cari tante Vania dan yang lainnya" ucap Bara
kami meninggalkan dua kamar ini dan memeriksa ke kamar yang lain namun tetap saja satu persatu kamar kami periksa, tidak menemukan kebenaran tante Vania ataupun yang lain.
dor
dor
"kalian dengar...?" aku menatap semuanya karena mendengar suara tembakan
"di depan" ucap kami serempak
buru-buru kami berlari menuju ke arah depan, rupanya paman Zidan serta tiga pengawal sedang menghadapi orang-orang Baharuddin. di depan sana, aku melihat dua orang sedang dimasukkan ke dalam mobil. mereka adalah tante Vania dan Gibran sedang kak Furqon dan dokter Nathan tidak terlihat.
"mereka mau membawa tante Vania dan Gibran" ucap Leo
"brengsek, jangan harap bisa membawa mereka Aris sialan" umapatku dengan emosi
aku berlari ke arah dimana Aris tengah bersiap untuk masuk ke dalam mobil. aku melayangkan tendangan ke arah laki-laki itu hingga Aris jatuh tersungkur ke tanah. bahkan tongkat yang ia pegang aku patahkan menjadi dua.
__ADS_1
"bangun kau" aku memegang kerah bajunya dan
buaaaak
buaaaak
ku beri hadiah bogem mentah di wajahnya membuat Aris kembali tersungkur ke tanah.
"El, di belakang" teriak Vino memberitahu
aku berbalik dan orang yang ada di belakangku akan menusuk diriku dengan pisaunya namun yang terjadi
jleb
Leo datang dan menghunuskan pedangnya tepat di leher orang itu, bahkan pedang Leo tembus di bagian leher belakangnya. darah mengucur seperti air begitu deras.
Leo menarik pedangnya dan menendang orang itu yang perlahan meregang nyawa.
"APA YANG KALIAN LIHAT, TANGKAP MEREKA SEMUA" teriak Aris yang jelas sudah emosi
kami mulai di kepung, sementara aku melihat paman Zidan dan tiga pengawalnya sedang menghadapi kak Furqon dan dokter Nathan. apa yang terjadi kepada mereka, kenapa malah kak Furqon dan dokter Nathan menyerang paman Zidan dan yang lain.
aku yang sedang fokus memperhatikan pertarungan paman Zidan, seketika punggungku langsung di tendang dan tentu saja aku terhuyung ke depan dan mencium tanah.
"sialan, berani sekali dia menyentuhku" ucapku dengan penuh kekesalan
satu orang melompat ke arahku dan mengunci leherku dengan lengannya yang besar dan berotot.
seketika aku sesak nafas bahkan mataku mungkin sekarang sudah memerah, air mataku mulai menetes.
Allah
sakit sekali rasanya, nafasku bahkan akan terhenti dan mungkin sudah di tenggorokan. kakiku meronta-ronta di tanah.
J-jan Sarikan l-lungurtum k-kris larangapati
dengan nafas yang mungkin tidak berapa lama lagi akan terlepas dari raga, aku mengeluarkan keris larangapati. cahayanya menyilaukan mata semua orang, dan
jleb
jleb
uhuk...uhuk
aku jatuh ke tanah dan terbatuk-batuk, memegang leherku yang begitu sakit. ya Allah, hampir saja...hampir saja aku menjadi mayat saat ini.
cahaya keris larangapati mulai redup, laki-laki yang aku tusuk teriak kesakitan memegang pahanya yang terus-menerus mengucurkan darah. tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku berdiri meski sebenarnya tenagaku begitu terkuras. aku mendekatinya dan berjongkok kemudian menancapkan keris larangapati tepat di jantungnya. matanya membelalak memegang keris ku.
"selamat bertemu malaikat maut" bisikku di telinganya dan memperdalam tusukan kerisku
aku cabut keris milikku dan lawanku mati di tempat. aku akan menghabisi siapa saja yang berniat mencelakai ku dan juga keluargaku.
saat aku melihat dimana tadi Aris berdiri, rupanya dia sudah tidak ada di sana. sepertinya dia sudah kabur untuk melapor kepada ayah angkatnya itu. baguslah, biar Baharuddin tau kalau saat ini kami mengincar nyawanya.
aku kembali diserang dan pertarungan kembali berlangsung. kami tim samudera menggunakan senjata masing-masing untuk menghabisi lawan hingga satu persatu dari mereka semua ambruk di tanah.
"itu kenapa kak Furqon menyerang paman Zidan" ucap Vino
pertarungan antara paman Zidan serta yang lainnya melawan kak Furqon dan dokter Nathan belum juga usai.
"Furqon sadar, apa yang kamu lakukan" paman Randi mengunci leher Furqon agar tidak dapat bergerak
paman Helmi dan paman Pram mengikat tubuh kak Furqon yang sedang memberontak ingin menyerang ketiganya sementara paman Zidan yang belum sembuh total akibat kecelakaan yang ia alami membuat dirinya kewalahan menghadapi dokter Nathan yang begitu brutal menyerangnya. bahkan Bagas pun kewalahan menghadapi dokter Nathan yang begitu bringas menyerang keduanya.
kami tim samudera berlari dan membantu paman Zidan. Leo dan Vino memegang kedua lengan dokter Nathan. aku memukul pahanya dari belakang sehingga dokter satu lutut dokter Nathan bertumpu di tanah. setelah itu Leo dan Vino membawa tangan dokter Nathan di punggungnya kemudian kami ikat begitu juga dengan kedua kakinya.
"LEPASKAN AKU SIALAN" umpat dokter Nathan
"kenapa mereka jadi seperti ini paman...?" tanyaku
"entahlah, saat melihat kami keduanya langsung menyerang dengan brutal. mereka seperti orang kerasukan saja. nggak mungkin Furqon nggak mengenali kita" paman Zidan menjawab dengan nafas naik turun
aku berlari ke dalam vila menuju ke dapur untuk mengambil air minum. ku periksa ke dalam kulkas dan mengambil lima botol air mineral kemudian kembali lagi ke halaman depan.
"minum dulu paman" aku memberikan botol air mineral kepada paman Zidan dan paman pengawal serta Bagas
"terimakasih tuan muda" ucap paman Pram
__ADS_1
"lalu apa yang harus kita lakukan kepada mereka berdua...?" tanya Bara
aku juga bingung harus melakukan apa, terlebih lagi aku tidak punya bakat untuk mengeluarkan makhluk gaib yang masuk ke dalam tubuh manusia. aku masih bertanya-tanya apakah mereka berdua kerasukan atau dipengaruhi ilmu gaib hingga mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka lakukan.
"kita bawa saja ke rumah" jawab paman Helmi
"mereka tidak kerasukan tapi dipengaruhi ilmu gaib dari laki-laki yang bernama Aris tadi"
aku mendengar suara seseorang, bukan hanya aku namun kami tim samudera mendengar suara seseorang namun tidak melihat wujudnya.
kami berempat saling pandang, kamu begitu tau suara siapa itu. dia adalah Senggi, jin kepercayaan ratu Sundari.
dalam pikiranku bagaimana bisa Aris mempunyai ilmu gaib, bukannya dia tidak mempunyai ilmu apapun. kalau dia mempunyai ilmu seperti itu, harusnya dia tidak lari tadi tapi menghadapi ku dengan sihirnya.
"mereka terkena sihir dari tusuk konde yang dipegang laki-laki itu. itu adalah tusuk konde Sri Dewi. bacakan mantra ini di telapak tanganmu dan usap wajah keduanya" ucap Senggi
setelah itu aku mendengar suara seseorang berbisik di telingaku. Senggi memberitahukan mantra yang harus aku baca kemudian setelahnya suara itu menghilang.
paman Zidan serta tiga pengawal andalan berjalan ke arah mobil dimana di dalamnya ada Gibran dan tante Vania. di saat itu juga aku menggunakan kesempatan untuk menyadarkan kak Furqon dan dokter Nathan.
ku baca mantra yang di ajarkan oleh Senggi tadi dan meniup di telapak tangan ku kemudian aku mengusap wajah keduanya. setelah itu aku kembali berdiri dan mundur beberapa langkah.
"apa yang kamu lakukan...?" tanya Bagas
"menyadarkan mereka" jawabku
aku melihat Bagas yang dimana kedua keningnya hampir bertemu saat aku menjawab pertanyaannya.
kak Furqon dan dokter Nathan yang tadinya meraung-raung kini telah diam. sepertinya mereka telah sadar karena dari raut wajah keduanya, mereka seperti orang yang kebingungan.
"loh, ada apa denganku. kenapa aku diikat seperti ini...?" kak Furqon kaget melihat tubuhnya diikat
"astaga, apa yang terjadi" dokter Nathan pun sama kagetnya
"kalian sudah sadar...?" paman Zidan dan yang lainnya kembali bergabung
"mustahil, bagaimana bisa kamu...." Bagas semakin bingung tatkala kak Furqon dan dokter Nathan sadar. matanya menatap keheranan kepadaku namun aku acuh karena tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan dan juga itu tidak penting
aku dan Bara melepaskan ikatan tali dari tubuh kak Furqon dan dokter Nathan.
"kenapa kami di ikat, memangnya kami sapi" sungut kak Furqon
"terpaksa kami ikat kalian demi keselamatan kami semua" jawab paman Randi
"astaga.... Gibran dan wanita itu" dokter Nathan panik seketika
"mereka baik-baik saja" jawab paman Zidan
"kalian ini siapa...?" tanya dokter Nathan
"bukankah kamu.... Zidan Sanjaya...?" tanya dokter Nathan lagi
"rupanya kamu mengenalku" ucap Paman Zidan
"dimana Gibran, apa kalian melukainya. dia orang baik, tidak seperti yang kalian pikirkan. dimana dia, aku harus mengecek keadaannya" ucap dokter Nathan
dokter Nathan berlari ke dalam vila namun aku memberitahu kalau Gibran berada di dalam mobil sehingga Gibran berbalik arah dan menuju ke arah mobil.
"bagaimana keadaan mereka...?" tanya Bagas setelah dokter Nathan keluar dari mobil
"kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit. kondisi wanita itu semakin lemah dan juga jahitan luka dari Gibran terbuka, dia akan kehilangan banyak darah. tolong bawa wanita itu ke dalam mobil ambulan, biar Gibran berada di dalam mobil ini saja" ucap dokter Nathan
untungnya pertama kali kami datang, kami menaiki ambulan yang dibawa oleh dokter Nathan dan kali ini mobil ambulan itu akan kami bawa lagi ke kota.
paman Zidan menggendong tante Vania dan membawanya ke mobil ambulan. dokter Nathan memasangkan infus agar cairan itu masuk ke dalam tubuh tante Vania, alat monitor kecil sudah dipasang juga untuk mengetahui detak jantung tante Vania.
kami semua kembali ke kota. kami tim samudera menemani tante Vania di dalam ambulan sedang Bagas bersama dengan dokter Nathan untuk menemani Gibran.
paman Zidan dan para pengawal akan menyusul nanti karena mobil mereka dan juga mobil Bagas berada di bawah sana. sementara mobil yang dipakai oleh dokter Nathan adalah mobil orang-orang Baharuddin yang sudah kami habisi sementara bos mereka melarikan diri. Aris, benar-benar pengecut.
perjalanan yang cukup jauh hingga kami tiba di rumah sakit. saat kami turun, dokter Nathan berlari cepat memanggil perawat. dua orang perawat datang membawa brankar dan Gibran diangkat diletakkan di brankar itu. baju Gibran sudah dipenuhi darah, bahkan baju Bagas pun seperti itu. Gibran dilarikan ke dalam.
setelahnya dua orang perawat datang menghampiri kami dan menurunkan tante Vania kemudian membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"semoga mereka berdua baik-baik saja, aku kok jadi merasa kasihan ya sama Gibran" ucap Leo
"kata dokter itu, Gibran orang baik. mungkin dia tau sesuatu tentang Baharuddin. kita harus bertanya padanya" ucap Vino
__ADS_1
"ayo masuk" ajakku
aku memang penasaran sebenarnya seperti apa sosok Gibran yang sesungguhnya. dia telah menyelamatkan Galang, menyelamatkan tante Vania dari Baharuddin, bahkan dia menyelamatkan paman Zidan dari pengaruh racun yang disuntikkan dokter palsu padanya saat paman Zidan masih koma. dia menyuruh kak Furqon waktu itu, dan tanpa kami tau apa yang terjadi padanya sebenarnya, dia menyusul kami ke vila dalam keadaan terluka. padahal dia adalah anak dari Baharuddin dan tangan kanan laki-laki iblis itu lantas sekarang dia malah menjadi orang yang akan dibunuh oleh Baharuddin. apa yang sebenarnya telah Gibran lakukan sampai Baharuddin kini ingin mencelakainya.