Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 150


__ADS_3

pagi menjelang sinar matahari telah masuk di sela jendela. setelah melaksanakan sholat subuh tim samudera kembali terlelap dan pukul 6 pagi Nisda dan Starla telah bangun lebih dulu. mereka membuka gorden agar matahari dapat masuk ke dalam kamar dan membangunkan yang lainnya.


namun para laki-laki hanya menggeliat kecil kemudian mencari posisi ternyaman dan kembali lelap. Melati dan Alana pun telah bangun.


perempuan bergantian untuk membersihkan diri. setelah itu mereka membangunkan laki-laki untuk karena mereka harus ke sekolah.


"hoaaaam....aku masih ngantuk" Adam kembali berbaring dan memeluk guling


"bangun atau aku cium" ancam Melati yang sudah duduk di dekatnya


"cium saja" jawab Adam. dia berpikir gadis itu tidak akan berani melakukannya


Adam masih memejamkan matanya hingga kemudian dia merasakan hembusan nafas yang menerpa wajahnya. dia membuka mata dan seketika matanya saling tatap dengan Melati yang kini sedang memperhatikan wajahnya dari jarak dekat.


"benaran mau dicium...?" goda Melati dengan tersenyum


Adam tidak menjawab. dirinya hanya diam dan terus memperhatikan wajah Melati yang juga kini senang menatapnya.


hingga kemudian akhirnya Melati menyerah dan memalingkan wajahnya. niat hati ingin membuat Adam salah satu tingkah namun malah dirinya yang merasa malu.


tatapan mata indah Adam membuat jantungnya berdetak kencang dan dia tidak sanggup melihat terlalu lama.


"bangunlah, kita kan harus sekolah" Melati turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar


sementara Adam mengusap wajahnya dan bangun kemudian duduk bersandar di ranjang. setelah itu dia masuk ke kamar mandi karena yang lain hanya perlu menunggu dirinya.


"kita kan nggak bawa baju sekolah, gimana caranya kita ke sekolah" ucap Alana


"lah iya, terus gimana dong. udah mepet nih waktunya. paling kalau berangkat akan telat lagi. malah kita harus singgah dulu di rumah kan ganti baju" timpal Starla


"bolos aja kalau gitu. aku masih ingin tidur" Adam membaringkan tubuhnya di sofa. paha El-Syakir dia jadikan sebagai bantal untuk kepalanya


"masa bolos sih, gue nggak mau ah" Nisda menolak


"ya terus gimana. benar kata Starla kalaupun berangkat kita akan tetap telat juga. paling nggak di kasih masuk lagi. mending bolos aja, nggak apa-apa satu kali ini aja" Leo membenarkan ucapan Starla.


"jadi benaran kita nggak sekolah nih...?" tanya Melati


"daripada pergi tapi nggak bisa masuk juga, ya lebih baik nggak pergi sama sekali" jawab El


bukannya mereka tidak ingin sekolah hanya saja apa yang dikatakan El-Syakir dan Starla memang ada benarnya. kalaupun mereka pergi, mereka sudah pasti akan telat dan tidak akan diizinkan untuk masuk.


"kalau gitu kita cari sarapan dulu lah, lapar gue" ucap Vino


"aku teh melati ya" Adam bangun dan duduk


"tunggu dulu. kak, orang-orang yang tadi malam bagaimana...?" Alana menatap El-Syakir dan Adam


"orang-orang...?" yang lainnya bertanya dengan kening mengkerut


"kamu saja yang cerita, aku mau menghubungi Furqon dan Ardi" Adam beranjak menuju kamar Alana karena hp-nya ada di kamar adiknya itu


"ada apa sih El, orang-orang siapa...?" Bara bertanya dengan penasaran


"jadi semalam itu...."


El-Syakir menceritakan semuanya kepada teman-temannya. dimana mereka ikut Edward dan Cecil untuk keluar dan akhirnya mereka berakhir di pasar malam. Edward dan Cecil meninggalkan mereka dan akan menjemput namun ketiganya memilih pulang sendiri dan akhirnya mereka diculik oleh anak buah papa Freya dan menyekap ketiganya di rumah kosong yang sudah tidak berpenghuni. rumah paling ujung di komplek itu.


"jadi semalam itu kalian di culik...?" Leo tentu saja kaget begitu juga yang lainnya


"diculik lalu disekap. untung kak Dirga dan kak El jago bela diri" Alana menjawab


"gila benar tuh bokapnya Freya, bukannya minta maaf baik-baik malah ngelakuin tindakan kriminal. ini sih nggak bisa dibiarin, mereka harus dilaporkan ke polisi" timpal Vino


"kak Dirga sedang memberitahu kak Furqon dan Ardi untuk mengurus mereka" ucap El


"hanya bokap Freya aja, bokapnya Anggi gimana...?" Melati penasaran, apakah orang tua Anggi terlibat dalam tindakan penculikan itu


"itu belum kami tau. semalam dia hanya menyebut nama anaknya Freya, kalau Anggi nggak ada yang nyebut namanya" jawab El


"mungkin orang tua Anggi pikiran mereka nggak sedangkal bokapnya Freya. bukannya bertindak sopan malah cari masalah baru" Bara menimpali


Adam mengambil hp-nya di atas kasur dan mulai menghubungi Furqon. setelah selesai dia kembali ke ruang tengah.


"gimana kak...?" tanya El


"Furqon dan Ardi akan segera kesini" jawab Adam dan duduk di sofa


"serahin aja ke polisi, biar tau rasa mereka" ucap Starla


"sambil menunggu kedua pengawal itu, kita cari makan yuk" ajak Nisda


"ya udah yuk, gue sama Nisda cari makan. ayo Nis" Melati mengajak Nisda


"jangan lupakan teh melati ya" ucap Adam


"iya, gampang" jawab Nisda


kedua gadis itu meninggalkan rumah El-Syakir menggunakan motor Melati.


"cari cemilan yuk, kita pulangnya sorean aja. lagian di rumah juga nggak ada kegiatan apapun" ucap Vino


"aku saja yang pergi sama El" Adam menarik El-Syakir dari tempat duduknya


"beli roti ya kak" ucap Alana


"okeh" Adam mengerlingkan mata ke arah Alana

__ADS_1


keduanya pun keluar dan berjalan kaki. El-Syakir ingin membeli di kios lain melewati rumah Nilam namun Adam menolak. dirinya tidak ingin terlalu jauh lagi untuk berjalan. sebelum itu mereka melihat Sinta sedang membuka pintu laundry.


"kak Sinta" El memanggil wanita itu


"loh El, kalian di sini lagi" Sinta tersenyum saat melihat keduanya


"iya. kak Sinta kok sendirian, kak Dian mana...?" tanya El


"itu dia yang kakak nggak tau El" terlihat raut khawatir di wajah Sinta


"nggak tau.... maksud kakak apa...?" El penasaran


"masuk dulu yuk, kita bicara di dalam" Sinta mengajak keduanya masuk dan mereka duduk di ruang tengah tempat biasa Sinta dan Dian beristirahat


"kenapa dengan kak Dian, kak...?" tanya El


"ingat nggak waktu kalian datang ke sini kemarin dan membawakan kami cemilan" ucap Sinta


"iya El ingat, memangnya kenapa...?"


""saat itu sikap Dian biasa saja. kami mengerjakan tugas seperti biasanya hingga kemudian pas menjelang magrib sikapnya jadi aneh"


"aneh kenapa...?" kali ini Adam bersuara


flashback


"Di, kamu belum mau pulang...?" tanya Sinta yang kini dari lantai dua mengambil jemuran dan memasukkan ke dalam


"bentar lagi, aku masih mau di sini" Dian menjawab dan melihat ke arah Sinta


"udah magrib loh Di, biar aku aja yang tutup laundry. kamu pulang aja, rumahmu kan lumayan jauh" Sinta membereskan pekerjaan mereka


"ya udah, aku ambil tas dulu di kamar" Dian beranjak dan meninggalkan Sinta sendiri


laundry itu terdapat dua lantai. lantai atas adalah tempat mereka menjemur pakaian dan di bawah ada salah satu kamar tempat kedua pegawai itu istrahat. biasanya mereka akan istrahat bergantian. di atas juga terdapat kamar namun itu adalah kamar tempat menyimpan segala pakaian yang akan mereka kepak, milik pelanggan.


Sinta membereskan tempat itu, kemudian dia mengambil sapu dan mulai membersihkan. namun seketika dirinya terkejut tatkala mendengar suara teriakan Dian dari dalam kamar.


segera Sinta membuang sapu yang dipegangnya dan berlari ke arah kamar.


"Dian, kamu nggak apa-apa...?" Sinta berusaha membuka pintu kamar namun tidak bisa


"Di, kamu baik-baik saja kan...?" Sinta tetap mencoba membuka pintu namun sama sekali tidak terbuka


"ini kenapa dikunci gini sih"


"Dian, buka pintunya...kamu kenapa...?"


"aaaaa"


"astaghfirullah, Dian kamu kenapa...? bukain pintunya"


dugh


dugh


"Dian" panggil Sinta dengan pelan, tidak ada jawaban dari temannya itu


"Dian, kamu kenapa...?" Sinta mendekatinya namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Dian yang terasa berat


"diam di tempatmu"


"D-Dian...kamu..."


"AKU BILANG DIAM" Dian mengangkat kepala dan menatap tajam Sinta


"astaghfirullah, D-Dian" Sinta mundur perlahan begitu takut melihat wajah Dian. mata gadis itu berubah-ubah. dari menjadi putih, hitam kemudian berwarna merah


"hahahaha" Dian tertawa mengerikan, Sinta semakin ketakutan


"aku menyukai gadis ini" ucap Dian dengan tersenyum menyeringai ke arah Sinta


"s-siapa kamu...?" Sinta tau kalau temannya itu kini bukan dirinya


"aku menyukai gadis ini" ucapnya lagi dengan senyuman mengerikan


Dian melompat ke arah dinding dan melengket di sana. Sinta teriak histeris. dia keluar dari kamar dan mencari pertolongan.


Sinta berteriak sekeras mungkin meminta pertolongan. orang-orang yang mendengar terikan Sinta langsung menghampiri gadis itu begitu juga dengan ibunya Nilam.


"ada apa Sinta...?"


"tolong pak, Dian kerasukan di dalam"


"kerasukan...?"


"iya, tolong pak. dia sangat mengerikan"


mereka masuk ke dalam untuk melihat Dian. gadis itu masih berada di dalam kamar dan merayap di langit-langit kamar.


"astaghfirullah" mereka kaget melihat gadis itu


tentu mereka tidak bisa menangkap gadis itu karena dirinya sedang berada di langit-langit kamar. untung saja diantara mereka ada seorang bapak-bapak yang bisa diandalkan. dia meminta air di gelas dan membacakan ayat-ayat ruqyah. kemudian memercikkan air itu ke arah Dian.


"aaaaaa.... HENTIKAN, PANAS... PANAS" teriakan Dian menggema di kamar itu


"keluar kamu makhluk laknat atau aku semburkan air ini di tubuh mu" laki-laki itu berbicara lantang

__ADS_1


"hahahaha, dia sudah aku ikat. dia tidak akan bisa pergi kemanapun. dia milikku sekarang" Dian masih tertawa dengan merayap menghindari percikan air itu


"ya Allah Dian, kenapa kamu bisa jadi seperti ini" Sinta menangis melihat temannya itu


laki-laki itu melihat sajadah di kamar itu. segera dia mengambil sajadah dan membaca doa. setelahnya dia memukul sajadah itu ke arah Dian. seketika Dian terjatuh dan saat itu juga air yang telah diberikan doa ruqyah langsung disiramkan ke tubuhnya.


Dian berteriak kesakitan hingga akhirnya dirinya pingsan tidak sadarkan diri.


"Alhamdulillah" laki-laki itu mengusap wajahnya


"angkat dia ke tempat tidur" ucapnya


yang lain segera mengangkat tubuh Dian dan membaringkan gadis itu di kasur. Sinta menyelimuti Dian sedang yang lain keluar dari kamar.


menjelang malam Sinta masih setia menjaga Dian yang belum juga sadarkan diri. dia hendak menutup laundry namun matanya menangkap seseorang yang berdiri di depan sana dan sedang memperhatikannya.


Sinta merasa tidak nyaman apalagi pakaian sosok itu lain dari yang lain. dia memakai jubah hitam yang menyembunyikan wajahnya namun meskipun begitu Sinta tau kalau sosok itu sedang melihat ke arahnya.


Sinta menutup cepat laundry tersebut dan menguncinya. sudah semakin malam, dengan terpaksa keduanya tidak pulang dan menginap di laundry. tanpa sepengetahuan Sinta, larut malam Dian bangun dari tidurnya dengan tatapan kosong dan berjalan ke arah luar. pintu yang sudah dikunci terbuka lebar dengan sendirinya dan Dian meninggalkan tempat itu menuju ke tempat lain.


di sana sudah berdiri seorang wanita yang sedang menyambutnya. Dian masuk ke dalam rumah dan pintu rumah itu pun tertutup.


flashback end


"paginya aku sudah tidak menemukan Dian di tempat tidur. bahkan aku sudah mencari kemanapun namun dia tidak ada. pikiranku mungkin pagi sekali dia pulang namun saat aku menghubungi nomornya, sama sekali nggak bisa dihubungi" ucap Sinta


"sudah beritahu keluarganya kak...?" tanya El


"dia hanya berdua saja dengan adiknya. kedua orang tuanya kan sudah meninggal. adiknya sedang kuliah di luar kota" jawab Sinta


"ah iya, El jadi lupa soal itu" ucap El


"jadi belum ada kabar sama sekali sampai sekarang...?" tanya Adam


"nggak ada, makanya itu aku sendirian sekarang. kalau mengingat kejadian kemarin saat Dian kerasukan, aku jadi takut sendiri. selama bekerja di sini, baru kali itu ada kejadian aneh" jawab Sinta


"begini saja, untuk sekarang sebaiknya kamu jangan dulu membuka tempat ini" usul Adam


"kalau aku nggak buka, bisa-bisa ibu Arini marah sama aku" Sinta menolak


"aku yang akan bicara pada ibu, ini untuk kebaikan kamu juga" ucap Adam


"kamu kenal dengan ibu Arini...?" Sinta menatap Adam


memang keduanya, dia dan Dian belum tau kalau Adam adalah kakak El-Syakir dan Alana.


"dia kakakku kak kak Dirga namanya" El menjelaskan


"Dirga yang kamu pernah cerita berpisah denganmu sewaktu kecil...?"tanya Sinta


"iya, benar. dan sekaligus kami bertemu kembali"


"luar biasa sekali. akhirnya Kalian kembali dipertemukan. aku sangat salut dan ikut senang"


"jadi sekarang, lebih kamu pulang dan laundry ini akan ditutup untuk sementara waktu" Adam kembali berucap


"tapi..." Sinta terlihat ragu


"oh atau begini saja, biar kami yang menggantikan kakak di sini. atau perlu kami bantu kakak di sini" El mengusulkan cara lain


"nah lebih seperti itu. tidak usah tutup tapi kalian temani saya saja bagaimana...?" Sinta setuju dengan ide yang di usulkan El-Syakir


"tunggu sebentar ya" Adam menarik El-Syakir menjauh dari Sinta


"kenapa sih kak...?" tanya El


"aku mengusulkan untuk dia tutup sementara karena aku merasa kejadian yang dialami Dian sama seperti yang dialami Alana. dia suka dengan gadis itu, begitu juga dengan Alana. ada sosok yang pernah kita lihat saat Alana kerasukan. kalau seandainya Sinta masih kekeh di sini, bisa-bisa hal yang serupa dengan Dian akan terjadi juga padanya" Adam memberitahu maksud dari idenya tadi


"jadi kakak berpikiran kalau kak Dian itu..."


"aku belum tau namun curiga ku seperti itu. kita bisa tetap menggantikan dia dan Sinta pulang ke rumahnya"


"baiklah, akan gue beritahu"


mereka kembali ke tempat dimana Sinta masih duduk menunggu keduanya.


"ada apa...?" tanya Sinta saat Adam dan El-Syakir kembali menghampirinya


"begini saja kak. kak Sinta pulang saja dan laundry biar kami yang jaga. El punya teman-teman di rumah lama, kami semua yang akan melayani pelanggan hari ini"


"loh, bukannya kalian hanya akan menemani aku"


"nggak, sebaiknya kamu pulang saja. sebelum kami menghubungi kamu untuk datang lagi, kamu jangan pernah datang ke sini" timpal Adam


"aku jadi bingung, memangnya ada apa sih...?"


"nggak ada apa-apa kak. sekarang kakak pulang saja, nanti El akan hubungi kakak lagi kapan kak Sinta akan masuk"


"benar nggak apa-apa, aku nggak tanggung jawab kalau ibu Arini tau"


"tenang saja, ibu akan menjadi urusan kami" jawab Adam


meskipun ragu Sinta akhirnya pulang ke rumahnya dan meninggalkan laundry. hp Adam berdering, Edward menghubunginya. dia meminta alamat rumah lama ayah Adnan untuk menjemput ketiga remaja itu namun Adam menolak dan mengatakan kalau mereka baik-baik saja. semalam ketiganya tidak pulang dan itu membuat Edward cemas.


ayah Adnan pun menghubungi El-Syakir, tentu saja dirinya khawatir karena semalam ketiga anaknya tidak pulang. El-Syakir memberitahu bahwa mereka bertiga tidur di rumah lama dan masih ingin di rumah itu.


ayah Adnan tidak keberatan asal mereka menjaga diri. setelah berbicara dengan Edward, Adam dihubungi oleh Leo bahwa Furqon dan Ardi telah sampai.

__ADS_1


keduanya menutup laundry dan bergegas ke rumah. ada hal yang perlu mereka lakukan sebelum ke tempat itu lagi.


__ADS_2