Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 210


__ADS_3

di ruang bawah tanah, dua anak manusia sedang di gantung terbalik. kaki mereka berada di atas sedangkan kepala keduanya berada di bawah. mereka adalah Adam dan Deva yang ditangkap oleh anak buah Baharuddin saat setelah mereka melakukan pertempuran dengan para lelembut. mungkin jikalau mereka tidak di bius, keduanya bisa melumpuhkan mereka semua namun karena mereka di bius maka keduanya jatuh pingsan tanpa bisa melakukan perlawanan.


"Zulfan kok nggak sama kita ya kak" ucap Adam karena semenjak mereka sadarkan diri, hantu itu tidak terlihat oleh mata keduanya


"mungkin dia kabur" jawab Deva


"atau jangan-jangan dia ditangkap sama wanita ular itu"


"sial banget sih, bukannya kita yang nangkap mereka ini malah kita yang ditangkap" Deva memberenggut kesal


empat orang yang tidak jauh dari mereka sedang berjaga dengan bermain catur. sudah pasti mereka di tugaskan untuk menjaga keduanya. pencahayaan di tempat itu hanya menggunakan obor di masing-masing sudut ruangan.


Adam dan Deva berada di dalam tahanan, jeruji besi dengan gembok yang besar agar keduanya tidak dapat melarikan diri.


"sudahlah kita digantung seperti bendera, sekarang di penjara juga" keluh Adam


"woooi bang, saya pengen pipis" teriak Deva


"ya udah pipis aja, berisik banget" seorang laki-laki menjawab


"yaelah bang, masa iya saya mau pipis terbalik seperti ini, turunin dulu lah." ucap Deva


"kalau nggak mau ya nggak usah" jawab laki-laki itu


"bang ayolah, nanti kan kalian bisa kami kembali. udah diujung tanduk nih" Deva tetap mengoceh


"berbisik lu"


"abaaaaang ku tunggu tunggu lama menunggu empat tahun lima minggu" kini Adam yang berbuat ulah dengan suara cempreng yang ia buat-buat terus bernyanyi sehingga membuat orang-orang itu kesal bukan main


"iya iya iya, gue geprek juga kalian ini"


dua orang berdiri dan mendekati tahanan. mereka membuka gembok penjara Adam dan Deva setelah itu keduanya melepaskan ikatan tali yang mereka ikatkan di sebuah kayu yang tertancap di dinding.


perlahan-lahan Adam dan Deva tubuh keduanya mulai bergerak turun. setelah mereka sampai di tanah, keduanya melakukan gerakan refleks langsung menendang kedua orang itu. Adam melompat menghantam tengkuk orang itu dengan sikunya hingga orang itu jatuh pingsan. sementara Deva membenturkan kepalanya di hidung laki-laki itu setelahnya membenturkan kepalanya ke dinding sehingga laki-laki itu ambruk di tanah.


"wah sialan, saya sudah duga kalian pasti berbohong" dua orangnya lagi bangkit dan menghampiri Adam dan Deva yang sudah bebas dan keluar dari tahanan mereka


dua orang itu langsung menyerang Adam dan Deva. namun belum beberapa menit keduanya sudah jatuh terkapar tidak sadarkan diri.


"dasar cemen, tampang doang yang ganas" Adam masih mencibir setelah kedua orang itu mereka kalahkan


Zidan dan pasukannya telah sampai di pulau. seperti yang diperintahkan tadi, pulau itu telah di kepung oleh para pengawal Sanjaya. mereka semua turun dari jet ski dan menyiapkan pistol untuk menembak siapa saja nantinya yang mereka lihat.


dari berbagai arah, pengawal Sanjaya grup telah siap siaga di posisi masing-masing. jika nanti Baharuddin kabur maka tinggal mengarahkan pasukan untuk menangkapnya.


Helikopter yang membawa tim samudera serta anak buah Baharuddin pun telah sampai di pulau itu. mereka turun menggunakan tali karena saat ini mereka tidak punya waktu untuk mencari tanah lapang tempat helikopter akan bersandar.


satu persatu anak buah Jacob turun setelah itu di susul oleh tim samudera dan yang terakhir adalah Pram sendiri. lokasi mereka saat ini jauh dari vila yang ada di pulau itu. itu semua dilakukan agar Baharuddin tidak dapat mendengar suara helikopter yang mereka gunakan meskipun sebenarnya kemungkinan itu sangat kecil karena suara helikopter yang begitu keras.


"kalian membawa pistol...?" tanya Pram kepada anak buah Jacob


"tentu saja, bukankah kita akan berperang" jawabnya


"Bagus" Pram tersenyum tipis


"aku sudah sampai. apakah langsung bergerak sekarang...?" tanya Pram kepada teman-temannya melalui headset yang ada di telinganya


"tetap di tempat, biarkan kami saja yang mendekati target" jawab Helmi


"baiklah" ucap Pram


"kita di sini saja, sambil menunggu informasi selanjutnya" ucap Pram memberitahu tim samudera dan yang lain


"kenapa harus di sini kak, kita kan datang untuk menangkap Baharuddin" Bara protes tidak terima


"Zidan, anak-anak ingin ikut mengepung" ucap Pram lagi


"kalau begitu tinggalkan anak buah Jacob di situ dan kalian menuju ke vila" jawab Zidan


"baik"


Pram mendekat anak buah Jacob dan memberitahukan perintah dari bos. anak buah Jacob mengangguk patuh kemudian Pram memasangkan satu alat komunikasi di telinga salah satu anak buah Jacob.


"dengan ini kita bisa berkomunikasi" ucap Pram

__ADS_1


"baiklah, kami akan menunggu di sini sebagain dan sebagian lainnya ikut bersama kalian" ucap anak buah Jacob itu


"siapa namamu...?" tanya Pram


"Digo"


"kami pergi dulu Digo. tetap awasi tempat ini" Pram menepuk pelan bahu Digo


setelahnya Pram dan tim samudera serta beberapa anak buah Jacob meninggalkan tempat untuk menuju ke vila yang diperkirakan di tempat itulah Baharuddin bersembunyi.


Zidan bersama beberapa pengawalnya juga mulai bergerak. ia bersama dengan Helmi sementara Randi dan Furqon mengambil jalur lain untuk menuju ke vila. mereka harus berpencar agar Baharuddin tidak semudah itu untuk melarikan diri.


namun ada yang aneh kali ini. bahkan mereka sudah berjalan berjam-jam lamanya namun mereka tidak pernah sampai di tujuan bahkan mereka hanya berputar-putar di daerah itu-itu saja.


"kenapa kita malah kembali lagi ke sini" ucap Randi menggaruk kepalanya


"ada yang tidak beres, sepertinya Baharuddin sengaja melakukan ini agar kita tidak bisa menjangkaunya" timpal Furqon


"brengsek" Randi mengumpat kesal


"halo Hel, kami sampai sekarang belum sampai di vila dan malah berputar-putar di jalan yang sama" Randi memberitahukan kepada yang lain


"kami juga mengalami hal yang sama" jawab Zidan sedang menelisik sekelilingnya


"Baharuddin sialan itu pasti sudah mengetahui kedatangan kita" ucap Pram


"tetap di tempat dan kembali berpikir, mungkinkah kita salah jalan" ucap Helmi


"aku bahkan hafal dari setiap arah jalan menuju ke vila, tidak mungkin kita tersesat hanya dijalan ini saja" jawab Zidan


tim samudera yang bersama dengan Pram menelisik sekitar. pohon kelapa begitu banyak dan juga pulau itu belum terjamah oleh tangan-tangan manusia. masih begitu alami dengan hutan-hutan di samping kanan kiri.


El-Syakir maju ke depan, ia akan mengeluarkan keris larangapati untuk menunjukkan dimana jalan yang benar yang harus mereka lalui.


Jan sarikan lungurtum Kris larangapati


angin berhembus seketika, keris larangapati keluar dari tubuh El-Syakir dengan cahaya yang menyilaukan mata. semua orang menutup mata karena cahaya dari keris itu. hingga tidak lama sinar cahaya itu perlahan-lahan mulai redup.


"kamu memiliki ilmu sihir tuan muda...?" Pram menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat


"keris larangapati, tunjukkan dimana jalan yang harus kami ambil" El-Syakir melempar kerisnya ke atas dan saat jatuh ke tanah ujung mata dari keris itu mengarah ke arah barat


"ke sana" tunjuk El-Syakir


"tapi bukankah memang itu adalah jalan yang kita ambil bahkan sudah tiga kali dan kita tetap berakhir di sini" ucap Nisda


"kalau keris itu sudah menunjukkan jalan berarti ada yang sengaja membuat kita tersesat dengan jalan yang itu-itu saja agar kita tidak sampai di tujuan" ucap Starla


"tapi siapa...?" tanya Pram


"siapa lagi kalau bukan Baharuddin" jawab Alana


di sisi lain seorang wanita sedang menatap tajam ke depan. ia mengarahkan sihirnya ke arah depan berniat memastikan sesuatu dan hanya berjarak beberapa meter sihir yang ia keluarkan terpental begitu saja padahal tidak mengenai apapun selain angin yang ada di tempat itu.


"ternyata di sini persembunyian kalian" wanita itu tersenyum


wanita itu menghilang seketika berniat melaporkan kepada junjungannya tentang apa yang baru saja ia temukan. hanya dalam satu kedipan mata ia sudah berada di tempat tujuan, kerajaan karing-karing wilayah ratu Sundari.


"saya kembali ratu" ucap Senggi memberikan hormat dengan menundukkan kepala


"kamu menemukan mereka...?" tanya ratu Sundari


"seperti yang ratu katakan, karena tabir pelindung itu mereka tidak dapat ditemukan bahkan El-Syakir dan teman-temannya hanya berputar-putar di jalan itu saja tanpa bergeser sedikitpun"


"kita berangkat ke sana"


"baik ratu"


keduanya menghilang dari pandangan para dayang istana dan mereka kini telah berada di tempat yang dimaksudkan oleh Senggi.


"pancing Sri Dewi untuk keluar Senggi" ucap ratu Sundari


"apa aku harus membuat keributan...?"


"terserah kamu, namun jika dia masih berada di dalam sana. sudah pasti dia akan memperkuat tabir ini dan itu akan sangat susah bagiku untuk menghancurkan tabir ini. pancing dia keluar, tahanlah dia sebentar saja. setelah tabir ini aku hancurkan, dia akan menjadi urusanku"

__ADS_1


"baik ratu"


Senggi menghilang menuju ke tempat lain. ia harus bisa membuat Sri Dewi keluar dan menghadapinya. Senggi mengeluarkan kekuatan api yang ada di telapak tangannya dan membakar sebagian pulau itu.


asap membubung tinggi, si jago merah melahap apa saja yang ada di sekitarnya.


"apa yang terjadi...?" ucap Zidan saat melihat dibagian timur begitu banyak asap yang naik ke atas dan juga kobaran api begitu gagahnya menunjukkan kesombongannya


"astaga, itu kebarakan" ucap Helmi


"eh lihat, kenapa banyak asap di sebelah timur" Melati menunjuk ke arah timur


"apa yang terjadi" ucap Leo


"seperti..... kebakaran" ucap mereka serentak


Baharuddin yang berada di tempat persembunyiannya begitu marah karena pulau itu dibakar. Sri Dewi datang dan mengelus dada laki-laki itu untuk menenangkannya.


"biar aku yang urus" ucap Sri Dewi


"pergilah dan bunuh siapa saja yang kamu temui"


Sri Dewi menghilang dari pandangan Baharuddin dan seketika ia sudah berada di tempat kebarakan itu.


"wah wah wah, punya keberanian juga kamu ternyata datang ke sarang musuh" Sri Dewi bertepuk tangan, ia kini telah berhadapan dengan Senggi


Senggi tersenyum tipis, rencananya memancing wanita itu keluar telah berhasil. kini ia harus melakukan rencana selanjutnya, menahan Sri Dewi sampai ratu Sundari berhasil menghancurkan tabir yang dibuat oleh wanita yang ada di depannya.


"apa kabar Sri Dewi, lama tidak berjumpa. aku pikir kamu sudah mati waktu itu. hebat juga ya manusia yang bernama Baharuddin itu, dia bisa membuat kamu pilih kembali" ucap Senggi


"tidak usah basa-basi Senggi, apakah kamu ke sini karena diperintahkan oleh Sundari. harusnya dia sendiri yang datang menemuiku bukannya malah mengirim dirimu. aku tidak yakin kamu akan pulang dengan selamat" Sri Dewi menyeringai


Senggi tidak menjawab, ia hanya diam sambil berharap dalam hati agar ratu Sundari dapat dengan cepat menyelesaikan urusannya.


"kali ini aku akan membunuhmu Senggi. MATILAH KAU"


Sri Dewi menyerang Senggi dan keduanya terlibat pertarungan yang begitu sengit.


ratu Sundari mengeluarkan tongkatnya kemudian ia mengeluarkan permata hijau yang ada di dalam tubuhnya. permata itu ia simpan di kepala tongkatnya.


tangan kanannya ia simpan di depan dada. bibirnya bergerak membaca mantra. tabir pelindung yang tadinya tidak terlihat kini nampak di hadapannya. tabir itulah yang selama ini dirinya tidak bisa melacak keberadaan Sri Dewi dan Baharuddin. bahkan setiap Baharuddin bertemu dengan Gibran, ia selalu dilindungi dengan tabir itu.


ratu Sundari mengetuk tongkat miliknya ke tanah sebanyak tiga kali. tubuhnya berputar kemudian mengarahkan tongkatnya ke depan. cahaya berwarna hijau keluar dari tongkat miliknya itu. hanya dalam hitungan menit tabir itu dapat dihancurkan dan suara ledakan terdengar di seluruh penjuru pulau itu.


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


"apa itu bos...?" anak buah Jacob bertanya kepada Digo yang kini menjadi pemimpin mereka sesuai perintah dari Jacob saat suara ledakan itu terdengar


"sepertinya di sana sudah mulai berperang" ucap Digo melihat ke arah dimana bumbungan asap terus naik ke atas


saat tabir itu hancur maka terlihatlah jalan yang harusnya dilewati. tanpa membuang kesempatan, Zidan dan Helmi serta beberapa pengawal yang bersama dengan mereka mulai bergerak. Randi dan Furqon serta pengawal yang ikut bersama mereka mulai mengambil langkah. Pram dan tim samudera mulai bergerak seperti yang lainnya.


sementara Adam dan Deva yang masih berada di ruang bawah tanah, saling tatap tatkala mendengar suara ledakan itu. anak buah Baharuddin satu persatu berhasil mereka lumpuhkan dan kini mereka telah berada di pintu untuk naik ke atas.


"sialan, mereka berhasil menghancurkan tabir itu" Baharuddin keluar dari ruangannya menemui semua anak buahnya


"kalian semua, bersiaplah kita akan kedatangan tamu. bunuh saja mereka semua"


"baik bos"


pertarungan Senggi dan Sri Dewi terhenti saat suara ledakan terdengar.


"kurang ajar"


swing


Swing


bugh


"uhuk-uhuk"


Senggi terkena sihir yang dilesatkan oleh Sri Dewi. wanita itu menabrak batang pohon dan jatuh ke tanah. ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah.

__ADS_1


__ADS_2