
POV (El-Syakir)
aku menyelinap di setiap mobil yang ada di depanku. tidak peduli berapa banyak makian yang aku terima aku tetap melajukan mobilku.
"El, kita bisa celaka sebelum tiba di wilayah hutan timur" ucap Leo yang memegang sabuk pengaman dengan eratnya
"kalau kalian takut, kalian bisa turun" ucapku dengan dingin
"elu pikir kalau kita celaka kita bisa menyelamatkan Adam. yang ada kita bertiga masuk di dalam tanah. pelankan mobilnya atau kita akan mati El" ucap Bara
bahkan mencengkram bahuku dengan keras, hingga dengan terpaksa aku menurunkan kecepatan mobil namun tetap melaju cepat hanya saja tidak seperti tadi.
"paman, kalian tidak akan menjemput Adam...?" tanya Leo
"kami dalam perjalanan" jawab paman Randi
"kami juga akan ke sana" ucap kak Furqon
sementara itu, aku terus memanggil kak Dirga, kak Deva dan Vino namun tidak ada jawaban dari mereka. kali ini aku benar-benar kalut, jika terjadi apa-apa dengan mereka apa yang harus kami katakan kepada tante Nifa dan ibu Nurma kalau anak mereka celaka.
"harusnya kanan El, bukan lurus" ucap Leo
aku yang tidak fokus malah salah mengambil jalan. segera aku mundurkan mobil secara perlahan kemudian mengambil jalan kanan.
"coba hubungi Vino Bar, mungkin headset yang mereka pakai rusak sehingga mereka tidak menyahut. siapa tau jika menelpon, Vino akan angkat" ucapku
"sudah aku coba sejak tadi namun tidak bisa, nomornya tidak aktif" jawab Bara
"kita berpikir positif saja semoga mereka baik-baik saja. Adam tidak akan mudah begitu dikalahkan, aku kenal siapa dia" ucap Leo
"lagi pula di sana adalah wilayah ratu Sundari, wanita itu jelas tidak akan membiarkan Adam terluka sedikitpun. kita sudah tau itu" ucap Bara
aku tetap tidak tenang sebelum melihat keadaan mereka baik-baik saja. meskipun memang aku membenarkan ucapan kedua sahabatku tapi tetap saja namanya manusia pasti rasa khawatir berlebihan itu akan selalu ada.
di saat aku sedang fokus menyetir, hp ku bergetar. aku mengabaikan panggilan masuk di hpku kemudian panggilan itu mati sendiri. namun tidak lama hp ku kembali bergetar.
Leo yang duduk di samping kemudi langsung mengambil hp ku untuk melihat siapa yang menghubungiku.
"Gibran" ucap Leo dan melihatku
"abaikan" jawabku
"sebaiknya angkat saja El, namun jangan katakan apa yang terjadi kepada Adam karena pasti dia akan ke sana. kalau dia tau, Gibran akan bertemu dengan mereka kak Pram dan yang lain kalau dia ke wilayah timur" ucap Bara
aku menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. saat ini kepalaku benar-benar tidak bisa berpikir jernih.
"angkat dan speaker" ucapku
Leo menggeser tombol hijau dan terdengarlah suara Gibran dari sebrang sana.
"Syakir, apa kamu belum selesai...?"
"aku sudah selesai namun maaf bos aku belum bisa pulang karena harus singgah di suatu tempat" jawabku
"El El, injak remnya, injak" Bara teriak
dengan refleks aku menginjak rem dan kami semua terbentur ke depan. hpku yang dipegang oleh Leo sampai terjatuh di bawah kakiku.
"aw...sakit banget" Leo meringis karena kepalanya terbentur di setir mobil begitu juga dengan kepalaku
"huufffttt....hampir saja" ucap Bara menarik nafas
"kenapa sih Bar, elu mau buat kita mati" Leo memberenggut kesal
"ada kucing, kalau El nggak injak rem, sudah jelas bakalan kita lindas" jawab Bara
aku melihat ke depan, memang benar ada seekor kucing dengan dua ekor anaknya yang masih kecil. hampir saja aku menghilangkan nyawa mereka.
aku keluar dari mobil dan menggendong induk kucing serta dua anaknya membawa mereka ke tempat aman. kemudian aku kembali masuk ke dalam mobil.
"halo Syakir...halo"
suara Gibran yang sedang memanggil namaku terdengar. aku berusaha mengambil hpku dan berbicara kembali dengan Gibran.
"iya bos" jawabku
"apa terjadi sesuatu, aku mendengar suara teriakan tadi"
"hanya insiden kecil bos, aku hampir menabrak kucing"
"kamu sedang bersama siapa. bukannya aku menyuruhmu untuk pergi seorang diri"
"aku memang pergi sendirian bos dan diperjalanan pulang aku singgah menjemput temanku karena kami akan ke suatu tempat"
"batalkan kepergian mu"
apa-apaan ini, aku jelas tidak mungkin membatalkan untuk pergi ke wilayah timur.
"maaf bos, tapi aku tidak bisa"
"aku bilang batalkan Syakir, dan temui aku sekarang juga. aku akan mengirimkan lokasinya. aku harap kamu bergerak cepat, aku membutuhkan bantuan mu. aku sudah menghubungi Abimana untuk datang ke sini"
__ADS_1
setelah mengatakan itu, Gibran mematikan panggilan. aku mendengus kesal dan membanting hp ke depan.
"tuan muda bisa langsung menuju ke tempat Gibran berada, masalah tuan muda Dirga, akan menjadi urusan kami" jawab paman Helmi
"tapi....aku ingin melihat keadaan kak Dirga" jawabku
"jangan membantah tuan muda, ini perintah. pergilah, kami akan membantu tuan muda Dirga" ucap paman Helmi dengan tegas
aku tidak punya pilihan lain. setelah beberapa menit kami terdiam tanpa berbicara sepatah katapun, aku mengambil keputusan untuk ke tempat Gibran berada.
ada pesan masuk di hpku, itu pasti alamat yang dikirimkan oleh Gibran.
"buka pesannya Le, beritahu aku dimana alamatnya" ucapku
Leo memberitahukan alamat yang akan kami tuju. aku memutar mobil dan berbalik arah ke tempat dimana tadi Bara memberitahukan untuk mengambil jalan kanan. kemudian aku mengambil jalan untuk pulang kembali ke tengah kota.
beberapa jam berkendara, aku sampai di alamat yang dituju. Leo dan Bara sudah aku turunkan tidak jauh dari rumah mewah yang Gibran kirimkan alamatnya.
aku sudah melihat mobil yang dipakai kak Furqon untuk membawa barang-barang terlarang ke pelabuhan utara. dengan cepat aku bergegas masuk ke dalam. di ruang tengah, Gibran bersama kak Furqon.
"kalian tidak bisa menghubungi Awan...?" tanya Gibran menatap aku dan kak Furqon bergantian
"karena fokus kepada tugas kami, aku tidak sempat untuk menghubungi dia" jawab kak Furqon
"kalau kamu Syakir...?" tanya Gibran
"aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang bos" jawabku jujur
karena memang aku tidak tau bagaimana keadaan kak Dirga sekarang. apakah dia baik-baik saja ataukah dia bersama kak Deva dan Vino dalam keadaan bahaya.
Gibran menatap tajam ke arahku dan aku tidak bergeming. kemudian ia memijit pelipisnya dan menghembuskan nafas.
"ini uang dari hasil penjualan barang-barang tadi bos" kak Furqon menyimpan koper hitam di atas meja
aku pun melakukan hal yang sama, mengambil koper coklat yang ada di sampingku dan menyimpannya di atas meja, di dekat koper yang dibawa kak Furqon.
"sekarang kalian punya tugas baru" ucap Gibran
aku dan kak Furqon saling pandang kemudian sama-sama melihat ke arah Gibran.
"kami siap menjalankan tugas bos" ucap kak Furqon
"baiklah, dengarkan baik-baik. untuk Abimana, kamu akan memasang bom di perusahaan Sanjaya grup"
deg
deg
"BOM...?" ucapku dengan begitu keras bahkan sampai refleks aku berdiri
"Syakir" kak Furqon menarikku kembali untuk duduk
"kenapa kamu begitu kaget...?" tanya Gibran
"k-kita akan membunuh ratusan orang bos...?" tanyaku dengan tangan yang terkepal
"itu adalah sebuah ancaman, agar pak Adnan mau menyerahkan Sanjaya grup kepada Baharuddin. kalau bomnya meledak tentu saja akan ada korban jiwa" jawab Gibran
tanganku yang berada di bawah meja semakin mengepal kuat, aku ingin sekali mengamuk di tempat ini. kak Furqon memegang tanganku, berniat menenangkan amarahku yang begitu membuncah.
"apa tidak ada cara lain selain memasang bom, bos...?" tanya kak Furqon
"ada" jawab Gibran
"menculik Zidan dan menjadikannya sebagai sandera, menjadikan dia alat untuk mengancam pak Adnan. dan satu lagi, membuat bangkrut Sanjaya grup jika kedua rencana ini tidak berhasil" lanjut Gibran
aku begitu geram dengan rencana jahat yang dikatakan laki-laki yang ada di depan kami ini. jika sedang tidak menyamar, sudah aku hajar habis-habisan, si Gibran sialan ini.
"itu tugas yang diberikan oleh bos, namun...ada tugas khusus dariku untuk kalian berdua" ucap Gibran
kak Furqon mengangkat alis sementara aku mengerutkan kening.
"ikut aku" ucap Gibran
Gibran beranjak dari duduknya dan kami berdua mengikutinya. kami bertiga menuju ke sebuah kamar yang entah apa yang akan ditunjukkan olehnya kepada kami.
Gibran membuka pintu dan kami semua masuk ke dalam. aku melihat seseorang terbaring di ranjang dalam keadaan tidur. mungkin tidak tidur karena ada alat oksigen di mulutnya dan juga selang infus dan sebagiannya.
namun saat semakin dekat, aku begitu kaget dikala melihat siapa yang terbaring di atas ranjang.
"i-ini kan" kak Furqon sama kagetnya denganku dan bahkan tergagap
"kamu mengenalnya...?" tanya Gibran
"ah t-tidak...aku hanya kaget saja kenapa bisa ada seorang wanita yang dirawat di sini dan tidak dibawa saja ke rumah sakit" jawab kak Furqon
"aku meminta kalian membawanya pergi dari tempat ini untuk menyelamatkan nyawanya" ucap Gibran
tentu saja aku bingung, apa maksud dari ucapan Gibran. bukannya dia tangan kanan Baharuddin lalu kenapa tiba-tiba saja dia ingin menyelamatkan tante Vania.
iya... memang yang terbaring di ranjang ini adalah tante Vania. wanita yang selama ini tidak kami ketahui keberadaannya setelah tragedi kecelakaan yang dialaminya bersama paman Zidan. dan ternyata, tante Vania berada di tempat ini.
__ADS_1
"apa yang harus kami lakukan...?" tanya kak Furqon
Gibran tidak menjawab namun dirinya menerima sebuah panggilan yang entah dari siapa.
"halo"
"aku di tempat biasa"
"kamu sudah sembuh, kenapa keluar dari rumah sakit...?"
"tidak perlu, wanita ini biarlah menjadi urusanku"
"Aris, sebaiknya kamu istrahat saja di rumah kalau tidak ingin di rawat di rumah sakit"
rupanya Gibran sedang berbicara dengan Aris. aku begitu penasaran apa yang mereka bicarakan.
"bukankah bos menyerahkan wanita ini padaku untuk menyingkirkannya lalu kenapa kamu ingin ikut campur"
"tidak bisa, wanita ini aku yang akan menanganinya. setelah membereskan wanita ini aku akan menemui bos"
Gibran menutup panggilan, aku melihat raut wajahnya yang begitu kesal setelah menerima telepon dari Aris.
"jadi apa yang harus kami lakukan...?" tanyaku
belum sempat menjawab, seseorang menerobos masuk ke dalam dan mendekati Gibran yang berdiri di samping tante Vania sementara aku dan kak Furqon berada di kaki tante Vania.
"bos, Aris baru saja datang" ucapnya
"apa...? ah sial" Gibran mengumpat kesal
"keluar kamu" Gibran mengusir orang tadi
"baik bos"
laki-laki itu meninggalkan kami, sementara itu Gibran menarik aku dan kak Furqon mendekat lemari pakaian.
"masuk ke dalam sini dan jangan bersuara" ucap Gibran
"lah memangnya kenapa bos, bukannya Aris telah mengetahui siapa kami" tanya kak Furqon
"masuk saja, jangan tanya" ucapnya
aku dan kak Furqon dengan terpaksa masuk ke dalam lemari dan menutup pintunya. di saat bersamaan aku mendengar pintu kamar baru saja dibuka. karena penasaran aku membuka sedikit pintu lemari dan mengintip keluar. aku melihat Aris bersama seorang wanita yang berpakaian seksi, seperti baju yang kurang bahan saja.
"kenapa ke sini jika kamu belum begitu sembuh" ucap Gibran
"aku malas di rumah sakit, seperti orang gila saja yang diisolasi" Aris duduk di samping Vania
"apa yang akan kamu lakukan dengan wanita ini...?" Aris memegang wajah tante Vania
aku yang masih mengintip dari celah pintu dapat melihat semuanya.
"apa Aris yang datang...?" tanya kak Furqon dengan pelan
"iya kak" jawabku dengan sangat pelan pula
"membunuhnya seperti yang diperintahkan oleh bos dan mayatnya di kirimkan ke keluarga Sanjaya" jawab Gibran
mataku melotot sempurna mendengar jawaban Gibran. apa sebenarnya yang direncanakan laki-laki ini sampai aku begitu ragu jangan sampai memang tante Vania akan benar-benar dibunuhnya, tidak seperti yang dikatakannya tadi bahwa kami harus membawa tante Vania pergi agar dapat menyelamatkan nyawanya.
"kenapa kamu tidak serahkan saja dia padaku. aku ingin bermain-main dengannya"
"jangan gila Aris, dia sedang koma"
"justru sebelum aku mengirimnya ke alam baka, aku akan membuat video dan mengirimkannya kepada para pengawal Sanjaya bagaimana aku menyiksa istri dari Zidan Sanjaya"
"bermain-main dengan tubuhnya, pasti sangat menyenangkan"
benar-benar binatang laki-laki ini. ingin sekali aku keluar dan menghajar mulutnya.
"bagaimana kalau kita keluar saja kak, aku ingin memberikan pelajaran kepada Aris sialan itu" ucapku
"jangan gegabah tuan muda, kita pantau saja dulu" jawab kak Furqon
"aku tidak akan memberikannya padamu Aris. sebaiknya kamu kerjakan yang lain. bukankah setelah Sanjaya grup direbut, kamu yang akan menjadi CEO dari perusahaan itu. sebaiknya persiapkan dirimu. jangan sampai bos Baharuddin tidak ingin memilihmu hanya karena kamu pincang seperti ini. seorang bos harus sehat dan berdiri tegap" ucap Gibran
"memangnya kenapa kalau aku pincang. kamu ingin menggeser posisiku...?"
Aris berdiri dengan tongkatnya dan menatap Gibran dengan tajam.
"kalau itu yang bos Baharuddin inginkan, kenapa tidak" jawab Gibran
"kurang ajar kamu Gibran. jangan mimpi mendapatkan tempatku. kamu....hanya anak haram, anak dari seorang pembantu yang rela menjual tubuhnya hanya karena uang. ayah, tidak mengharapkan kehadiran mu" Aris mendorong Gibran dengan keras
"bukankah posisiku lebih tinggi darimu. aku anak haram tapi dalam diriku mengalir darah bos Baharuddin. aku anak kandungnya, sementara kamu...." Gibran tertawa kecil
"Aris.... Aris....kamu ini lucu sekali. tenang saja, aku juga tidak tertarik dengan posisi CEO itu. ada yang lebih penting dari sekedar menjabat sebagai pemimpin perusahaan. saat tiba masanya nanti, kamu....akan kaget"
"kamu ingin berhianat...?"
Gibran tidak menjawab namun dirinya menyuruh wanita yang datang bersama Aris untuk membawa Aris keluar.
__ADS_1
dengan perasaan kesal, Aris keluar dari kamar itu. sementara aku dan kak Furqon saling pandang, baru saja mendapatkan informasi penting kalau ternyata Gibran anak dari Baharuddin dan aku yakin paman Helmi serta yang lainnya pasti mendengar percakapan mereka.