
"tapi kalau kita pergi terus bagaimana sekolah kita. waktu itu saja kita pergi baru beberapa hari tau-tau ternyata udah berbulan-bulan bahkan sampai kita udah naik kelas aja" ucap Vino
"iya juga sih. yang lalu kan ratu Sundari mengirim jin untuk menyamar menjadi kita, kalau sekarang siapa yang mau menyamar seperti kita" timpal Starla
"haduuuuh...aku tambah pusing dengar rencana kalian" Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"ya jangan pusing dong, nanti ribet kalau tiba-tiba saja elu pingsan. masa iya kita mau gendong" ucap Leo
"kalau seperti itu kita minta jin yang ada di sana lagi untuk menggantikan kita selama kita di alam ratu Sundari" El memberikan usul
"rakyat ratu Sundari sudah dibantai oleh Sri Dewi, hanya sebagian yang masih selamat dan mereka dibawah perlindungan raja Ranangraya. untuk ke sana jelas kita butuh waktu lama lagi, sementara waktu yang tersisa hanya empat hari" Melati menjelaskan
"kenapa tidak meminta bantuan raja itu saja. bukankah pangeran Ragiman pasti akan membantunya...?" ucap El
"ratu Sundari tidak ingin mereka terlibat dalam urusan pribadinya" jawab Melati
"terus gimana dong...? nggak mungkin kita pergi gitu aja" Bara menimpali
"nanti aku yang cari siapa yang bisa menggantikan kita" Adam bersuara
"emang kakak mau minta bantuan sama siapa...?" tanya Alana
"sama para jin yang ada di kuburan lah" jawab Adam enteng
"yang berkelas dikit napa dam. masa para pocong sama mba Kunti sih yang nyamar jadi kita" Nisda protes
"mau berkelas bagaimana, mereka kan nggak sekolah" jawab Adam polos
"maksud gue bukan itu udiiiiin" Nisda ingin sekali menggetok kepala Adam
"terus maksud kamu apa maemunah....markonah sikonah konah" Adam mulai kesal
"nama gue Nisda, bukan markonah sikonah konah" cebik Nisda
"lah kamu juga tadi manggil aku udin" Adam tidak mau kalah
"bisa fokus nggak sih, kalau nggak gue cium nih" ancam Bara
"mau bangeeeet" Nisda girang dan mengangguk
"idih...ogah banget, mending cium si moni" Adam mencebik
"makanya diam" ucap Bara
"okeh...aku diam sediam-diamnya" Adam mengunci mulutnya dengan tangannya kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku celananya seakan dia menyimpan kunci mulutnya
El-Syakir geleng kepala namun ia tidak ambil pusing. mereka kembali membahas tentang perencanaan mereka yang akan ke hutan timur, di dunia ratu Sundari.
"daripada nyari lagi kan, mending terima saran Adam aja deh. kita nggak punya pilihan lain" ucap Melati
"tapi masa iya kuntilanak. yang ada nanti kalau dia tertawa, nanti pada kabur nyokap bokap kita" ucap Nisda
"ya udah suruh kalem aja" timpal Leo enteng
Adam hanya mendengarkan mereka tanpa ikut menimpali. matanya berputar-putar melihat ke sana kemari.
"gini aja, kita pergi saja. nanti kita meminta bantuan Senggi untuk mencarikan Jin di sana yang akan menggantikan kita" Melati memberikan usul
"tadi elu bilang mereka udah dibantai dan sebagian diperlindungan raja Ranangraya" ucap Vino
"Kan Senggi bisa ke sana, dia kan jin pastinya cepat sampai ke sana" jawab Melati
"oke fix, sekarang tinggal bersiap untuk ke sana sekarang" ucap Leo
"dam, elu diam-diam bae dari tadi...mau ikut nggak...?" Starla melihat Adam
Adam tidak menjawab, ia hanya mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah kesal.
"itu bibir minta dicium ya, ya udah sini gue cium" Leo memanyunkan bibirnya
plaaaak
Adam memukul bibir Leo yang sudah bersiap untuk menciumnya.
"sekate kate kamu, bibir ini hanya untuk wanita yang beruntung mendapatkan ku ya" ucap Adam
"cih, sok sok-an nyebut wanita beruntung, punya pacar aja nggak" cibir Leo
"heleh....kayak kamu udah laku aja" skak Adam
"hehehehe.....tau aja lu" Leo cengengesan
"hihihihihi" Adam mencebik dengan wajah kesalnya
kini mereka bersiap untuk ke hutan timur. Vino dan Bara membonceng pasangan mereka. El-Syakir bersama Alana, Leo sendiri dan Adam bersama Melati. pilihan antara Leo dan Adam, tentu saja Melati memilih Adam. dirinya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang jarang datang dua kali.
seperti biasa saat menjadi roh, kemanapun mereka pergi Adam pasti akan merengek untuk membeli Melati terlebih dahulu dan sama seperti sekarang, mantan hantu itu ingin singgah terlebih dahulu di Alfamart untuk membeli minuman melati.
__ADS_1
"ikut juga ah, siapa tau di sana kita butuh ngemil" Vino mengikuti Adam yang duluan masuk bersama El-Syakir
"elu kira kita mau liburan, di sana kita pasti adu jotos woi" Bara berlari kecil dan merangkul Vino
para perempuan pun ikut masuk ke dalam, mereka memilih beberapa cemilan untuk di makan.
"1, 2 , 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10" Adam mulai memasukkan minuman kedalam ke ranjang
"banyak banget kak" El-Syakir melihat keranjang yang dipegang oleh Adam
"mending banyak dari pada kurang" jawab Adam
"simpan sebagian, kita ke sana bukan untuk acara minum-minum" El menyimpan kembali beberapa botol minuman itu
"yaaah kok dibalikin sih, aku kan maunya banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer" Adam memanyunkan bibirnya
"nanti aja kalau mau banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer, sekarang segini aja dulu"
"ah, kamu mah nggak asik ah" Adam menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil
"di asikkin aja, gitu aja repot" jawab El santai
"tambah lagi ya ya ya" Adam mengedip-ngedipkan matanya
"nggak, lagian yang minum kan cuman kakak. udah segitu aja cukup" tegas El
"huwaaaaa....pelit. aku ngambek nih" ancam Adam
"kakak ngambek, gue nggak belikan sekalian" El mengancam balik
"hiks...hiks....dasar Malin kandang" Adam manyun dan mulai mendramatisir keadaan
El-Syakir menahan tawa melihat ekspresi Adam. bukan sengaja ingin menertawakan namun kakaknya itu memang terlihat lucu saat dirinya akan bersikap marah seperti anak kecil.
"udah ah, udah gede masih cengeng aja. nanti nggak ada cewek yang mau sama kakak" El merangkul Adam dan menuju kasir
"aku nggak mau cewek, aku mau Melati" ucapnya masih dalam mode merajuk
"tuh Melati" El menunjuk Melati yang berada di luar bersama yang lain
"yang itu mah nggak bisa diminum" kesal Adam dan El-Syakir terkekeh
setelah selesai berbelanja, mereka kembali menyusuri jalan raya. cukup lama mereka berada di atas motor hingga beberapa jam akhirnya mereka sampai di tujuan.
(aku seperti pernah datang di sini ya) batin Adam yang sedang mengingat sesuatu
"terus motor kita gimana...?" tanya Vino
setelah mengamankan kendaraan, mereka mulai masuk ke dalam hutan. Alana yang baru pertama kali datang ke tempat itu merasa takut dan bahkan kini ia menggenggam tangan Leo dengan erat.
"kamu takut...?" tanya Leo
"iya, ini kan pertama kalinya Lana ke tempat seperti ini" jawab Alana
"tenang aja, ada kakak yang akan jagain kamu" Leo tersenyum manis
mereka semakin masuk ke dalam hutan dan sudah semakin jauh dari jalan raya. hingga akhirnya tibalah mereka di tempat dimana pintu masuk ke alam ratu Sundari berada. sebuah batu besar yang dulu Vino pernah terbaring di atasnya dan Adam datang menyelamatkannya.
"apa kakak mengingat sesuatu...?" tanya El saat melihat Adam memperhatikan sekitar
"nggak" jawab Adam, padahal memang sebenarnya ia sedang berpikir pernah mendatangi tempat itu
Melati menaruh tangannya di tanah dan membaca mantra, setelahnya kini mereka telah berada di lain tempat dimana mereka bukan lagi berada di alam manusia.
"kak Mel punya sihir...?" Alana takjub
"itu hanya mantra biasa, sekarang kita ke tempat Senggi dan ratu Sundari" Melati mengajak mereka
"kita seperti berada di desa mati yang nggak berpenghuni" ucap El
sama saat Melati datang, tempat itu sangat sunyi tanpa para jin yang berkeliaran. berbeda dengan saat pertama mereka menampakkan kaki di tempat itu, suasananya terlihat ramai seperti di alam manusia tapi sekarang kerajaan karing-karing tidak ubahnya desa yang ditinggal penghuninya. ratu Sri Dewi telah mengubah semuanya.
"sembunyi" ucap Melati
mereka yang mendengar ucapan Melati merasa bingung sampai akhirnya Adam menarik mereka satu persatu untuk bersembunyi di balik pohon yang besar.
"ada apa sih...?" tanya Nisda
"ssssttt" Adam menyimpan telunjuknya di bibirnya
"tarik lebih cepat" teriak seseorang
mereka semua mengintip dari balik pohon. pertama yang mereka lihat adalah seorang wanita yang berpakaian hitam dengan mahkota dan ular yang melilit tubuhnya, dialah ratu Sri Dewi. wanita itu berada di sebuah tandu yang diangkat oleh beberapa pria, mereka adalah abdi sang ratu penguasa kegelapan.
sementara dibelakang tandu wanita itu, seorang wanita ditarik menggunakan tali yang diikat di tubuhnya.
"Senggi" ucap mereka bersamaan
__ADS_1
wanita itu sudah sangat lemah dan kini ia pun babak belur. terlihat sekali pertama pastinya ia melawan namun kekuatannya yang tidak seberapa dengan sang ratu kegelapan, tentu membuatnya kalah telak.
Adam melihat ratu Sri Dewi, dirinya teringat dengan seseorang. wajah wanita itu begitu familiar, namun entah dimana ia melihatnya, pikirannya tidak bisa memprediksi itu.
"kita harus selamatkan dia" ucap Melati
"jangan gegabah, lawan kita bukan seperti para arwah yang bisa kita kalahkan. dulu saja kami babak belur karena dirinya bahkan Nisda dan kak Ardi hampir mati" Starla mencegah Melati
"dia hampir membunuh kalian...?" tanya Adam
"bukan hampir lagi, kalau saja waktu itu ratu Sundari tidak datang mungkin kita sudah jadi almarhum sekarang" jawab Bara
"brengsek, beraninya dia menyakiti kalian" Adam melangkah untuk mencegat rombongan ratu Sri Dewi namun El-Syakir segera menghadangnya
"kak jangan emosi, sesuatu yang kita lakukan terburu buru ujungnya tidak akan baik. lebih baik sekarang kita ke tempat persembunyian ratu Sundari" El-Syakir melihat ke arah teman-temannya
"iya, lebih baik seperti itu dan kita bisa menyusun rencana di sana" Leo membenarkan ucapan El-Syakir
kini mereka kembali melanjutkan perjalanan. mereka tetap berhati-hati jangan sampai ada jin pengikut ratu Sri Dewi yang menemukan mereka, sudah pasti keberadaan mereka semua akan terdengar di telinga wanita itu.
setelah sekian jam berjalan akhirnya mereka sampai di tujuan. sebuah gua yang besar, jauh dari jangkauan para antek-antek ratu Sri Dewi.
"Mel, elu yakin ini tempatnya...?" Nisda sedikit ragu
"gue udah ke sini waktu kemarin" jawab Melati
mereka masuk ke dalam gua dan tampak di depan sana seorang wanita sedang terbaring di atas batu dengan tubuh yang tidak bergerak sama sekali.
mereka mendekati ratu Sundari, wanita yang terlihat cantik itu kini wajahnya semakin pucat. bahkan kulitnya sebagian sudah menghitam akibat racun yang ada di dalam tubuhnya.
"dia kenapa mirip sekali dengan wanita yang tadi..?" tanya Adam memperhatikan ratu Sundari
"mereka saudara kembar" jawab Melati
"kenapa dia seperti nggak asing ya" gumam Adam namun masih di dengar oleh yang lain
"setelah melihatnya, apakah kakak sama sekali belum mengingatnya...?" tanya El
"apakah aku dan dia saling kenal...?" Adam bertanya balik, entah mengapa matanya tidak bisa lepas dari wanita yang terbaring lemah itu
"bahkan kalian lebih dari sekedar kenal" jawab El
"apa iya kami begitu dekat...?" Adam duduk di pinggir batu itu dan membelai wajah ratu Sundari
(kenapa aku tidak bisa lepas untuk tidak memandang wajahnya) batin Adam
(sabar Melati, bukan saatnya untuk menuruti ego mu dengan rasa cemburu. kamu tau betul kalau Adam mencintai ratu Sundari) Melati menguatkan hatinya
"jadi apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Alana
"kalau yang membuat ratu Sundari tidak berdaya seperti ini adalah ular dari ratu Sri Dewi berarti penawarnya pun pasti ada pada mereka" ucap El
"lalu bagaimana caranya kita bisa mendapatkan penawar itu...?" tanya Bara
"satu-satunya cara jelas harus menjadi penyusup" jawab Adam
"menyusup di istana karing-karing...?" tanya Vino
"iya, hanya dengan itu kita bisa mencari tau apa obat yang dapat menyembuhkan racun di dalam tubuh wanita ini" jawab Adam
"kalau ketahuan bisa mampus kita dam" timpal Leo
"terus kalau kita nggak berani, untuk apa kita datang jauh-jauh ke sini. sekarang pilihannya cuma dua, maju atau mundur" jawab Adam
"gue akan tetap maju, kalau kalian nggak berani biar gue sendiri yang pergi" ucap Melati
"nggak, biar kami para lelaki saja yang pergi, kalian tetap di sini menjaga ratu Sundari" El menimpali
"aku ikut, aku nggak mau kak El dan kak Dirga kenapa-kenapa di sana" ucap Alana
"jangan dek, kamu tetap di sini, kami akan baik-baik saja" Adam tidak mengizinkan Alana untuk ikut bersama mereka
"tapi kak Dirga dan kak El harus hati-hati ya" ucap Alana
"tentu" Adam memeluk adiknya itu
setelahnya Adam kembali melihat ke arah ratu Sundari, ia kembali duduk di sampingnya dan terus menatap lekat wajah pucatnya.
(aku tidak tau apa yang telah kita lalui dulu, tapi aku yakin kalau aku ingin membuatmu bangun dan sadar. semoga dengan kamu bangun lagi, aku bisa meminta penjelasan padamu) batin Adam
"ayo" ajak Adam
tim samudera laki-laki meninggalkan gua dan pergi ke istana karing-karing, mereka akan mencari tau apa penawar yang dapat menyembuhkan ratu Sundari.
"terus bagaimana dengan para jin yang akan menggantikan kita di dunia manusia nanti...?" tanya Starla
"sepertinya tidak akan ada yang menggantikan kita, Senggi sudah ditangkap oleh wanita iblis itu" jawab Melati
__ADS_1
"nanti saja kita pikirkan itu kalau kita sudah kembali, sekarang kita fokus kepada tugas kita sekarang" ucap Nisda
mereka mengangguk, ucapan Nisda memang benar. mereka harus fokus untuk penyembuhan ratu Sundari. mereka berharap teman laki-laki mereka dapat mendapatkan apa yang mereka inginkan