
"Le, benar nih lokasinya...?" tanya El yang melihat jalan setapak masuk ke dalam hutan sana
jalan setapak yang tidak terlalu luas namun bisa dilewati untuk kendaraan roda empat itu di penuhi semak-semak samping kanan kirinya.
"dari tablet gue memang benar di sekitar sini. dan kita harus masuk ke dalam lagi" jawab Leo
"ngapain coba starla datang ketempat seperti ini" ucap El
"jangan-jangan" ketiganya saling berpandangan
"starla di culik" ucap Vino cepat
"hussh...kamu kalau ngomong yang benar aja dong Vin" timpal Leo
"sudah bener yang gue ngomong. ngapain coba dia datang ke tempat hutan seperti ini. biasanya kan dia selalu sama kita terus" jawab Vino
"kita ikuti saja jalan ini. aku merasa starla memang sedang tidak baik-baik saja" Adam ikut menimpali
mereka kembali meneruskan perjalanan, Bara yang baru saja sampai langsung mengikuti mereka.
tidak berapalama mereka berlalu, mobil Zidan dan beberapa mobil pengawalnya tiba di jalan itu dan langsung menyusurinya.
beberapa meter masuk ke dalam, nampaklah sebuah rumah yang tidak begitu mewah namun besar dan mempunyai halaman luas. para remaja itu berhenti tidak jauh dari rumah tersebut.
"siapa yang bangun rumah secantik ini di tengah hutan...?" tanya Vino yang turun dari motornya
"yang pasti sudah jelas orang, bukan lelembut" jawab Adam
"gimana titiknya Le...?" tanya El
Leo maju beberapa langkah untuk memastikan pencariannya dan benar saja titik temunya berhenti di rumah itu.
"titiknya hanya sampai di sini, itu berarti starla ada di dalam rumah ini" jawab Leo
semuanya mendekati Vino termasuk Bara dan Nisda. Adam menatap sekeliling sama sekali tidak ada orang.
"tunggu di sini, aku akan cek ke dalam" ucap hantu itu
Adam menghilang sekejap mata. hantu itu menyusuri setiap ruangan yang ada namuna ia tidak menemukan siapapun.
"woooi, siapapun di luar bukain aku pintu"
mendengar suara seseorang berteriak, Adam secepat kilat mencari sumber suara dan berakhir lah ia di kamar yang di dalamnya terdapat seorang pria yang dikunci oleh starla tadi.
"sial banget sih gua, malah terkunci di dalam sini dan semua itu karena gadis ingusan itu" umpatnya dengan kesal
Adam memperhatikan seisi kamar tidak ada apapun di sana, ia segera keluar namun di depan kamar itu ia mendapatkan seorang pria yang sudah tidak bernyawa dengan darah kental menggenangi lantai dan juga sebuah tali yang di gunakan mengikat tubuh Vania dan starla tadi.
belum ada petunjuk kalau starla berada di tempat itu. otaknya mulai menuntunnya untuk melihat di sekeliling rumah dan berakhir lah dirinya di tong sampah dimana ada dua buah tas disana.
"ini kan"
segera Adam menghilang dan seketika dirinya muncul lagi di hadapan kawanannya.
"kita masuk saja di dalam, mana tau starla disekap atau semacamnya, kasian dia" ucap Nisda merasa khawatir
"aku nggak menemukan starla di dalam tapi aku melihat sebuah tas di tong sampah di sudut rumah sana, coba periksa karena sepenglihatan ku itu seperti tas yang dipakai starla" ucap Adam, karena kalau dia mengambil tas itu dan membawanya sudah dipastikan Nisda dan Bara akan ketakutan melihat tas yang melayang
tanpa bicara El mengikuti Adam yang melayang menunjukkan jalan tempat ditemukannya tas-tas itu.
"itu dia" tunjuk Adam ke arah tong sampah di depan mereka
El mendekat dan benar saja ada dua tas di sana. satu tas yang bermerek dan satu lagi El tau siapa pemilik tas itu.
"itu punya starla, iya...tas itu milik starla" Vino mendekat dan memeriksa isi di dalamnya. benar saja, kartu pelajar atas nama Zeka Starla Azalia dan foto gadis itu terlihat jelas di kartu pelajar
"berarti benar starla di culik dan dibawa ke sini. kalau nggak ada di dalam, terus dia kemana" Vino tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya
"kita kan belum periksa ke dalam, darimana elu tau dia nggak ada di dalam" sekian lama diam akhirnya Bara ikut bersuara
"kita harus ke dalam untuk memastikan, kasian dia" lanjut Bara
"sebentar, masih ada satu tas lagi. gue periksa dulu"
El segera memeriksa isi tas tersebut. ada dompet, handphone, kunci mobil, obat-obatan dan juga tisu di dalam tas itu. meski lancang namun El memeriksa dompet yang ada agar dia tau siapa pemilik tas itu.
saat membuka dompet itu hal pertama yang mereka lihat adalah sebuah foto kecil yang terpajang, seorang pria yang sangat mereka kenal.
"lihat ini" El memperlihatkan foto itu kepada Vino dan Leo. Adam ikut melihat termasuk Bara dan Nisda
"paman Zidan" ucap mereka termasuk juga Bara
"elu kenal paman Zidan...?" Leo melihat ke arah Bara
"tentu saja kenal. dia sahabat kakakku Pram, kakakku bekerja di perusahaannya yaitu Sanjaya grup" jawab Bara
(Sanjaya grup) batin Adam
"eh jangan-jangan, tas ini milik" Bara segera merebut dompet itu dari tangan El dan memeriksa isi lainnya
"ya Allah, ini kak Vania...dia pacar paman Zidan. berarti starla dan kak Vania diculik dan dibawa ke sini" Bara kaget melihat KTP siapa yang ada di dalam dompet itu
segera semuanya melihat KTP itu, sontak El dan kedua temannya serta hantu itu kaget namun tidak dengan Nisda karena gadis itu tidak mengenal Vania.
"jadi kakak ini pacarnya paman Zidan" ucap Vino
__ADS_1
"kita harus cari mereka" ucap El
dor....
baru saja melangkah, satu tembakan terdengar di dalam hutan itu. semua burung yang hinggap di pohon terbang seakan ingin menyelamatkan diri.
ngiiiiiiiiiiiiiing.....
telinga Adam berdengung, ia menutup matanya dengan menahan sesuatu di dalam dirinya agar tidak memberontak saat mendengar bunyi tembakan tadi.
"ikuti aku. mereka dalam bahaya di dalam hutan sana" ucap Adam melayang dengan cepat, sementara El dan yang lainnya berlari mengejar hantu itu
"mau kemana kita, kok nggak masuk ke dalam dulu untuk memeriksa" tanya Nisda dalam keadaan berlari
"mereka tidak ada di dalam" jawab El
disaat El dan kawanannya pergi, barulah pasukan Zidan datang. namun saat Zidan mendengar suara tembakan itu, dirinya segera berlari ke dalam hutan di ikuti semua pengawalnya termasuk ketiga pengawal andalannya.
"Helmi, Pram" teriak Furqon yang berlari ke arah mereka
"loh kalian ngapain ke sini...?" tanya Helmi saat melihat Ardi dan Furqon
"anak pak Adnan itu datang ke tempat ini makanya kami berada di sini. entah apa yang mereka lakukan di sini" jawab Ardi
Helmi dan Pram saling pandang, pikiran mereka sama, jangan-jangan gadis yang bersama Vania adalah teman dari anak bos mereka itu.
"baiklah, ikut kami sekarang juga. kita harus selamatkan Vania dan gadis yang Rudi culik" ucap Pram
"Vania...?" tanya Furqon
"iya, ayo buruan" lanjut Pram lagi
Vania dan starla terus saja berlari meskipun suara tembakan terus saja mengejar mereka. jatuh bangun dan tertusuk duri mereka tidak perduli asal bisa menyelamatkan diri.
bughhh
"aw" ringis starla saat ia jatuh dan lututnya menghantam batu besar
"kamu tidak apa-apa...?" Vania yang berlari di depan langsung berhenti dan menghampiri starla
"sakit kak, kayaknya aku nggak kuat lari lagi" ucapnya parau
"kakak gendong"
"jangan kak, lebih baik kakak pergi sekarang juga sebelum mereka datang"
"nggak, kakak nggak akan ninggalin kamu sendirian. ayo kakak bantu, kamu pasti bisa. kita harus selamat"
Vania membantu starla untuk berdiri. dengan meringis dan menahan sakit ia berusaha kuat dengan memegang bahu Vania erat.
"ayo" Vania memapah tubuh mungil gadis itu
"cari mereka sampai dapat"
suara teriakan itu membuat Vania dan starla saling pandang, sangat dekat bahkan hanya beberapa meter saja.
"gimana ini kak...?" starla langsung panik
"ayo kakak bantu"
Vania memapah starla dan mulai berjalan dengan pincang, keduanya tetap berusaha untuk lolos dari kejaran orang-orang yang entah berapa banyak jumlah mereka.
"aku nggak kuat kak"
"kamu bisa dek, ayo kakak bantu"
"nggak, aku nggak kuat. kakak tinggalin saja aku di sini. kakak pergi cari bantuan"
"tidak akan, kita harus selamat sama-sama. ayo kakak bantu"
"maaf kak"
starla melepas tangan wanita itu. Vania menggeleng cepat namun starla sudah bulat dengan keputusannya.
"itu mereka, tangkap keduanya" teriak seseorang yang melihat mereka
"pergi kak" teriak starla dengan deraian air mata
dengan terpaksa Vania meninggalkan starla yang sudah tidak sanggup lagi untuk berlari akibat terjatuhnya tadi. wanita itu berlari sekencang mungkin tanpa melihat ke belakang.
"gadis menyusahkan kamu"
plaaaaak
Rudi menampar starla dengan kerasnya, namun tidak membuat gadis itu takut bahkan ia membalas tatapan Rudi dengan tak kalah tajamnya.
"kejar wanita ****** itu" teriak Rudi
"baik"
sementara itu, Zidan terus berlari di ke tempat dimana ia mendengar suara tembakan tadi. dalam hati ia terus berdoa agar kekasihnya dan gadis yang bersamanya baik-baik saja.
dor...
dor...
__ADS_1
suara tembakan terdengar lagi, kali ini dari arah yang berbeda dengan suara tembakan yang pertama.
"arah timur" ucap Pram yang baru saja sampai di tempat Zidan bersama yang lainnya
"kita berpencar. Ardi dan Furqon serta beberapa pengawal lainnya ikuti El-Syakir dan teman-temannya" ucap Randi
"mereka disini, ngapain...?" tanya Zidan
"gadis yang bersama Vania adalah gadis yang hampir kita tabrak waktu lalu. ingatkan" jawab Pram dan Zidan mengangguk
"berpencar sekarang" lanjut Randi
akhirnya dua kubu dibentuk untuk menyelamatkan dua orang perempuan yang entah bagaimana keadaan mereka sekarang.
"suara tembakan dari arah timur, kita ke sana" ucap El
ngiiiiiiiiiiiiiing
telinga Adam terus berdengung, bahkan kali ini sepertinya ia sudah sangat sulit menguasai dirinya. suara tembakan itu terus terngiang-ngiang di telinganya.
"jangan ke sana, ada yang terdesak tidak jauh dari kita. ayo sebelum kita terlambat, siapa tau itu starla atau kak Vania" ucap Adam yang bahkan saat ini berusaha untuk tidak mengamuk sama seperti saat mereka menyelamatkan Andri
Adam kembali melayang, El segera menyusul begitu juga dengan yang lain.
"aku sebenarnya tidak punya urusan denganmu gadis manis" ucap Rudi
"urus dia, aku mau mengejar wanita jalan itu"
dengan amarah yang sudah di ubun-ubun dan juga kekesalan yang menguasai diri, Rudi bersama Thalita meninggalkan starla bersama para anak buahnya.
"bunuh saja, lagipula bukan dia target kita sebenarnya" ucap satu orang
"baik"
dengan tubuh gemetar starla menutup matanya saat pistol itu mendarat di kepalanya.
(*ya Allah sampaikan salam rinduku sama papa, aku harap papa sehat terus setelah aku tinggalkan)
(mah, starla akan menyusul mama) batin gadis itu dengan derai air mata*
buuukkk
"aaaggghh" orang yang ingin menembak starla itu terkena lemparan batu yang besar di kepalanya membuat dirinya teriak kesakitan
"lepaskan dia brengsek" .
perlahan starla membuka matanya, di sana yang pertama ia lihat adalah Vino yang menatap sendu ke arahnya kemudian ia melihat lagi teman-temannya yang lain.
"Tim samudera" gumam starla dengan senyum lega
"dasar anak ingusan, beraninya melawan kami"
"jangan panggil aku anak ingusan paman. aku Vino, namaku Vino" jawab remaja itu dengan tatapan tajam
"elu kayak pemeran Shiva aja" bisik Bara yang berada di dekatnya
"iyakah, gimana gue keren kan, setidaknya di depan pujaan gue, gue harus terlihat keren" jawab Vino masih bercanda meski dalam keadaan tegang
"itu pacar gue woi" kesal Bara
"bukan Nisda markonah, tapi dia" tunjuk Vino ke arah starla
"nama pacar gue Sakinah Nisdayanti, bukan Nisda markonah" jawab Bara
"ya salam, ternyata di balik sikap kasarmu otak elu ternyata edan" Vino menepuk jidatnya
"habisi mereka" teriak komando pasukan itu
belum juga mereka menembaki El dan teman-temannya, mereka sudah mendapat tembakan duluan. Furqon dan Ardi serta pengawal suruhan Zidan datang tepat waktu.
maka terjadilah aksi saling tembak-menembak. starla menyeret kakinya dan berlindung di balik pohon begitu juga dengan El dan yang lainnya.
Nisda yang kaget langsung dipeluk oleh Bara. laki-laki itu menutup telinga gadis itu dan Nisda memeluknya dengan erat.
sementara Adam, melihat darah yang keluar dari tubuh musuh yang tertembak langsung membalikkan badan dan tidak ingin melihat. hantu itu seperti kehausan saat melihat cairan merah itu.
El yang paham langsung memeluk Adam, ia membawa hantu itu ke dalam pelukannya dan terus bersembunyi di balik pohon.
*dor
dor
"ayaaah"
"bundaaaa*"
"*sekarang giliranmu anak manis"
dor*
"aaaaggghhhh"
Adam teriak histeris saat terus mendengar suara tembakan yang tidak ada akhirnya. ia bahkan melempar El tersungkur jauh.
"Adam" teriak El saat melihat hantu itu berubah seperti saat mereka menyelamatkan Andri. matanya berubah menjadi merah, dengan kuku yang tajam.
__ADS_1