
"ini gimana maksudnya ya, bingung gue" Starla menatap para perempuan dan mereka semua mengangkat bahu tanda mereka pun sama tidak mengertinya dengan dirinya
paman Zidan
kamu kemana saja Deva, kamu tau kalau paman mencari keberadaan mu selama ini. kenapa pergi begitu saja, sampai tidak mengantar kedua orang tua angkatmu di tempat terakhir mereka
El-Syakir
m-maaf paman, maaf maafin Deva
Deva mulai berkaca-kaca dan pada akhirnya menangis. melihat hal itu, Adam memeluk Deva mengelus punggungnya. sementara yang lain masih dengan penuh kebingungan hanya menatap dan memperhatikan saja.
paman Zidan
kamu pulang, harus pulang ke sini. paman tidak mau tau. jika Dirga datang maka kamu harus ikut. apa kamu tidak merindukan paman
El-Syakir
iya paman, Deva akan pulang
setelah berbicara dengan Zidan kembali Adam memeluk Deva yang sangat merasa bersalah atas kejadian empat tahun yang lalu.
"ayah sama bunda sudah tenang di sana kak. kakak nggak usah merasa bersalah terus" ucap Adam
lama mereka berdua berpelukan hingga kemudian Deva melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"kak" Zahra bangkit dan mendekati Deva. Bara dan Leo berdiri untuk memberikan ruang gadis itu duduk di samping kakaknya
"kakak baik-baik saja" Deva tersenyum dan merangkul adiknya
"udah ganteng sekarang ya kak, dulu kan kakak kurus kerempeng. pantas saja gue nggak tau kalau ini kakak" ucap Bara
"elu makin gede makin jelek" Deva meledek balik
"ck, malah gue yang paling tampan di sini. iya kan sayang. Bara mulai narsis dengan mengerlingkan matanya ke arah Nisda
"banget malah" ucap Nisda membalas dengan mengedip-ngedipkan matanya
"hueeek, pen muntah" Adam menatap kesal ke arah dua sejoli itu
"bisa jelaskan ada apa sebenarnya...?" kini El-Syakir bertanya setelah sejak tadi hanya diam memperhatikan
Deva mulai bercerita. saat dimana waktu itu hujan yang begitu deras. mobil pak Burhan berhenti di sebuah supermarket untuk membeli sesuatu. namun saat dirinya turun, ia melihat seorang anak remaja yang sedang menggigil kedinginan dengan tubuh yang basah kuyup.
harusnya anak itu berlindung di depan supermarket tersebut. merasa kasihan, pak Burhan mendekati anak itu dan membawanya berteduh. ia kemudian menanyakan kenapa sampai harus mandi hujan seperti itu dan anak itu menjawab bahwa dirinya tidak diperbolehkan berteduh di depan supermarket itu. pakaiannya yang kotor membuat pegawai tempat perbelanjaan itu melihat jijik kepada anak itu dan mengusirnya.
pak Burhan pun menyuruh anak itu untuk masuk ke dalam mobilnya. awalnya anak itu menolak karena akan mengotori mobil pak Burhan. namun karena pak Burhan terus mendesak maka akhirnya ia pun mau.
pak Burhan kembali masuk ke dalam supermarket dan membeli beberapa bahan makanan serta cemilan lainnya. kemudian ia membayar dan keluar masuk ke dalam mobil.
pak Burhan memberikan anak itu beberapa bungkus roti untuk dimakannya. pak Burhan membawa pulang anak itu dan sejak kejadian itu anak yang bernama Deva itu bertemu dengan Adam dan juga bunda Ayu.
Deva mulai dekat dengan keluarga Sanjaya, kedua orang tuanya pun diberikan modal oleh pak Burhan untuk mendirikan usaha di kampung karena saat itu Deva sengaja merantau ke kota untuk mengadu nasib. ia mencari Seil dan ayahnya yang kabarnya mereka berada di kota itu namun sayangnya Deva tidak menemukan mereka. karena pada saat itu kehidupan Seil dan juga ayahnya sama menderitanya dengan dirinya karena ulah dari bibi Seil yang hampir menjual gadis itu dan diselamatkan oleh El-Syakir.
karena perilaku Deva yang sopan dan juga rajin pada akhirnya pak Burhan dan bunda Ayu mengangkat Deva menjadi anak mereka. tentu saja saat itu kehidupan Deva berbanding terbalik dari sebelumnya.
kehidupannya mulai sama dengan Adam dan mulai tinggal di rumah mewah keluarga Sanjaya. sekolah ditempat elit dan dirinya serta Adam saling menerima sebagai saudara kandung. mereka berdua begitu dekat layaknya saudara sedarah.
hingga kemudian kejadian naas itu terjadi dan Deva menghilang dari keluarga Sanjaya.
"jadi kak Dirga yang pernah kakak ceritakan itu adalah kak Adam...?" tanya Zahra
"iya" Deva menjawab
"maaf ya kak, dulu kehidupan aku sama ayah juga tidak seberuntung sekarang. kalau Seil tau waktu itu kakak ada di kota, tentu saja Seil akan membantu kakak sebisa Seil" Seil merasa bersalah setelah mendengar cerita Deva
"nggak apa-apa, semuanya juga sudah berlalu" ucap Deva
"kenapa selama ini kakak nggak pernah cerita...?" El-Syakir bertanya kepada Adam
__ADS_1
"iya, kenapa nggak cerita" Alana ikut bersuara
"karena saat itu dirinya memendam benci padaku. jelas dia nggak akan cerita" Deva yang menjawab pertanyaan kedua saudara itu
"kenapa...?" mereka semua bertanya dan mengalihkan pandangan ke arah Adam
"kenapa menatapku seperti itu. memangnya aku punya utang" bukannya menjawab Adam malah bertanya balik dengan tampang polosnya
"kami bertanya ege, jawab kek" Vino menyoyor kepala Adam
"kamu nanya...? kamu bertanya-tanya...?" Adam memasang wajah yang begitu menjengkelkan bagi Vino
"ente kadang-kadang enteng ya" Vino meraih kepala Adam dan menguncinya dengan lengannya
pergulatan dari keduanya pun terjadi. bahkan kini keduanya sudah berguling-guling di lantai dan saling menarik rambut.
"hajar sayang hajar" Starla menyoraki Vino
"lah malah kasi semangat" Melati geleng kepala namun sedetik kemudian dirinya menyoraki Adam
"ayo dam jangan mau kalah" sorak Melati bertepuk tangan
"ya salaaaaam" yang lain menepuk jidat
pukul 5 sore mereka semua kembali ke rumah Deva. jika kemarin-kemarin menjelang malam semua pintu rumah tertutup rapat dan tidak ada seorangpun yang berkeliaran namun kali ini berbeda. masih ada anak-anak yang bermain di halaman rumah mereka dan beberapa warga yang saling berpapasan dengan mereka.
saat tiba di rumah Deva, keadaan sudah nampak sepi. para warga yang datang tadi sudah pulang ke rumah masing-masing dan akan kembali lagi setelah magrib.
mereka semua masuk ke dalam dan di ruang tengah sudah terpasang karpet biru untuk tempat jika nanti para warga datang lagi.
"sudah pulang...?" ibu Nurma bertanya saat melihat Deva masuk ke dapur
"sudah. ayah dimana Bu...?" tanya Deva
"di kamar baru selesai mandi. kalian siap-siap untuk sholat setelah itu kita akan adakan pengajian"
"bu Nurma, kami mau pamit dulu ya pulang ke rumah. nanti setelah magrib kami datang lagi" ibu Murni dan ibu Nurul datang berpamitan
kedua ibu itu melangkah meninggalkan Deva dan ibu Nurma. suami keduanya sudah berada di depan menunggu mereka.
"pak Zainal mana bu...?"
"sedang mandi"
"bu, Deva mau memberitahu sesuatu"
"tentang apa nak, bisa nanti saja setelah acara kita ini selesai"
"baiklah" Deva kembali ke depan
setelah waktu magrib lewat, para warga yang ingin mendoakan pak Ujang sudah mulai berdatangan. mereka dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tengah. ada juga yang duduk di ruang tamu karena banyaknya yang datang.
pak Zainal memimpin acara pengajian tersebut. berselang beberapa jam lamanya akhirnya acara pun selesai. ibu Nurul di bantu oleh ibu Murni menyiapkan makanan untuk para tamu itu.
malam itu mereka makan malam bersama dengan suguhan yang seadanya. pulang dari tempat itu, mereka masih diberikan cemilan untuk dibawa pulang ke rumah.
pukul 11 malam, acara pengajian selesai. Adam dan El-Syakir menggulung kembali karpet yang digunakan tadi. perempuan membantu bersih-bersih dan mencuci piring hingga semua pekerjaan selesai pada saat pukul 01.00.
"bu, pak, Deva mau bicara" ucap Deva di saat kini mereka sedang istrahat sejenak di ruang tengah sebelum beranjak untuk tidur
"mau bicara apa...?" tanya pak Firman
pak Banu, pak Samsul serta istri mereka sudah pulang sejak tadi. Wulan dan Amran pun ikut pulang bersama orang tua mereka.
"bapak sama ibu masih ingat kan dengan keluarga yang pernah menolong Deva dan menjadikan Deva sebagai anak mereka"
"tentu saja masih ingat. mereka adalah orang-orang baik, semoga pak Burhan dan ibu Ayu masuk surganya Allah" ibu Nurma berkaitan dengan keikhlasan
"aamiin" mereka semua mengaminkan
__ADS_1
"kenapa menanyakan hal itu...?" tanya pak Firman
"sekarang anak mereka ada ditengah-tengah kita semua pak" ucap Deva
"maksud kamu...?"
"Adam adalah Dirga Sanjaya, anak dari ayah Burhan dan bunda Ayu" Deva memberitahu orang tuanya
"Adam...?" ibu Nurma dan pak Firman beralih melihat Adam
"iya, dialah orangnya" ucap Deva
"Allahu Akbar, Alhamdulillah" ibu Nurma langsung mendekati Adam dan memeluknya
wanita itu menciumi seluruh wajah Adam dan memeluknya dengan erat. semua yang melihat itu begitu terharu dengan perlakuan ibu Nurma.
"maafkan kami nak...maafkan kami. jikalau waktu itu nyawa Deva tidak terancam, mungkin dia akan berusaha menolong kamu. maafkan, maafkan" ibu Nurma menangis tersedu-sedu
Adam tidak kuasa menahan air mata. ia pun ikut menangis dipelukan ibu Nurma. bahkan yang lainnya ikut meneteskan air mata.
"Deva selalu bercerita tentang kamu, tentang keluargamu yang bagai malaikat datang menolong kami. kamu sudah tumbuh sebesar ini. sungguh pilu kehidupan yang kamu jalani anakku yang malang"
hiks...hiks
srooot
Leo melap ingusnya di baju Bara membuat siempunya geregetan dan menggeplak kepala Leo.
"jorok banget sih" Bara menggerutu
"sedih tau" Leo melap ingusnya dengan tissu yang Alana berikan
pak Firman pun ikut memeluk Adam. malam itu sungguh malam yang membuat hati tersentuh bagi siapa saja yang melihat.
"berarti El-Syakir dan Alana adalah anak pak Burhan dan ibu ayu juga. mereka kan adik Adam" ucap pak Firman setelah keadaan mereka mulai tenang
"kami anak kandung dari bunda ayu tapi bukan anak dari pak Burhan. ayah dan bunda berpisah saat aku dan kak Dirga masih kecil. bunda membawa kak Dirga sementara aku ikut bersama ayah. bunda menikah dengan sahabat ayah yang bernama pak Burhan, maka dari itu kak Dirga menjadi anak dari pak Burhan sementara ayah menikah lagi dengan ibu kami sekarang dan lahirlah Alana" El-Syakir menjelaskan dengan detail
"tapi meskipun bukan anak kandung, aku diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. dia adalah ayah terbaik setelah ayah kandung aku" timpal Adam yang memuji almarhum ayah tirinya
"ayah Burhan memang sangat baik" ucap Deva membenarkan
"ada juga hikmahnya kalian datang di desa ini. kalian bisa bertemu dengan keluarga yang sudah lama tidak bertemu" pak Zainal yang hanya melihat saja kini mulai bersuara
"iya pak Zainal, ada berkah dibalik ujian yang kita hadapi kemarin. kami bertemu kembali dengan penerus Sanjaya dan tentunya kami bisa membalas budi atas apa yang telah mereka berikan kepada kami" pak Firman menimpali ucapan pak Zainal
"kami sangat bersyukur bisa bertemu dengan nak Dirga. tapi....kenapa sekarang namanya berganti jadi Adam...?" ibu Nurma bertanya
"itu karena....nama itu adalah pemberian dari seseorang yang sangat berarti dalam hidup aku" Adam mengatakan itu dengan tulus sedang El-Syakir tentu saja tersentuh dengan ucapan yang dikatakan oleh Adam
"jadi kami harus memanggil kamu dengan panggilan apa sekarang...?"
"si ganteng boleh kok bu" Adam mengatakan dengan malu-malu
"cih, sekalian saja si buta dari goa hantu" Vino mencibir
"bleeeek" Adam membalas dengan menjulurkan lidahnya. sepertinya dendam keduanya belum padam akibat pertarungan mereka tadi sore
"kalau begitu kami akan memanggil kamu dengan panggilan Dirga, bagaimana...?"
"yang mana-mana saja asal hati ibu senang akupun tenang"
"kamu lucu ternyata ya"
"hihihi, dan ganteng juga kan...?" Adam memasang wajah imut
"hueeek" yanga lain merasa muntah saat Adam begitu narsis
pukul 02.00 mereka semua masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. pak Zainal menempati kamar tamu sedang anak-anak itu masuk ke kamar yang mereka tempati.
__ADS_1
di ranjang di tempati oleh Adam dan Deva karena hanya muat dua orang sementara yang lain berada di bawah dengan posisi tidur yang sudah tidak beraturan.