Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 168


__ADS_3

masih berada di puncak Boneng, malam itu enam orang anak manusia berjalan digelapnya malam. keempat remaja berada di barisan depan sedang dua pria baya berada di belakang mereka.


paling depan adalah El-Syakir, ia memegang obor dan satu senter. dibelakangnya El-Syakir ada Leo kemudian Vino yang memegang satu obor setelah itu mengikut Bara, pak Zainal dan pak Samsul yang juga memegang obor. masing-masing dari mereka memegang senter untuk cahaya penerang di kejauhan.


suara berbagai binatang terdengar di malam itu namun tidak menyurutkan langkah kaki mereka untuk tetap berjalan mencapai puncak Boneng.


"jangan melihat kanan kiri, fokus saja pada jalanmu" pak Zainal menegur Bara yang mengarahkan senternya ke sembarang arah


"maaf pak" Bara segera mematikan senternya karena obor yang dipegang oleh Vino cukup terang untuk menerangi jalannya


saat siang tadi mereka harus be susah payah untuk sampai di puncak namun anehnya malam itu hanya beberapa menit mereka sampai di puncak Boneng.


"kok cepat banget, perasaan tadi siang butuh waktu satu jam lamanya" ucap Vino yang merasa aneh


"nggak usah mikirin itu, sekarang fokus dalam pencarian" timpal El-Syakir


pak Zainal menelisik ke segala arah tempat itu. sangat gelap tanpa cahaya penerang selain dari obor dan senter yang mereka bawah.


"apa kita harus berpencar agar cepat menemukan mereka...?" pak Samsul bertanya


"jangan, tidak boleh ada yang memisahkan diri dari rombongan kita. tetap bersama dan saling berdekatan" pak Zainal menjawab


"saya setuju, kalau kita berpencar yang ada nanti jangan sampai salah satu dari kita bisa hilang seperti teman-teman kami" El-Syakir setuju dengan jawaban pak Zainal


pak Zainal menatap eksternal dengan tatapan menelisik hingga matanya tepat berhenti di dada El-Syakir.


"kamu memiliki senjata yang paling sakti" pak Zainal menatap mata El-Syakir


"maksud bapak...?" El-Syakir bertanya


"tepat di jantungmu, keris itu bersarang"


"bagaimana bapak bisa tau kalau...." El-Syakir mencurigai kalau pak Zainal mengetahui di dalam tubuhnya terdapat keris larangapati


"itu bukanlah hal yang penting" pak Zainal memotong ucapan El-Syakir


pria baya itu berjalan beberapa langkah ke depan dan berjongkok memegang tanah. sedang Leo dan Bara berbisik-bisik di dekat El-Syakir dan Vino.


"dia itu sakti El. bisa tau sesuatu yang bahkan belum kita ceritakan" ucap Bara dengan sangat pelan


"ho'oh, bahkan dia tau kalau Bara menabrak kucing padahal kami belum cerita apa-apa" bisik Leo


"tetap fokus, jangan bergosip dalam keadaan seperti ini" pak Zainal menskak ketiga remaja itu


"hihihi, emang enak" Vino mengejek


"sssttt" pak Samsul menempel telunjuknya di bibir, memberitahu agar para remaja itu diam


keadaan kembali hening, tidak seorangpun dari mereka yang membuka suara. hanya suara binatang yang tinggal di hutan itu yang terus saling menyahut.


beberapa langkah di depan mereka, terlihat pak Zainal masih menempelkan tangannya di atas tanah dan menutup mata. dirinya fokus merasakan apakah ketiga teman yang hilang dari remaja-remaja itu masih berada di hutan itu.


hawa dingin setelah hujan menusuk sampai ke tulang. mereka yang tidak memakai jaket memeluk dirinya sendiri karena angin malam yang begitu dingin menerpa kulit.


pak Zainal berdiri dan berbalik melangkah mendekat ke arah mereka.


"mereka tidak ada di sini" pak Zainal memberitahu hasil terawangnya


"maksudnya bagaimana pak. bagaimana bisa mereka tidak ada di sini. mereka hilang di hutan ini pak, di dalam sana" El-Syakir menunjuk ke dalam hutan


"saya tidak merasakan kebebasan mereka di sini, mereka ada di tempat lain" ucap pak Zainal


"pindah dimensi maksud bapak...?" tanya Vino


"itu bisa terjadi. tapi meskipun mereka pindah dimensi, tempatnya bukan di sini tapi di tempat lain" jawab pak Zainal


"pak kami kehilangan mereka di sini, bagaimana bisa mereka berpindah ke tempat lain" ucap Leo


"kita kembali, meskipun kita cari mereka sampai pagi, kita tidak akan menemukan mereka. ketiganya sudah tidak berada di hutan ini, mereka sepertinya berada di hutan belakang desa Boneng" pak Zainal menjelang


"hutan belaka desa Boneng...?" El-Syakir dan Vino bertanya serempak


"bahaya ini kalau mereka memang di sana pak" pak Samsul ikut menimpali

__ADS_1


"bisa jadi mangsa mereka kalau ketiganya berada di sana. kalau begitu kita harus cepat pulang dan menyelamatkan mereka semua" Vino mulai cemas


cerita yang mereka dengar dari ibu Nurul tentang hutan di belakang desa itu membuat El-Syakir dan Vino diliputi rasa cemas. mereka berdua takut Adam, Deva dan Wulan menjadi mangsa dari arwah-arwah yang gentayangan di desa Baluran yang terbakar itu.


sementara itu Leo dan Bara yang tidak mengerti hanya saling pandang dan mengikut saja.


"ayo, waktu kita tersisa 3 jam setengah" pak Zainal mengajak mereka untuk kembali


seperti posis sebelumnya saat mereka naik, mereka semua kembali turun ke bawah tanpa melakukan pencarian. hanya butuh waktu beberapa menit saja mereka tiba di bawah dan segera menghampiri warung pak Samsul dan ibu Nurul.


"bu... ibu" pak Samsul memanggil istrinya


dari dalam, ibu Nurul sedikit berlari dan mendekat ke arah pintu namun ia belum langsung membuka daun pintu itu.


"pak" panggil ibu Nurul, ia ingin memastikan apakah yang memanggilnya itu suaminya atau bukan


"iya, buka pintunya bu" sahut pak Samsul


merasa pintu juga belum di buka, El-Syakir maju ke depan dan berbicara dengan ibu Nurul.


"assalamualaikum. ini kami bu, kami sudah pulang" ucap El-Syakir


mendengar ucapan salam dari El-Syakir, segera ibu Nurul membuka pintu dan orang-orang itu langsung masuk ke dalam. ibu Nurul menutup kembali pintu warungnya.


"yang lain mana bu...?" tanya Bara


"mereka tidur. apakah tidak ada hasil...?" ibu Nurul bertanya saat melihat tidak ada wajah asing diantara mereka yang datang itu


"kita harus pulang sekarang bu, pak Zainal mengatakan mereka sepertinya berada di hutan belakang desa kita" pak Samsul menjawab pertanyaan istrinya


"kalau begitu ibu bangunkan dulu anak-anak itu" segera ibu Nurul menuju dapur


para perempuan yang telah dibangunkan langsung berhambur ke depan.


"mana kak Deva...?" Zahra melihat ke sana sini namun tidak mendapati sosok Deva, Adam maupun Wulan


"apa mereka tidak ditemukan...?" tanya Melati


"mereka tidak lagi di hutan puncak itu. sekarang kita harus pergi menuju desa Boneng. ayo pak Samsul, kita harus bergegas secepatnya" pak Zainal menatap pak Samsul


mereka semua keluar dari warung. pak Zainal akan ikut bersama El-Syakir di mobil Adam sementara pak Samsul dan ibu Nurul mengendarai mobil mereka sendiri.


ditengah hutan gelapnya malam, ketiga mobil itu berjalan beriringan meninggalkan puncak Boneng.


pak Firman berjalan cepat di dalam desa Boneng menuju ke rumah Wulan untuk menemui orang tua gadis itu. dengan obor yang ada di tangannya, pak Firman melangkah dengan tergesa-gesa dan tanpa menoleh kanan dan kirinya.


sangat sunyi desa Boneng itu, padahal banyak rumah-rumah warga dan pendudukan yang lumayan padat, namun di saat malam menyapa tidak ada satu orang pun yang akan keluar dari rumah. jika malam hari, desa itu seperti desa mati yang tidak memiliki penghuni.


pak Firman tiba di rumah Wulan, ia kemudian mengucap salam dan mengetuk pintu.


"assalamualaikum, pak Banu"


suami istri yang berada di dalam rumah beserta anak laki-laki mereka yang berumur 10 tahun, saling pandang karena di luar terdengar suara seseorang yang memanggil.


"pak Banu" teriak pak Firman lagi


"pak, itu seperti suara pak Firman" ibu Murni memberitahu suaminya


"tetap di sini, jangan ikut bapak" pak Banu yang berada di ruang tengah bersama istri dan anaknya langsung beranjak menuju ke ruang tamu.


"assalamualaikum" lagi, pak Firman mengucap salam


"wa alaikumsalam, siapa...?" pak Banu bertanya dari dalam rumah


"pak Banu, ini saya Firman" pak Firman menjawab


segera pak Banu memutar kunci dan pintu pun terbuka. pak Banu menarik pak Firman dengan cepat untuk masuk ke dalam.


"ada apa pak, kenapa berani sekali berkeliaran malam-malam. bahaya pak Firman" pak Banu duduk di kursi begitupun pak Firman


"ada hal penting yang harus saya sampaikan pak Banu dan ini harus kalian tau" pak Firman memasang wajah yang sangat serius


"siapa pak, loh pak Firman" ibu Murni datang menghampiri mereka bersama anaknya yang bernama Amran, adik dari Wulan

__ADS_1


ibu Murni duduk di samping suaminya sementara Amran duduk di samping ibunya.


"hal penting apa pak sampai malam-malam datang kemari" tanya pak Banu


"begini pak Banu, Wulan.... Wulan hilang di puncak Boneng"


"APA...?" ibu Murni kaget seketika


"Allahu Akbar Wulan. pak bagaimana ini" ibu Murni mulai berkaca-kaca mendengarkan anaknya hilang di puncak Boneng


"kenapa kak Wulan bisa hilang paman...?" Amran bertanya, anak itu mulai menangis saat mendengar kakaknya hilang


"tenang Am, pak Zainal dan teman-teman Wulan sedang mencarinya. sebenarnya bukan hanya Wulan yang hilang tapi Deva dan juga Adam, remaja yang tinggal di rumah kami. mereka banyak dan datang ingin membuatnya video terkait puncak Boneng. kini mereka masih di tempat itu" pak Firman menjelaskan


"Allah Wulan" pak Banu sangat begitu mengkhawatirkan anak gadisnya itu


"kalau mereka tidak menemukan mereka, sebelum jam 12 malam mereka akan sudah berada di sini. jam 12 malam nanti, tepat pergantian waktu mereka akan muncul di desa ini" ucap pak Firman


"kalau seperti itu kita ke rumah bapak saja, saya ingin mendengar cerita anak-anak itu bagaimana mereka Wulan bisa hilang" ucap pak Banu


"ya sudah kalau begitu, ayo kita pergi sekarang. jam 12 tinggal beberapa jam lagi" pak Firman mengajak keluarganya itu


pak Banu mengambil senternya di meja ruang tengah, kemudian mereka keluar dari rumah itu. pak Banu memegang satu obor untuk berjaga-jaga di perjalanan menuju ke rumah pak Firman. ibu Murni dan Amran tentu saja mereka ikut, pak Banu tidak mungkin meninggalkan istri dan anaknya berdua saja di rumah.


untungnya malam itu mereka tidak melihat apapun sehingga mereka tidak begitu takut. setelah sampai di rumah pak Firman, pria itu mengucapkan salam agar istrinya membuka pintu.


ibu Nurma yang mendengarnya salam dari luar bergegas menuju pintu dan membuka pintu. semula masuk ke dalam rumah dan pintu di kunci dengan rapat.


"kita tunggu pak Samsul dan yang lainnya datang" ucap pak Firman, mereka duduk di sofa ruang tamu


"bu, aku ngantuk" Amran menguap


"Amran tidur di kamar kak Deva saja ya" ucap ibu Nurma


"aku takut" ucap Amran memeluk ibunya


"kalau begitu kita ke ruang tengah saja, di sana luas. kita bisa membentang kasur untuk istrahat sambil menunggu mereka pulang


ibu Nurma segera masuk ke dalam kamar mengambil kasur yang tersedia kemudian membawanya di ruang tengah. tidak lupa selimut dan juga bantal ia bawa di ruang tengah. setelah itu mereka semua pindah ke ruang tengah.


Amran sudah tertidur pulas namun keempat orang tua itu belum juga bisa tidur. siapa yang bisa tidur nyenyak saat mendapat kabar kalau anak mereka hilang. perasaan gelisah dan khawatir telah beraduk di dalam dada, harap-harap cemas akan keadaan anak-anak mereka.


tersisa 2 jam lagi menjelang pergantian waktu. ketiga mobil dari puncak Boneng memasuki desa Bone hingga kemudian mobil-mobil itu berhenti di halaman rumah pak Firman.


semuanya bergegas keluar dari mobil, pintu rumah di buka oleh ibu Nurma. rupanya setelah mendengar suara mobil, mereka melihat dari jendela. saat di luar adalah mereka yang ditunggu, ibu Nurma segera membuka pintu.


"ibu" Zahra berlari memeluk ibu Nurma


"bu, kak Deva" Zahra mulai menangis


"masuk masuk, jangan ada yang berada di luar" pak Firman mengajak mereka semua masuk ke dalam


"apa mereka tidak ditemukan...?" tanya pak Firman


saat ini mereka semua berada di ruang tengah. hanya di situ ruangan yang luas untuk menampung mereka semua.


"mereka sudah tidak ada di sana" pak Zainal menjawa


"apa jangan-jangan mereka...." ibu Murni menggantung ucapannya


"benar, mereka berada di hutan belakang desa ini" pak Zainal tau apa yang istri pak Banu itu pikirkan


"innalilahi, mereka bisa mati di dalam sana. pak cari anak kita pak, cari Wulan" ibu Murni mulai histeris


"kita tidak bisa melanjutkan pencarian malam ini. malam ini adalah waktu keluarnya mereka untuk mencari mangsa. kita bisa mencari saat esok hari" pak Zainal memberitahu


"kak Dirga" Alana memeluk El-Syakir, ia begitu mengkhawatirkan Adam yang entah kini bagaimana keadaan mereka sekarang


"tenang dek, kak Dirga akan baik-baik saja. percayalah" El-Syakir memeluk Alana untuk menenangkan gadis itu


"saat ini yang bisa kita lakukan adalah bertahan sampai esok pagi. kunci semua jendela dan pintu" ucap pak Samsul


malam itu pukul 11 malam, 1 jam lagi menuju ke pergantian waktu. pintu dan semua jendela telah diperiksa jangan sampai masih ada yang terlupa dikunci.

__ADS_1


tim samudera begitu tegang, dalam pikiran mereka semua malam ini pasti terjadi sesuatu yang besar.


__ADS_2