
"apakah mereka akan kissing kissing lagi...?" tanya Vino
"ayang ih, otaknya suka traveling gitu" Starla mencubit pinggang Vino
"hebat si dam dam, diperebutkan dua wanita" Leo geleng-geleng kepala
El-Syakir tidak bicara sepatah katapun. ia hanya diam dan terus melihat Adam dan ratu Sundari yang saling berpelukan.
"ekhem.... sedang apa kalian di sini...?" seseorang mengagetkan mereka
mereka semua berbalik dan melihat seorang wanita dengan baju berwarna hijau dan mempunyai selendang sama seperti ratu Sundari sedang berdiri menatap mereka dengan tajam.
"apa yang kalian lakukan di sini...?" tanya Senggi
"cari angin" jawab Vino spontan dan hal itu membuat Senggi mengernyitkan keningnya
"kami hanya berjalan-jalan saja melihat luasnya istana" jawab El
"kalau ingin melihat-lihat, akan aku panggilkan pengawal untuk menemani kalian. istana ini sangat luas, bisa-bisa kalian kesasar" timpal Senggi
"terimakasih, tapi sebaiknya kami kembali ke kamar. mungkin lain kali" jawab El
"ayo" ajaknya kepada yang lain
El-Syakir mengajak mereka kembali karena ia mendengar jika Adam akan pergi ke kamar mereka untuk melihat Ardi dan Nisda. setelah kepergian remaja-remaja itu, ratu Sundari dan Adam keluar dari kamar.
"Senggi, sedang apa kamu di sini...?" tanya ratu Sundari
"maaf ratu, aku sama sekali tidak mendengar pembicaraan kalian. aku datang untuk menyampaikan sesuatu" jawab Senggi
"katakan"
"putra kedua dari jin Ranangraya bermaksud untuk datang mengunjungi ratu"
"Ragiman...?"
"iya benar, Ragiman namanya"
"mereka mendatangkan pesan...?"
"benar. mereka mengutus jin kepercayaan untuk menyampaikan pesan kepada kita"
"kapan waktunya...?"
"nanti malam"
"baiklah, karena mereka datang dengan niat baik tentu kita akan menyambut mereka dengan baik pula. siapkan makanan dan minuman yang dia sukai"
"baik ratu"
"apa perlu aku berdandan cantik dan memilih baju yang paling bagus untuk bertemu dengannya Senggi...?"
pertanyaan ratu Sundari menimbulkan tanda tanya besar di kepala Adam. sampai segitunya ratu Sundari menerima tamu, itulah yang ada dalam benaknya.
"jika itu memang ratu perlukan, aku akan menyediakan semuanya" jawab Senggi
"baiklah, aku percayakan padamu"
"baik ratu"
Senggi seketika menghilang dari keduanya. ratu Sundari berbalik dan melihat Adam.
"kembalilah dan berikan ramuan itu kepada keduanya"
"baik ratu"
ratu Sundari menghilang dari pandangan Adam. meski dalam hatinya masih banyak pertanyaan yang ia lontarkan, tapi ia merasa akan menggangu waktu wanita cantik sang ratu. Adam melangkah untuk menemui kawanannya.
saat masuk ia dapat melihat Ardi dan Nisda sudah siuman. Adam sangat senang akhirnya dua orang itu telah sadarkan diri. segera ia melangkah mendekati Ardi dan meminumkan ramuan yang ada di tangannya.
"minumlah, ini akan membuat tenaga mu pulih dengan cepat" ucap Adam
Ardi yang masih lemah akhirnya Furqon yang mengambil botol yang berisi ramuan itu dan meminumkannya kepada Ardi. setelah selesai Adam beralih ke Nisda. Bara mengambil botol itu dan mengarahkan ke mulut Nisda.
"setelah kalian berdua sudah membaik, kita akan segera pulang" ucap Adam
"kak" panggil El
"ada apa...?"
"kakak tidak akan menikah dengan ratu Sundari kan...?" tanya El
"kenapa bertanya seperti itu...?" Adam bertanya balik
"kami sudah mendengar semuanya" timpal Leo
"mendengar semaunya, dimana...?" tanya Adam
__ADS_1
"di kamar Melati, bahkan kami melihat elu berpelukan dengan ratu Sundari. uupsss.... keceplosan" Vino menutup mulutnya
"benar-benar itu mulut ya" cebik Starla
"kalian nguping...?"
"dikit" jawab Starla
"apa benar kakak datang meminta bantuan dan sebagai imbalannya kakak menyerahkan diri untuk menjadi suami ratu Sundari...?" tanya El
"iya benar. tapi perjanjian itu sudah dibatalkan olehnya" jawab Adam
"tapi tadi elu sempat nggak mau tuh" ucap Vino
"apa jangan-jangan elu udah jatuh hati sama ratu Sundari...?" tanya Leo
"yang benar aja kak. ratu Sundari cantik banget kayak Dewi kayangan, lah kakak" timpal Bara
"kenapa dengan aku...?" Adam melihat Bara
"hehehehe.... nggak kenapa kenapa" jawab Bara nyengir karena Adam menyipitkan matanya ke arah Bara
"dasar" cebik Adam
"kakak suka sama ratu Sundari...?" tanya El
"kalau iya, emang ada yang salah...?" Adam bertanya balik
"kalau suka, kenapa dulu elu malah kabur saat kalian akan menikah. tau nggak dam, pasti ratu Sundari waktu itu kecewa banget sama elu" ucap Vino
"ho'oh.... terus bagaimana dengan gadis yang bernama Melati itu. dia sekarang sudah dikembalikan ke alam kita loh, dan dia akan mencari kamu" ucap Leo
"entahlah, aku juga pusing" Adam membaringkan tubuhnya di ranjang El-Syakir
"aku tanya sekali lagi, kakak benar-benar suka sama ratu Sundari...?" tanya El
"nggak tau" jawabnya
"kok nggak tau sih" timpal Starla
"kamu benar-benar suka atau karena dia telah menolong kita, makanya kamu merasa tidak enak hati untuk meninggalkannya" Furqon ikut menimpali
"lah benar. mungkin bukan suka yang kakak rasakan tapi lebih ke merasa tidak enak hati dan sungkan" timpal Bara
(apa iya hanya karena itu) batin Adam
"mana, mana melati...?" Adam langsung bangun dan mencari-cari melati
"cari apa sih kak...?" tanya El
"melati, mana melati. aku lapar tau" Adam cemberut
"omaigat.... yang kita maksud gadis yang bernama Melati, lah elu malah cari bunga melati" Vino menepuk jidatnya
"ck, otakku suka eror kalau dengar melati" Adam menghela nafas
"Jangan-jangan pas pertama elu ketemu Melati, elu mau gigit dia lagi saking pengennya elu mau makan melati" ucap Starla menatap Adam dengan tatapan menyelidik
"hehehehe.... kok tau. dukun ya" Adam cengengesan
"kakak, benar-benar dah" El geleng-geleng kepala
mereka geleng-geleng kepala dengan tingkah Adam. Ardi dan Nisda yang masih lemah hanya tersenyum kecil karena merasa lucu.
karena bosan di dalam kamar akhirnya mereka memutuskan untuk keluar melihat-lihat istana yang megah dan besar itu. Ardi dan Nisda tidak ikut, mereka lebih memilih untuk istrahat agar secepatnya mereka pulih. Bara ingin menemani Nisda namun gadis itu menolak dan menyuruh agar Bara ikut yang lainnya saja. Bara mengalah dan menyusul yang lain. kini di kamar itu tersisa Ardi dan Nisda.
Ardi ingin mengambil air minum di atas meja namun ia sepertinya kesulitan. perlahan Nisda bangun dan mengambil gelas yang berisi air minum itu.
"ini kak"
"terimakasih"
Ardi mengambil gelas itu dan meminum airnya sampai habis tak tersisa. setelah itu Nisda kembali ke ranjangnya dan membaringkan tubuhnya untuk istrahat, begitu juga dengan Ardi.
tim samudera yang kurang satu personil yaitu Nisda, mereka terkagum-kagum melihat betapa mewahnya istana ratu Sundari. bahkan lebih mewah dari hotel berbintang tujuh.
setelah puas berkeliling, mereka keluar untuk melihat taman yang indah di halaman depan istana itu.
danau yang sangat jernih airnya, dan beberapa angsa sedang berenang di danau itu. pohon-pohon yang berjejer rapi kanan dan kiri serta buah-buahan yang siap di petik telah matang di pohonnya. di tempat itulah dulu Adam pertama kali bertemu dengan Melati.
"kalian ingin melihat pasar kami...?" pengawal yang menemani mereka memberikan usul
"memangnya di sini ada pasar juga...?" tanya Vino
"tentu saja ada. mari ikut aku"
pengawal itu berjalan di depan dan mereka mengikutinya di belakang. di perjalanan, mereka selalu berpapasan dengan jin jin yang lain yang entah dari pasar atau dari tempat lain.
__ADS_1
kini tibalah mereka di pasar para jin yang ada di alam ratu Sundari. tidak jauh berbeda dengan pasar manusia. sangat ramai dan bahkan banyak penjual.
suara riuh pembeli dan penjual memang seperti di pasar alam manusia. banyak aneka ragam jualan di tempat itu. pernak-pernik, pakaian, hiasan seperti guci-guci, selendang yang beraneka ragam warnanya dan masih banyak lagi.
Starla sangat terpesona dengan selendang yang dipajang di kayu, di pajang seperti jilbab rapi dan teratur. gadis itu menarik tangan Vino untuk mendekati selendang itu.
"cantik sekali" puji Starla mengelus selendang itu
"kalian ini bukan....." jin penjual kaget kenapa bisa ada manusia di tempat mereka
"mereka adalah tamu ratu Sundari" pengawal yang menemani mereka datang dan memberitahu si jin penjual
"kalau aku beli selendang ini, aku harus bayar pakai apa. apakah uang ini bisa membayar selendang ini...?" Starla mengambil uang di kantung celananya dan menyerahkan kepada jin penjual
"kertas apa ini...?" jin itu mengambil uang merah yang terdapat gambar presiden pertama kita dan wakilnya
"itu uang" jawab Starla
"kami tidak menerima kertas seperti ini" jin itu mengembalikan uang tersebut kepada Starla
"terus kami harus bayar pakai apa...?" tanya Vino
"bayar dengan uang seperti ini"
jin itu menunjukkan uang logam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. bahkan uang koin di dunia tidak ada kesamaannya dengan uang yang ada di alam itu. gambarnya pun sangat berbeda.
"dimana kita bisa mendapatkan uang seperti ini" ucap Starla
"kamu ingin membeli selendang itu...?" tanya pengawal
"iya. bisa beritahu padaku dimana aku bisa mendapatkan uang seperti yang ada di alam ini" jawab Starla
"tidak perlu mencari, aku akan memberikannya" pengawal itu memberikan bungkusan kain yang berisi uang
"wah banyak sekali, bisakah aku minta untuk membeli melati...?" Adam mengadahkan tangannya ke pengawal itu
"modelan kayak ini yang mau menikahi ratu Sundari...?" cibir Leo menatap Adam
"tentu saja. ratu telah menyediakan uang ini untuk kalian jikalau kalian tiba-tiba ingin datang di pasar" pengawal itu memberikan lagi bungkusan kain berwarna kuning kepada Adam
"yeeeeiii.... bisa beli melati" Adam meloncat-loncat
"gue rasa ratu Sundari akan ilfil kalau melihat tingkah kakakmu yang seperti ini" Vino berbisik di telinga El
"ho'oh... gue setuju" El manggut-manggut membenarkan ucapan sahabatnya
Starla memilih selendang yang ia sukai. ia membeli dua helai selendang, untuknya dan juga untuk Nisda dengan warna yang berbeda.
setelah membeli selendang, mereka berjalan lagi untuk melihat-lihat barang yang mereka sukai.
Vino tertarik dengan cambuk yang ada di depannya. remaja itu langsung mengambil salah satunya dan memperagakan sedang mencambuk lawannya.
"aku mau yang ini" ucap Vino
"pilihan yang bagus" jawab jin penjual
sementara Leo, remaja itu lebih tertarik dengan pedang yang berkilauan di dekatnya. pedang-pedang itu sangatlah tajam dan pastinya dapat menebas siapa saja.
"aku baru tau kalau di alam jin menjual pedang tajam seperti ini" ucap Leo
"tentu saja ada. kami membutuhkan pedang tajam, tombak yang runcing dan benda-benda tajam lainnya sebagai senjata kami jika ada kerjaan jin lain yang ingin menyerang kerajaan ratu Sundari" jawab pengawal
"kalian berperang...?" tanya El
"peperangan bagi bangsa jin sudah hal yang biasa. bahkan kami sudah beberapa kali memenangkan peperangan dan ratu Sundari sebagai pemimpin kami" jawabnya
"memangnya atas dasar apa sehingga peperangan terjadi...?" tanya Adam
"ketamakan ingin menguasai wilayah kerajaan karing-karing, wilayah kekuasaan ratu Sundari" jawab pengawal
"ternyata bukan hanya manusia saja yang tamak akan kekuasaan ya" timpal Leo
"bukan hanya itu. terkadang peperangan terjadi karena ratu Sundari menolak lamaran yang datang dari jin penguasa wilayah lain. merasa terhina lamaran mereka di tolak maka mereka menyerang kerajaan karing-karing" ucap pengawal
"untung ratu Sundari sakti, jadi dia bisa mengalahkan mereka semua" timpal Vino yang datang bergabung bersama Starla
"ratu Sundari memang sakti, tapi dia pernah terluka parah karena lawannya mempunyai kekuatan yang lebih sakti"
"lalu, bagaimana dia bisa sembuh...?" Adam mendekat
"kami mengumpulkan semua kalangan jin yang ahli dalam pengobatan. butuh tiga bulan untuk menyembuhkan dan memulihkan kembali keluatannya. selama itu ratu Sundari tidak bisa bangun dan terbaring lemah di ranjangnya" jawab pengawal
"kasian sekali ratu" ucap Starla
"dia ratu yang kuat. setelah kedua orang tuanya meninggalkannya dan saudara kembarnya memusuhinya, dia harus bertopang pada kakinya sendiri untuk berdiri kuat demi rakyatnya yang membutuhkannya"
"iya.... dia memang wanita yang kuat" gumam Adam
__ADS_1
karena sudah tidak ada yang mereka inginkan, mereka memutuskan untuk kembali ke istana. masing-masing membawa apa yang mereka beli. Starla dengan selendangnya, Vino, dengan cambuknya dan Leo dengan pedangnya. untuk El, dia tidak tertarik dengan benda apapun, begitu juga dengan Furqon. pria itu tidak berniat untuk membeli apapun yang ada di pasar itu. sementara Adam, hantu itu sudah menenteng dua bungkusan melati di kain berwarna biru. tentu saja melati karena tidak ada yang lebih ia inginkan selain bunga itu.