
"bakar obornya Vin bakar" teriak El-Syakir ditengah pelarian mereka
ketiganya memegang obor namun yang memegang pembakarnya adalah Vino. Vino merogoh kantung celananya untuk mengambil korek gas yang dibawanya namun bahkan sudah dikantung celana bagian belakang, ia tidak menemukan benda itu.
"aish sial, dimana lagi tuh barang" Vino menggerutu, bisa-bisanya dalam keadaan mendesak seperti sekarang benda kecil itu tidak dapat ditemukan
"Vin, ayo bakar obornya" ucap Bara
"korek gas gue hilang" jawab Vino frustasi
"hilang...? kok bisa sih Vin astaga, bisa mampus kita" Bara sesekali menusukkan tombaknya ke arah musuh mereka
"kayaknya jatuh di rumah ibu tadi. kalau sudah seperti ini, kita harus bersiap untuk bertempur habis-habisan" Vino menyabet cambuknya ke arah musuh dan melempar mereka kesembarang arah
sebenarnya mereka menghindari pertarungan dan ingin cepat sampai di rumah pak Firman. bukannya mereka takut untuk menghadapi arwah-arwah itu namun saat ini ada yang menunggu kedatangan mereka bertiga di rumah sehingga ketiganya harus cepat sampai di tujuan.
para setan itu yang melihat El-Syakir berlari menghindari teman-teman mereka langsung ikut mengejar. bahkan kini mereka seperti zombie di film-film yang berlari dengan brutal untuk menangkap ketiga remaja tim samudera.
Jan sarikan lungurtum Kris larangapati
wuuuussshhh
swiiiiing
swiiiiing
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
El-Syakir menyerang para setan itu dengan cahaya yang keluar dari keris miliknya. saat cahaya itu mengenai mereka saat itu juga para arwah yang gentayangan itu meledak seperti bom, dan hal itu membuat warga seketika semakin takut.
"apa itu ayah...?"
"sudah jangan hiraukan, kamu tidurlah ibu dan ayah akan berjaga di depan"
"pak ledakan apa itu...?"
"seperti bom bu, apakah desa kita akan hancur lebur"
"Allah Gusti, lindungi kami semua"
setiap yang menghalangi mereka, El-Syakir akan meledakkan mereka dengan cahaya keris larangapati. sementara Vino dan Bara bermain dengan senjata mereka masing-masing.
kini tibalah mereka di lorong tempat rumah pak Firman. mereka sudah lelah namun apa daya, demi menyematkan diri tentu saja ketiganya harus melawan.
saat tiba di depan rumah, El-Syakir berteriak memanggil nama Alana, ia meminta untuk membukakan pintu untuk mereka.
"itu suara kak El" Alana seketika berdiri saat mendengar suara El-Syakir
"mereka kembali" ucap pak Zainal
Alana yang dipanggil sudah melesat ke depan dan membuka pintu. ketika pintu dibuka dan para setan itu yang sejak tadi mendobrak pintu langsung akan menerobos namun ternyata tim samudera yang lain telah bersiap di depan pintu.
kini bukan hanya El-Syakir, Vino dan Bara namun yang lainnya pun sudah bersiap dengan senjata masing-masing. pertarungan melawan para setan-setan itu membuat penghuni rumah melongo tidak percaya tapi tidak dengan pak Zainal. dia yang memang sudah mempunyai penglihatan bagaimana anak-anak itu tidak terkejut lagi dengan apa yang dilihatnya.
"apa ini mimpi, baru kali ini ada yang berani berkeliaran di luar rumah dan bertarung dengan para dedemit itu" ibu Nurma sungguh dibuat takjub oleh tim samudera
"ini benar-benar diluar dugaan" gumam Seil yang berdiri mematung melihat pertarungan tim samudera
"AMBIL OBOR NIS" teriak Vino
Nisda segera mengambil obor yang menyala, ketiga gadis tim samudera yang lain ikut mengambil. mereka maju ke depan dan membuat lingkaran bersama yang lain hingga para setan itu tidak berani mendekat karena nyala api obor.
"mereka seperti pendekar" ucap Zahra
"pak, mereka seperti Deva" ibu Nurma bekata kepada suaminya
pak Zainal akhirnya turun tangan ia duduk mengambil tanah dan memerintahkan tim samudera untuk menjauh. saat itu juga tanah yang diambilnya tadi ia tiup hingga terbang seperti debu namun setelah itu yang terjadi selanjutnya, tanah yang menjadi debu itu berputar dan terus berputar. semakin lama semakin besar menjadi angin ****** beliung dan menyapu semua arwah-arwah itu.
angin besar itu membawa pergi makhluk-makhluk mengerikan itu dari desa Boneng hingga yang tadinya ramai kini desa itu kembali menjadi sepi.
semua orang takjub melihat kehebatan pak Zainal. tim samudera El-Syakir, Vino dan Bara yang sudah sejak tadi mati-matian melawan, namun pak Zainal hanya dalam sekali tiup para arwah itu lenyap di desa Boneng.
"kita masuk, teman kalian harus segera diobati" ucap pak Zainal
"Leo" ucap Vino
mereka semua masuk ke dalam rumah. di ruang tengah tempat mereka berkumpul, Leo terbaring lemah kesakitan. lengan yang dicakar oleh makhluk itu sudah mulai membusuk bahkan mulai menjalar ke atas.
"obati dia" pak Zainal memerintah El-Syakir
El-Syakir mengangguk dan duduk di samping Leo. ia kemudian menyimpan bunga melati di air yang telah disediakan sebelumnya. keris larangapati pun di simpan di dalam air bersama bunga melati.
Jan sarikan lungurtum Kris larangapati
wuuuussshhh
angin bertiup, cahaya keluar dari keris sakti itu. silauan cahaya itu membuat semua orang menutup mata hingga perlahan cahaya itu redup kembali.
setelahnya, El-Syakir mengambil kerisnya dan benda sakti itu kembali masuk ke dalam tubuhnya.
"hah, apa ibu tidak salah lihat pak...?" ibu Murni begitu terkejut
__ADS_1
"tidak bu, ini nyata" pak Banu menjawab pertanyaan istrinya
"pak, ternyata anak-anak ini sakti. pantas saja mereka tidak takut malam-malam berada di puncak Boneng" ibu Nurul berbicara pelan kepada suaminya
"iya bu, bapak juga tidak menyangka" timpal pak Samsul
"Le, kamu minum air ini dulu ya" ucap El-Syakir
Leo mengangguk pelan. Bara dan Vino membantunya untuk bangun dan duduk setelah itu El-Syakir meminumkan air tadi kepada Leo.
"habiskan" ucap El-Syakir
air itu habis masuk diteguk oleh Leo. perubahan selanjutnya selang beberapa menit luka Leo yang tadinya menghitam sudah perlahan mulai kembali ke kulit aslinya dan lukanya pun ikut hilang bersamaan dengan itu.
"subhanallah, ajaib sekali" ibu Murni dibuat menganga
bukan hanya ibu Murni, mereka yang belum tau sangat takjub dengan kejadian yang mereka lihat.
"makasih El" Leo langsung memeluk El-Syakir dengan erat
"kak Leo" panggil Alana
Leo melepaskan pelukannya dari El-Syakir dan merentangkan tangan. Alana langsung memeluk Leo saat itu juga.
selama tiga laki-laki tim samudera pergi mencari melati, Alana duduk setia disamping Leo tanpa beranjak sedikitpun. sesekali ia melap keringat yang keluar dari kening Leo. sekarang saat melihat Leo telah sembuh seperti semula, Alana begitu senang.
"2 jam lagi pagi akan menjelang, sebaiknya kita sholat subuh terlebih dahulu" ucap pak Zainal
mereka semua setuju. tiga laki-laki tim samudera yang berkeringat karena bertarung dan berlari larut malam disuruh oleh ibu Nurma untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat.
mereka semua sholat berjamaah di ruang tengah. setelah sholat pak Zainal memimpin untuk berdzikir sampai fajar datang.
di hutan tepatnya berada di desa Baluran yang terbakar, dua anak manusia sedang mengikuti seorang laki-laki baya dan juga seorang gadis. mereka adalah Adam dan Deva.
jika pak Ujang berhenti maka merekapun akan ikut berhenti dan bersembunyi di balik pohon.
"dia mau kemana sebenarnya...?" ucap Deva
"kak Deva nanya...?" ucap Adam tanpa dosa
"nggak, kakak sedang nangis" Deva menjawab kesal
"oooh, aku kira kakak sedang bertanya-tanya"
pletak
"aduh, kak Deva suka sekali sih main kekerasan dalam persaudaraan" sungut Adam memegang keningnya yang dijitak oleh Deva
"lebai, baru juga gitu" Deva mencebik
"lah kemana perginya" Deva keluar dari persembunyian
"pasti pulang ke rumah" jawab Adam santai
"iya aku tau, tapi rumahnya dimana"
"ada jejak kaki, kita ikuti saja" Adam menunjuk ke tanah yang terdapat dua jejak kaki manusia
namun siapa sangka, baru saja mereka hendak melangkah, seketika hutan itu dipenuhi dengan arwah-arwah penasaran. angin besar yang diciptakan pak Zainal membawa semua para makhluk itu kembali ke dalam hutan.
"mampus kita dek" Deva berbisik di telinga Adam
"kita kan sudah seperti mereka kak, berperilaku saja seperti mereka agar tidak ketahuan" Adam ikut berbisik
akhirnya Adam dan Deva pun mulai melangkah. mereka berperilaku seperti arwah-arwah itu namun kelakuan mereka berdua terkesan berlebihan.
grrrrr
grrrrr
goaaaaarrrrr
"kakak kenapa mengaum seperti singa, kita arwah kak bukan singa jadi-jadian" ucap Adam pelan
"hehehe maaf" Deva menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sementara Adam menepuk jidat
arwah-arwah itu yang mendengar aungan Deva langsung mengalihkan pandangan ke arah mereka berdua.
mereka berdua saling pandang dan refleks melakukan tingkah konyol.
grrrrr
meong
"eh, salah" Adam menutup mulut saat dirinya bersuara seperti kucing
"sejak kapan ada meong jadi-jadian" ucap Deva memutar bola matanya
"hihihi, aku kepolosan" Adam nyengir kuda
"keceplosan ege" Deva menyoyor kepala Adam
mereka berdua masih menjadi pusat perhatian arwah-arwah itu.
__ADS_1
"kita jadi artis kak"
"artis gigimu, udah ah ayo pergi dari sini" Deva menarik Adam
"kak, jangan lupa aktingnya"
"oh oke"
mereka berdua mulai meninggalkan tempat itu dengan tingkah masing-masing. Deva menjadi seperti zombie yang kejang-kejang dan meracau tidak jelas. sementara Adam, ia seperti kakek-kakek tua yang yang sakit pinggang. dirinya mengaum, tertawa dan bahkan menangis. tangan kanannya memegang pinggangnya yang seperti seseorang yang sedang patah tulang.
sepanjang jalan mereka bertingkah seperti itu. hingga ditempat yang sepi keduanya berperilaku normal kembali.
"lalu kita kemana sekarang...?" tanya Deva
"tunggu, aku cari petunjuk dulu" Adam mencari-cari jejak kaki yang dilihatnya ditempatnya mereka tadi
"ketemu, kak lewat sini"
Deva mendekati Adam, memang benar ada jejak kaki di sana. mereka berdua mengikuti jejak kaki itu hingga kemudian mereka sampai di sebuah gua yang cukup gelap di dalamnya.
"apa mereka masuk di gua ini...?" ucap Deva
"jejak kakinya berhenti disini itu artinya memang mereka masuk ke dalam" jawab Adam
"tapi di dalam gelap sekali, kita nggak punya senter"
"pakai perasaan aja kak"
"gigimu pakai perasaan" Deva mencebik
"gigiku mah nggak punya rasa kak, kalau hati iya" Adam nyengir memperlihatkan gigi-giginya yang putih
"cih, nggak usah sok imut. sekarang cari cara bagaimana kita bisa masuk ke dalam"
"kita tinggal masuk saja kalau begitu, tunggu aku punya penerangan" Adam merogoh kantung celananya dan mengeluarkan apa yang dia maksud
"korek gas...?"
"ho'oh, masa korek gas aja nggak tau"
"kakak tau udin, kakak hanya tanya. hais dekat kamu terus bikin kakak darah tinggi saja"
"dikasih pendek lah kalau tinggi"
"ya ampun Tuhan, apa salah dan dosaku Engkau mengirimkan adik bengek seperti ini" Deva menepuk jidatnya
"tapi imut dan manis kan" Adam mengedip-ngedipkan kedua matanya seperti lampu disko
"nggak"
Deva mengambil korek gas yang ada di tangan Adam dan berjalan terlebih dahulu. Adam menyusul dan keduanya masuk ke dalam gua yang gelap itu.
Adam berpegangan di lengan Deva. dengan cahaya yang begitu kecil, keduanya mulai berjalan terus masuk ke dalam.
"ini seperti labirin" ucap Deva
semakin jauh mereka berjalan namun sampai sekarang keduanya belum juga sampai di ujung.
"tempat apa ini sebenarnya, jauh sekali" Adam mulai mengeluh
baru saja Adam mengeluh, mereka berdua sampai di ujung gua. di ujung gua itu tidak gelap seperti jalan yang mereka tempuh untuk sampai ditempat itu. beberapa obor ada di dalam itu sebagai penerangan.
ditempat itu juga terlihat sangat luas berbentuk lingkaran, ada tiga pintu yang entah akan tembus ke tempat mana pintu-pintu itu
"nggak ada orang. dimana bapak-bapak tadi" ucap Deva
Deva hendak melangkah masuk namun Adam menahannya dan menggeleng kepala.
"kenapa...?"
"tunggu sebentar kak, kita tidak tau ada siapa di dalam sana. jangan sampai ada jebakan atau semacamnya"
"lalu kita akan berdiam di sini saja...?"
"tunggu sebentar"
Adam melangkah maju dan menatap tajam obor-obor itu. hingga kemudian nyala api obor membumbung tinggi ke atas. seketika tempat itu menjadi semakin terang. terlihat jelas apa yang ada di dalam.
dirasa aman, Adam mengembalikan nyala api obor menjadi normal kembali.
"aman kak"
mereka masuk dan mulai berpikir pintu mana yang harus mereka masuki.
"jadi kita memilih pintu yang mana...?" tanya Deva
"kakak kan juga sakti, apa kakak nggak bisa menerawang akan tembus kemana pintu-pintu ini"
"ilmuku nggak sejauh itu dek, aku paling yaaa hanya jago bertarung"
"kalau begitu kita berpencar saja bagaimana...?" Adam memberikan usul
"baiklah, kita berpencar saja. seperti itu akan lebih cepat. jika tidak ada apapun di dalam sana maka kita kembali bertemu di tempat ini dan bersama-sama masuk ke pintu ketiga, bagaimana...?"
__ADS_1
"setuju" ucap Adam
kesepakatan mereka setujui, Deva terlebih dahulu masuk di pintu pertama kemudian Adam memasuki pintu kedua. hanya pintu ketiga yang masih tersisa jika nanti mereka kembali tanpa mendapatkan apa-apa di dalam sana.