Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 104


__ADS_3

ayah Adnan dan Sisil berangkat ke kantor cabang Sanjaya grup yang ada di kota itu. Sisil tidak bisa menjenguk Helmi pagi ini karena dirinya harus menjalankan tugasnya sebagai sekretaris dari ayah Adnan.


hari ini jadwal ayah Adnan lumayan padat. selain berkunjung ke kantor cabang dan melakukan rapat, ia juga harus bertemu dengan kliennya yang dari LN, pak Nicholas.


seharusnya mereka bertemu tiga hari lagi, namun karena kliennya itu ternyata ada urusan di kota K dan asisten pak Nicholas menghubungi ayah Adnan untuk bertemu hari ini juga di kota K. tentu saja ayah Adnan menyetujuinya, karena kebetulan dirinya juga berada di kota K.


sebelum rapat di mulai, semua kepala bagian di perusahaan itu telah berkumpul di ruang rapat menunggu kedatangan ayah Adnan. pak Sofyan selaku manajer perusahaan cabang, sangat antusias menunggu kedatangan direktur pimpinan Sanjaya grup.


"selamat datang di perusahaan ini pak. saya sangat senang sekali bisa bertemu tatap dengan bapak" pak Sofyan berjabat tangan dengan ayah Adnan


"terimakasih...... "


"Sofyan pak" ucap pak Sofyan ramah. pria itu masih sangat muda, umurnya sekitaran 20 tahunan lebih


"ya, terimakasih pak Sofyan atas sambutannya" ucap ayah Adnan


"kalau begitu mari pak, kita ke ruang rapat. di sana mereka telah menunggu bapak" pak Sofyan mempersilahkan


"baiklah, mari" ayah Adnan melangkah berjalan di depan, sedang Sofyan dan Sisil berada di belakangnya.


rapat berjalan hampir 3 jam, setelah selesai ayah Adnan harus segera bertemu dengan Nicholas di sebuah restoran ternama di kota itu.


"masih ada waktu 30 menit pak. bapak tidak ingin istrahat terlebih dahulu...?" tanya Sisil. mereka berada di dalam mobil


"tanggung Sisil, aku akan istrahat setelah bertemu pak Nicholas. bangunkan aku kalau sudah sampai" ayah Adnan mencari posisi ternyaman untuk tidur walau hanya beberapa menit.


"baik Pak" jawab Sisil


handphone Sisil bergetar, rupanya Vania yang menghubunginya. namun saat ia angkat, malah suara anak kecil yang ia dengar dengan memanggilnya mama. ternyata putranya yang menghubungi dirinya memakai nomor Vania. keduanya saling melepas rindu setelah sekian lama tidak saling bertemu.


di rumah sakit Helmi telah sadar dan sekarang tengah di suap makan oleh Zidan. bukan apa-apa, tangan pria itu yang satu terluka dan yang satunya sulit untuk ia gerakkan karena sakit.


"aduh romantis sekali kelen" ucap Pram yang baru saja masuk dan langsung duduk di sofa


cekrek


cekrek


Pram mengambil gambar kedua temannya itu.


"ngapain kamu. hapus nggak" ucap Zidan membantu Helmi untuk minum


"Kira-kira kalau aku upload di sosmed, bisa viral nggak ya"


"ck, nggak usah ngada-ngada deh Pram" cebik Helmi


"Randi mana...?" tanya Zidan


"biasa, lagi nelpon sama ayang bebnya" jawab Pram


"kamu nggak teleponan sama ayang beb mu...?" tanya Helmi yang bersandar di ranjangnya


"kalau dia mah nggak usah tanya Hel. dia mah bucin akut sama Mita" ledek Zidan yang mengambil jeruk dan mengupasnya


"pala kau bucin akut. aku nggak segitunya juga kali" cebik Pram


"hoaaaam... aku ngantuk. aku tidur dulu ya, jangan ganggu" Pram langsung berbaring dengan posisi terlentang dan lengan kanannya ia tutupkan matanya


"aku tinggal ya Hel, mau hubungi istriku dulu"


"ok"


Zidan keluar dari kamar rawat Helmi, sementara Helmi kembali berbaring dan menyusul Pram yang telah berdayung ke alam mimpi.


sementara itu di sekolah SMA xxx, gadis yang memanggil El-Syakir dengan senyuman mengembang mendekat ke arahnya.


"Hai El" gadis itu tersenyum manis


"elu sekolah di sini..." tanya El


Leo, Starla dan Vino, tentu tau siapa gadis yang menghampiri mereka. dia adalah gadis yang pernah tanpa sengaja menyiramkan mie ayam ke tubuh Nisda saat mereka di pasar malam. dia adalah gadis yang pernah El selamatkan saat akan digadaikan oleh tantenya sebagai penebus utang wanita itu.


"iya. nggak nyangka ya ternyata kita ketemu lagi, satu sekolah pula" jawabnya dengan senyuman manis


"kakak kenal dengan Seil...?" Alana menatap El


"kenal lah, dia kan yang siram Nisda dengan mie ayam di pasar malam waktu itu" bukan El yang menjawab melainkan Vino


"mie ayam...?" Alana mengernyitkan keningnya


"gue minta maaf soal yang itu. gue nggak sengaja" ucap Seil dengan wajah bersalah


"emm masuk yuk bentar lagi bel apel pagi pasti bunyi" Starla yang tidak ingin membuat Seil tersudut langsung menarik Leo dan Vino untuk ke kelas mereka.


"kakak ke kelas dulu ya" pamit El pada Alana


"iya kak" jawab Alana


El menyusul teman-temannya, sedang Alana mengajak Seil untuk masuk ke kelas mereka juga.


siswa baru kelas X ternyata lumayan banyak dan mereka dibagi menjadi empat kelas. Alana satu kelas dengan gadis yang bernama Seil itu. sementara mendengarkan pengarahan dari guru piket, Seil terus melihat ke arah El-Syakir. pandangan gadis itu tidak pernah lepas dari El-Syakir.


"ada yang curi-curi pandang tuh" ucap Adam yang ikut berdiri di samping El


El menoleh ke arah yang ditunjuk Adam, dan saat itu juga matanya dan Seil bertemu tatap. El dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"pandangan pertama awal aku berjumpa" Adam bernyanyi meledak El


"bisa diam nggak kak" bisik Adam

__ADS_1


"nggak bisa" jawab Adam tanpa dosa


"ck, kakak pergi sana. gangguin aja" kesal El


"bicara sama siapa lu El...?" Aldo yang berbaris di belakang El-Syakir


"gue nggak bicara sama siapa-siapa" jawab El terlihat biasa saja


"iya kah. perasaan tadi gue dengar elu bicara deh" ucap Aldo bingung


"bicara sama aku lah, sama siapa lagi" timpal Adam namun sayang tidak dengar oleh Aldo


guru piket pagi itu adalah pak Lisman. setelah pengarahan dari pria itu, bel masuk berbunyi dan semua siswa-siswi harus masuk ke dalam kelas mereka masing-masing tanpa ada yang berkeliaran di luar saat masih dalam waktu jam pelajaran.


saat keluar tadi meja El-Syakir masih terlihat aman, namun saat mereka masuk meja remaja itu telah di penuhi dengan berbagai macam kotak yang dibungkus kertas kado.


"ck, apa-apaan ini" El sangat tidak suka dengan keadaan mejanya


"elu ulang tahun El, perasaan masih satu bulan lagi deh" tanya Leo melihat tumpukan hadiah itu


"waooow.... sesuatu banget ya. aku mau buka ah" Adam yang melihat itu sangat antusias untuk melihat apa isi di dalamnya


"jangan kak, nanti ada yang lihat barang melayang bisa heboh nanti" El melarang Adam


"yaaaah... nggak jadi deh" Adam mengerucutkan bibirnya


"siapa sih yang naruh ini, kurang kerjaan banget" El menyimpan itu semua di laci mejanya dan akan ia buang nanti


"kayaknya pemberian hadiah seperti waktu lalu kembali diulang deh. cewek-cewek yang naksir elu kan selalu ngasih hadiah entah secara diam-diam atau terang-terangan" ucap Vino


"iya, dan dulu salah satunya yang tergila-gila sama El itu adalah cewek lu" timpal Leo


"eh jangan-jangan Starla juga ngasih hadiah buat lu kayak waktu lalu pas dia ngejar-ngejar elu" lanjut Leo


"nggak usah ngadi-ngadi ya. dia kan sekarang sukanya sama gue" Vino angkat bicara


"yaaa siapa tau belum bisa move on" timpal Adam yang duduk di jendela


mendengar ucapan Adam, Vino menatap Adam dengan sengitnya.


"apa liat-liat, mau dicolok matanya...?" ucap Adam mengarahkan dua jarinya ke arah Vino


Vino berdecak dengan wajah yang masam. namun kemudian ia mengeluarkan hadiah-hadiah itu untuk melihat apakah ada nama Starla atau tidak ada.


"ngapain sih lu Vin" tanya El saat Vino mengambil hadiah-hadiah itu dari laci meja El


"gue mau liat, ada nama cewek gue nggak" jawab Vino memeriksa nama satu persatu bungkusan itu


"huuuffft, syukur nggak ada" Vino mengelus dadanya lega


"simpan lagi Vin, gue mau buang nanti" ucap El


"nggak penting juga kali kak" timpal El


"penting lah. kalau elu nggak mau biar kita yang eksekusi. iya nggak dam" ucap Leo


"ho'oh" jawab Adam dengan santainya di jendela


pelajaran pertama akan dimulai karena guru yang mengajar telah masuk ke dalam kelas. tidak ada yang bersuara saat pembelajaran berlangsung, hanya Adam yang terus bernyanyi dan tentu tidak didengar oleh mereka kecuali El, Vino dan Leo.


"berisik banget sih lu. diam nggak" bisik Leo


"kamu bicara sama aku...?" tanya Adam yang memasang wajah sok bingung


"nggak, gue bicara sama setan" kesal Leo


"oooh... aku kira kamu bicara sama aku. ternyata sama setan" jawab Adam santai dan kembali bernyanyi


"emang setannya elu" Leo berbicara keras sampai terdengar guru di depan


"ada apa Leo...?" tanya ibu Rina


"nggak apa-apa bu" jawab Leo melirik kesal ke arah Adam


"lirikan matamu menarik hati" Adam mengedip-ngedipkan matanya ke arah Leo


"kampret lu" kesal Leo mencubit paha Adam


"sakit tau. ah Leo mah, suka nyiksa. El, Leo nyiksa aku" Adam melapor seperti anak kecil


"sssttttt" El menaruh jari telunjuknya di bibir meminta Adam dan Leo berhenti untuk mencari masalah


"ck, aku ngambek" Adam memalingkan wajahnya namun El tidak berniat membujuknya karena masih dalam mengikuti pelajaran


setelah jam pelajaran pertama selesai, mereka berkumpul di satu tempat yang tidak di lewati banyak orang, belakang kelas mereka. mereka duduk di bawah pohon besar yang melindungi dari sinar matahari.


"mana hadiah tadi, aku mau buka" Adam meminta


El mengambil kantung plastik yang berisi hadiah-hadiah itu.


"banyak juga ya El. ngapain sih mereka ngasih kayak gini, mending langsung nembak elu kan selesai permasalahan" ucap Vino


"mati dong kalau ditembak" timpal Adam yang sibuk membuka bungkusan kertas kado untuk melihat isi di dalamnya


"bukan tembak benaran maemunah" Vino menyoyor kepala Adam


ting, pesan masuk di handphone Vino


ayangku : dimana sayang...?" itu adalah pesan dari Starla

__ADS_1


Vino : belakang kelas


tidak lama Starla datang bersama Nisda dan Bara. mereka ikut bergabung bersama yang lainnya.


"ada yang ulang tahun ya, itu hadiah banyak bener" ucap Bara melihat hadiah-hadiah itu tergeletak di depan Adam


"punya El. biasa cowok ganteng banyak yang ngasih hadiah" jawab Leo


"emang susah kalau jadi cowok ganteng. Bara aja barusan dapat hadiah dari gebetannya" ucap Nisda melirik kesal ke arah Bara


"kan udah aku buang sayang. jangan ngambek mulu napa sih" timpal Bara


"kok di buang, sayang sekali" ucap Adam membuka kotak yang ia pegang


"waaah bagusnya" Adam terpesona dengan jam tangan yang ia pegang


"uiiiih... gila lu El. jam tangan mahal tuh" ucap Leo


"ngabisin uang aja" ucap El menggeleng kepala


"sayang, kamu nggak termasuk salah satu cewek yang kasih hadiah buat El kan...?" Vino menatap Starla


"kalau iya emang kenapa...?" goda Starla


"ayang ih, aku ngambek nih" Vino memasang wajah tidak suka


"ngambek aja nggak ada yang larang" jawab Adam cepat yang masih sibuk membuka hadiah yang lain


"sayang" panggil Vino merengek


"apa sih yank. ngapain aku kasih hadiah sama El, kecuali dia ulang tahun" jawab Starla begitu gemas dengan rengekan Vino. ingin rasanya ia menggeplak kepala pacarnya itu


"baguslah" ucap Vino mulai tenang


tiba-tiba saja Bara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan mereka semua.


"mau kemana...?" tanya Nisda


"kantin beli snack" Bara berhenti dan menjawab


"yang banyak ya Bar" teriak Vino


"sip" bara mengangkat jempolnya dan berlalu pergi


setelah kepergian Bara, Adam melirik Nisda yang masih terus melihat ke arah Bara yang sudah terhalang tembok.


"susul aja kalau gelisah. Jangan-jangan dia ketemu gebetannya lagi" ucap Adam tiba-tiba


"nggak ah malas" jawab Nisda


"kamu yakin nggak mau. nanti dia ketemu Nabila loh tadi aja di apel pagi aku lihat Nabila melirik terus ke arah Bara" Adam mulai menjual kompor. padahal sebenarnya yang ia lihat bukan Nabila tapi Seil yang selalu melirik El


tanpa pamit Nisda berlari untuk mengejar Bara. dia sama sekali tidak rela kalau Bara akan bertemu dengan kakak kelas mereka, Nabila.


"kakak ini suka sekali ngomporin orang" El geleng kepala


"sejak kapan aku ngomporin orang. aku kan nggak bawa kompor" jawab Adam memang bodoh apa pura bodoh


"mukamu itu loh dam, pengen banget gue sleding" timpal Leo memutar bola matanya


Adam tidak merespon karena sibuk dengan hadiah-hadiah di depannya. kali ini hantu itu membuka hadiah yang ternyata adalah jaket.


"bagus sekali. aku coba ah" Adam langsung memakai jaket itu


Bara yang berjalan ke arah kantin tanpa sengaja bertemu dengan Nabila. gadis itu sangat senang saat melihat Bara.


"Hai Bara" sapa Nabila


"Hai kak, dari kantin ya...?" tanya Bara


"iya. kamu akhir-akhir ini kenapa nggak pernah balas pesanku...?"


"aku.... sibuk kak. maaf, aku belum sempat baca pesan kakak" Bara tersenyum kikuk


"gitu ya, aku pikir kamu nggak mau balas ternyata lagi sibuk ya"


"hadiah dari aku udah kamu ambil belum. suka nggak...?"


"emmmm, aku belum liat" jawab Bara jujur kalau hadiah itu belum dirinya lihat apa sebenarnya isi di dalamnya dan juga hadiah itu telah dibuang oleh Nisda


"kok gitu. nanti kalau udah kamu buka, di pakai ya. itu oleh-oleh dari aku pas liburan kemarin"


"iya. emmm aku ke kantin dulu ya kak"


"aku temani" Nabila menawarkan diri


gadis itu bahkan merangkul lengan Bara, Nisda yang melihat itu langsung naik pitam.


"sayang" panggil Nisda, Bara dan Nabila sama-sama berbalik


Nisda berjalan dengan senyuman manis ke arah mereka berdua.


"pergi bareng yuk" Nisda mengambil tangan Nabila agar terlepas dari lengan Bara


"maaf ya kak, kami ke kantin dulu" ucap Nisda sopan kemudian menarik Bara untuk meninggalkan Nabila


Nabila menatap mereka yang berjalan menjauh darinya. sepengetahuannya Nisda adalah mantan Bara, lalu kenapa tiba-tiba saja mereka mesra seperti itu. itulah yang di pikirkan gadis itu.


"masa iya gue kalah sama mantan, nggak banget" ucapnya berlaku pergi

__ADS_1


__ADS_2