
El-Syakir melihat ke atas pohon mangga. sudah tidak ada dua makhluk penghuni pohon itu. padahal tadi keduanya masih berada di pohon itu kini mas poci dan mba Kun yang biasa dipanggil Adam, menghilang entah kemana.
hawa dingin begitu menusuk di kulit El-Syakir. dia melihat ke arah Adam dan Alana, mereka berdua masih terlelap dalam keadaan berpelukan. Alana begitu nyaman tidur dipelukan Adam.
"aaaaa"
"astaghfirullah"
suara teriakan yang cukup keras mengangetkan El-Syakir. dia bahkan melompat ke atas kursinya. bukan karena takut melainkan gerakan refleks karena dirinya terkejut.
"kak, Alana... bangun" El-Syakir membangunkan keduanya namun tidak ada pergerakan sama sekali
"kak Dirga, bangun" dia mengguncang bahu Adam dan kakaknya itu langsung membuka mata
"kenapa El, paman Edward udah datang ya...?" Adam memperbaiki posisi kepala Alana yang bersandar di dadanya
"bukan paman Ed yang akan datang tapi tim samudera" jawab El
"mereka semua...?"
"iya, tadi gue udah beritahu di grup dan mereka akan datang" El melihat sekelilingnya
"kamu kenapa celingukan begitu...?"
"tadi gue dengar suara"
"aaaaa"
"nah itu, suara itu. suara yang pernah kita dengar sebelumnya pas kita menginap kemarin" El-Syakir berdiri dan menatap ke sekeliling rumah
Adam melepaskan diri dari pelukan Alana dan memperbaiki posisi tidur adiknya itu. dia pun ikut berdiri dan menatap tajam ke segala arah.
"keluar kau" teriak Adam dengan lantangnya
tidak ada apapun, hanya angin malam yang menerpa kulit mereka.
mereka masih dalam posisi berdiri, mata elang keduanya tidak lepas dari pengintaian sekitar. hingga akhirnya El-Syakir melihat seseorang di depan sana, dengan jubah hitamnya yang tidak memperlihatkan wajahnya.
"woi, ke sini kamu" El-Syakir berlari mengejar. seketika sosok itu pergi menjauh
saat itu juga tim samudera baru saja datang. mereka menggunakan motor masing-masing. melihat El-Syakir mengejar entah siapa, mereka langsung berhenti.
"El, mau kemana...?" teriak Vino yang melihat El-Syakir telah jauh dari pandangan
"dam, itu El kenapa. dia ngejar siapa...?" tanya Leo saat Adam ingin menyusul El-Syakir
"kalian tolong jaga Alana, dobrak saja pintunya dan masuk ke dalam. aku harus mengejar El-Syakir" Adam berlalu begitu saja dan berlari
"Adam" Melati memanggil, Adam menghentikan larinya dan berbalik lagi
Melati mendekat dan langsung memeluk Adam. Adam mematung ditempatnya dan kemudian tangannya terangkat mengelus kepala gadis itu.
"hati-hati, aku tau pasti kalian mengejar sesuatu" Melati menatap Adam dengan lembut
"pergilah, masuk ke dalam rumah" Adam tersenyum dan meninggalkan Melati
"itu mereka kenapa sih, pada main kejar-kejaran gitu" ucap Starla
"ayo" ajak Melati
mereka menaiki kembali menaiki kendaraan yang dibawa untuk masuk ke halaman rumah. namun tubuh mereka menegang dan terkejut kala mendengar teriakan keras dari Alana.
"aaaaa"
"Alana"
Leo seketika turun dari motornya begitu juga yang lain. bahkan motor mereka sampai terbanting karena lupa untuk menurunkan standar motor. tidak mempedulikan keadaan kendaraan mereka, mereka bergegas menghampiri Alana. gadis itu tengah duduk di kursi dalam keadaan menunduk. rambutnya tergerai ke depan menutupi wajahnya.
"Lana" Leo memanggil namun tidak ada pergerakan dari gadis itu
"Alana" kembali Leo memanggil namun tetap saja Alana tidak bersuara
"jangan-jangan dia kerasukan lagi seperti kemarin" ucap Nisda
"hihihi" terdengar cekikikan dari gadis itu
"Lana" Bara mendekat
"berhenti di situ" ucap Alana dengan suara yang berat. persis seperti suara saat dirinya kerasukan pada malam mereka menginap di rumah itu
"siapapun kamu, keluar dari tubuhnya" ucap Leo
"hahahaha"
Alana mengangkat kepalanya, ketika itu juga mereka terkejut. mata Alana berubah menjadi merah lalu setelah itu berubah menjadi putih kemudian berubah lagi menjadi hitam. warna mata gadis itu berubah-ubah dan kini senyumannya menyeringai menatap tajam ke arah tim samudera yang ada di depannya.
"keluar dari tubuhnya makhluk laknat" teriak Leo begitu geram, gadis yang dicintainya dimasuki oleh makhluk yang mereka tidak tau siapa
Alana melompat menyerang Leo, seketika selendang hijau menhajarnya hingga Alana terpental namun gadis itu malah melekat dinding dan merayap seperti cicak.
tim samudera mengeluarkan senjata masing-masing, bersiap melawan Alana. bukan bermaksud untuk melawan gadis itu namun mereka tidak punya pilihan lain. andai tidak melawan bisa saja Alana membuat mereka terluka.
Alana melempar kursi ke arah mereka, dan Melati dengan kapaknya langsung membelah kursi tersebut menjadi dua bagian.
Alana menatap marah, dia kemudian mengeluarkan cahaya dari matanya.
ddduuuaaaar
__ADS_1
untungnya mereka menghindar kalau tidak mereka pasti akan meledak seperti pot bunga yang mengenai sihir Alana.
"gila, dia kuat banget kayaknya" ucap Vino
"Nisda, Starla, gunakan selendang kalian" ucap Melati
"baik" jawab keduanya
Nisda dan Starla melempar selendang mereka ke arah Alana. selendang itu langsung melilit tubuh Alana sehingga gadis itu tidak dapat bergerak dan jatuh ke lantai.
"lepaskan" teriak Alana penuh amarah
dia mengeluarkan lagi sihir dari matanya. mereka menghindar sehingga cahaya hitam itu hanya mengenai pohon mangga. lagi-lagi terdengar suara ledakan akibat sihir yang dikeluarkan Alana.
"ambil daun kelor" perintah Melati
"mau cari dimana daun kelor malam-malam begini" jawab Leo
"di belakang rumah El-Syakir ada pohon kelor. ke sana saja Le, buruan" timpal Vino
Leo segera melesat ke belakang rumah El-Syakir. sementara Alana terus memberontak ingin dilepaskan namun tentu saja tim samudera tidak akan melepaskannya sebelum makhluk yang ada dalam tubuhnya meninggalkan tubuh gadis itu.
"dapat, gue dapat" Leo kembali dengan beberapa tangkai kelor di tangannya
"lepaskaaaaaan"
bughhh
bughhh
praaang
"Starla"
"Nisda"
Vino dan Bara terkejut Alana melemparkan pot bunga ke arah kedua gadis itu. seketika Starla dan Nisda terjatuh dan saat itu juga Alana terlepas dari selendang yang melilit tubuhnya.
Bara dan Vino membantu Starla dan Nisda sedang Alana telah kabur melarikan diri.
"dia kabur" ucap Melati
"kejar" ucap Leo
Melati dan Leo telah duluan mengejar Alana sementara yang lain menyusul setelah memeriksa keadaan Nisda dan Starla baik-baik saja.
"Alana berhenti" teriak Leo
Alana terus berlari dan tidak mempedulikan teriakan Leo. hingga akhirnya mereka kehilangan jejak gadis itu.
"kemana dia...?" Leo memeriksa setiap sekeliling mereka
"kemana Alana...?" tanya Vino
"nggak tau, dia hilang" jawab Leo
"kita cari lagi, bisa bahaya kalau dia tidak kita temukan" ucap Bara
mereka terus melangkah ke depan. mereka memeriksa setiap sudut namun mereka tidak melihat Alana. hingga kini mereka telah sampai di laundry ibu Arini. Nisda duduk di teras tempat itu untuk mengistirahatkan diri.
"gimana ini, kalau Alana kenapa-kenapa bagaimana...?" raut Majah Melati terlihat khawatir
"malah Adam sama El belum datang-datang juga" ucap Starla
Leo memeriksa sekitar dan dia berjalan pelan ke arah depan. saat itu juga matanya menangkap sosok yang dikenalinya sedang berdiri di depan pintu rumah seseorang.
"Alana" panggil Leo
mendengar Leo memanggil nama Alana, mereka semua mendekat. Leo segera berlari mendekati Alana begitu juga yang lain.
saat dekat dengan cepat Leo memukul punggung Alana dengan kelor yang masih di pegangnya sejak tadi.
"aaaaa"
Alana berteriak kesakitan. Bara dan Vino dengan cepat memegang kedua tangan gadis itu agar tidak menyerang. Leo terus memukul Alana dengan kelor dan bahkan dirinya terus melafazkan ayat-ayat Allah hingga akhirnya
bughhh
seketika Alana terjatuh pingsan. untung saja Leo dengan cepat menangkapnya dan menggendong gadis itu membawanya kembali ke rumah El-Syakir.
setelah kepergian mereka, seseorang melihat kepergian tim samudera dari kaca jendela. setelahnya dia menutup gorden dan melangkah masuk ke sebuah kamar. di sana seorang gadis yang seumuran dengan tim samudera sedang terbaring lemah di ranjang. tubuhnya penuh dengan lebam hitam, wajahnya pucat dan bahkan tubuhnya semakin kurus.
"sampai kapan Nilam akan seperti ini bu, bunuh saja Nilam kalau itu yang ingin ibu inginkan" suara gadis itu bergetar
"tenang saja Nilam. kakakmu hanya perlu menghisap setiap energi yang ada pada dirimu. ibu hanya memerlukan satu gadis lagi untuk membangkitkan kakakmu kembali"
"dan ibu dengan tega mengorbankan Nilam...?"
"kamu hanya anak pungut Nilam, ingat itu. jelas ibu akan memilih anak kandung ibu daripada anak pungut sepertimu" wanita itu tanpa rasa kasihan menatap tajam ke arah Nilam
"kak Rehan telah tiada bu, dia sudah meninggal. bagaimana mungkin orang yang mati akan bangkit lagi"
"DIAM KAMU" wanita itu mencengkeram kuat wajah Nilam
"apapun caranya akan ibu lakukan termasuk menjadikan dirimu tumbal. anggap saja kamu sedang membalas budi atas semua kebaikan ibu selama ini" dia melepas wajah Nilam dengan kasar
setelah itu, dia melangkah ke ranjang yang satunya. ternyata ada gadis lain dikamar itu. dia terbaring di ranjang keadaannya sama seperti Nilam. tubuhnya lebam menghitam namun belum begitu banyak. hanya saja dirinya tidak sekurus gadis itu, mungkin karena energinya belum dikuras banyak oleh Rehan anak dari wanita itu.
__ADS_1
"lepasin kak Dian Bu, kasian dia. biarkan Nilam yang ibu jadikan tumbal, Nilam rela"
"kamu saja tidak cukup untuk membangkitkan anakku Rehan. aku butuh satu gadis lagi karena sekarang aku telah mendapatkan satu gadis yang sekarang tengah tertidur cantik di hadapanku" dia mengelus wajah Dian yang tengah terbaring tanpa sadar. Dian adalah pegawai ibu Arini yang bekerja di laundry ibu Arini.
kemudian wanita itu melangkah keluar dari kamar dan mengunci pintunya agar kedua gadis itu tidak dapat melarikan diri.
tim samudera telah sampai di rumah El-Syakir. Bara mendobrak pintu tersebut namun sangat susah untuk di buka. hingga akhirnya berdua dengan Vino, mereka sama-sama mendobrak pintu tersebut dan akhirnya setelah lama berusaha pintu itu pun terbuka.
"huufffttt, kita seperti pencuri saja" ucap Bara yang kelelahan
"cepat masuk" ucap Vino
mereka segera masuk ke dalam dan membawa Alana ke dalam kamar. Leo membaringkan Alana dengan hati-hati dan menyelimuti gadis itu. kemudian dia duduk di sampingnya dan mengelus lembut kepala Alana
"coba hubungi Adam atau El, mereka dimana sekarang" perintah Vino
Starla segera mengambil hp-nya dan menekan nomor El-Syakir.
panggilan terhubung
📞 El-Syakir
halo La, kenapa...?
📞 Starla
kalian dimana...?
📞 El-Syakir
kami di....
📞 Starla
cepat pulang, tadi Alana kerasukan
📞 El-Syakir
kerasukan lagi...? terus bagaimana dia sekarang...?
📞 Starla
dia pingsan. pulang sekarang
📞 El-Syakir
iya, kami pulang sekarang juga
El-Syakir mematikan panggilan dan mendekati Adam yang sedang menerawang kemana arah sosok itu pergi.
"kak, kita harus kembali. Alana tadi kerasukan" ucap El
"kerasukan lagi...?" Adam berbalik melihat El-Syakir
"iya, ayo balik. lagipula kita tidak menemukannya juga"
"ya sudah, kita pulang sekarang"
keduanya meninggalkan tempat itu. sudah jauh mereka mengejar sosok itu namun seperti makhluk gaib, sosok itu menghilang begitu saja dari pandangan mereka sehingga mereka kehilangan jejak. andai Adam masih dalam bentuk arwah, mungkin dia bisa mengejar namun kini sekarang kondisinya berbeda.
sampai di rumah, keduanya masuk ke dalam dan langsung ke kamar Alana.
"bagaimana keadaannya...?" El-Syakir mendekati adiknya, Leo menjauh dan duduk di kaki Alana sedang Adam hanya berdiri di dekat El-Syakir
"saat kalian pergi, saat itu juga Alana kerasukan. bahkan lebih mengerikan dari kemarin" jawab Leo
"sepertinya ada yang mengincar Alana. kalian ingat kan pertama kali dia kerasukan kemarin malam, makhluk itu bilang dia menyukai Alana" Melati berasumsi
"tapi siapa, di komplek ini tidak ada yang mempunyai ilmu sihir atau memelihara makhluk gaib" timpal El
"ingat apa yang dikatakan gadis yang bernama Nilam...? dia menyuruh kita pergi dan jangan kembali lagi. sepertinya ada kaitannya apa yang dia ucapkan dengan keadaan Alana sekarang" ucap Bara
"kelihatannya gadis itu sedang tidak baik-baik saja" ucap Adam. dia duduk di ranjang di samping Alana
"gue juga merasa seperti itu, dia terlihat sangat berbeda dari biasanya" timpal El
"harus kalian tau kalau saat Alana tadi kerasukan dan melarikan diri, dia kabur dan kami menemukannya di..."
"dimana...?" El-Syakir memotong ucapan Vino dengan cepat
"di rumah Nilam. dia berdiri tepat di depan pintu rumah Nilam" jawab Leo
"kalian serius...?" tanya El
"untuk apa bercanda dalam keadaan serius seperti ini El" jawab Nisda
"kecurigaanku semakin besar kalau ada yang tidak beres di tempat itu apalagi gadis yang bernama Nilam itu" timpal Adam
"sebaiknya kita jangan ke sini lagi. gue takut Alana dalam bahaya kalau kita berada di sini" ucap Leo
"iya benar, perasaan gue mulai nggak enak dengan tempat ini" Starla mengangguk
"apa kita pergi sekarang saja...?" ucap Melati
"jangan, kita tidur saja di sini. besok baru pulang. ini sudah sangat larut malam" Adam menolak
"kalau begitu kita semua tidur di kamar Alana. biar gue ambilkan selimut dan bantal serta kasur di kamar gue. Le, Bar, ayo bantuin gue" El-Syakir keluar dari kamar, Leo dan Bara mengikutinya
__ADS_1
mereka kemudian membentang kasur di kamar Alana. El-Syakir tidur di atas ranjang menemani adiknya sementara yang tidur di bawah. tidak memerlukan waktu lama mereka terlelap karena memang sejak tadi mereka dalam keadaan mengantuk.