
"sebenarnya apa maksud yang diucapkan Rudi tadi...?" tanya Randi saat mereka berada di dalam mobil
"kita hanya menangkap lalat kecil sementara ikan paus besar masih berkeliaran di luar sana. aku merasa ya maksud dari ucapannya itu kalau sebenarnya bukan dia dalang dari semua ini. ya meskipun memang dia terlibat secara langsung tapi dari maksud ucapannya itu kalau sebenarnya ada yang lebih harus bertanggung jawab dari kejadian yang terjadi" Randi menjelaskan dengan pemikirannya
"apa iya begitu...?" Pram nampak berpikir
"aku juga merasa seperti itu. kalau memang benar apa yang kamu katakan itu Ran, berarti ikan paus besar itu adalah dalang dari semuanya dan Rudi hanya menjadi tangan kanannya saja" timpal Zidan
"kalau memang iya, lalu siapa orangnya...?" tanya Pram yang fokus mengemudi
"jelas kita harus cari tau" jawab Randi
"ini akan menjadi pekerjaan yang merumitkan lagi. aku harap kalian terus bersamaku" ucap Zidan menghela nafas panjang
"kami selalu setia padamu, jangan ragukan itu. sekarang kita kemana, ke rumah atau kembali ke rumah sakit...?" tanya Pram
"aku ingin kembali ke rumah sakit" jawab Zidan
"tidak. istrahatlah dulu biar sejenak. lihat matamu, sudah sangat lelah dan sayu. untuk Vania, biar aku dan Pram yang akan menjaganya" kali ini Randi menolak permintaan Zidan
"aku tidak apa-apa"
"Vania tidak akan suka kalau dia tau kamu seperti ini Zidan. istrahatlah di rumah, besok kamu bisa menjenguknya lagi" ucap Randi
"lagipula di sana sekarang ada juga ibu Maya yang menjaga Vania" ibu Maya adalah mama dari Vania
"baiklah, antar aku pulang ke rumah" pada akhirnya pria itu mengalah juga
setelah mengantar Zidan pulang, kedua pengawal itu melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
"telepon Helmi gih, sudah selesai belum kencannya" ucap Pram
"kamu kayaknya kesal gitu, pengen kencan juga ya...?" goda Randi
"nanti saja, sekarang masih sibuk" jawabnya
Randi mencari nomor Helmi di handphonenya dan segera menghubungi pria itu.
📞 Randi
dimana kau, hilang mulu macam Jin
📞 Helmi
assalamualaikum dulu kali Ran
📞 Randi
haduuuuh, saking gregetnya sampai lupa ngucapin salam. assalamualaikum
📞 Helmi
wa alaikumsalam. ada apa...?"
📞 Randi
ada apa ada apa, pulang nggak kamu. jalan mulu kerjaannya heran deh. pasti lagi kencan iya kan
📞 Helmi
suudzon banget jadi orang. aku lagi ngerjain misi, sekarang baru saja selesai. nih juga mau jalan pulang
📞 Randi
ke rumah sakit, jangan pulang ke apartemen kau ya. kali ini Pram yang bersuara
📞 Helmi
iya markonah iya
setelah sampai rumah sakit, keduanya bergegas ke ruang UGD. di sana masih ada dua orang pengawal yang berjaga di depan ruang UGD. tidak peduli dengan ucapan orang lain melihat mereka yang jelas Zidan sangat siaga dalam menjaga Vania.
"kalian pulanglah, malam ini kami yang berjaga" ucap Pram
"baik" jawab keduanya meninggalkan tempat itu
ibu Maya keluar untuk mencari makan, saat mendengar kabar dari Zidan kalau putrinya masuk rumah sakit, wanita itu bahkan tidak mengingat untuk mengisi perutnya yang perih karena lapar.
"kalian di sini...?" tanyanya kepada Pram dan Randi
"iya. tante sebaiknya pulang saja, biar kami yang menjaga Vania" jawab Randi
"tante tidak akan tenang kalau pulang ke rumah. lebih baik tante di sini bisa terus melihatnya" timpal ibu Maya
"tante mau cari makan dulu, tante lapar dari tadi belum makan"
"biar aku yang mencari makanan. tante duduk saja di sini"
Pram beranjak pergi sebelum di suruh. kedua pria itu dan juga Zidan serta Edward dokter pribadi Dirga, mereka adalah sahabat dekat termasuk juga Vania. namun sayangnya lambat laun Zidan menghindari wanita itu karena permasalahan papa Vania yang membunuh orang tuanya.
entah itu benar atau tidak, tapi yang jelas dalam ingatan Zidan papa Vania lah pembunuh kedua orang tuanya.
meski benci sebesar apapun pada akhirnya takdir membawa kedua insan itu kembali bertemu bahkan menjalin kasih walau awalnya karena ancaman dari Vania sehingga Zidan terpaksa menerimanya.
ternyata setelah kejadian penculikan itu, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Zidan dan sepertinya akan merasuk dalam ke lubuk hatinya.
cek lek.....
El membuka pintu masuk ke dalam kamarnya. di tangannya sudah memegang sebuah kresek entah apa isinya. setelah berbincang dengan ayahnya cukup lama, ayahnya menyuruhnya untuk istrahat karena waktu sudah menjelang larut.
sempat ayah Adnan bertanya mengenai luka di lengannya termasuk ibu Arini namun El memberikan ulasan yang masuk akal agar kedua orang tuanya tidak mencemaskannya.
dilihatnya Adam sedang duduk di jendela dengan tatapan lurus ke depan tanpa ekspresi. hantu itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"dam" panggil El pelan
__ADS_1
"apa...?" jawabnya tanpa menoleh
"elu ngapain. lagi meratapi nasib...?" kantung kreseknya ia simpan di atas kasur
"El"
"hmmm"
"mau jadi saudaraku...?" Adam melihat sekilas ke arah El yang sedang menatapnya kemudian mengalihkan lagi pandangannya
"dari sejak pertama elu datang di sini, gue udah selalu menganggap mu saudara" El beralih duduk di kursi belajarnya
"iya benar. dari dulu kita memang saudara" Adam tersenyum melihat El
"dari dulu...?"
"ya Iyah, dari dulu sejak aku ada di sini. lagipula kita punya kakek yang sama juga kan, Adam as, sama seperti nama aku"
"oooh" El manggut-manggut
"apa itu...?" tunjuk Adam ke kantung kresek yang dibawa El tadi
"coba tebak apa. kalau elu bisa tebak besok gue traktir"
"traktir beli melati...?"
"melati Mulu yang ada di otak elu"
"iyalah. nggak ada hari tanpa memikirkan melati. tunggu aku terawang dulu" Adam menutup matanya dan jari telunjuknya ia letakkan tepat di tengah keningnya.
"hehehehe" Adam cengar-cengir
"idih, ngapain lu cengar-cengir begitu" jelas El bingung
"sayang kamu banyak-banyak. assiiiiiiikkkkk, malam ini nggak jadi puasa" Adam melayang cepat ke arah kasur dan membuka kresek tersebut.
"kok elu bisa tau kalau itu melati...?" El terheran-heran
"karena aku sakti" jawabnya sambil mengunyah melati
"ya ya ya. sekarang nggak ngambek lagi kan...?"
tanpa menjawab hantu itu mengangguk cepat dan terus memasukkan melati ke dalam mulutnya.
hari terus berganti waktu terus berjalan. El dan kawanannya sering menjenguk Vania ke rumah sakit. kini wanita itu telah dipindahkan ke rumah sakit besar di kota S, karena rumah sakit kemarin sangat jauh dari tempat tinggal Zidan maupun Vania sendiri.
Zidan memindahkannya karena tidak tega melihat ibu Maya yang terus-menerus bolak-balik ke rumah dan ke rumah sakit dalam jarak tempuh lumayan lama.
hari ini, seperti biasa El sudah siap dengan seragam sekolahnya dan juga tasnya begitupun dengan Alana. gadis itu tidak lama lagi akan satu sekolah dengan kakaknya.
"mau apa lagi yah...?" tanya ibu Arini saat mereka berada di meja makan
"tidak Bu, ini saja" jawab ayah Adnan
"sini piring mu"
ibu Arini melayani keluarganya dengan baik. masakannya tidak pernah tidak dinikmati oleh suami dan anak-anaknya.
"kalau kamu suka kepiting, besok ibu akan masak lagi untuk kamu" ibu Arini menyimpan piring Alana di depan putrinya itu
"waaah benar ya Bu. masak nanti sore saja Bu untuk makan malam" timpal Alana girang
"baiklah tuan putri" jawab ibu Arini
"aku nggak dimasakin juga, masa iya cuma adek" ucap El
"mau dimasukkan apa kalau kamu nak...?" tanya ibu Arini lembut
"cumi saus tiram itu enak Bu. El mau yang itu" jawab El
"baiklah, nanti ibu masak untuk makan malam"
semuanya makan dengan khidmatnya, menikmati sesendok demi sesendok makanan yang masuk ke dalam mulut.
"mau bareng sama ayah nak...?" tanya ayah Adnan kepada Alana
"nggak yah, Lana mau dijemput sama Meri" jawab Alana
"oh ya sudah"
setelah sarapan semuanya bersiap untuk berangkat. El menyalami tangan orang tuanya begitu pula dengan Alana.
Meri ternyata sudah datang tepat setelah mereka keluar dari pintu. Alana pamit kepada kakaknya dan kemudian berlalu bersama Meri.
"woi, mau ikut nggak...?" El meneriaki Adam yang sedang nongkrong di pohon mangga
"ikuuuuuut" teriaknya
"aku sekolah dulu mba Kun, mas poci. bye bye"
hanya berkedip hantu itu sudah duduk di jok belakang El. segera El menyalakan motornya dan meninggalkan rumah.
"jadikan traktir melati, semalam aku nebaknya benar loh" ucap Adam memiringkan kepalanya ke arah El
"iya iya, masih pagi udah nagih janji"
"janji kan memang harus ditepati" jawabnya lagi sambil merentangkan kedua tangannya
pelajaran berlangsung seperti biasanya. El serta kedua sahabatnya satu kelas mengikuti dengan serius. begitu pula dengan starla yang berada di kelas yang berbeda dengan mereka. setelah bel istirahat berbunyi, mereka bertemu di tempat biasa yang sering mereka tongkrongi saat masih bertiga saja sebelum starla bergabung bersama mereka.
"gimana lukamu, udah sembuh...?" tanya Leo kepada El
"udah kering, beberapa hari lagi mungkin sudah sembuh" jawabnya
"kemarin itu kita seperti sedang melakukan adegan film action tau nggak. bahkan lebih sadis sepertinya, karena bercampur horor juga" Vino melirik Adam yang sedang nongkrong di atas pohon
__ADS_1
"gue daripada kayak kemarin, mending gue bantuin arwah yang minta tolong tau nggak" timpal Leo
"ho oh, debaran jantung nggak pernah berhenti saking takut dan paniknya. apalagi gue yang jadi korban penculikannya" ucap starla
"mulai sekarang kamu jangan pergi kemana-mana kecuali sama teman atau siapapun itu yang bisa menemani kamu" ucap Vino dengan lembut
"cieeee udah aku kamu ni eeee" cibir Leo membuat starla tersipu
Vino mengambil air minumnya dan meneguknya untuk menetralkan perasaannya, namun siapa sangka dirinya malah terbatuk-batuk karena di kejutkan oleh Bara
"uhuk...uhuk"
"kampret lu Bar, gue jadinya cuci muka ini bukannya minum" sungut Vino karena air minumnya ia semprotkan ke wajahnya
"sorry, sorry...nih lap gih ingus lu" Bara memberikan tisu
"ngapain ke sini...?" jawab Vino ketus dan mengambil tisu yang diberikan Bara
"galak bener pak" timpal Bara
"Nisda mana bar, kok nggak keliatan" tanya El
"lagi ke ruangan ibu Fatin, bawa tugas dari anak-anak" jawab Bara yang duduk di samping Vino
"eh, gue minta penjelasan" ucap Bara serius
"penjelasan apaan...?" tanya Leo
"waktu di hutan kemarin. kalian kemarin itu ya seperti lagi ngomong sama seseorang tapi gue nggak bisa lihat. benar kan..?" Bara menatap mereka bergantian
"halu mungkin lu, saking takutnya" ucap starla
"bahkan kemarin itu gue waras 200%, nggak ada halu-halunya" timpal Bara
"nah kan, over dosis tuh kewarasanmu makanya penglihatanmu jadi ngaco" ucap Vino
"nggak usah ngelak dan banyak alasan deh. kalian punya teman gaib kan...? Bara menatap tajam mereka
"haaahhhh" El menghela nafas
"nanti saja bahas ini, udah bunyi bel masuk tuh" El beranjak dari duduknya
"pokoknya gue akan ngikutin kemanapun kalian pergi sebelum kalian memberitahu gue. atau gue bongkar kejadian kemarin ke semua orang tentang apa yang kalian lakukan kemarin. gue ada videonya ya" ucap Bara memperlihatkan video yang diambilnya secara diam-diam
"lu ngancem kita" Vino mulai jengah
"bukan ngancem. ini hanya sebagai pegangan gue aja agar kalian nggak bisa nolak permintaan gue yang butuh penjelasan. tenang saja, gue amanah kok. punya teman gaib mah hal biasa. asal mereka baik, kita bisa menjadi teman untuk mereka" jawab Bara menyimpan kembali handphonenya
"kita akan jelaskan besok. sekarang bubar, tuh pak Rusli udah datang" ucap El
"ok. gue tunggu ya" Bara meninggalkan mereka
"elu yakin dia bisa amanah El...?" tanya Leo ragu
"Bara memang kelihatannya sedikit brengsek karena cemburunya terlalu besar terhadap Nisda dan sering main pukul. namun dia orangnya jujur, itu yang gue dengar dari teman-temannya. dibalik sikapnya itu, dia sebenarnya baik. hanya ya itu saja, nggak bisa mengendalikan emosi kalau menyangkut Nisda" jawab El
"Ayuk masuk" ajaknya
setelah seharian matahari menjalankan tugasnya kini rembulan mengambil tugas itu dari matahari, malam menyapa bumi. setelah makan malam dan mengerjakan tugasnya, El mengambil tasnya untuk mengambil buku pelajaran dan menggantinya dengan buku yang lain karena esok pelajarannya berbeda lagi dari kemarin. saat itu tangannya menemukan sesuatu. segera ia ambil dan melihatnya. rupanya itu adalah kalung yang pernah dibelinya di pasar malam. satu untuk starla dan satunya lagi untuk Alana namun ternyata ia lupa memberikan kalung itu kepada adiknya.
El menyimpan kalung itu di laci meja belajarnya kemudian mengambil buku lagi namun seketika ia tersentak dan mengingat sesuatu.
(oh iya. kalung yang aku dapat di rumah paman Zidan dimana ya)
El mulai mencari setiap laci mejanya, di tempat rak bukunya namun kalung itu tidak ia dapatkan.
(aku simpan dimana sih...?)
ia mulai sibuk mencari. bahkan semua isi tasnya ia keluarkan namun sama sekali tidak ada kalung itu di sana.
"cari apa...?"tanya Adam yang sedang memainkan kukunya saat melihat El mengobrak-abrik peralatannya
"kalung. elu lihat nggak...?"
"kalung yang bagaimana...?"
"kalung yang tulisannya. aah dapat, akhirnya" El menemukan kalung itu di tas sekolah yang satunya
"kalung ini.... DIRGANTARA" El memperlihatkan kalung itu kepada Adam yang seketika terdiam mematung menatap El
wuuusshh
braaak
braaak
seketika angin berhembus kencang, bahkan kaca jendela kamar El dihantam keras oleh angin itu.
"loh kenapa nih"
El kaget. gorden jendelanya menari-nari di tiup angin. iya melangkah menutup jendela agar angin tidak masuk lagi ke dalam kamarnya. saat berbalik jantungnya hampir melompat dari tempatnya. ia kaget bukan main saat melihat Adam bajunya sudah di penuhi darah yang terus mengalir dari kepalanya. bukan hanya itu, dari mulut hantu itu juga keluar darah pekat nam merah.
"astagfirullahaladzim, A-Adam" El tergagap dan menutup mulutnya. tubuhnya kaku bahkan bergetar
"t-tolong" suara lirih Adam meminta tolong. ia ulurkan tangannya ke arah El
"t-tolong"
El berjalan cepat dan memeluk hantu itu. namun sayangnya saat hendak menyentuh tubuh Adam, hantu itu hilang seketika.
"Adam" El mencari sekeliling kamarnya
"Adam" teriak El dengan kerasnya
"Adaaaaam"
__ADS_1