Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 158


__ADS_3

"jadi dimana rumahmu...?" tanya Adam saat mobilnya kembali bergerak


"di depan sana ada lorong sebelah kanan, masuk ke lorong itu dan berhenti di depan rumah cet warna abu-abu, ada pohon kelapa di depannya" Deva memberitahu


setelah bertemu lorong, Adam membelokkan mobilnya. mobil Bara menyusul dari belakang hingga kemudian keduanya berhenti di sebuah rumah yang dimaksud oleh Deva. rumah cet warna abu-abu, beberapa pohon kelapa berjejer rapi di halaman rumah. ada juga satu gazebo yang digunakan untuk tempat bersantai di depan rumah.


mereka semua turun dari mobil, seorang wanita yang mendengar suara deru mesin mobil langsung membuka pintu dan keluar menyambut kedatangan mereka.


"assalamualaikum bibi" Seil melangkah mendekati wanita itu, ibu Nurma yang dipanggilnya bibi


"wa alaikumsalam. ya ampun, ponakan bibi sudah lama tidak bertemu" ibu Nurma memeluk Seil


Deva pun mendekati ibunya, wanita itu langsung memeluk Deva dan mencium seluruh wajah putranya itu. Deva mencium kedua pipi ibunya dan juga tangannya kemudian kembali memeluknya.


"bagaimana kabar ibu...?" tanya Deva dengan lembut


"ibu baik, kamu bagaimana. kenapa kurus seperti ini, apa begitu banyak tugas kuliah sampai kamu lupa makan" ibu Nurma melihat tubuh anaknya yang menurutnya kurus


"itu bukan kurus loh bi, emang bodi proposional idaman wanita ya seperti itu" timpal Seil


"pokoknya karena kamu sudah di sini, harus makan banyak biar berisi lagi. siapa yang mau sama kamu kalau kurus begini"


",jangan salah bi, yang suka sama kak Deva banyak loh ya, pada ngantri semua" Seil tertawa kecil


"benar itu nak...?"


"nggak bu, jangan percaya anak kecil"


"sembarangan, Seil udah gede ya"


Deva dan ibu Nurma tersenyum melihat Seil cemberut. Deva melihat ke arah tim samudera yang sedang berdiri memperhatikan ketiganya.


"ya Allah sampai lupa aku bawa rombongan. bu, kenalkan mereka yang aku ceritakan di telpon kemarin" Deva melihat ke arah tim samudera


"assalamualaikum bu" El mencium tangan ibu Nurma begitu juga yang lainnya


"wa alaikumsalam, wah bakal rame nih rumah ibu. ya sudah ayo masuk ke dalam, barang-barangnya dibawa masuk juga" ibu Nurma mempersilahkan


terlihat betapa wanita itu sangat memperlakukan mereka dengan baik layaknya tamu yang patut dihargai.


rumah itu hanya memiliki tiga kamar tidur, satu milik Deva, kamar orang tuanya dan satunya lagi kamar adik Deva. gadis yang sama-sama duduk seperti Seil dan Alana di bangku kelas X. dia menyambut kedatangan Seil dan yang lainnya. dirinya tadi sedang berada di dapur memasak untuk para tamu mereka.


"kak Deva" gadis itu melompat memeluk tubuh Deva saat melihat kakaknya itu


"Zahra senang banget akhirnya kakak pulang juga" ucap adik Deva yang bernama Zahra


"kangen ya...?" Deva memeluk tubuh adiknya dengan erat dan mencium pucuk kepala gadis itu


"banget" Zahra mengangguk


"memang seperti itu kalau lama tidak bertemu, Zahra akan menempel kemana saja Deva pergi" ucap ibu Nurma saat tim samudera terhanyut melihat pemandangan kakak dan adik itu


"sama seperti Lana bu, Alana juga suka nempelin kedua kakak Lana" timpal Alana


"sampai-sampai tidur pun harus dikelonin dulu, padahal udah gede" ucap Adam


"biarin, sama kakak sendiri juga" jawab Alana


"punya kakak laki-laki itu bagus, kita sebagai perempuan merasa sangat dijaga dan diperhatikan. dia pengganti ayah untuk menjaga adiknya" ucap ibu Nurma


"ya sudah kalian istirahatlah, tapi maaf ya kamar yang tersedia cuma dua. untuk laki-laki bisa tidur di kamar Deva saja dan untuk perempuan di kamar Zahra"


"di ruang tengah pun kami tidak masalah bu, sudah diterima dengan baik di sini kami sudah sangat berterimakasih" ucap El


"terus ini di simpan dimana...?" Melati menunjuk beberapa kantung belanjaan mereka tadi


"memangnya apa itu...?"


"makanan Bu, cemilan dan beberapa buah. maaf kami hanya membawa seadanya saja" Nisda menjawab


"ya ampun kenapa kalian repot-repot membawa sebanyak ini" bagi tim samudera mungkin itu tidak seberapa namun bagi ibu Nurma belanjaan mereka sangat banyak


"nggak apa-apa bu, kebetulan kami tadi melewati minimarket. karena ada yang mau dibeli jadi sekalian saja untuk di sini" ucap Starla


"mashaa Allah, terimakasih banyak ya. kalau begitu bawa saja di dapur nanti sebagian dimasukkan ke dalam kulkas" ucap ibu Nurma


Starlet dan Nisda berniat membawa belanjaan mereka ke dapur namun ibu Nurma melarang dan meminta mereka untuk istirahat saja. hari sudah semakin sore, pastinya mereka akan sangat lelah telah melakukan perjalanan jauh.


"tidak usah nak, biar ibu dan Zahra saja nanti yang membereskan ini. kalian masuk ke dalam kamar saja untuk istrahat"


"Zahra, Deva antara mereka ke kamar kalian"


"baik bu" jawab Deva dan Zahra


kamar Deva dan Zahra bersampingan, para perempuan masuk ke dalam kamar Zahra sedangkan laki-laki masuk ke dalam kamar Deva.


"kamar kamu cantik sekali" puji Melati saat memasuki kamar Zahra


"ini kak Deva yang hias" jawab Zahra


"beruntungnya kamu punya kakak seperti kak Deva" ucap Starla merasa iri ingin mempunyai saudara


"kakak tidak punya saudara...?" tanya Zahra


"nggak, aku anak tunggal" jawab Starla


"syukuri apa yang kakak miliki. kakak mungkin tidak mempunyai saudara tapi ada orang tua yang sangat sayang sama kakak"


"iya, kamu benar. papa aku sayang banget sama aku" Starla tersenyum


"lagi pula meskipun nggak mempunyai kakak laki-laki, tapi sekarang aku sudah mempunyai kakak perempuan" Starla merangkul Melati

__ADS_1


"lah tadi kakak bilang anak tunggal" Zahra menjadi bingung


"kami bukan saudara kandung tapi bagiku dia sudah seperti saudara ku sendiri" jawab Starla


"aaaa so sweet" Melati memeluk Starla


"kalau begitu kalian istirahatlah, kalau di ranjang tidak cukup, itu ada kasur yang disediakan untuk tidur di bawah. maaf ya, kamar aku sempit" Zahra tidak enak hati


"nggak masalah Zahra, yang penting nyaman itu aja udah cukup" timpal Alana


"kalau begitu aku keluar dulu ya, mau bantu-bantu ibu di dapur"


"iya"


saat Zahra keluar dari kamarnya, saat itu juga Adam keluar dari kamar Deva. Adam tersenyum begitu juga dengan Zahra.


"kamar mandi dimana ya...?" tanya Adam


maklumlah di rumah itu kamar mandi hanya ada satu dan itupun ada di belakang dekat dapur. kamar Zahra dan Deva tidak mempunyai kamar mandi seperti rumah mereka, jadi saat akan membuang hajat mereka harus keluar dari kamar dulu dan menuju dapur.


"di belakang kak, ayo aku antar" jawab Zahra


Zahra berjalan lebih dulu dan Adam mengikutinya. di sana ada ibu Nurma yang sedang mengupas bawang di meja makan sederhana.


"itu kamar mandinya" tunjuk Zahra di sebelah kiri


saat memasuki area dapur, kamar mandi terletak di bagian kiri. meja makan bersebelahan dengan tempat memasak, kadang kalau sedang mengerjakan sesuatu untuk dimasak, ibu Nurma atau Zahra akan duduk di kursi meja makan.


"kamu tidak istrahat...?" ibu Nurma bertanya saat Adam keluar dari kamar mandi


"nggak bu, nanti malam saja sekalian" Adam menghampiri ibu Nurma dan Zahra


"nama kamu siapa...?" tanya ibu Nurma. mendengar ibunya menanyakan nama Adam, Zahra melirik sekilas ke arah Adam yang sedang duduk di hadapannya dan terhalang meja


"Adam bu" jawab Adam ramah


"yang tadi itu adiknya ya"


"yang mana bu...?"


"itu, yang bilang katanya suka nempelin kedua kakak laki-lakinya"


"oh iya, dia adik aku namanya Alana. kalau adik aku yang satunya, tadi laki-laki yang pakai baju putih, namanya El-Syakir"


Zahra sesekali terus melirik Adam dan saat Adam melihat ke arahnya, gadis itu akan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Adam.


"Zahra sekarang kelas berapa...?" tanya Adam melihat gadis itu


"kelas X kak" jawab Zahra malu-malu


"kamu seumuran Alana kalau begitu" Adam tersenyum dan itu membuat Zahra salah tingkah


"ibu mau masak apa...?" Deva datang bergabung


"Zahra kamu gantikan ibu sebentar ya, ibu mau pergi ambil ikan dulu sama pak Ujang. ikannya kok dari tadi nggak dibawa sampai sekarang"


"nggak usah bu, biar Deva saja yang pergi ambil" Deva melarang ibunya


"nggak usah, kamu susul ayah ke toko, biasanya jam segini udah mau tutup. motor ayah rusak dan masih di bengkel"


"biar Zahra aja Bu yang ambil ikannya, sekalian Zahra mau mengembalikan uang Wulan yang Zahra pinjam kemarin" Zahra beranjak dari duduknya


"boleh aku ikut...?" Adam bersuara


"kak Adam tidak capek...?" tanya Zahra


"nggak, aku ikut ya. aku ingin melihat suasana desa ini di sore hari" ucap Adam


Zahra melihat ke arah Deva berniat meminta izin dan Deva mengangguk mengizinkan. ketiganya keluar rumah untuk ke tujuan masing-masing. Deva mengendarai motornya menjemput ayahnya sedangkan Adam dan Zahra akan ke rumah pak Ujang mengambil ikan.


"jauh ya...?" tanya Adam


"lumayan, kalau kakak capek nggak usah ikut"


"nggak apa-apa. sayangnya aku bawa mobil, kalau ada motor bisa pakai motor saja"


keduanya meninggalkan rumah, yang lain masih berada di dalam kamar sedang istrahat.


mereka menyusuri lorong itu dan saat keluar lorong, mereka mengambil jalan kanan karena kalau kiri adalah jalan keluar dari desa menuju jalan raya. Adam melihat ke belakang, dirinya masih melihat anak-anak yang diberinya uang tadi sedang bermain, berlari ke sana ke mari.


setiap yang berpapasan dengan mereka, akan menyapa dan tersenyum ramah. itulah kehidupan di desa, beda halnya dengan di kota yang kadang tetangga pun tidak saling kenal satu sama lain.


"wah jauh juga ya" ucap Adam, mereka sudah sangat jauh dari lorong


"tidak lama lagi kita sampai" ucap Zahra


"sekolah kamu dimana...?"


"dua kilo dari desa ini kak"


"dan kamu jalan kaki...?" Adam bertanya cepat


"tidak, Zahra diantar sama bapak setia harinya. kalau nggak sempat, Zahra naik ojek"


"ooh, kirain kamu jalan kaki. gadis secantik kamu jangan jalan sendirian, nanti diculik bisa bahaya"


mendengar Adam mengatakan dirinya cantik, Zahra tersipu malu bahkan pipinya merah padam. padahal memang seperti itu Adam orangnya, bukan bermaksud menggombali namun itu kenyataan yang ia lihat.


mereka berdua sampai di sebuah rumah yang berdindingkan papan. di desa itu memang masih ada yang tinggal di rumah seperti itu dan bahkan masih banyak.


"assalamualaikum, paman Ujang" Zahra memberikan salam

__ADS_1


"seperti nggak ada orangnya" ucap Adam saat tidak ada yang menjawab salam Zahra


"paman...paman Ujang" Zahra kembali memanggil


"paman Ujang kemana ya" gumam Zahra


di belakang rumah itu adalah semak belukar dan lebih masuk ke dalam lagi adalah hutan. Adam melihat ke arah belakang rumah, nampak tidak ada siapapun di sana. sudah pukul 5 sore, matahari mulai akan tenggelam di ufuk barat.


"paman Ujang" sekali lagi Zahra bersuara namun tidak ada sahutan


"kita pulang saja kak, paman Ujang tidak ada di rumah"


"ya sudah"


Adam dan Zahra berbalik untuk meninggalkan rumah namun kemudian terdengar suara deritan pintu yang dibuka.


"nak Zahra" panggil pak Ujang yang berdiri di depan pintu


Adam dan Zahra berbalik, mereka berdua mendekat pak Ujang.


"paman Ujang darimana, dari tadi loh Zahra manggil-manggil paman" ucap Zahra


"paman dari hutan belakang rumah" jawab pak Ujang


"ngapain di hutan itu paman, di situ kan serem"


"kamu masih percaya saja dengan itu. ini...?" pak Ujang melihat Adam


"aku Adam paman, teman Deva. kebetulan aku dan teman-teman yang lain ada urusan di tempat ini" Adam memperkenalkan diri karena sudah pasti pak Ujang penasarannya dengan dirinya


"oh, Deva pulang ya sekarang" ucap pak Ujang


"iya paman, baru tiba tadi. Zahra ke sini mau ambil ikan paman"


"Oalah sebentar, paman sampai lupa membawakan ikan ibumu" pak Ujang masuk ke dalam rumahnya


"jadi ini berapa paman...?" tanya Zahra


"40 saja"


Zahra merogoh uang di kantung celananya dan memberikan uang itu kepada pak Ujang.


(hawa rumahnya panas sekali) batin Adam merasakan hawa panas dari rumah pak Ujang


"terimakasih nak Zahra" ucap pak Ujang


"sama-sama paman, kami pamit pulang ya"


"iya"


"ayo kak"


Zahra melangkah lebih dulu, Adam sesekali melihat ke rumah pak Ujang hingga kemudian mereka semakin jauh dari rumah laki-laki itu.


"kita singgah di rumah teman Zahra dulu ya"


"yang mana...?"


"tuh" Zahra menunjuk sebuah rumah bercat hijau muda


"assalamualaikum"


"wa alaikumsalam"


"loh Zahra, darimana...?" seorang gadis yang seumuran dengan Zahra membuka pintu dan bertanya


"biasa, dari rumah paman Ujang. nih, aku mau balikin uang kamu" Zahra memberikan uang kepada gadis itu


"cepat banget, kapan-kapan kan bisa Ra"


"aku nggak enak kalau kelamaan"


"terus ini siapa...?" Wulan melihat ke arah Adam


"dia kak Adam teman kak Deva" Zahra memperkenalkan Adam kepada Wulan, Adam tersenyum ramah


"dari kota ya...?" tanya Wulan


"iya, kok kamu tau" jawab Adam


"karena bapak aku dukun, hehehe" Wulan tertawa pelan begitu juga dengan Adam


"wah anak Mbah dukun dong, bisa bahaya nih. nanti aku disembur" gurau Adam


"hahaha, kak Adam bisa saja. kapan-kapan main ke rumah aku ya kak" ucap Wulan


"boleh, tapi aku datang nggak sendirian tapi serombongan" jawab Adam


"ya nggak apa-apa, lebih bagus malah. biar aku punya teman anak dari kota" celetuk Wulan


"tapi kalau kami datang, nggak bakalan di santet kan sama bapak kamu"


"hahaha, ya ampun kak... percaya aja sama kata-kata aku" Wulan semakin tertawa lebar


baru saja bertemu tapi keduanya sudah sangat terlihat akrab, Zahra bahkan heran Adam begitu cepat akrab dengan orang lain.


"kalau gitu kami pulang dulu ya Lan, udah mau magrib" ucap Zahra


"iya...iya, kalian pulang gih. baru ingat kalau udah magrib. aku mau kasi menyala obor dulu"


"obor...? emang nggak ada lampu ya...?" tanya Adam

__ADS_1


"ayo pulang kak" Wulan tidak menjawab, Zahra segera menarik Adam untuk pergi meninggalkan tempat itu


di perjalanan pulang Adam begitu heran, setiap masing-masing rumah, mereka menyalakan obor yang terbuat dari bambu di depan rumah masing-masing. padahal listrik telah masuk di desa itu namun kenapa masih menyalakan obor, itu menjadi tanda tanya besar di kepala Adam


__ADS_2