
di kamar yang cukup luas, seorang wanita terbaring dengan selang oksigen di hidungnya dan juga selang infus yang ada di tangannya. wanita itu adalah Vania, istri dari Zidan Sanjaya yang sampai saat ini belum sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan yang menimpanya bersama suaminya.
tak
tak
tak
langkah kaki seseorang terdengar begitu keras memenuhi ruangan yang ia masuki. setiap lantai yang ia injak, bunyi sepatunya akan terdengar jelas.
Gibran melangkah masuk ke dalam kamar yang ditempati Vania. ia mendekat dan menatap datar wanita itu.
"bagaimana keadaannya...?" tanya Gibran kepada salah seorang dokter yang menangani Vania
"dia koma" dokter laki-laki itu menjawab
"berapa persen kemungkinan dia akan selamat...?" tanya Gibran
dokter yang mempunyai papan nama Nathan di jas putih miliknya menghela nafas dan membuangnya dengan pelan.
"atau dia tidak akan selamat...?" tanya Gibran lagi
"semua kehidupan manusia hanya Tuhan yang menentukan, aku hanya berusaha semampu yang aku bisa. setelah menyelamatkan bayinya, dia mengalami pendarahan dan juga benturan dikepalanya yang begitu keras membuat kami harus melakukan tindakan operasi. keselamatan baginya kemungkinan akan kecil tapi tuan Baharuddin memaksa untuk melakukan operasi dan hasilnya jadi seperti ini. entah kapan dia akan bangun atau mungkin dia tidak lagi akan bangun, hanya Tuhan yang dapat menentukan" dokter Nathan menjelaskan apa yang terjadi kepada Vania
"lalu bayinya bagaimana...?" tanya Gibran
"seperti yang kamu katakan, aku membawanya ke rumah dan mengurusnya bersama istriku" jawab dokter Nathan
"dia tidak tau kalau bayi itu selamat kan...?" Gibran menatap lekat dokter Nathan
"tidak, bukannya kamu yang melarangku untuk memberitahunya. lagi pula memangnya kenapa andai dia tau...apakah perlu diberitahu sekarang kalau...."
"jangan" Gibran memotong cepat ucapan dokter Nathan
"biarkan bayi itu tetap bersama kalian sampai aku datang mengambilnya" lanjut Gibran lagi
dokter Nathan mengehala nafas lagi kemudian mengeluarkannya dengan kasar.
"dia laki-laki, sangat tampan seperti ayahnya. aku tidak ingin berurusan lebih jauh lagi dengan masalah ini Gibran. cukup sampai di sini peranku untuk membantumu"
"maaf Nathan, tapi aku butuh kamu untuk mengawasi keadaan dia" Gibran beralih melihat Vania
"rupanya pak Baharuddin memang orang yang benar-benar psiko, tega melakukan hal seperti ini kepada wanita hamil"
"jangan berbicara kasar seperti itu, mulutmu akan membawa celaka bagimu"
"kenapa, apa kamu akan melaporkan ku padanya...?"
Gibran tidak menjawab namun ia mendekati Nathan dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"tetap waspada Nathan, aku tidak bisa menjagamu 24 jam. pastikan bayi itu aman bersama kalian, dan jangan pernah mengatakan apapun padanya" bisik Gibran di telinga dokter Nathan
"kenapa kamu...."
sssttt
cek lek
Gibran mengkode agar Nathan tidak bersuara. saat itu juga pintu kamar terbuka, seseorang masuk menghampiri mereka.
"dia belum mati...?" tanya Aris, mantan suami Sisil kepada dokter Nathan
"dia koma" jawab dokter Nathan
"hhh, suami istri sama-sama koma. baguslah, semoga saja mereka mati dengan cepat" Aris tersenyum menyeringai melihat Vania
"kamu, dipanggil sama ayah" Aris beralih menatap Gibran
"dimana dia...?" tanya Gibran
"di depan" jawab Aris
Gibran segera melenggang pergi keluar dari kamar sementara Aris dan dokter Nathan masih berada di dalam.
"dokter Nathan" panggil Aris
"ada apa pak...?" Nathan bersikap tenang
"bayi wanita ini apa sudah kamu kuburkan...?"
"sudah pak, seperti yang pak Aris perintahkan"
"bagus" Aris menepuk bahu dokter Nathan dan kemudian melangkah mendekati Vania
"Zidan telah kehilangan calon penerus, dan sepertinya sebentar lagi dia akan kehilangan istrinya yang malang ini" Aris membelai wajah Vania yang pucat
Gibran melangkah dengan cepat ke ruang keluarga yang begitu besar. di sana, seorang laki-laki dan seorang wanita sedang duduk menunggunya.
"bos" Gibran menunduk hormat
"duduklah" ucap Baharuddin
Gibran duduk di sofa yang tidak jauh dari keduanya. ratu Sri Dewi menatap lekat laki-laki itu namun tidak membuat Gibran salah tingkah sedikitpun.
"sangat disayangkan anak Zidan meninggal, kalau tidak kita bisa menggunakan anak itu untuk mengambil alih Sanjaya grup" Baharuddin mengisap rokoknya di tangan kiri sementara tangan kanannya yang kedua jarinya tidak utuh, berada di atas pahanya
"kita masih bisa menggunakan cara lain" ucap Gibran
__ADS_1
"gunakan saja wanita itu untuk mendesak mereka" ratu Sri Dewi bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Gibran
wanita itu berdiri di belakang Gibran dan memegang pundaknya sementara Gibran hanya melirik tangan putih wanita itu yang ada di bahunya.
"kirim pasukan sebanyak mungkin untuk menghabisi mereka, malam ini juga" ratu Sri Dewi berbisik di telinga Gibran
"apa kita akan membunuh mereka bos, bukannya rencana kita tidak seperti itu" Gibran keberatan
"lakukan apa yang menurut ratu kegelapan katakan" Baharuddin mematikan rokoknya dan bersandar di sofa
"baiklah. dan ada yang ingin saya sampaikan"
"katakan"
"saya bertemu dengan seseorang yang mempunyai dendam dengan Zidan, dia begitu ingin menghabisi Zidan karena perbuatannya kepada laki-laki itu. menurut saya bagaimana kalau kita ajak dia bergabung bersama kita" ucap Gibran, yang dia maksud adalah Furqon yang dikenalnya sebagai Abimana Aryasatya
"jangan gegabah menerima seseorang, bisa saja dia adalah salah satu dari anak buah Zidan" ratu Sri Dewi kembali ke tempat duduknya
"benar, kalau memang dia mempunyai dendam dengan Zidan maka pastikan dulu asal usulnya dan juga bawa dia dihadapan ku" Baharuddin membenarkan apa yang dikatakan oleh ratu Sri Dewi
"baik, akan saya bawa dia bertemu dengan bos" Gibran setuju
Baharuddin beranjak begitu juga dengan ratu Sri Dewi. keduanya meninggalkan Gibran namun kemudian langkah Baharuddin terhenti dan ia berbalik melihat orang kepercayaannya itu.
"siapkan apa yang dikatakan ratu Sri Dewi tadi" ucap Baharuddin
"baik bos" Gibran menunduk memberi hormat
setelah itu Baharuddin dan ratu Sri Dewi meninggalkan tempat itu. hanya dalam satu kedipan mata, keduanya menghilang dari pandangan Gibran.
"apa yang dikatakan ayah padamu...?" Aris datang menghampiri Gibran
"malam ini kita akan menyerang kediaman Sanjaya grup" Gibran menjawab dan berlalu di hadapan Aris
"hmm, sepertinya akan menyenangkan" Aris tersenyum menyeringai
tim samudera tiba di alam gaib istana karing-karing. mereka memasuki wilayah kekuasaan ratu Sundari, penguasa hutan timur.
gerbang yang menjaga telah mengenal anak-anak itu sehingga mereka di izinkan untuk masuk terlebih lagi mereka melihat Melati ada bersama mereka.
"kalian datang lagi" Senggi menyambut kedatangan mereka
"aku ingin bertemu dengan ratu" ucap Adam
"iku aku"
Senggi berjalan di depan sementara tim samudera di belakang wanita itu. danau yang airnya jernih begitu indah di pandang. angsa putih berenang di danau itu. pemandangannya masih sama seperti pertama kali mereka datang.
Senggi membawa tim samudera di taman belakang istana. di sana wanita yang mereka ingin temui sedang duduk bersemedi di atas batu dan menutup matanya.
"apa yang sedang ratu lakukan...?" tanya Alana saat melihat wanita itu duduk bersila di atas batu
Adam mendekati ratu Sundari dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"ratu" panggil Adam dengan pelan
ratu Sundari membuka matanya, ia melihat Adam sedang tersenyum menatap ke arahnya. wanita itu juga melihat yang lain berada jauh darinya.
ratu Sundari menghentikan semedinya dan melayang turun dari atas batu. wanita cantik itu tersenyum manis kepada Adam.
(hais...pengen aku bungkus bawa pulang ya Allah) batin Adam yang geregetan melihat senyuman manis ratu Sundari
"kenapa malah melamun...?" ratu Sundari membuyarkan lamunan Adam
"ratu cantik" ucap Adam dengan jujur
"astaga, dia malah menggombal" Nisda geleng kepala
"ada apa datang menemuiku...?" tanya ratu Sundari
"apakah aku harus punya alasan untuk datang menemui wanitaku...?" tanya Adam balik
"kamu selalu saja membalikkan pertanyaan" ratu Sundari menggeleng kepala
"ikut aku" ucap ratu Sundari
ratu Sundari membawa mereka di sebuah pohon yang begitu besar dan rindang. angin sepoi-sepoi di tempat itu begitu menenangkan hati dan pikiran.
"kalian pasti punya tujuan datang kemari bukan" ucap ratu Sundari
di atas rumput yang hijau dan lembut, mereka semua duduk tempat itu sementara ratu Sundari duduk bersila di depan mereka, ada Senggi yang menemaninya
"kami membutuhkan bantuan mu ratu" Melati menjawab pertanyaan ratu Sundari
"bantuan apa...?" tanya ratu Sundari
"begini" ucap El-Syakir
El-Syakir menceritakan apa yang mereka alami sehingga harus membutuhkan bantuan wanita itu. penyamaran yang ia dan lakukan memerlukan bantuan sihir dari ratu Sundari.
"itu akan sulit" ucap ratu Sundari
"sulit bagaimana, bukankah ratu tinggal membuat mereka tidak dikenali oleh ratu Sri Dewi dan Baharuddin" ucap Bara
"tidak segampang itu mengelabui Sri Dewi. dia sudah mencium bau energi yang ada di dalan tubuh kalian semua. El-Syakir dan Adam akan ketahuan saat bertemu dengannya karena kalian semua pernah menghadapinya" ratu Sundari menjelaskan
"kalau begitu buat kami agar ratu Sri Dewi tidak dapat mencium bau energi kami" ucap Adam
__ADS_1
"kalian harus mandi berendam di sungai Kaligasan" ucap ratu Sundari
"hanya mandi saja tentu kami akan sanggup" El-Syakir meyakinkan diri
"selama satu hari satu malam, kalian akan berendam di sana. bukan masalah mandinya yang menjadi permasalahannya tetapi air dinginnya yang seperti es, apakah kalian akan sanggup atau tidak" ratu Sundari menatap serius ke arah El-Syakir dan Adam
"kami siap ratu" Adam menjawab dengan penuh keyakinan
"bagaimana denganmu El-Syakir...?" tanya ratu Sundari
"saya siap ratu, sudah sejauh ini tentu saya akan siap" El-Syakir menjawab
"baiklah, kita pergi ke sungai Kaligasan sekarang juga" ratu Sundari mendekati Adam dan memegang tangannya, mereka berdua menghilang dari pandangan tim samudera
"heh, kemana mereka pergi...?" Leo celingukan mencari Adam dan ratu Sundari
"mereka telah pergi lebih dulu. kalian ikut aku saja" ucap Senggi
ratu Sundari dan Adam tiba di sungai Kaligasan, sungai yang begitu jernih airnya.
Adam bingung kenapa hanya dirinya yang dibawa pergi oleh ratu Sundari.
"mana yang lain ratu...?" tanya Adam mencari keberadaan tim samudera
"mereka bersama Senggi" jawab ratu Sundari
"terus, kenapa kita tidak bergabung bersama mereka...?"
"kamu tidak suka berdua denganku...?"
"tentu saja aku suka" Adam tersenyum
ia mendekati ratu Sundari dan memegang kedua tangan wanita itu.
"aku akan berusaha mendapatkan tubuhmu kembali" ucap Adam menatap manik mata ratu Sundari
"andai aku bisa melacak keberadaan mereka, tentu kamu tidak akan susah seperti ini" ratu Sundari merasa tidak berguna
"kamu sudah banyak membantu kami ratu, biarkan kami berusaha kali ini. aku hanya meminta kamu mengawasi kami dari bahaya yang akan mengintai kami"
"tidak sedikitpun kamu terlepas dari pengawasanku Adam"
"oh ya...?" Adam menaikkan satu alisnya
"kenapa, kamu tidak percaya...?"
"tentu saja aku percaya, aku selalu percaya padamu walaupun kamu pernah membuat kepercayaan itu luntur"
"maaf, aku...."
"hei...tidak perlu dipikirkan. kamu kembali menerimaku itu sudah sangat cukup. kamu tau, aku sangat bahagia saat Senggi mengatakan kalau ratu adalah manusia sepertiku. itu artinya kita akan bersama bukan jikalau tubuhmu berhasil ditemukan"
"apa kamu sangat berharap seperti itu Adam...?"
"setiap saat aku selalu berharap seperti itu"
"bagaimana jika tubuhku selamanya tidak bisa ditemukan"
"jangan menyerah dulu. kita akan berjuang bersama. kamu mau kan berjuang bersamaku, ratuku...?" Adam mengedip-ngedipkan matanya membuat ratu Sundari tersenyum dan mengangguk
"boleh aku peluk...?" Adam sudah merentangkan kedua tangannya
"hei, tujuan kita ke sini bukan untuk pacaran kelles" Vino mencibir
Melati tidak dapat lagi berbuat apa-apa. dia mulai menerima kenyataan jika sampai kapanpun Adam tetaplah milik ratu Sundari, wanita yang telah membuat pewaris tunggal Sanjaya grup itu tidak ingin berpaling dari wanita lain.
"suka-suka akulah, mengganggu saja kalian ini" Adam menurunkan tangannya dan cemberut, aksinya digagalkan oleh tim samudera
"bisa kita mulai ratu...?" tanya El-Syakir
"baiklah, kalian berdua lepas baju kalian" ratu Sundari memerintah
"celana juga...?" tanya Adam polos
"hei, iya kali lu mau buka celana" Starla memekik saat Adam akan menurunkan celananya
"ooh, tidak ya. aku pikir buka celana, hihihi" Adam cekikikan sementara ratu Sundari geleng kepala
"hiii... amit-amit" Nisda mencebik
mereka mendekati sungai yang airnya begitu jernih. El-Syakir dan Adam akan masuk ke dalam sungai tersebut. baru kaki saja yang terkena air sungai, Adam sudah melompat mundur.
"kenapa lu...?" tanya Vino
"ondeh Mandeh.....bisa jadi es batu kita El" ucap Adam
Alana memasukkan tangannya ke dalam sungai, benar saja air sungai itu begitu dingin seperti es.
"bisa beku kak Dirga sama kak El kalau masuk ke dalam" ucap Alana menarik tangannya yang dingin
"terus gimana, kak Dirga nggak jadi gitu berendamnya...?" tanya Bara
"ratu, apakah airnya tidak bisa dihangatkan" Adam meminta kepada ratu Sundari
"nasi kali dihangatkan dam, ada-ada saja" Leo mencibir
"masuklah, sedingin bagaimanapun...tidak akan membuat kalian masuk angin dan sakit. setelah keluar dari sungai ini, Sri Dewi tidak akan dapat mencium energi dari kalian berdua" ucap ratu Sundari
__ADS_1
meskipun berat, Adam dan El-Syakir pada akhirnya masuk ke dalam sungai. hal pertama yang mereka rasakan adalah kulit keduanya seperti terkena es batu yang begitu dingin.
untuk mendapatkan hasil yang mereka lakukan tentu mereka harus dapat lulus dalam ujiannya terlebih dahulu.