
ruangan El-Syakir kini tampak ramai karena semua teman-temannya. harusnya saat sakit maka keadaan kita akan semakin menurun namun tidak dengan El-Syakir. sejak kedatangan Adam, ia bahkan tidak merasa sakit lagi dan bahkan ingin segera pulang ke rumah.
Alana tampak lengket dengan Adam. gadis itu bahkan tidak ingin berjauhan dengan kakaknya itu. begitulah Alana, saat bersama El-Syakir pun dia akan tampak manja dan lengket. namun saat ini dirinya tidak bisa bermanja dengan El-Syakir karena kondisi kakaknya yang belum terlalu pulih.
"nggak nyangka banget elu bisa kembali dam, kami pikir kami sudah kehilangan kamu selamanya" Vino mengawali percakapan
"iya, apalagi saat itu kami mendengar kabar kalau elu sempat kritis dan...... elu akhirnya pergi" Leo menimpali
Adam hanya tersenyum melihat semua teman-temannya. dan sampai akhirnya matanya terhenti kepada seorang gadis yang juga sejak tadi sedang menatapnya.
"apa kabar Melati...?" tanya Adam tersenyum
"baik.... sangat baik" jawab Melati membalas senyuman Adam
"5 bulan tidak bertemu kamu sekarang sudah sangat terlihat cantik" puji Adam
"makasih" Melati menjawab dengan tersipu malu karena mendapat pujian dari Adam
"dan elu, 5 bulan tidak bertemu ternyata elu sudah pandai menggoda wanita rupanya" Starla memicingkan matanya ke arah Adam
"itu bukan menggoda ya, itu namanya memuji. sejak kapan aku jadi penggoda" jawab Adam seperti tingkah yang biasanya
"elu memuji gadis lain, kalau ratu Sundari tau.... bisa digeplak pala lu" Nisda berucap
Adam menatap dengan tatapan bingung, seakan dirinya sedang mencerna apa yang dikatakan oleh gadis itu.
"kenapa kak...?" tanya Bara yang melihat Adam menatap Nisda dengan lekat
"ratu Sundari siapa...?" tanya Adam
pertanyaan Adam membuat mereka semua tercekat dan saling pandang. mereka tidak percaya, bagaimana bisa Adam lupa dengan wanita yang ia cintai itu. sang ratu, wanita cantik yang telah menarik perhatiannya dan akhirnya jatuh hati padanya.
"bukannya wanita yang bernama ratu Sundari itu, kekasih kakak ya...?" tanya Alana
Alana sudah tau semuanya, tim samudera menceritakan padanya mengenai pengalaman mistis yang selalu mereka alami dan arwah Adam yang tidak lain adalah Dirga yang mengikuti kemanapun mereka pergi.
"kekasih...?" Adam mengernyitkan keningnya
"iya" jawab mereka semua terkecuali Melati
"orangnya saja aku nggak tau, bagaimana bisa dia menjadi kekasihku" Adam menjawab
"haaah...?" mereka semua semakin tenganga
"kakak benaran nggak ingat siapa ratu Sundari...?" tanya El-Syakir
"nggak. emang dia siapa sih...?" tanya Adam meminta penjelasan
"apa iya dia amnesia setelah bangun dari koma...?" bisik Starla di telinga Vino
"bisa jadi. tapi kok dia bisa ingat kita, hanya ratu Sundari saja yang tidak dia ingat. kan aneh" jawab Vino pelan namun di dengar oleh Adam
"kalian ini main bisik-bisik tetangga nggak ngajak-ngajak, lagi gibahin aku ya...?" Adam memicingkan matanya ke arah Starla dan Vino
"hehehehe, ya nggak lah" jawab Starla
"iya nggak, nggak salah lagi" ucap Vino membuat Adam mencebik
"elu benaran nggak ingat sama ratu Sundari dam...?" tanya Leo masih penasaran
"haduuuuuh... sudah aku bilang aku ngga tau. emang dia siapa sih, rumahnya dimana. cantik macam oma Shi Min Ah nggak...?" ketengilan Adam kini mulai muncul kembali
"lebih cantik dari Shi Min Ah, Shi Min Ah mah kalah jauh" kini Melati yang menjawab
"oh ya. kalau begitu katakan dimana rumahnya, biar aku bisa mengapelinya. lumayan kan, biar aku nggak jomblo lagi" Adam melihat ke arah Melati
(kenapa Adam nggak ingat sama ratu Sundari ya. sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu. apa iya ratu Sundari menghapus ingatan Adam tentangnya...) batin Melati
bukan menjawab, Melati malah berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
"kok malah bengong sih. ohoooo aku tau, aku ganteng ya kan. kamu tersepona sama ketampanan aku kan kan kan...?" Adam menaik turunkan alisnya
"kak Dirga narsis banget sih" ucap Alana. kini gadis itu berpindah tempat memeluk El-Syakir
"terpesona udiiiiin.... terpesona. elu kalau ngomong kadang suka bikin gemas" Leo menyoyor kepala Adam
"jangan ditoyor juga palaku, kalau aku insomnia kek mana...?" kesal Adam
"AMNESIA" semua orang berteriak membenarkan ucapan Adam. mereka kesal sekaligus gemas karena Adam sampai sekarang tidak bisa membedakan makna dari kedua kata itu
"SAMA SAJA" Adam ikut berteriak, ia yang kaget karena diteriaki akhirnya membentak karena tidak mau kalah
"kembali ke TK sana elu" ucap Leo meledek
"El" Adam mengadu kepada El-Syakir. tingkah manjanya kini kambuh lagi dan sepertinya sikapnya itu terhadap El-Syakir tidak akan bisa ia hilangkan
"sini peluk" El merentangkan tangannya
segera Adam memeluk kedua adiknya, terlihat betapa mereka saling menyayangi satu sama lain. meskipun Adam kakak tertua namun nyatanya dirinya lah yang lebih bersikap manja kepada El-Syakir.
tidak lama pintu ruang perawatan El-Syakir terbuka. ibu Arini datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung menghampiri El-Syakir.
__ADS_1
"ya Allah nak. kamu kenapa bisa masuk rumah sakit sih. kenapa tidak memberitahu ibu. kamu sakit apa...?"
ibu Arini memberikan banyak pertanyaan bahkan nafasnya kini masih tersengal karena sejak di lobby rumah sakit, ia langsung berlari menuju kamar rawat El-Syakir.
"duduk dulu bu, atur nafas dulu" El-Syakir menenangkan ibunya
ibu Arini menarik nafas dan membuangnya. kemudian ia duduk di dekat El-Syakir sementara Adam dan Alana menjauh. ibu Arini belum sadar akan kehadiran Adam di tempat itu. Alana menghampiri ayah Adnan dan memeluknya. ia sangat senang akhirnya ayahnya itu bisa pulang juga.
"Lana kangen" ucap Alana memeluk erat ayah Adnan
"ayah juga kangen"
cup
ayah Adnan mencium pucuk kepala Alana. ayah Adnan merentangkan satu tangannya bermaksud mengajak Adam untuk memeluknya dan dengan senang hati Adam memeluk ayah Adnan dan Alana.
"ibu lihat siapa yang bersama ayah...?" ayah Adnan memanggil istrinya
ibu Arini melihat ayah Adnan sedang memeluk Adam dan Alana. kening Ibu Arini mengkerut tatkala melihat Adam. ia begitu heran, siapa laki-laki yang sedang memeluk suaminya itu.
"ibu tidak kenal dengan dia...?" yang ayah Adnan maksud adalah Adam
ibu Arini menggeleng, ia sama sekali belum ngeh dengan Adam sedangkan Adam sekarang sedang tersenyum manis ke arah ibu Arini.
"coba perhatikan baik-baik, masa ibu nggak kenal" ucap ayah Adnan lagi
ibu Arini memperhatikan wajah Adam. jika dilihat baik-baik, wajah Adam lebih mirip dengan ayah Adnan dan ibu Arini menjadi heran siapa sebenarnya remaja itu sampai wajahnya mirip dengan suaminya.
ibu Arini seperti pernah melihat Adam tapi dimana dirinya juga tidak ingat.
(*aku pernah melihatnya dimana ya) batin Ibu Arini tampak berpikir
"ayah, boleh aku melihat foto Dirga...?"
"tentu saja boleh, tunggu sebentar"
"nah ini dia fotonya*"
deg.....
ibu Arini langsung bangkit dari duduknya. dia ingat siapa laki-laki yang bersama mereka sekarang ini. ayah Adnan pernah menunjukkan foto Dirga pada saat dirinya masih dalam keadaan koma. waktu itu untuk pertama kali ibu Arini mengetahui kenyataan kalau selama ini anak dari suaminya itu sedang koma di rumah sakit.
"D-Dirga...?" ibu Arini bertanya memastikan
"iya bu, ini aku Dirga" ucap Adam tersenyum
"Allahu Akbar.... ya Allah, ya Allah nak" ibu Arini langsung memeluk Adam. pecah sudah tangis keduanya begitu pun yang berada di ruangan itu
"Allah.... anakku...kamu masih hidup, kamu masih hidup" ibu Arini sangat bahagia, tangis bahagianya terdengar jelas
"jadi ini yang ayah maksud kejutan untuk Ibu...?" ibu Arini melihat suaminya
"iya. bagaimana kejutannya bu, ibu suka...?" ayah Adnan bertanya
"masha Allah, ibu bahagia yah, ibu sangat bahagia. akhirnya kita semua bisa berkumpul. anakku yang pernah kemalangan akhirnya telah kembali. terimakasih Tuhan" berkali-kali ibu Arini mencium kening Adam
"sepertinya aku dilupakan" El-Syakir pura-pura merajuk dan ia memanyunkan bibirnya
"eh astagfirullah, sampai lupa kalau ada putra ibu yang lagi sakit" ibu Arini menggandeng tangan Adam dan menghampiri El-Syakir
ayah Adnan dan Alana pun menghampiri mereka, kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka semua. mereka berpelukan dan saling melepas rindu.
"aaaah gue jadi ikutan melow" Starla mengusap air matanya
"sini peluk" Vino merentangkan tangannya
"hiks... hiks" Starla masuk ke pelukan Vino
sroooot
"ampun yaaaank, kok kamu malah buang ingus di baju aku sih" keluh Vino
"hehehehe, maap yank, aye khilaf" Starla cengengesan sedang Vino memutar bola matanya
setelah tadi membuang air mata, kini mereka semua mulai kelaparan. ayah Adnan memesan makanan untuk mereka semua.
"yah, aku mau minuman melati ya" Adam mulai request
"nggak pernah bisa makan kalau nggak ada melati ya kak" bisik El-Syakir di telinga Adam
"ho'oh.... melati itu separuh dari hidup aku" jawab Adam pelan
"minuman apa yang rasa melati...?" ayah Adnan bingung
"ada kok yah, banyak malah" El-Syakir menjawab
"ho'oh banyak, teh melati aja ada kok" sahut Adam
"kalau Melati yang sono, elu nggak mau dam...?" Vino berucap pelan dan melihat ke arah Melati yang sedang bersama teman perempuan mereka yang lain
Adam melihat ke arah Melati dan saat yang sama gadis itu juga melihat ke arah Adam. Adam tersenyum dan Melati menjadi kikuk kemudian menundukkan kepala karena malu.
__ADS_1
(malu-malu meong dia) batin Adam
"ekhem" Leo berdehem membuat Adam menoleh
"batuk....? di komix aja" ucapnya santai
ayah Adnan memesan makanan sekaligus minuman yang direquest oleh Adam. setelah makanan mereka datang, mereka semua malam malam bersama. pukul 22.00 ayah Adnan dan ibu Arini pulang, mereka akan kembali lagi esok hari sementara yang menjaga El-Syakir tentu saja tim samudera.
"kak, bisa ceritakan kenapa sampai kakak kembali lagi. karena saat ayah ke LN menjenguk kamu, ayah mengabari kalau kakak udah nggak ada" El-Syakir meminta penjelasan kepada Adam
"jadi sebenarnya itu begini"
flashback
📞Zidan
halo Ed, ada apa...?
📞Edward
Zi, Dirga udah nggak ada
📞Zidan
apa maksudmu Ed...?
📞Edward
Dirga sudah tidak ada Zidan, aku tidak bisa mengembalikannya
seketika tubuh Zidan merosot ke bawah. jantungnya berdegup kencang dan air matanya mulai membasahi wajahnya.
ia menutup panggilan dan berlari ke luar untuk mencari ayah Adnan. kabar buruk itu harus sampai di telinga ayah Adnan dan mereka malam itu harus segera terbang menuju tempat pengobatan Adam.
"bi, lihat pak Adnan...?" tanya Zidan kepada ART di rumah itu
"di kamarnya pak" jawab ART
dengan berlari, Zidan menuju kamar ayah Adnan dan mengetuk pintu warna putih itu.
tok... tok... tok
"mas Adnan" panggil Zidan
ayah Adnan yang mendengar suara Zidan langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"ada apa Zidan...?"
"mas, kita harus ke LN sekarang juga. Dirga kritis" jawab Zidan.
sengaja Zidan tidak memberitahu ayah Adnan bahwa Adam sudah tidak ada agar pria itu tidak shock dan panik.
mendengar Adam kritis, ayah Adnan segera pamit kepada istrinya begitu juga dengan Zidan. mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi milik Sanjaya grup.
beberapa jam di dalam pesawat, akhirnya mereka tiba di bandara. setelah mendarat, keduanya langsung di jemput dan di bawa ke rumah sakit.
tiba di rumah sakit, ayah Adnan dan Zidan langsung berlari menuju lift untuk ke ruangan Adam.
braaaak
pintu terbuka lebar, nafas ayah Adnan terengah-engah dan dirinya semakin terpukul saat melihat Adam telah di tutup dengan kain putih.
ayah Adnan berjalan pelan menghampiri Adam dan saat kain itu dibuka nampaklah wajah Adam yang sangat pucat tanpa aliran darah.
pecah sudah tangis ayah Adnan, ia memeluk Adam dengan erat. tubuh Adam sudah dingin dan bahkan sudah menjadi kaku. Zidan pun tidak bisa menahan tangisnya.
malam itu mereka memberitahu semua orang yang berada di tanah air bahwa Adam telah pergi meninggalkan mereka.
tubuh Adam kembali ditutup oleh kain. Zidan menyiapkan kepulangan mereka saat itu juga. namun kuasa Tuhan, saat hendak membawa Adam untuk meninggalkan rumah sakit, tiba-tiba saja Adam mengerang dan tentu itu membuat Edward kaget begitu juga dengan Cecil.
"kamu dengar...?" Edward melihat Cecil
"iya, dia... bersuara" jawab Cecil
"uuugghh"
kembali suara itu terdengar, dengan cepat Edward membuka kain yang menutup tubuh Adam. saat itu juga Edward menganga tidak percaya, kalau Adam bisa bangkit kembali dari kematian.
mata Adam terbuka namun dirinya tidak bisa bergerak sama sekali, bola matanya melihat ke arah Edward yang juga sedang menatapnya.
"Cecil, siapkan kembali semua alat bantunya" ucap Edward
melihat Adam hidup lagi, Cecil segera menyiapkan kembali segala alat yang membantu Adam bertahan selama ini.
Edward segera memberitahu ayah Adnan dan Zidan. mendengar hal itu mereka yang sedang sibuk mengurus administrasi langsung berlari ke kamar Adam, bahkan ayah Adnan meninggalkan suster yang sedang membantunya mengurus kepulangan Adam.
saat tiba, Adam sudah kembali di ranjangnya. ayah Adnan sangat bahagia melihat Adam hidup kembali. sayangnya Adam tidak bisa menggerakkan tubuhnya, hanya matanya yang kini sedang menatap ayah Adnan.
melihat ayahnya, Adam menangis, bibirnya bergetar. ingin sekali ia menggerakkan salah satu tangannya namun rasanya sangat susah walau hanya sekedar menggerakkan jarinya.
"jangan dipaksa nak, pelan-pelan saja" ayah Adnan menangis haru dan mengecup kening Adam
__ADS_1
sejak saat itu, Adam di terus dikontrol untuk menggerakkan tubuhnya dan syukurnya hanya beberapa hari bagian tubuh lainnya sudah dapat ia gerakkan kecuali kakinya. Adam harus berjuang keras untuk bisa berjalan. itulah mengapa ayah Adnan dan Zidan tidak pulang ke Indonesia sebelum Adam benar-benar pulih.
Adam meminta kepada ayah Adnan dan Zidan agar mereka tidak memberitahu keadaannya sekarang. biarlah mereka berpikir bahwa dirinya sudah tidak ada. ia ingin memberikan kejutan untuk semua orang termasuk adiknya, El-Syakir dan Alana.