
POV (El-Syakir)
mendengar kak Dirga akan membunuh Baharuddin bahkan aku merasa aura dinginnya dapat aku rasakan. aku kadang bergidik ngeri ketika melihat kak Dirga menampakkan wajah seriusnya. namun tujuanku dengan kak Dirga memang tidak jauh berbeda, aku ingin melenyapkan manusia seperti Baharuddin di muka bumi ini.
"apa tidak apa-apa melakukan perjanjian dengan makhluk seperti mereka...?" tanya ayah
tentu saja mereka berpikir bahwa berkerjasama dengan makhluk gaib merupakan sesuatu yang dilarang. namun pastinya kak Dirga tentu tidak akan menyuruh arwah laki-laki itu untuk berbuat yang tidak sesuai dengan apa yang akan disepakati nantinya.
"jangan khawatir yah, dia hanya akan mengikuti ke mana Gibran pergi dan memberikan informasi kepada kita" jawab kak Dirga
"tanyakan namanya siapa kak" ucap Bara
"nama kamu siapa...?" tanya Vino
"Zulfan"
aku yang fokus mendengar percakapan kak Dirga dan yang lainnya dengan refleks menginjak rem karena beberapa orang menghadang jalan kami.
"astaga, padahal aku lagi malas sekali untuk bertarung" ucap Leo
"ada apa tuan muda El...?" tanya paman Helmi
"kami di hadang paman" jawabku
mungkin sekitar delapan orang yang menghadang kami. harusnya tadi aku tancap gas saja walau melewati jalan berlubang. kalau sudah seperti ini jelas kami harus keluar dan berurusan dengan mereka.
"Hati-hati El, patahkan saja kaki dan tangan mereka" ucap kak Dirga
"kami memang tidak punya banyak pilihan kak" jawabku
"bagaimana ini, mereka pasti akan terluka. kalau mereka di bunuh bagaimana" aku mendengar suara ayah yang panik
"tenang om, kami akan baik-baik saja" ucap Bara meyakinkan ayah
kami memang tidak mempunyai kamera tersembunyi seperti yang dikenakan kak Furqon sehingga ayah dan yang lainnya tidak dapat melihat situasi kami saat ini. kacamata yang aku pertama pakai saat penampilan ku di ubah oleh ratu Sundari, aku lepas karena tidak ingin sama dengan kak Furqon. kalau tidak, mungkin paman Helmi bisa memasang kamera tersembunyi di sana. kalau memakai soflen aku tidak nyaman sehingga kini jadilah kami tidak diketahui keadaan kami seperti apa.
"TURUN WOI"
mereka berusaha memecahkan kaca mobil sehingga aku, Leo dan Bara sudah pasti harus turun.
"wah kali ini tiga bocah korban kita bos" ucap salah satunya
aku melirik di samping jalan, ada seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi dan mengisap rokok tersenyum menyeringai ke arah kami.
"periksa apa yang mereka bawa" ucap laki-laki itu
dua orang akan memeriksa ke dalam mobil dan dua orang lagi memaksa kami untuk membuka bagasi mobil.
"oi bang, apa nggak malu menghadang anak remaja seperti kami. perampok masa iya menghadang anak kecil, malu-maluin" Leo mengeluarkan ucapan pedas
"kurang ajar nih bocah, cari mati lu ya" salah seorang menarik leher baju Leo namun aku langsung menepisnya dengan kasar
"santai saja dong bang" ucapku
"buka bagasi mobil lu" ucap yang lain
"buka aja sendiri" jawab Bara
"kurang ajar. bos, kita habisi saja mereka"
"kalian pikir kita takut...?" aku bahkan memasang wajah seakan menantang
"bangsat.... bunuh mereka" ucap laki-laki yang menjadi bos mereka semua
hiyaaaaaaa
buaaak
satu pukulan mendarat di kepala salah satunya. aku menggunakan siku ku sehingga mengenai tengkuknya membuat dirinya pingsan seketika.
kami di kepung oleh mereka. tentu saja kami harus mengeluarkan senjata kalau tidak kami bisa celaka. menghadapi mereka dengan tangan kosong jelas tidak mungkin karena mereka memegang senjata.
"BUNUH MEREKA"
aku dan Leo saling tatap kemudian memberikan kode dengan kedipan mata. Leo mengangguk dan saat itu juga aku menarik tangannya kemudian Leo melompat dan melakukan gerakan berputar dengan Berpegangan kepadaku. kakinya mendendang setiap orang yang akan menyerang kami hingga mereka tersungkur ke tanah.
Bara melakukan hal yang sama namun dirinya berpegangan di tombaknya sendiri. ia melompat dan berputar kemudian menendang mereka yang hendak menyerang.
buaaak
buaaak
tendangan dan pukulan kami layangkan hingga sebagian dari mereka terkapar di tanah dan tersisa dua orang lagi.
laki-laki yang hanya menonton tadi membuang rokoknya dan menginjaknya kemudian mendekat kami bertiga.
dia mengacungkan pistol ke arah kami bersiap untuk menembak. untungnya aku segera berputar dan menendang pistol hingga jatuh ke tanah kemudian Leo mengarahkan pedangnya di leher laki-laki itu.
"bergerak sedikit saja, ku tebas lehermu" ucap Leo
laki-laki itu mengangkat tangan ke atas begitu juga dengan anak buahnya yang tersisa satu orang karena sebagiannya sudah kami habisi.
__ADS_1
"kita pergi saja, Gara pasti sudah menunggumu El" ucap Bara
"G-Gara...?" laki-laki itu tergagap
"kenapa, kamu mengenalnya...?" tanyaku dengan dingin
"kalian anak buah Gara...?"
dapat aku lihat keterkejutan di matanya saat Bara menyebutkan nama Gara, laki-laki yang akan melakukan transaksi denganku. pertukaran barang dan uang.
"iya, kami di suruh untuk membawa barang pesanannya" ucap Leo dan pedangnya yang mengkilap belum dirinya lepas dari leher laki-laki itu
"mampus kita bos, ternyata mereka anak buah Gara" laki-laki berbaju hitam berbisik di telinga bosnya namun aku masih dapat mendengarnya
di luar dugaan mereka berdua malah bersujud dan memohon ampun kepada kami. aku bahkan sampai mundur ke belakang karena tidak ingin di sembah seperti Tuhan.
"maafkan... maafkan kami, kami bersalah. tolong ampuni kami"
"lah, pada mau nangis" ucap Leo melihat tingkah keduanya
"cengeng banget" Bara mengejek
"tinggalkan mereka tuan muda El. di depan ambil jalan kanan, anak buah Gara sudah menunggu kamu di sana. Leo dan Bara tidak perlu ikut, mereka berdua menunggu tuan muda di tempat itu saja" ucap paman Helmi
"baik paman" jawabku
"kalian nggak apa-apa kan aku tinggal di sini...?" tanyaku kepada Leo dan Bara
"pergilah, mereka semua biar kami yang urus" ucap Leo
aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil. ku lihat di kaca spion, Leo kembali mengacungkan pedangnya di leher laki-laki tadi. semoga mereka baik-baik saja. aku harus segera selesai dengan tugasku ini dan pulang ke rumah.
seperti yang dikatakan paman Helmi, aku mengambil jalur kanan. beberapa meter di depan sana dua orang yang sedang berdiri di pinggir jalan langsung menghadang mobil ku. mungkin mereka adalah anak buah Gara.
aku menurunkan kaca mobil dan salah satu dari mereka melihat sesuatu di hp-nya setelah itu ia kembali melihat ke arahku.
"Syakir...?" dia bertanya
"iya" jawabku
sepertinya Gibran telah mengirimkan fotoku kepada Gara agar mereka dapat mengenaliku.
"turun" ucapnya lagi
aku turun dari mobil dan kemudian membuka bagasi mobil. lima kotak kayu terlihat dan mereka segera memeriksa isi di dalamnya.
aku mendengar laki-laki tadi menghubungi seseorang dan sepertinya itu adalah Gara karena ia memanggil dengan panggilan bos.
aku mengikuti langkah mereka yang berjalan masuk ke dalam sementara kotak-kotak yang ada di mobil tadi diangkat oleh lima orang yang telah mereka suruh. aku dibawa ke sebuah ruangan dimana seorang laki-laki yang seumuran dengan ketiga paman pengawal sedang duduk di sebuah kursi empuk.
"aku heran dengan Gibran mengapa dia mengirim anak remaja ke tempat ini" ucapnya
aku yakin dia adalah Gara, karena semua orang berdiri sedang dia duduk di kursi.
"karena aku dipercayakan membawa barang-barang ini maka dari itu aku datang ke sini" jawabku
"kamu masih sekolah...?"
"masih"
"kamu tidak takut membawa barang ilegal seperti ini...?"
"tentu saja tidak, kalau aku takut mana mungkin aku ada di sini sekarang"
"hahaha.... aku suka keberanianmu"
dia kemudian mengkode anak buahnya dan setelah itu sebuah koper sudah berada di atas meja.
"sebelum aku memberikan uang ini, bagaimana kalau kamu bekerja denganku. aku suka dengan keberanianmu"
Gara menatapku dengan tatapan begitu menusuk, mungkin sengaja ingin melihat sejauh mana mentalku akan kuat untuk menghadapi tatapan intimidasi darinya.
"maaf, tapi aku tidak akan berpaling dari bos Gibran" ucapku
aku menunjukkan keloyalitasanku kepada Gara bahwa aku bukan seseorang yang bisa untuk berhianat.
"bagaimana kalau aku memberikanmu yang lebih dari ini" ucapnya dan memukul pelan koper coklat yang ada di atas mejanya
"bisa kita langsung ke transaksi saja agar aku bisa pulang karena Gibran sedang menunggu kabar dariku" ucapku yang tidak menggubris dengan tawaran darinya
aku bisa mendapatkan apa yang ada di dalam koper tanpa harus bersusah payah. aku melakukan hal yang berbahaya saat ini bukan karena uang namun karena sebuah rencana yang harus kami jalankan dan harus berhasil.
"baiklah, ini uangnya jumlahnya sesuai dengan kesepakatan yang aku lakukan bersama Gibran" ucap Bara
ia membuka koper itu dan memperlihatkan isi di dalamnya. uang merah yang tersusun rapi dan tentunya masih sangat baru.
"aku percaya padamu" jawabku
aku mendekat dan menutup koper itu kemudian mundur tiga langkah.
"terimakasih atas kerjasamanya, aku permisi" ucapku
__ADS_1
setelah mengatakan itu aku langsung berbalik meninggalkan ruangan itu dan keluar dari gedung berlantai dua tersebut. aku masuk ke dalam mobil dan koper berisi uang ku simpan di sampingku.
"selesai paman" ucapku yang sudah menyalakan mobil dan dan berputar kemudian meninggalkan tempat itu
"jemput Leo dan Bara" perintah paman Helmi
"aku dalam perjalanan" jawabku
aku bersyukur tidak ada adegan saling tembak-tembakkan tadi seperti di film-film barat. jika ada sudah pasti aku harus melawan dan membawa kabur uang yang ada di dalam koper ini.
tiba di tempat tadi, ku lihat Leo dan Bara malah sedang bermain kartu dengan orang-orang yang kami hajar tadi.
"lah udah damai aja mereka" gumamku
piiiiiip
aku membunyikan klakson mobil dan mengkode keduanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"bang kami pulang dulu ya" ucap Leo segera bangkit begitu juga dengan Bara
"hati-hati, kalau perlu bantuan kami hubungi saja di nomor yang aku berikan tadi" ucap bos mereka
"siap bang" jawab Bara yang sudah berada di kabin tengah
Bara dan Leo melambaikan tangan kepada orang-orang itu saat aku kembali menjalankan mobil.
"udah jadi bestie aja kalian" ucapku
"berkat yang bernama Gara itu mereka akhirnya takut kepada kami berdua. sepertinya orang yang bernama Gara itu adalah penguasa di wilayah ini" ucap Leo
"kita singgah makan dulu ya, aku lapar tau" ucap Bara
"kak Dirga sama kak Furqon bagaimana, apakah kalian sudah selesai" tanyaku karena mereka jelas akan mendengar apa yang akan aku katakan
"kami sedang di jalan pulang" jawab kak Ardi
"kak Dirga bagaimana...?" tanyaku lagi namun tidak ada jawaban dari kak Dirga
"kak Dirga, kakak dengar aku kan" ucapku lagi
"paman, kenapa kak Dirga tidak menjawab ku" tanyaku
aku takut terjadi sesuatu dengan kak Dirga, kak Deva dan Vino. paman Helmi bilang orang yang bernama Jacob itu begitu licik, Jangan-jangan mereka kini sedang dalam keadaan bahaya.
"mereka tidak akan menjawab tuan muda, tuan muda Dirga sedang melakukan transaksi sementara Deva dan Vino sedang berjaga di luar jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana" kali ini paman Pram menjawab ku
"apa perlu aku susul mereka...?" tanyaku
"jangan El, kami di sini akan baik-baik saja. di dalam Adam ditemani kak Zulfan. dia kan tidak dilihat kecuali kita" Vino akhirnya bersuara
"kalian harus pulang dalam keadaan baik-baik saja ya Vin, pokoknya jangan sampai terluka" ucap Bara
"ya kami nggak jamin nggak akan terluka tapi kami akan menjaga diri" jawab Vino
"KAK DEVA, VINO, LARI"
baru saja merasa lega mereka semua baik-baik saja, kini aku mendengar suara teriakan dari kak Dirga yang meminta kak Deva dan Vino untuk melarikan diri.
tentu aku panik dan langsung menghentikan mobil.
"kak Dirga, kalian baik-baik saja...?" tanyaku dengan suara yang bergetar
"kak Dirga" teriakku semakin panik
"paman bagaimana ini, mereka tidak menjawab" ucapku dengan bibir yang bergetar
buuuum
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
tiga ledakan keras membuat jantungku seakan berhenti untuk bekerja. aku bahkan kesulitan bernafas saat mendengar suara ledakan yang begitu keras.
"DIRGA" ayah berteriak
"jemput mereka sekarang, saya tidak mau tau jemput mereka" suara ayah yang meninggi dan jelas panik
"bagaimana ini" tanya Leo
tanpa menjawab aku tancap gas menaikkan kecepatan untuk menyusul kak Dirga dan yang lainnya. aku tidak peduli penyamaran ku terbongkar, persetan dengan semua ini. aku hanya ingin kak Dirga, kak Deva dan Vino mereka baik-baik saja.
suara tangis Alana dan yang lainnya mulai memenuhi telingaku. sedang aku yang begitu kalut tidak peduli dengan suara Bara yang mengingatkanku bahaya saat mengendarai mobil dalam keadaan begitu kencang seakan hendak terbang.
"bahkan jika gue matipun, gue nggak peduli Bar... saat ini gue hanya ingin bertemu kak Dirga" jawabku dengan emosi dan kesedihan yang menyelimuti diri
si brengsek Baharuddin, akan aku buat kamu menderita atas apa yang telah kamu lakukan kepada keluargaku. saat kita bertemu nanti, kamu akan merasakan siksaan yang dua kali lipat dari apa yang telah kamu lakukan.
aku bersumpah akan membunuhmu Baharuddin Sanjaya. tidak peduli kamu orang tua sekalipun, bagiku kamu adalah manusia yang harus dilenyapkan. aku sama sekali tidak akan takut jika menjadi pembunuh.
__ADS_1
aku harus menolong kak Dirga, harus. aku tidak ingin dia terluka lagi seperti sebelumnya.