Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 142


__ADS_3

Leo menyusul Alana ke dalam kamar. di sana Nisda, Melati dan Starla sedang menghibur gadis itu. saat melihat Leo masuk, mereka bertiga segera keluar dengan pintu kamar di buka lebar. meski tau Leo tidak akan melakukan apapun namun tetap saja mereka harus mengawasi.


"Lana, aku mau bicara" ucap Leo. dia duduk di ujung ranjang yang berjauhan dengan Alana


"Lana" panggil Leo lagi karena Alana tidak menjawab panggilannya


"bicara saja" jawab Alana yang duduk membelakanginya Leo


"madap sini Napa, masa iya natap dinding. segitu gantengnya ya dinding sampai aku dicuekin" ucap Leo


"kalau nggak ada yang mau kak Leo katakan, sebaiknya kakak keluar, Lana mau istrahat" timpal Alana tanpa berbalik


"kamu marah sama aku...?"


"nggak, ngapain juga harus marah. emang kak Leo salah apa"


"kalau nggak marah kenapa jawabnya ketus gitu, nggak mau menghadap aku kalau bicara. nggak sopan loh Lana"


Alana kemudian memutar badan menghadap ke arah Leo, namun wajahnya menunduk dan tidak menatapnya.


"mau bicara apa...?" tanya Alana


"aku mau tanya, kamu suka nggak sama aku...?" tanya Leo yang sedang menatap Alana dengan lekat


"emang Alana keliatan suka ya sama kak Leo...?"


"aku tanya loh Lana, kalau aku tau nggak mungkin aku nanya"


"kenapa bertanya seperti itu. bukannya kak Leo hanya menganggap Lana sebagai adik, nggak lebih"


"jadi...?"


"Alana juga hanya menganggap kak Leo sebagai kakak Lana, nggak lebih"


"kamu yakin...?"


"apa Lana terlihat berbohong...?" Alana mengangkat kepala dan menatap Leo


"baiklah" Leo menghela nafas


"kalau begitu kamu istirahat saja, maaf sudah mengganggu kamu. aku keluar sekarang" lanjut Leo


Leo berdiri dan melangkah untuk keluar namun langkahnya terhenti karena pertanyaan yang keluar dari bibir Alana.


"apa kak Leo sayang sama Lana...?" tanya Alana yang menatap punggung Leo


"tentu saja, sebagai seorang kakak tentu harus menyayangi adiknya bukan" jawab Leo tanpa berbalik


"apa kak Leo suka sama Lana...?"


"tidak usah pikirkan perasaan ku Lana. kalaupun aku suka padamu, bukankah itu juga percuma untuk mengungkapkannya karena kamu hanya menganggap aku sebagai kakak" Leo membalikkan kepalanya, hanya melihat Alana dari ekor matanya tanpa membalikkan seluruh tubuhnya


"aku ke sini ingin mengatakan sesuatu kalau jujur sejak lama aku suka sama kamu. perasaan sayang seorang kakak kepada adiknya perlahan menjadi perasaan lebih dari kakak adik. tapi..... semuanya ternyata hanya bertepuk sebelah tangan"


"jadi....." Leo berbalik ingin meneruskan ucapannya dengan melihat ke arah Alana namun dirinya seketika terkejut saat melihat Alana sudah berada di belakangnya


"Lana sayang sama kak Leo, Lana suka sama kak Leo. Lana nggak mau jadi adik kak Leo, Lana mau jadi orang istimewa dalam hati kak Leo" Alana tiba-tiba saja menubruk dan langsung memeluk Leo dan bahkan hampir saja Leo terjungkal ke belakang


Leo tersenyum, dia membalas pelukan Alana. sebetulnya dia sudah tau kalau Alana menyukainya hanya saja dia ingin mendengar langsung dari bibir gadis kecilnya itu kalau Alana menyukai dirinya.


"jadi sekarang bagaimana...?" Alana mendongakkan kepalanya


"apanya yang bagaimana...?" tanya Leo memencet hidung Alana


"jadi sekarang kita ganti status, dari kakak adik menjadi....." Alana malu untuk mengatakannya


"menjadi apa...?" Leo menaik turunkan alisnya


"ish....kak Leo nggak tau pura-pura nggak tau sih" Alana cemberut


"ya gimana aku mau tau, kamu kan nggak ngasih tau" ucap Leo


"udah ah, Lana bete" Alana melepaskan pelukannya namun ditahan oleh Leo


"kita jalani saja dulu ya. aku akan selalu menjaga kamu, gadis kecilku" Leo mengusap kepala Alana


Alana sangat senang, ia kembali memeluk Leo dengan erat. sedangkan mereka yang berada di balik pintu untuk mengintip sedang berdesak-desakkan agar tidak ketahuan. hingga kemudian bau yang menyengat di hidung seperti telur busuk langsung masuk ke Indra penciuman mereka.


"huh, bau apa nih...?" Vino menutup hidungnya dan keluar dari barisan persembunyian. Leo dan Alana langsung melepaskan pelukan mereka dan menghampiri semuanya


"iya, bau banget, sumpah" Bara pun menutup hidungnya


buuuuuu.....


suara yang mendayu itu terdengar di telinga mereka. sontak semuanya langsung melihat ke arah tersangka yang sedang cengengesan memperlihatkan gigi-giginya yang putih.


"bangkeeeee....elu kentut dam...?" tanya Vino dengan wajah merah padam


"hehehehe, maaf epribadi" Adam nyengir kuda


"hueeek... bau banget lagi" Starla ingin muntah


plaaaak


El-Syakir yang gemas dengan kelakuan Adam, langsung memukul pantat kakaknya itu dan sialnya dia, saat memukul pantat Adam, seketika bom atom langsung meledak.


"kak Dirga" teriak El dengan kesal


"siapa suruh main pukul, nanti aku berak di sini bagaimana" ucap Adam


"iw...jorok banget sih dam" Nisda menjauh


"aduh, kebelet nih" Adam memegang perutnya dan yang terjadi selanjutnya


preeeet


preeeet


buuuuuu


"adaaaaaaaam"


"kak Dirgaaaaaaa"


tanpa memperdulikan teriakan mereka, Adam seketika melepaskan gas beracun. tim samudera bahkan oleng dan mungkin akan pingsan mencium bau harum yang sangat menusuk hidung itu.


"hueeek"


"anjir.... bau banget sumpah"


Adam berlari meninggalkan mereka yang masih menikmati bom atom yang di keluarkan Adam.

__ADS_1


"iw...jadi cowok jorok banget sih si Adam" ucap Nisda


"kalau sama kita, hilang sudah aura pesonanya, nggak ada lagi keren-kerennya" timpal Starla


"dia tetap keren kok" ucap Melati melihat ke arah yang dilewati Adam hingga hilang di balik dinding


"emang ya kalau udah cinta, buta mata buta hati. tai kucing dirasa coklat" Leo menarik nafas dalam-dalam mengambil oksigen sebanyak-banyaknya


"huufffttt ya ampun, sesak nafas gue" El-Syakir berjalan ke ruang tengah di susul oleh yang lain


beberapa menit di kamar mandi, Adam keluar juga. dia kembali menghampiri yang lainnya yang berada di ruang tengah.


"elu makan apaan sih dam, kentut bau banget lagi" ucap Vino


"heh markonah, namanya kentut ya jelas busuk, kalau harum itu namanya parfum" Adam duduk di samping Bara


"kalau siswi-siswi di sekolah tau elu jorok begitu dam, mereka pasti ogah fans lagi sama elu" ucap Leo


"itu kan kalau mereka tau, sayangnya mereka nggak akan tau" jawab Adam enteng


"nanti dikasih tau lah, ribet banget" timpal Bara


"menyebarkan isu tanpa bukti itu fatonah namanya. mau masuk neraka" timpal Adam


"nggak usah bahas itu. sekarang gimana, jadi nggak nginap di sini...?" tanya El


"kalau gue sih oke, dulu kan juga kita sering nginap di sini" ucap Vino


"tapi itu kan dulu waktu El dan keluarganya masih tinggal di sini. sekarang rumah ini udah lama kosong loh" ucap Bara


"elu takut Bar...?" tanya Melati


"takut sama yang gaib sih enggak, semenjak kita sering melalui banyak hal mistis, mereka yang tidak terlihat sudah biasa saat kita lihat. hanya saja jangan sampai ada orang iseng yang datang, kita kan nggak tau" jawab Bara


"di sini aman kok kak, Alhamdulillah dulu juga Alana dan kak El hanya tidur berdua karena ayah dan ibu nggak ada di rumah, nggak ada orang iseng yang masuk. di kompleks ini aman-aman saja, orang-orangnya juga baik-baik" Alana mengklarifikasi


"gimana gays...?" El-Syakir menatap teman-temannya


"gue sih mengikut aja" jawab Melati


"ya udah kita nginap, lagian kan ada kalian juga laki-lakinya. tapi kita nggak bawa baju ganti loh, masa iya mau pakai seragam terus" ucap Nisda


"itu mah gampang, tinggal pesan online aja kan nggak ribet. tinggal tekan, ting tong...pakeeeet. shoppie cod shoppie cod, langsung bayar di tempat" Adam malah bernyanyi memperagakan gaya yang ada di iklan


(lucu banget sih, pengen peluk) Melati begitu gemas dengan kelakuan Adam


"pasti sering belanja online ya lu" ucap Starla


"nggak usah di tanya, masih jadi arwah saja uang gue habis buat bayarin paket yang dia pesan" El-Syakir menjawab


"eh bicara tentang paket, paket yang pernah aku pesan sampai sekarang masih ada loh belum aku buka. kayaknya di kamar. my pakeeeet, aku datang" Adam beranjak dan berlari ke kamar El


"ck, giliran paket aja langsung girang" decak El


"kak, kita nginap di sini, besok itu hari pernikahan paman Pram, paman Randi dan paman Helmi loh. emang kita diizinkan nginap di sini...?" Alana bertanya


"eh iya, besok kan pernikahan kak Pram. sampai lupa gue" Bara menepuk jidatnya


"pagi-pagi sekali kita langsung pulang, lagian kan pernikahan mereka nggak pagi banget, paling jam 9 dan itupun mungkin molor dikit" timpal El


"kalau gitu kita harus cari kado dong buat pernikahan mereka" ucap Starla


"entar sore kita jalan aja gimana, sekalian kan beli baju ganti" Melati memberi usul


merekapun setuju untuk belanja sore hari. tidak ada kegiatan yang dilakukan, mereka menonton televisi sementara Adam yang katanya ingin melihat paket yang belum pernah dibukanya, kini sedang mencoba memakai jaket Levis di depan cermin. jaket itu ternyata jaket couple, satu untuk laki-laki dan satunya untuk perempuan. dia keluar dari kamar El-Syakir dan kembali ke ruang tengah.


"bagus nggak...?" Adam ingin mendengarkan pendapat mereka


"kak Dirga keren" puji Alana


"elu tambah cool" ucap Melati


"pesonaku memang nggak pernah sirna ya, selalu membuat para ciwi-ciwi klepek klepek" ucap Adam dengan percaya diri


"mulai deh songongnya" cibir Vino


"itu kenyataan Vinokio" Adam melangkah duduk di sofa


"terus itu yang ditangan kak Dirga, jaket siapa...?" tanya El


"oh, ini jaket couple. satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan" jawab Adam


"terus jaket untuk ceweknya, mau elu kasih siapa...?" tanya Leo


"kasih Melati aja, dia kayaknya cocok pakai jaket itu" Starla melirik Melati yang sedang tersenyum saat namanya disebut


"benar tuh, soalnya kalau kasih kita kan nggak mungkin, kita udah punya jaket couple sama ayang bebeb" Nisda mengedipkan sebelah matanya ke arah Bara


"genit" Bara mencubit hidung Nisda


"ayam bebek aja sekalian" ejek Vino


"sirik aja lu" ucap Bara


"gue juga punya kelles, bleeeek" Vino merangkul lengan Starla dan menjulurkan lidah ke arah Bara


"dam, bengong aja lu. nggak mau kasih Melati jaketnya...?" Leo membuat lamunan Adam yang entah apa dia pikirkan


"kalau Melati mau, ambil aja. jaketnya bagus kok, memang cocok buat kamu" Adam melihat Melati dan tersenyum


"nih, ambil" Adam memberikan jaket itu kepada Melati


"benaran buat gue...?" tanya Melati yang di dalam hati sangat senang


"iya. ya mau bagaimana lagi, aku nggak punya kekasih, daripada nggak dipakai mending buat sahabat aku aja kan" jawab Adam


mendengar jawaban Adam, membuat Melati merasa sesak. namun tetap saja dia menerima jaket itu dengan senyum yang dipaksakan.


"makasih" ucap Melati


yang lain hanya saling pandang. urusan hati, mereka tidak bisa ikut campur. sesuatu yang tidak bisa dipaksakan memang akan sulit membujuk untuk menerima.


bahkan ratu Sundari telah menghapus semua ingatan Adam tentangnya namun sampai saat ini Melati belum juga bisa menggantikan posisi wanita itu yang sejak awal menempati ruang khusus di hati Adam.


Nisda mengelus punggung Melati yang duduk di sampingnya. dia memberikan ketenangan seakan memberi isyarat bahwa dirinya harus sabar dan akan ada saat dimana Adam akan melihatnya dan menerimanya.


Melati jadi teringat dengan apa yang dikatakan ratu Sundari pada saat mereka berada di alam wanita cantik itu.


flashback


"tapi dia tidak mencintaiku ratu, bahkan dia tidak melihatku"

__ADS_1


"untuk sekarang mungkin belum namun lambat laun hanya kamu yang akan dia lihat"


"hatinya sangat teguh untuk tetap mencintai ratu walaupun dia tidak mengenal ratu lagi"


"hey, jadi kamu menyerah...?" ratu Sundari memegang dagu Melati


"aku hanya resah, bagaimana cara untuk mendekatinya"


"maka lakukan dengan cara yang lembut dan penuh perhatian. buktikan kalau kamu benar-benar tulus padanya. aku dan Adam sudah usai, hubungan kami tidak akan pernah untuk menyatu. aku bisa saja membuat Adam tetap di sini bersamaku dan dia tidak akan kembali lagi ke alam manusia, namun kalau aku melakukan itu, itu namanya aku sangatlah egois. aku juga tidak bisa menjadi manusia untuk tetap bersama Adam. alam kami berbeda, meski saling mencintai, namun itu menyalahi aturan yang ditetapkan Tuhannya."


"terbuat darimana hati ratu sampai rela melepaskan laki-laki yang dicintai hanya untuk gadis lain" Melati takjub dengan sikap ratu Sundari


"itulah cinta Melati, tidak bisa memiliki maka hal yang harus kamu lakukan adalah melepaskan. tenang saja, selama tunjukkan perhatian mu padanya, dia akan luluh suatu saat nanti. percayalah"


"jangan sia-siakan pengorbananku" lanjut ratu Sundari


flashback end


sore hari mereka mulai keluar untuk mencari kado pernikahan. beruntung pakaian El dan Alana masih tersisa di tempat itu sehingga mereka dapat memakai baju El-Syakir dan Alana.


tidak lupa juga mereka meminta izin kepada orang tua masing-masing dan untungnya orang tua mereka mengizinkan.


Adam memakai jaket yang dia pakai tadi begitu juga dengan Melati. mereka berdua begitu serasi dengan jaket couple tersebut.


"kalian benar-benar cocok, seperti pasangan kekasih" Alana memuji Adam dan Melati


"terimakasih Lana" jawab Melati senang sedang Adam hanya tersenyum biasa


"jadi kita ke mall nih...?" tanya El


"ya iyalah El, emang kemana lagi" jawab Bara


"ya sudah, ayo berangkat tunggu apalagi" Adam berjalan lebih dulu dan mereka mengikutinya


mereka sudah menyusuri beberapa toko namun tidak ada satupun yang cocok untuk di jadikan kado pernikahan.


Adam melihat-lihat sekitarnya hingga mereka tiba disebuah toko sepatu. dia tanpa sadar menarik tangan Melati yang dikirain adalah tangan El-Syakir karena tadi El-Syakir berjalan di sampingnya sebelum akhirnya Melati menggantikannya.


"aku mau lihat sepatu, kamu pilihkan ya" ucap Adam masuk ke dalam


"ini kan sepatu untuk cewek dam" jawab Melati


"eh" Adam kaget yang menjawabnya adalah suara perempuan. saat melihat Melati, dia melepaskan tangannya namun Melati menahan dan malah menggenggam tangan Adam


mungkin dengan Melati sedikit berani menyentuh Adam dengan menggenggam tangannya, Adam akan lebih terbiasa dan dekat dengannya


"ayo" Melati mengajak Adam masuk ke dalam


"mau cari sepatu untuk siapa...? tanya Melati saat keduanya telah berada di dalam toko.


banyak sepatu wanita yang terpajang cantik. berbagai model dan warna menghiasi setiap sudut toko tersebut.


"untuk ibu" jawab Adam


"bisa lepaskan tanganku, bagaimana aku bisa memilih kalau kamu terus memegang tanganku" ucap Adam


"eh, maaf. abis gue nyaman berpegangan tangan seperti ini" Melati melepaskan tangan Adam


tanpa menjawab Adam mencari-cari sepatu yang cocok untuk ibu Arini. dia ingin memberikan sesuatu kepada ibu sambungnya itu dan saat melihat sepatu, Adam ingin membelikannya.


"kalau untuk usia seperti tante Arini, akan lebih cocok menggunakan model sepatu seperti ini" Melati mengambilkan salah satu sepatu yang menurutnya cantik dan elegan


"tapi warnanya terlalu terang, ibu nggak suka warna yang mencolok" jawab Adam


"mba" Melati memanggil seorang wanita yang berkerja di toko itu


"ada yang bisa saya bantu...?" tanya wanita itu


"ada warna lain nggak untuk model sepatu yang seperti ini...?" tanya Melati


"tunggu sebentar ya"


wanita itu meninggalkan Melati dan Adam, hingga hanya beberapa detik dia kembali lagi dengan sepasang sepatu yang ada di tangannya.


"yang ada hanya warna hitam dan warna biru" ucap wanita itu


"mau pilih yang mana...?" Melati melihat Adam


"biru saja, aku suka warna biru" jawab Adam


"pilihan masnya bagus, sangat cocok dikaki pacar mas yang terlihat putih" wanita itu mengira Adam akan membelikan untuk Melati


"dia bukan pacar saya mba" jawab Adam dan itu membuat Melati tersenyum kikuk


"oh maaf, habisnya jaket kalian berdua couple jadi saya kira kalian pacaran" wanita itu meminta maaf


"tidak apa-apa mba" ucap Melati


wanita itu kemudian meninggalkan mereka untuk membungkus sepatu yang dipilih oleh Adam. sementara itu Melati melihat-lihat sepatu yang siapa tau ada cocok untuknya.


"yang ini lebih bagus" Adam mengambil satu sepatu


"coba pakai" Adam menatap Melati


gadis itu bukannya mengambil sepatu yang Adam berikan, dia hanya bengong menatap Adam tanpa berkedip.


Adam duduk dan memegang kaki Melati, refleks Melati kaget dan mundur. hampir saja dirinya terjungkal namun dengan cepat Adam berdiri dan menahan tubuhnya. kini tangan Adam berada di pinggang Melati. keduanya saling bertatapan cukup lama.


"ceroboh sekali" Adam melepaskan pelukannya dari Melati


"elu mengagetkanku" jawab Melati yang tersenyum senang bisa berdekatan seperti itu dengan Adam


"elu menyuruh gue apa tadi...?" tanya Melati


"nggak ada" jawab Adam kemudian berlalu pergi


"dasar es balok" gerutu Melati menyusul Adam


Adam dan Melati menyusul yang lainnya. mereka kembali berkeliling dan setelah membeli kado pernikahan, mereka memutuskan untuk pulang.


karena terlalu lama berada di mall, pada akhirnya mereka sholat magrib di masjid pada saat menuju jalan pulang. selesai sholat mereka mencari makan untuk di bawa pulang ke rumah.


siang bergantikan malam, kini mereka sudah semakin dekat dengan kompleks yang berada di rumah El-Syakir. saat akan melewati rumah Nilam, tempat dimana Adam dan El membeli air minum, mereka kaget karena di dalam rumah suara teriakan begitu terngiang di telinga. Adam menghentikan motornya begitu juga yang lain.


"kenapa tuh...?" ucap Leo yang saat ini sedang membonceng Alana


"kerasukan kali" jawab Bara dengan asal


"aaaaaaaaa" teriakan itu terdengar lagi


"astaghfirullah" mereka seketika kaget

__ADS_1


"cabut yuk, merinding gue" ucap Vino


mereka akhirnya meninggalkan tempat itu. entah apa yang terjadi di dalam rumah mereka tentu tidak tau dan juga tidak ingin ikut campur dalam masalah orang lain.


__ADS_2