Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 47


__ADS_3

"masuklah, udara di luar sangat dingin" ucap Leo saat mereka tiba di rumah El karena mengantar Alana pulang


"kakak hati-hati" gadis itu tersenyum lembut


Leo membalas senyumannya kemudian menyalakan kembali motornya namun saat mulai menjalankan motornya Alana kembali memanggilnya.


"kak"


Leo berhenti dan melihat ke belakang


gadis itu berjalan mendekat ke arahnya. ia melepas jaket yang ada di tubuhnya dan memberikannya kepada Leo.


"pakai ini, dari tadi kakak pasti kedinginan"


Alana memberikan jaket itu dan Leo mengambilnya kemudian memakai di badannya.


"kakak pergi ya. kamu masuk dan istrahatlah"


Leo segera meninggalkan rumah El dan Alana masuk ke dalam rumah setelah Leo tidak terlihat lagi di pandangannya.


"kamu nggak apa-apa...?" tanya El melihat gadis itu


Adam yang berada sedikit jauh dari mereka melayang dan mendekat dan berdiri di samping El.


"nggak apa-apa. terimakasih. kalau nggak ada kamu, aku nggak tau gimana nasib aku setelah mereka menemukan aku lagi" cairan bening jatuh di pipinya


"kenapa bisa kedua pria itu membawamu, kenapa ibu yang tadi bersamamu tidak menghalau mereka...?"


"sepertinya dia mau dijual" ucap Adam dan ekor mata El melirik hantu itu


"aku akan dijual oleh bibi ke pak Salim sebagai tebusan utang-utang bibi yang belum lunas sampai hari ini"


"nah kan, benar dugaanku" ucap Adam


"astagfirullahaladzim...tega sekali. lalu kamu akan kemana setelah ini...?" El sangat prihatin


"aku mau jemput bapak untuk pergi jauh dari rumah bibi. dimanapun kami berada nanti, setidaknya kami tidak tinggal lagi dirumah bibi"


"mau dibantu lagi...?" kali ini Adam bertanya dengan melayang mengelilingi mereka berdua


El jadi serba salah. ingin menolong tapi jangan sampai nanti dirinya akan terkena ampasnya juga. namun hati kecilnya mengatakan untuk menolong gadis itu.


sementara dari kejauhan, dua orang yang berpakaian bodyguard sedang berada di dalam mobil hitam sambil memperhatikan El dan gadis itu.


"apa yang akan dilakukannya. perlukah kita membantunya...?" tanya pria yang bernama Ardi


"tidak perlu. kita cukup mengawasi dari jauh. jangan mengambil tindakan yang gegabah" jawab Furqon


(lagipula, ada dia yang akan selalu membantunya) batin Furqon melihat dua orang manusia dan satu sosok arwah yang mengitari mereka


"aku antar kamu pulang"


"aku bisa pulang sendiri. aku tidak ingin merepotkan mu lagi. sudah menyelamatkanku itu sangat membuat aku bersyukur" tolaknya dengan menggeleng


"aku nggak mungkin membiarkan kamu ditempat sepi seperti ini seorang diri. kamu mau kedua orang tadi menangkap mu kembali"


"tapi...."


"sudah jangan banyak tapi-tapi, aku sedang buru-buru dan tidak ingin mendengar penolakan mu"


"karena penolakan itu rasanya sangat menyakitkan" timpal Adam dengan senyum edannya membuat El memutar bola matanya


karena El memakir motornya sedikit jauh, akhirnya mereka harus berjalan kaki agar sampai dikendaraan roda dua itu.


"cepat naik"


dengan ragu-ragu gadis itu naik di atas motor El kemudian perlahan motor itu bergerak meninggalkan tempat nan sepi dan sunyi serta sedikit menyeramkan jikalau malam hari.


"huuuffftt... jadi Baygon lagi deh aku" gumam Adam dan melayang mengikuti mereka


"jadi ini rumahmu...?" tanya El setelah mereka berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dengan cat warna putih


"iya. terimakasih untuk kedua kalinya telah membantuku"


"sama-sama. kalau begitu aku pergi dulu. berhati-hatilah dan semoga sebelum kabur bibimu belum pulang"


gadis itu mengangguk pelan dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


El menyalakan kembali motornya, segera Adam melayang duduk bonceng di belakangnya.


"tunggu" gadis itu menahannya


"ada apa...?" kepala El berbalik dengan helm yang tidak lepas


"aku Seil Indriani" ucapnya dengan senyuman lembut. gadis itu menyebutkan namanya sebagai isyarat bahwa ia ingin tau nama laki-laki yang telah menolongnya.


" El-Syakir"


setelah menyebutkan namanya, El segera meninggalkan Seil yang masih berdiri di tempatnya dan terus memandang punggung El sampai tidak terlihat lagi.


"El-Syakir" gumamnya dengan senyuman tipis


dengan cepat gadis itu masuk ke dalam rumah untuk bertemu ayahnya dan segera meninggalkan rumah itu sebelum pemiliknya datang.


"sayang, bangun" Bara terus memegangi tangan Nisda tanpa ingin melepasnya


gadis itu belum sadarkan diri, dan terbaring di ranjang rawat yang telah disediakan untuknya setelah kedatangan mereka tadi.


Bara dengan kepanikannya, dengan cepat menyuruh perawat untuk memeriksa kekasihnya atau entah mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


cek lek


pintu kamar terbuka, Vino dan starla masuk ke dalam menghampiri Bara yang diliputi kekhawatiran.


"dia pasti sadar" ucap starla untuk menenangkan hati Bara


"maaf" satu kata itu keluar dari mulut Vino setelah sejak tadi dirinya membisu dan mulutnya tertutup rapat.


hatinya dihinggapi penyesalan. seandainya ia dapat menahan diri, mungkin Nisda tidak akan terbaring di rumah sakit sekarang ini.


Bara melihat Vino sekilas kemudian pandangannya kembali ke wajah gadis pucat yang ada di depannya.


"eeuuummm"


"Nis, kamu sadar...?" ucap Bara mendengar Nisda mengerang


Vino dan starla saling pandang. setelahnya mereka benar-benar melihat Nisda membuka matanya dengan perlahan.


"syukurlah sayang, aku sangat khawatir" Bara mencium punggung tangan Nisda


"aku dimana...?"


"di rumah sakit. maafkan aku, aku benar-benar menyesal" suara Bara terdengar parau


Vino baru kali ini melihat Bara menangis karena Nisda. tidak ada bentakan atau perkataan kasar seperti sebelumnya. sekarang yang keluar dari mulut laki-laki itu adalah ungkapan penyesalan dan perkataan lembut.


"aku nggak butuh maafmu" Nisda menarik tangannya dari genggaman Bara


"sayang plis...aku minta maaf. kejadian tadi di luar kendaliku"


"kamu memang nggak pernah terkendali Bara, selalu mengikuti emosi dan aku lelah dengan itu semua. aku capek"


"aku mohon sayang, maafin aku. setelah ini aku janji akan menjadi pacar yang baik untuk kamu"


"kita sudah putus"


"aku nggak pernah mengiyakan kalau kita putus. jangan mengambil keputusan sepihak. sampai kapanpun aku nggak pernah mau putus sama kamu"


"sayang" Bara meraih tangan Nisda namun gadis itu menepisnya.


"Vin, kamu di sini" senyum Nisda merekah melihat Vino berdiri tidak jauh darinya


"i-iya" Vino tergagap


dirinya dan starla merasa tidak enak harus berlama-lama di dalam ruangan itu. tapi ia juga harus meminta maaf atas kejadian tadi karena bukan hanya Bara yang salah, dirinya juga ikut bersalah.


"aku minta maaf Nis"


"maaf untuk apa, kamu nggak salah. makasih ya udah antar aku ke sini"


"bukan aku, tapi Bara yang mengantarmu ke sini" jawab Vino


meskipun sebenarnya Bara sangat tidak suka Nisda berbicara dengan Vino, namun ia harus menahan diri. jangan sampai egonya membuat Nisda benar-benar pergi darinya dan berpaling kepada Vino.


cek lek


semua mengarah ke pintu, dan masuklah El serta Leo dan juga Adam namun tentu tidak dapat dilihat oleh Bara dan Nisda.


"bagaimana keadaanmu Nis...?" tanya El


mereka berdua mendekat di ranjang Nisda dan Adam duduk bersila di samping Bara.


"gue sudah lebih baik. terimakasih kalian sudah menjengukku" jawab Nisda


"syukurlah. kami tadi sangat khawatir terjadi sesuatu denganmu. sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu pingsan seperti tadi. dan itu pelipismu kenapa...?" Leo menunjuk pelipis Nisda yang terluka namun sudah diberikan handiplas.


"ini pasti karena cinta segitiga" ucap Adam yang memainkan infus Nisda


Vino melirik Bara yang juga sedang melihatnya. jujur, ada rasa tidak enak hati kepada Leo jikalau ia tau semuanya karena dia yang berantam dengan Bara dan tanpa sengaja pukulan mereka mendarat di Nisda.


"ini ada hubungannya dengan Bara dan Vino...?" Leo menelisik dua orang itu


Vino menunduk dan Bara tidak bergeming di tempat duduknya. Leo menghela nafas panjang, ia tidak tau lagi harus mengatakan apa kepada Vino agar ia tidak mencampuri urusan sepasang kekasih itu.


"ikut gue" Leo menarik Vino keluar dari ruangan itu diikuti El dan juga Adam


"gue, nyusul mereka dulu ya" ucap starla yang merasa kikuk berada di ruangan itu tanpa para sahabatnya


Leo membawa Vino ke taman rumah sakit. sengaja ia membawa sahabatnya ke tempat itu agar dapat menjernihkan pikiran dan menghirup udara yang dingin dimalam hari karena sekarang otaknya serasa tidak dapat berpikir lagi.


"sepertinya, wejangan gue dan El untuk elu nggak masuk dipikiran elu Vin" ucap Leo yang duduk di sebuah kursi dan menatap lurus ke depan


El dan Adam pun datang dan duduk bersama mereka. Adam duduk bersila dengan cara melayang di depan mereka bertiga.


"gue kan sudah pernah bilang, jangan dekati Nisda lagi. elu tau sendiri resikonya apa. elu bisa mikir nggak sih Vin"


Vino menunduk dan tidak berani untuk menatap sahabatnya itu.


"kami hanya nggak ingin kamu mendapat masalah Vin. apa kamu nggak tau, kami lebih sakit kalau seandainya kamu itu sakit" ucap El


"maaf" ucap Vino lirih


"gue nggak larang elu untuk suka sama Nisda, karena rasa suka itu datang begitu saja. tapi elu harus tau kalau Nisda sulit untuk elu gapai dan elu tau penyebabnya apa" Leo berkali-kali menghela nafas


"daripada memikirkan pacar orang. kenapa kamu tidak tanya hatimu, sebenarnya rasa itu kamu simpan untuk siapa" Adam mulai menimpali


"aku bukannya mau sok puitis, tapi coba rasakan saat kamu bersama Nisda, adakah perasaan yang kamu rasakan yang sulit untuk kamu ungkapkan...?" lanjut Adam


Vino menggeleng pelan. jujur saja perasaan seperti itu tidak ia temukan saat bersama dengan gadis itu.

__ADS_1


"lalu coba ingat beberapa waktu ke belakang. adakah seseorang yang membuatmu merasakan perasaan itu...?" Adam terus bertanya. El dan Leo tidak memotong sama sekali pembicaraannya


"seseorang...?" tanya Vino menatap hantu itu dan Adam mengangguk


Vino teringat seorang gadis yang sejak beberapa waktu lalu memunculkan perasaan aneh dihatinya. bahkan tadi saja gadis itu menatap dirinya dengan tatapan lembut dan sendu. segera Vino menepis jauh wajah gadis itu yang tiba-tiba muncul dipikirannya.


"ah. nggak mungkin" Vino menggeleng cepat


"apa yang nggak mungkin...?" tanya El dan Leo bersamaan


"nggak...bukan apa-apa" Vino mengelak


"kamu sebenarnya sudah tau siapa orangnya, namun kamu berusaha menepis semua itu karena kamu tidak enak hati dengan seseorang" ucap Adam lagi


Vino melirik El yang sedang menatapnya. perasaan bersalah menghampiri kalau seandainya ia lakukan itu.


"kenapa lirik-lirik gue begitu, naksir...? goda El


"kampret lu" kesal Vino dengan cemberut membuat El terkekeh


"kalian lagi ngomongin apa sih, nggak ngerti gue" Leo terlihat bingung


"aku juga nggak tau tadi aku ngomong apa" ucap Adam


ketiganya memutar bola mata, sedangkan Adam tersenyum lebar dengan memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.


"hehehehe, aku seperti senior yang ahli dalam percintaan dan kalian adalah murid-murid ku" ucap Adam


"pasti saat elu masih hidup, mantan elu ada dimana-mana" cibir Vino


"entahlah, kalaupun iya berarti waktu hidup aku ganteng banget dan sangat mempesona. buktinya setelah jadi hantu, para lelembut di sekitar aku tersepona dengan ketampanan ku ini" ucap Adam dengan bangganya


"cih, disuka kuntilanak aja bangga" cibir Leo


"biarin, daripada kamu jomblo karatan... sukanya sama anak kecil adik teman sen...mmmmm" Adam tidak dapat melanjutkan perkataannya karena Leo dengan cepat membekap mulutnya


"gue belikan melati asal jangan ngomong yang macam-macam" bisik Leo


"mmmm" ucapan Adam sama sekali tidak dimengerti


"mau nggak...?" bisik Leo lagi


"mmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut hantu itu


"ngomong apa sih lu, mmmm mmmm mulu dari tadi" ucap Leo


"gimana mau ngomong orang mulutnya elu sumbal begitu" timpal El


"hehehehe, maap maap...gue khilaf" Leo melepaskan tangannya dan nyengir kuda


tatapan Adam sangat tajam melebihi silet. wajahnya masam dan menatap Leo dengan sangat kesal.


"jangan marah dong, aku kan nggak sengaja" bujuk Leo


"huh" Adam memalingkan wajahnya dengan kedua tangannya berada di dadanya


"nah kan, tanggung jawab lu Le udah bikin anak orang ngambek" ucap Vino gemes dengan tingkah Adam yang merajuk


"mau apa...?" Leo membujuk


"nggak mau apa-apa" jawab Adam masih memalingkan muka


"benaran nggak ada...?" tanya Leo lagi


"ish..iya, nanya mulu" kesal Adam


"oh ya udah. ayo El, Vin kita pulang" ajak Leo


mereka bertiga berdiri dan hendak meninggalkan Adam membuat hantu itu berteriak kesal.


"huaaaaaa....jahat banget main tinggal saja" teriak Adam dengan nada kesal


"lah, terus mau apa Adam Hawa" ucap Vino


"mau melati banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer" ucapnya dengan isak tangis


"tadi katanya nggak mau" ucap Leo


"tapi sekarang mau" jawabnya pelan dengan drama tangisnya


"ampun daaaah. kita kayak habis membuat nangis anak kecil saja" Vino menggaruk kepalanya


"El" panggil Adam lirih


"apa...?" tanya El


"mau melati" jawabnya pelan


"pulang yuk, melatinya nanti besok saja. sekarang tokonya pasti sudah tutup" ucap El dengan lembut


"tapi belinya banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer ya"


"jangankan tumpah-tumpah, lumer-lumer...kalau perlu gue beli dengan tokonya sekalian" timpal Leo


"ayuklah kalau begitu. yeeeeiii, besok mau dibelikan toko bunga sama Leo" girang Adam bertepuk tangan


"mampus lu Le" ucap Vino


Leo menepuk jidatnya, sedangkan El dan Vino hanya terkekeh melihat sahabat mereka itu pusing melebihi tujuh keliling.

__ADS_1


(hehehehe sepertinya drama tangisanku berhasil) batin Adam menyeringai


__ADS_2