
flashback end
"begitu ceritanya" ucap Adam
"oh my God, oh emji helloooo.....elu kiss kissing sama sang ratu" teriak Vino histeris menutup mulutnya
"ssstt....jangan keras-keras ngomongnya Ay" ucap starla
"tau gitu biar aku aja yang dibawanya supaya bisa kissing sama ratu" lanjut Vino
plak
plak
starla memukul lengan Vino sampai Vino meringis dan cengengesan saat gadis itu menatapnya tajam.
"eh Pinokio, kalau kamu dibawanya sampai starla beruban juga kamu nggak akan bisa kembali malah kamu akan jadi arwah seperti ku. bersyukur bisa selamat, aku aja untung ada Melati" ucap Adam
"kalau nggak mungkin sekarang aku sedang...." Adam menggantung ucapannya
"sedang apa...?" tanya mereka semua dengan wajah penasaran
"sedang ekhem ekhem" jawabnya malu-malu
""ekhem ekhem apa sih, nggak ngerti gue" ucap Leo bingung
"bulan madu, kan hari pernikahannya kalau dia nggak kabur" timpal El
"haaa itu maksud aku. bukan hanya sekedar kissing kissing tapi juga naik gunung menuruni lembah mencapai nirwana daaaan"
plak
plak
plaaaaak
starla melayangkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh Adam membuat hantu itu melayang menjauhinya dan duduk di samping Leo
"tangan kamu gatal banget sih, suka sekali mukul orang" ucap Adam meringis
"elu mah belum seberapa, nah gue tiap hari dapat geplak. lama-lama amsyong juga gue" keluh Vino
"oooh jadi kamu udah nggak tahan sama aku gitu, iya" starla menatap tajam Vino
"hehehehe...nggak kok yank, mana bisa aku jauh dari kamu" Vino memeluk starla dari samping
"elu kan punya kekuatan, kenapa nggak melawannya...?" tanya El
"dia itu penguasa di hutan itu. hidupnya sudah ratusan bahkan ribuan. kalau aku melawan, bisa metong aku digantungnya di pohon" jawab Adam
"elu kan memang udah metong" timpal starla
"ya tapi kan jangan juga sampai aku metong metong dua kali" timpalnya
"terus bagaimana nasib Melati kalau sampai ketahuan dia yang membantu elu melarikan diri" ucap Leo
"entahlah, semoga dia baik-baik saja" jawab Adam lirih
Thalita telah keluar dari rumah sakit. wanita itu menepati janjinya kepada Zidan untuk menjadi anjingnya yang setia. kini wanita itu melakukan tugasnya untuk terus bersama Vania dan menjaga kekasihnya itu.
Zidan tau bahwa Thalita bukan wanita biasa. dirinya tidak seperti Vania yang tidak bisa bela diri. Thalita mempunyai kemampuan bela diri yang telah diajarkan Rudi padanya dan itu menjadi pegangannya sekarang untuk melindungi Vania dari orang yang akan menyakitinya.
meski tidak sehebat ketiga pengawal Zidan, namun Thalita bisa diandalkan.
"mau kemana lagi nona...?" tanya Thalita yang duduk di samping Vania berada di dalam mobil dan dia sebagai supirnya
Vania sebenarnya tidak nyaman bersama wanita itu apalagi dia pernah membuatnya masuk rumah sakit, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa saat Zidan meyakinkannya.
"ke kantor, ada yang harus aku urus" jawabnya memainkan handphonenya
"baik"
kini Thalita tidak ubahnya seperti pengawal untuk Vania. kemanapun Vania pergi mana disitu juga kakinya melangkah.
"sudah sampai nona"
"terimakasih, kamu ikut juga denganku"
"baik"
keduanya keluar dari mobil masuk ke dalam perusahaan yang menjulang tinggi itu. para karyawan menyapa mereka dan menundukkan kepala.
setelah sampai di ruangannya, Vania duduk di kursinya dan Thalita berdiri di depannya.
"duduklah"
"terimakasih" Thalita duduk sesuai perintah Vania
"apakah kamu pernah mengerjakan pekerjaan kantor...?" tanya Vania
"pernah, aku dulu bekerja sebagai sekretaris" jawab Thalita
"bagus. mulai sekarang kamu akan aku angkat sebagai sekretaris ku berhubung sekretaris ku yang lama memundurkan diri karena melahirkan"
"tapi....."
"kenapa, kamu ingin menolak...?"
"bukan seperti itu nona, kalau aku jadi sekretaris nona lalu siapa yang akan menjaga nona jika aku sedang sibuk bekerja. bisa-bisa aku marahi oleh pak Zidan" ucapnya dengan kepala menunduk
"punya ketakutan juga kamu rupanya. dulu kamu begitu angkuh tanpa rasa takut. dimana keberanian mu waktu itu"
Thalita tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepala tanpa melihat Vania yang sedang menatapnya.
"kamu akan jadi sekretaris ku sekaligus penjagaku. sepertinya dua-duanya bisa kamu lakukan. iya kan...?"
"baik nona" jawabnya
__ADS_1
"bagus, sekarang lakukan tugasmu sebagai sekretaris"
"baik"
tok tok tok
"masuk"
Sisil masuk ke ruangan ayah Adnan untuk memberikan berkas yang harus diperiksanya.
"tolong kerjakan yang ini ya dan secepatnya kembalikan padaku" ayah Adnan memberikan sebuah map
"baik pak"
Sisil keluar dan kembali ke mejanya, mengerjakan tugas yang diberikan oleh bosnya. saat bekerja handphonenya berdering, nomor baru masuk ke dalam layar benda pipih itu.
πSisil
halo
π nomor tidak dikenal
halo sayang
π Sisil
siapa ini
πnomor tidak di kenal
kamu tidak mengenal suaraku. padahal baru saja setahun lalu kita tidak bertemu, secepat itu kamu melupakanku sayang
π Sisil
m-mas Aris
πnomor tidak dikenal
hahahaha.... akhirnya kamu mengenaliku juga. aku merindukanmu sayang
π Sisil
darimana kamu dapatkan nomorku. aku sudah bilang jangan pernah menggangguku lagi.
Sisil mulai ketakutan. ia pegang handphone miliknya dengan erat dan tangannya bergetar
πnomor tidak dikenal
tenang dong sayang. aku hanya merindukanmu dan juga putra kita. bagaimana kabarnya, sepertinya dia sudah bertambah besar ya
π Sisil
Azam tidak membutuhkan ayah seperti kamu. jangan pernah muncul dihadapan kami lagi. aku dan Azam sudah tenang tanpa kamu.
π nomor tidak dikenal
disebrang sana, pria yang bernama Aris mulai mengancam
π Sisil
aku tidak peduli
tuuuuut
panggilan dimatikan. Sisil menyimpan handphonenya di atas meja dengan raut wajah ketakutan dan pucat pasi.
handphone itu kembali berdering membuat dirinya kaget bahkan sampai berdiri dan hampir terhuyung ke belakang, untungnya Helmi yang baru saja datang langsung menahan tubuhnya.
"ada apa Sil...?" tanya Helmi
"ah...tidak apa-apa. a-aku hanya kaget saja" jawabnya gugup
"itu handphone mu bunyi, kamu tidak ingin mengangkatnya"
"b-biarkan saja"
Helmi sedikit bingung dengan tingkah sekretaris bosnya itu. Helmi melihat layar handphone Sisil, dan melihat siapa yang menghubunginya
"itu Zidan, angkat Sil"
Sisil lega ternyata bukan mantan suaminya yang menghubunginya. segera ia menerima panggilan dari Zidan sedang Helmi ke ruangan ayah Adnan.
di tempat lain, pria yang baru saja menelpon Sisil membanting handphonenya ke lantai
"aaaaa brengsek. sepertinya dia tidak lagi takut padaku. aku harus melakukan sesuatu agar bisa dengan mudah masuk ke perusahaan itu" ucapnya menahan marah
"sabarlah, jangan terbawa emosi. lakukan dengan pelan-pelan agar semuanya berjalan sesuai rencana" ucap seorang pria yang duduk di sofa. pria itu tidak memiliki dua jari di tangannya dan memiliki tato ikan paus. dialah Baharuddin Sanjaya
"kita harus bergerak pelan dan jangan terburu-buru agar hasilnya juga bagus" lanjutnya memainkan dua buah batu giok di tangan kirinya
"baik ayah" jawabnya
Sisil kembali lagi masuk ke dalam ruangan ayah Adnan. sudah ada Helmi di dalam. wanita itu memberikan berkas yang diberikan ayah Adnan tadi padanya.
"Sisil, kenapa bisa seperti ini. aku menyuruhmu bukan seperti ini" ucap ayah Adnan yang mengoreksi
"maafkan saya pak. akan saya rubah kembali" ucapnya menyesal
"ya sudah, rubah ulang dan cepat kembali" ayah Adnan memberikan kembali berkas itu
"baik pak.
tiga kali Sisil melakukan kesalahan yang sama. ayah Adnan heran dengan sekretarisnya itu. baru kali ini wanita itu lalai dalam pekerjaannya bahkan Helmi pun sampai heran.
"Sisil apakah kamu punya masalah sehingga tidak fokus saat ini...?" tanya ayah Adnan
"maafkan saya pak. saya menyesal, saya tidak akan melakukan kesalahan lagi" ucapnya menunduk
__ADS_1
"biar aku saja pak yang memperbaikinya" ucap Helmi
"ya sudah, aku minta tolong ya Helmi. segera diselesaikan dan berikan kepadaku"
"baik pak"
"Sisil sepertinya hari ini kamu tidak fokus. mungkin kamu pulang saja dan istrahat di rumah. besok saja kamu bekerja lagi"
"tapi pak"
"tidak ada tapi-tapi. kalau kamu memaksa bisa-bisa pekerjaan kita tidak selesai dan kamu malah membuatnya semakin sulit. pulanglah"
"pak Adnan benar Sil. sebaiknya kamu pulang saja dan istrahat di rumah" timpal Helmi
"terimakasih pak dan maafkan saya sekali lagi"
wanita itu meninggalkan ruangan ayah Adnan, mengambil tasnya dan berniat untuk pulang. sepertinya dirinya memang harus menenangkan diri di rumah akibat ketakutannya dengan mantan suami yang baru saja menghubunginya. ia akan menjemput putranya Azam, di sekolah. hanya dengan melihat buah hatinya, perasaannya akan lebih tenang.
"kita mau kemana...?" tanya Adam yang duduk di boncengan El
"melihat toko melatimu" jawab El
"waaaah....saya suka saya suka" Adam kegirangan
beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di toko yang dijanjikan oleh Leo. namun bukan toko yang sebenarnya melainkan sebuah tanah lapang yang di dalamnya terdapat bunga melati yang lumayan banyak.
"mana tokonya...?" Adam melihat kanan kiri
"tuh, toko langsung dari alamnya. elu tinggal metik terus duduk manis di pohon itu sambil makan melati" ucap Leo
"kamu bilang toko, kalau ini mah kebun melati" cebik Adam
"pan gue bilang tokonya dari alam. yang penting tanamannya melati semua. gue udah susah-susah membujuk pemiliknya untuk gue beli dan akhirnya dia mau. lagi pula dia akan merawat melatimu dengan baik jadi elu nggak perlu khawatir akan layu" timpal Leo
tanaman bunga itu berada di samping rumah pemilik sebenarnya. bahkan di depan halaman rumah penuh dengan tanaman hias dan juga beraneka bunga. Leo membujuk untuk membeli kebun melatinya namun tetap orang itu yang merawatnya. Leo ingin menggaji orang tersebut namun orang itu menolak, karena pekerjaan itu adalah hal menyenangkan baginya tanpa perlu ada imbalan.
"eh nak Leo, datang petik bunganya ya...?" tanya seorang ibu-ibu yang menghampiri mereka
"iya bu. terimakasih sudah merawat dengan baik" jawab Leo.
"sama-sama. ibu senang membantu. wah sama teman-teman nak Leo ya. mampir ayo ke rumah ibu, kebetulan ibu baru saja habis menebang pisang dan sekarang lagi membuat pisang goreng" ajaknya kepada remaja itu
"wah enak tuh kayaknya, pisang goreng sore hari begini ditambah teh manis makin nikmat" sahut Vino yang tergiur
"ayang ih" starla mencubit lengan pacarnya itu
"iya memang. ayo mari masuk dulu, ibu buatkan yang teman kalian inginkan. ayo masuk"
dengan tidak enak hati mereka akhirnya mengiyakan ajakan sang ibu. Adam tidak ikut karena sedang menikmati melati di atas pohon sana.
ke empatnya masuk ke dalam rumah yang sederhana itu namun terlihat bersih dan rapi. mereka duduk di ruang tamu yang tempat duduknya terbuat dari rotan dan mejanya dari kayu jati.
"sebentar ya" sang ibu meninggalkan mereka
tidak berapa lama ibu itu datang kembali dengan dua piring pisang goreng dan beberapa gelas teh manis. ia benar-benar menyuguhkan apa yang diinginkan oleh Vino.
"terimakasih banyak Bu, maaf sudah merepotkan" ucap El yang sangat tidak enak hati
"tidak apa-apa, ibu senang menjamu kalian. ayo dimakan pisang gorengnya mumpung masih panas"
sang ibu duduk bergabung bersama mereka. semuanya menikmati pisang goreng dan juga teh manis.
"bagaimana, enak...?"
"enak banget Bu" jawab starla
"nama kamu siapa nak...?" tanya sang ibu menatap starla
"starla Bu"
"kamu mengingatkan ibu pada anak ibu yang sudah pergi, dia seumuran denganmu"
"memangnya anak ibu pergi kemana...?" tanya Leo
"pergi menghadap yang Maha Kuasa"
"maaf Bu, aku nggak tau kalau...."
"tidak apa-apa, dia pasti sudah tenang di sana dan tidak merasakan sakit lagi" ucapnya tersenyum
"kalau boleh tau ibu tinggal dengan siapa di sini...?" tanya El
"ibu sendiri, suami ibu pergi meninggalkan ibu karena ibu yang sudah sakit-sakitan"
"kapan-kapan mainlah ke rumah ibu, agar ibu ada temannya" lanjutnya
"tentu saja Bu, apalagi kalau ada pisang goreng seperti ini" jawab Vino
"ayang ih, malu-maluin" cebik starla
"hehehehe" Vino cengengesan
puas dengan pisang goreng, mereka semua berpamitan untuk pulang karena sebentar lagi malam menghampiri. sebelum pergi, Leo meminta izin untuk ke kamar mandi. sang ibu menunjukkan kamar mandi di dekat dapur.
selesai dengan urusan di kamar mandi, Leo segera kembali namun dirinya terhenti saat melihat lukisan seorang gadis cantik di ruang tengah. di sebelah lukisan itu ada sebuah foto seorang gadis yang fotonya sama persis dengan yang ada di lukisan itu.
"mungkin ini anaknya ibu itu" gumam Leo
seakan memiliki daya tarik, Leo memegang lukisan itu, siapa sangka ternyata kaca dalam lukisan itu sedikit retak sehingga jarinya terluka dan mengeluarkan darah hingga lukisan itu terkena darahnya.
Leo melap darahnya dengan lengan bajunya kemudian melangkah untuk menyusul sahabat-sahabatnya namun langkah kakinya terhenti mendengar Isak tangis di ruangan itu.
"huuuuuu huuuuuuu..... toloooong" suara yang sangat pelan membuat merinding
tentunya Leo berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang menangis namun tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain dirinya.
"apa gue salah dengar ya"
__ADS_1
Leo berbalik kembali namun ekor matanya menangkap seseorang yang berdiri di dekat pajangan foto dan lukisan tadi. saat berbalik dirinya terkejut apa yang ia lihat