Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 153


__ADS_3

" ini benaran kita jalan di sini...?" Vino bertanya sambil melihat sekelilingnya


"keris itu menunjukkan jalan yang ini" Adam menjawab


"tapi kok gue merasa kita hanya berputar-putar di sini saja. jalan ini kita sudah lalui tadi bahkan ini yang ketiga kalinya" ucap Vino


"iya benar kak, kita hanya terus berputar di jalan yang sama" El membenarkan apa yang dikatakan oleh Vino


"capek gue, dari tadi kita nggak nyampe-nyampe" Starla duduk dan berselonjor di tanah


"sepertinya kita memang sengaja di buat berputar-putar di tempat ini agar nggak sampai di tujuan" Adam menajamkan penglihatannya


"jan sarikan lungurtum Kris larangapati" El-Syakir merapalkan mantra dan keluarlah keris yang bersemayam di dalam tubuhnya


"tunjukkan arah jalan dimana tempat kuntilanak merah itu berada" El menancap kerisnya di tanah kemudian dia mundur selangkah


keris itu tercabut dari tanah dan terbang ke atas, bergetar seperti pertama tadi kemudian jatuh ke tanah dan mata ujungnya menghadap ke arah kiri.


"ke sana" El menunjuk jalan yang ditunjukkan oleh keris larangapati


"loh, bukankah itu jalan yang kita lewati tadi dan akhirnya berbalik lagi di tempat ini" ucap Leo


"mungkin keris ini salah menunjukkan jalan" ucap Bara


"dia menunjukkan jalan yang benar, hanya saja kita memang sengaja dibuat terus di tempat ini agar tidak mengacaukan ritual ibu Dewi bersama kuntilanak itu" timpal


"lalu apa yang harus kita lakukan kak, kita nggak punya banyak waktu untuk tetap berada di sini, Alana dan Melati sedang dalam keadaan bahaya sekarang" El nampak mulai khawatir


"hanya ada satu cara, dan aku terpaksa harus melakukannya" ucap Adam dengan serius


"satu cara...?" El mengerutkan keningnya


"iya, dengan cara itu dapat memudahkan aku untuk melacak keberadaan mereka" jawab Adam


"bagaimana caranya...?" tanya El yang penasaran cara apa yang dimaksudkan oleh Adam


"melepas raga" jawab Adam


"melepas raga...?" mereka semua menatap Adam dengan bingung


"maksud kakak...?" tanya El begitu bingung belum mengerti


Adam tidak menjawab. dia kemudian duduk bersila di dekat pohon dan menutup matanya. hingga sedetik kemudian roh Adam keluar dari raganya, dia berdiri menghadap tim samudera.


"dam, elu....mati lagi...?" Vino sungguh tidak menyangka Adam bisa melakukan itu


"bukan mati, hanya saja roh dan ragaku terpisah. dengan begini aku bisa melacak keberadaan Alana dan Melati" Adam menjelaskan


"kalau elu pergi, terus bagaimana dengan tubuhmu. kita berada di dimensi lain, kalau ada makhluk lain yang mencoba masuk ke dalam tubuhmu bagaimana...?" Nisda menatap tubuh Adam


"kalau begitu biar kamu dan Starla yang akan menjaga tubuhku sedangkan yang lain, mengikuti ku mencari keberadaan mereka" ucap Adam


"iya, sebaiknya seperti itu agar tubuh kak Dirga aman dari serangan makhluk lain" Bara menimpali


"kami berdua...?" Starla mengulangi ucapan Adam


"iya, memangnya kenapa...?" tanya Adam


"nggak apa-apa. baiklah biar gue sama Nisda tetap di sini. kalian berhati-hatilah" Starla sebenarnya enggan untuk berada di tempat itu, terlebih lagi hanya berdua dengan Nisda. mereka hanya perempuan, masih ada rasa takut dalam dirinya. namun dia tidak mungkin menolak karena itu adalah jalan terbaik yang telah di sepakati


"kalau kalian takut, biar gue yang menemani mereka di sini" Bara memberi solusi


"nggak perlu beb, aku dan Starla akan baik-baik saja. sebaiknya kalian cepat pergi sebelum kita terlambat menyelamatkan mereka" ucap Nisda


"kalau begitu kami pergi dulu" Adam mendahului


"sayang, aku pergi ya...kamu hati-hati di sini" Vino mendekati Starla dan memeluknya


"iya, kamu juga hati-hati" Starla membalas pelukan Vino


Bara pun berpamitan kepada Nisda kemudian mereka menyusul El-Syakir dan Adam serta Leo yang telah jauh meninggalkan keduanya.


mereka terus berjalan menyusuri malam yang berkabut. begitu mencekam di hutan itu, andai mereka bukan anak manusia yang sudah terbiasa dengan hal gaib, mungkin sekarang ini ada salah satu dari mereka yang akan ketakutan berada di tempat alam gaib itu.


"kenapa gue merasa berat meninggalkan Starla dan Nisda ya" ucap Vino memecahkan keheningan


"aku sebenarnya bisa saja membuat tameng untuk tubuhku namun aku punya alasan kenapa memberikan mereka tugas menjaga tubuhku" Adam menimpali


"memangnya apa alasanmu...?" tanya Leo

__ADS_1


"kalau mereka ikut bisa saja keduanya menjadi incaran kuntilanak itu. maka untuk menyelamatkan mereka berdua, menjaga tubuhku itu lebih untuk keduanya" jawab Adam


"gue setuju, seharusnya memang mereka jangan ikut" ucap El


Adam duduk memegang tanah dan membaca sesuatu hingga kini mereka terbebas dari lingkaran gaib yang mengurung mereka hanya berada di satu titik saja. itulah mengapa tadi mereka terus berputar di jalan tempat yang sama.


sementara itu, ibu Dewi duduk bersila di depan keempat gadis yang belum juga sadarkan diri. dia duduk dengan mulut yang komat kamit dan sesekali menabur bubuk ke dalam dupanya sehingga dupa itu berasap.


setelahnya dia berdiri dan mengelilingi gadis-gadis itu termasuk putranya Rehan. ibu Dewi mengelilingi mereka sebanyak tujuh kali kemudian duduk bersila kembali.


lare ireng kungguasa sangia maharsuji


lare ireng kungguasa ganiman janjari


sumsum ari ginang langarung gandapati


Ranggina maharsuji


Ranggina maharsuji


ibu Dewi merapalkan mantra dengan kedua mata yang tertutup dan tangannya dia rapatkan di depan dada.


mantra itu adalah mantra untuk memanggil makhluk yang selama ini telah bersekutu dengannya.


wuuuussshhh.....


setelah merapalkan mantra itu, angin bertiup kencang. hawa dingin mulai begitu menusuk di kulit.


"hihihihihi" suara tawa kuntilanak merah menggema di malam yang mencekam itu


sat...sat...sat


suara sesuatu yang di seret terdengar di telinga ibu Dewi. dia dapat merasakan setan itu tengah berjalan mendekat ke arahnya.


ibu Dewi membuka mata, beberapa meter di depan sana sosok yang berpakaian merah tengah tersenyum menyeringai ke arahnya. rambutnya yang panjang diseretnya di tanah.


wajahnya yang begitu mengerikan namun tidak membuat ibu Dewi gentar sedikitpun. ketakutannya dia singkirkan, hanya untuk kebangkitan anaknya kembali.


"makananmu sudah saya siapkan, kemampuan mu untuk membangkitkan anakku pasti akan semakin bertambah. empat gadis telah aku siapkan untukmu" ucap ibu Dewi


"hihihihihi" suaranya melengking memecah keheningan malam


untuk menutup mulut suaminya agar bungkam untuk selamanya, ibu Dewi dengan kejinya membuat suaminya jatuh dari tangga harus hingga akhirnya mengalami struk dan keadaannya yang menyedihkan.


"kamu hebat mencarikan aku makanan Dewi" ucap kuntilanak merah tersenyum menyeringai. wajahnya yang hancur sebelah, sungguh sangat menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya


"akan aku lakukan untuk kebangkitan anakku, kamu harus penuhi janjimu padaku" timpal ibu Dewi


"hihihihihi.... hihihihihi" dia melayang memutari gadis-gadis itu


kemudian kuntilanak itu berhenti di dekat Nilam, anak dari ibu Dewi yang ternyata hanyalah anak angkat. demi menghidupkan kembali anaknya, ibu Dewi dengan tega menumbalkan Nilam, anak yang selama ini selalu berbakti padanya.


"bangun cantik" suara kuntilanak itu langsung membuat Nilam seketika membuka matanya


melihat kuntilanak mengerikan itu, Nilam mulai menangis tanpa suara. dia tidak bisa bergerak sama sekali, matanya terus dipaksa untuk melihat setan merah itu tanpa bisa menutup mata.


air mata Nilam terus jatuh, kuntilanak merah itu melayang dan langsung berada di atas tubuh Nilam, mereka saling berhadapan.


hingga kemudian kuntilanak itu menghisap jiwa Nilam. semua energi yang ada dalam tubuhnya tubuh Nilam akan dihisapnya. tubuh Nilam terangkat ke atas, mulutnya terbuka lebar. itu adalah jalan dimana keluarnya energinya untuk masuk ke kuntilanak itu.


Nilam mulai kejang-kejang, jiwanya akan diambil oleh kuntilanak itu namun semuanya itu tidak berjalan mulus.


buaaaak


buaaaak


tendangan mendarat di kepala kuntilanak itu. dia yang masih terus menghisap jiwa Nilam, langsung tersungkur ke tanah.


sedang ibu Dewi, wanita itu mendapatkan tendangan di punggungnya, dia terjatuh dari atas tempat duduknya dan mendarat kasar di tanah.


"kurang ajar, berani sekali kalian mengganggu ritualku" ibu Dewi nampak begitu marah


"tante Dewi benar-benar nggak punya hati, mengorbankan anak sendiri untuk menjadi tumbal dan sekarang mau menjadikan adik dan temanku tumbal juga. jangan mimpi, akan aku luluh lantahkan ritual biadabmu ini" El begitu marah melihat adiknya dan juga Melati yang terbaring lemah di atas batu


"anak kecil mau melawanku, sekalian saja aku bunuh kalian semua" ucap ibu Dewi dengan begitu sombongnya


"cih, malah aku yang akan mencabut nyawamu wanita bejat" Vino maju ke depan, sudah tidak peduli dengan siapa mereka berhadapan. orang tua harusnya mereka hormati namun sekarang tidak ada lagi rasa sopan di dalam diri mereka


"ku bunuh kalian" ibu Dewi mulai menyerang

__ADS_1


sementara itu, Adam dan kuntilanak merah saling berhadapan langsung. kikikan kuntilanak itu, sama sekali tidak membuat Adam takut sedikitpun.


sebelum berhadapan dengan kuntilanak merah, Adam membuat pagar gaib untuk keempat gadis yang akan menjadi tumbal, termasuk juga Rehan agar mayat remaja itu tidak dibawa pergi oleh ibu Dewi.


dan setelahnya, Adam dan kuntilanak merah saling berhadapan langsung. kikikan kuntilanak itu, sama sekali tidak membuat Adam takut sedikitpun.


"heh... makhluk jelek. sudah berhenti tertawanya...? kupingku sakit mendengarkan suara vokal mu yang jelek itu" Adam malah menghardik


"itu juga matamu kenapa berubah-ubah seperti itu. lampu neon dimana yang kamu beli, aku juga ingin membelinya dan menyimpan di dalam mataku"


"menyingkir kamu anak manusia" ucap kuntilanak merah dengan mimik wajah yang marah


"mau lewat aja pakai nyingkirin orang. noh, di situ kan luas. lewat aja di situ"


"hihihihihi.... punya nyali juga rupanya kamu"


"apa juga yang harus aku takutkan dengan wajah ondel-ondel mu itu"


"kyaaaaaaaa"


kuntilanak merah mulai menyerang Adam, pertarungan pun tidak dapat dihindari. beberapa kali kuntilanak merah menyerang Adam dengan sihir yang keluar dari matanya namun Adam dapat menghindar dan sihir itu mengenai tanah kemudian meledak.


"kalau bawa mercun harusnya bilang-bilang dong, tau gitu aku bawakan bom atom tadi kamu" Adam bersandar santai di pohon


sebenarnya kekuatan kuntilanak merah itu jauh di atasnya dan bisa saja Adam akan kalah. hanya saja untuk menghilangkan ketegangannya, Adam bertingkah tengil agar kuntilanak itu tidak berpikir kalau Adam adalah bukan tandingannya.


"hihihihihi"


"kita lihat seberapa lama kamu bisa menghindari seranganku. arwah seperti kamu bisa aku lenyapkan hanya dalam satu kali tepuk"


"kamu pikir aku nyamuk main tepuk aja" Adam menjawab


"hihihihihi....rasakan ini"


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


bughhh


bughhh


Adam tidak dapat lagi menghindar dan kali ini dirinya terkena serangan pukulan dari kuntilanak itu hingga kini dia tersungkur di tanah dan terbatuk kemudian berdarah.


(baru satu kali pukulan saja aku sudah muntah darah seperti ini, bagaimana kalau terkena serangan sihir matanya itu. aku harus lebih berhati-hati) Adam membatin dan mencoba untuk bangun kembali


"hihihihihi... sepertinya kamu terluka anak muda. bagaimana rasanya...?" kuntilanak itu tertawa melihat Adam terkena pukulannya


Adam meludah dan tentu saja ludahnya berwarna merah. dia merasakan panas di perutnya, saat diperiksanya ternyata benar perutnya terluka, menghitam dan berasap.


"kak Dirga" El menghampiri Adam dan saat melihat luka di perut Adam, dia meringis, pasti sangat sakit dan perih


"hihihihihi, baru satu kali terkena pukulan saja kamu sudah tumbang seperti itu


"kakak nggak apa-apa...?"


"kita harus berhati-hati dengannya, dia sangat kuat" Adam berkata pelan di telinga El-Syakir


sementara itu, Leo, Bara dan Vino masih terus bertarung dengan ibu Dewi. wanita itu ternyata tangguh juga, bahkan kini dirinya belum lemah sama sekali untuk menghadapi ketiga remaja itu.


"anak-anak bau kencur seperti kalian tidak akan bisa melawanku" ucap ibu Dewi dengan begitu angkuh


"jangan sombong dulu tante, kami juga anak kemarin sore yang bisa ibu tumbangkan begitu saja" Bara menjawab keangkuhan wanita itu


mereka bertiga berbaris menatap tajam ke arah ibu Dewi. sementara wanita itu pun menatap mereka dengan tatapan nyalang.


"kalian siap...?" Leo menatap kedua temannya bergantian


"sangat siap" jawab Vino


"siap" jawab Bara


"pantang mundur mati tak gentar" Leo mengangkat pedangnya


"mati tak gentar" teriak Vino dan Bara


"seraaang" Leo berteriak dan mulai menyerang

__ADS_1


kini mereka kembali bertarung, kali ini ketiga remaja itu melawan ibu Dewi dengan membabi buta. tidak dipedulikan siapa yang mereka lawan, amarah mereka sudah sampai di puncak apalagi melihat Nilam yang hampir mati karena perbuatan wanita itu.


__ADS_2