
pukul 10 pagi setelah di kafani dan di sholatkan dan mempersiapkan semuanya, jenazah pak Ujang akan dikebumikan. bapak-bapak sebagian mengangkat keranda mayat dan sebagian lainnya mengikuti dari belakang.
para ibu-ibu ada yang ikut dan sebagian lagi tetap berada di rumah pak Firman untuk mempersiapkan makanan semua orang pelayat.
kali ini tim samudera tidak ikut ke pemakaman, mereka memilih untuk istrahat karena memang mereka butuh ketenangan sejenak.
para laki-laki berkumpul di kamar Deva dan para perempuan berada di kamar Zahra. mereka semua tertidur pulas karena begitu lelahnya menjalani hari-hari kemarin yang begitu sulit.
euughh....
suara seseorang yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Wulan membuka mata perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang penuh dengan hiasan.
"dimana aku...?" gumamnya mencoba untuk bangun
"Wulan, kamu sudah sadar. syukurlah, Alhamdulillah" Zahra yang baru saja masuk ke dalam kamar begitu senang melihat sahabatnya itu kini telah siuman
"apa yang terjadi Ra, kenapa sekarang aku sudah berada di kamarmu...?" tanya Wulan penuh tanda tanya
"kamu nggak ingat apa terjadi padamu...?" Zahra balik bertanya, ia berpikir bagaimana mungkin sahabatnya itu tidak mengingat apa telah terjadi padanya setelah dua hari menghilang
"aku ingat.... seorang kakek tua membawaku ke rumahnya. kemudian ia memberikanku makan dan setelah itu tiba-tiba saja aku mengantuk dan baru saja bangun" Wulan menjelaskan
"kamu hampir dijadikan tumbal tau nggak Lan. untungnya ada kak El-Syakir dan teman-temannya yang menolong kamu, kak Deva dan juga kak Adam" Zahra memberitahu
"jadi tumbal...?" Wulan tentu saja kaget
"iya, syukurnya kalian semua selamat sekarang. kak Adam terluka parah, dia ada di kamar kak Deva dan kamu tau kalau ternyata paman Ujang adalah dalang dari semua ini. selain paman Ujang.....telah meninggal Lan, baru saja akan dimakamkan"
"innalilahi, kalau begitu aku mau melihat keadaan kak Adam" Wulan akan turun dari ranjang namun ditahan oleh Zahra
"nanti saja, kak Adam sedang istrahat sekarang. sebaiknya kamu tidur lagi"
"ayah dan ibuku pasti cemas sama aku Ra, aku harus pulang"
"orang tuamu ada di sini Lan. bibi Murni sedang berada di dapur untuk memasak sementara paman Banu pergi ke tempat pemakaman"
"lalu mereka semua.... apakah mereka baik-baik saja...?" Wulan melihat Melati, Alana, Starla dan Nisda yang sedang terlelap tidur di bawah beralaskan kasur yang disediakan
"mereka hanya kelelahan. kamu juga istirahatlah, aku mau kembali ke dapur"
Zahra mengelus lembut lengan sahabatnya itu kemudian keluar dari kamarnya menuju ke dapur.
di dalam kamar Deva, semuanya sedang tertidur pulas. Adam sendirian di atas ranjang sementara yang lain tidur di bawah.
saat itu hp El-Syakir berdering, tentu saja membuat sebagian dari mereka membuka mata.
Deva mengucek matanya dan memwriksa hp siapa yang terus berbunyi. dilihatnya hp El-Syakir yang berada di atas meja belajar.
"ayah" gumam Deva saat membaca nama yang menghubungi hp itu
"bangun bangun bangun. hp siapa ini, ada yang nelpon" Deva membangunkan semua orang
dengan terpaksa mereka semua membuka mata meski dalam keadaan berat. hanya Adam yang masih terlelap tanpa terusik sedikitpun.
"bukan punya gue" Vino kembali berbaring dan memeluk bantal guling saat melihat bukan hp miliknya yang bersuara
"itu hp gue" El-Syakir bangun dari tidurnya dan mengambil hpnya di tangan Deva
El-Syakir
halo, assalamualaikum ayah
ayah Adnan
wa alaikumsalam. El, jadi pulang hari ini kan...?
El-Syakir
belum ayah, sekarang ada keluarga kak Deva yang meninggal. mungkin besok atau lusa kami pulang
ayah Adnan
innalilahi, tapi kalian baik-baik saja kan...?
"siapa yah...?" terdengar suara ibu Arini yang bertanya di sebrang sana
"El-Syakir bu"
"sini ibu mau bicara"
ayah Adnan
halo El, ini ibu nak
El-Syakir
iya bu
ayah Adnan
kalian disitu baik-baik saja kan. kakak dan adik kamu bagaimana, mereka sehat kan. sejak kemarin perasaan ibu tidak enak, selalu memikirkan kalian bertiga
El-Syakir
kami baik-baik saja bu, ibu nggak perlu khawatir. besok atau lusa kami akan pulang
El-Syakir terpaksa berbohong karena dirinya tidak ingin orang tuanya semakin cemas tatkala ia memberitahu kalau keadaan Adam sedang tidak baik-baik saja.
ayah Adnan
syukurlah kalau begitu. ibu begitu khawatir sama kalian. jaga kesehatan ya nak, jangan cari masalah di kampung orang
El-Syakir
iya bu, ibu jangan cemas kami akan jaga sikap dan jaga diri
ayah Adnan
ya sudah kalau kalian semua baik-baik saja. ayah tutup telponnya ya, assalamualaikum
El-Syakir
wa alaikumsalam
"ayah ya...?" Adam bertanya, rupanya dirinya sudah bangun saat El-Syakir menerima panggilan dari ayah Adnan
"iya, kakak sudah bangun. bagaimana, apakah kakak masih merasakan sakit...?" El-Syakir mendekati Adam dan duduk di ujung ranjang
"aku sudah baik-baik saja, hanya masih terasa lemas. kak Deva mana...?"
"tuh, lagi tidur" El-Syakir menunjuk di bawah ranjang. orang yang Adam tanyakan sedang pulas tidur satu kasur bersama Bara
__ADS_1
"pinjam hp mu"
"untuk...?"
"aku ingin menghubungi paman Zidan, ada yang ingin aku beritahu padanya"
"memangnya hp kakak mana...?"
"hilang di hutan, mana sini hp mu" Adam mengulurkannya tangannya ke depan
El-Syakir memberikan hp miliknya kepada Adam. segera Adam mencari nomor Zidan dan menghubunginya.
"kenapa nggak diangkat, apakah sedang sibuk" ucapnya saat panggilan yang ia lakukan tidak mendapatkan respon
"mungkin paman Zidan sedang di kantor" ucap El-Syakir
"kalau begitu aku hubungi tante Vania saja"
Adam mencari nomor Vania dan menekannya. beberapa menit menunggu, panggilannya pun tersambung.
Vania
halo El
El-Syakir
ini aku Adam tante
Vania
kamu dam, ada apa. kenapa memakai hp El-Syakir
El-Syakir
hp aku hilang tante. oh ya tante, paman Zidan ada nggak
Vania
pamanmu di kantor, ada apa
El-Syakir
aku hubungi terus dari tadi tapi paman nggak angkat
Vania
mungkin lagi meeting, sekarang ini dia lagi sibuk sama ayahmu dan juga ketiga pengawalan. kapan kalian pulang, rumah sepi kalau nggak ada kalian
El-Syakir
besok pulang tante. dede bayi gimana, sehat-sehat kan...?
Vania
Dede bayinya kangen sama ketiga kakaknya
El-Syakir
belum keluar kan...?
Vania
El-Syakir
pokoknya nggak boleh keluar kalau kami belum pulang ya
Vania
lah, masa dilarang kalau udah waktunya
El-Syakir
pokoknya nggak boleh, kalau dede bayi maksa ancam saja
El-Syakir sampai terkekeh geli mendengar percakapan Adam dengan Vania.
(dasar kakak edan) batin El-Syakir geleng kepala
Vania
makanya cepat pulang kalau begitu. jangan lupa oleh-oleh ya
El-Syakir
tante mau dibawakan apa
Vania
yang manis-manis boleh
El-Syakir
oke, nanti pulang Adam carikan yang manis-manis. udah dulu ya tante, sampai jumpa besok. assalamualaikum
Vania
wa alaikumsalam
setelah menghubungi Vania, Adam mengirimkan pesan ke nomor Zidan. ia memberitahukan agar pamannya itu menghubungi El-Syakir jika telah selesai meeting.
"nih" Adam mengembalikan hp El-Syakir
"emang kak Dirga mau bicara apa sih sama paman Zidan...?"
Adam memicingkan matanya ke arah El-Syakir.
"kepo" ucapnya mengejek
"ck, pelit" El-Syakir mencebik
suara riuh orang-orang yang baru saja pulang dari pemakaman mulai terdengar. El-Syakir berjalan ke arah pintu dan membuka sedikit untuk melihat keadaan di luar. di halaman depan rumah, nampak bapak-bapak sedang beristirahat di kursi yang telah disediakan. semenjak para ibu-ibu sibuk mengatur makanan dan membawanya ke depan untuk dihidangkan di atas meja panjang yang telah di sediakan.
setelah semuanya siap, ibu Nurma mulai mempersilahkan bapak-bapak untuk makan siang karena memang kini matahari sudah begitu terik menyengat kulit.
"ada apa di luar...?" tanya Adam
"bapak-bapak yang baru saja pulang dari pemakaman pak Ujang" El-Syakir menutup pintu dan membaringkan tubuhnya di samping Adam
sesaat kemudian pintu kamar Deva terbuka, ibu Nurma datang untuk melihat mereka.
"belum pada bangun...?" tanya ibu Nurma
__ADS_1
"aku sudah bangun bu" ucap Adam yang kini sedang bersandar di dinding
El-Syakir pun ikut bangun dan duduk saat mendengar suara ibu Nurma.
"makan dulu ya, dari pagi tadi kalian semua belum makan" ucap ibu Nurma
"memangnya sudah jam berapa bu...?" tanya El-Syakir
"jam setengah 12, sebentar lagi dzuhur. mau ibu bawakan makanan di sini...?"
"nggak usah bu, biar kami saja yang ke dapur" tolak El-Syakir
"di dapur banyak orang, tidak apa-apa ibu bawakan saja di sini. yang lain juga akan ibu bawakan di kamar Zahra. tunggu sebentar ya" ibu Nurma keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar Zahra
ibu Nurma meminta Zahra untuk membantu Seil membawakan makanan untuk tim samudera. Zahra pun bangkit dari tempat duduknya karena saat itu dirinya sedang bercerita bersama Wulan.
"kak Deva, Vino, Leo, Bara, ayo bangun. udah dzuhur" El-Syakir membangunkan mereka semua
"gue lapar" Leo bangun dan mengambil posisi duduk begitu juga yang lainnya
"makanan akan diantarkan ke sini" ucap El-Syakir
"kenapa bukan kita saja yang ke dapur...?" tanya Bara
"di dapur banyak orang, mana bisa kita lalu lalang begitu saja" jawab El-Syakir
"terus bagaimana kita mandinya, kamar mandi kan ada di dapur" Leo menggaruk kepala
"kalau mau mandi, kalian bisa ke rumah Wulan saja. ibu sudah memberitahu pak Banu dan ibu Murni. karena di sini kalian tidak akan bisa mandi" Zahra masuk bersama Seil dengan nampan makanan yang ada di tangan mereka
"huumm harus sekali, aku jadi tambah lapar" Adam seketika semangatnya saat melihat makanan yang dibawa kedua gadis itu
"ini untuk kak Adam" Zahra memberikan piring berisi nasi dan lauk kepada Adam
"terimakasih" Adam segera mengambilnya dan melahap makanannya
"lapar ya pak...?" Deva meledek Adam karena cara makannya yang seperti seseorang sudah beberapa hari tidak makan
"nggak, aku haus. udah tau lapar pake nanya lagi" Adam cemberut namun tetap melanjutkan makannya
"kalian nggak makan...?" Leo bertanya kepada Zahra dan Seil
"kami mau makan di kamar sebelah. kalau sudah selesai, beritahu saja ya" jawab Seil
kedua gadis itu meninggalkan mereka dan masuk di kamar yang ada di samping kamar Deva.
"Zahra, Seil, ayo makan sama-sama" Nisda mengajak keduanya
Zahra dan Seil ikut bergabung bersama untuk makan siang.
setelah makan kini mereka akan ke rumah Wulan. dengan membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti, mereka semua lewat arah dapur.
banyak bertanya-tanya siapa mereka, ibu Murni menjelaskan bahwa anak-anak itu adalah teman-teman Deva.
sebagian ibu-ibu mengatakan bahwa untung saja anak-anak itu tidak menjadi tumbal para arwah-arwah desa Baluran. mereka tidak tau saja kalau anak-anak remaja itulah yang menyelamatkan desa mereka dan hampir menjadi tumbal dari kuntilanak merah.
"ini nggak apa-apa kita keluar begini padahal di rumah lagi berduka...?" Nisda bertanya
"kita akan kembali magrib nanti untuk tahlilan" Deva menjawab
"nggak asik banget ya. yang gue bayangkan sebelum ke sini itu adalah jalan-jalan menikmati indahnya pemain di pedesaan, eh ini malah menikmati kengerian pedesaan" ucap Leo
"kak Leo nyesal...?" tanya Alana
"ya nggaklah, membantu orang banyak kenapa harus nyesal. cuman sedih aja gitu nggak bisa liburan seperti yang diinginkan" jawab Leo
"lain kali datang lagi aja, kan sekarang desa ini udah nggak seram lagi" Wulan menimpali
"kapan-kapan lah kalau ada waktu lagi" ucap Vino
El-Syakir sejajar dengan Adam, ia sengaja berada di sampingnya agar nanti dapat membantunya jika Adam tiba-tiba saja jatuh karena dirinya belum begitu pulih dari pengaruh racun yang diberikan oleh pak Ujang.
Melati ingin sekali berjalan di dekat Adam. ia pun memberanikan diri untuk mendekatinya. El-Syakir yang paham pun langsung berjalan cepat menyusul Deva dan Leo yang berada di depan mereka.
"kenapa aku kamu tinggal" tanya Adam
"dam" Melati memanggil dengan suara pelan
Adam pun tau kenapa El-Syakir akhirnya lebih memilih bersama Deva dan Leo. sejenak Adam berhenti dan Melati ikut berhenti.
"ada apa...?" tanya Adam yang menatap lurus ke depan tanpa melihat ke arah Melati
"kamu marah padaku...?"
"lebih tepatnya kecewa"
"maaf, aku minta maaf"
"tidak perlu, semuanya juga sudah terjadi dan berlalu. untuk apa meminta maaf"
"aku akan melakukan apapun asal kamu mau memaafkan aku"
Adam menoleh dan menatap Melati yang kini sudah nampak berkaca-kaca.
"segitu inginnya kamu untuk memilikiku sampai melakukan hal itu Mel"
Melati menggeleng dengan cepat "aku tidak bermaksud seperti itu dam. kamu boleh kecewa padaku asal jangan marah kepada ratu Sundari. dia melakukan itu karena aku"
"agar dia tenang melepasku kembali ke alam manusia karena ada kamu, karena......dia tau perasaanku padamu"
"sudahlah, tidak usah membahas itu. apapun yang terjadi kedepannya, semuanya sudah rencana Tuhan"
Adam kembali melangkah dan hampir saja dirinya jatuh karena tiba-tiba kepalanya terasa pusing. dengan sigap Melati menangkap tubuhnya.
"aku bantu" Melati mengambil lengan Adam dan ia simpan di bahunya
"mau aku beritahu satu rahasia...?"
"rahasia apa...?"
"tapi janji padaku kalau kamu akan memaafkan ku dan tidak marah kepada ratu Sundari"
"aku sedang tidak ingin membahas dia Mel"
"dam"
"hmm"
"apa kesepakatan kita masih akan berlanjut...?"
Adam kembali berhenti dan menurunkan lengannya di bahu Melati. ia tatap dalam-dalam mata gadis itu begitu juga dengan Melati.
__ADS_1