Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 125


__ADS_3

El-Syakir terbengong di tempat pembaringannya. berkali-kali ia terus mengucek matanya untuk memastikan apa yang ia lihat itu benar ataukah hanya halusinasi saja.


"jangan di kucek terus matanya nanti sakit" ucap laki-laki itu melarang El-Syakir


deg......


El-Syakir seketika langsung bangun dari ranjangnya. mendengar suara laki-laki itu, dirinya semakin yakin kalau dia sedang tidak berhalusinasi. ia duduk dengan mata yang terus menatap ke arah laki-laki itu.


laki-laki itu tersenyum, ia tau El-Syakir pasti shock melihat dirinya sekarang yang tiba-tiba saja sudah duduk di hadapannya.


"apa kabar dek...? lama tidak bertemu, kamu nggak kangen sama kakak...?" ucapnya dengan menatap teduh El-Syakir


"k.... k-kak D-Dirga....?" El-Syakir mulai berkaca-kaca


"iya... ini kakak" Adam mendekati El-Syakir dan berdiri didekatnya


laki-laki itu adalah Adam. hantu yang selama ini mengikuti El-Syakir kemanapun dia pergi, kini sekarang Adam telah berwujud manusia. entah apa yang terjadi setelah malam itu, namun yang pasti saat ini Adam telah kembali. sosok yang selama ini El-Syakir rindukan kini sudah berada di depan matanya..


"ini benaran kak Dirga...?" suara El-Syakir nampak mulai serak


"iya dek, ini aku Adam, Dirgantara" senyuman Adam terukir di wajahnya


"sini peluk" Adam merentangkan kedua tangannya


bruuuuk......


El-Syakir menghambur memeluk Adam. ia menangis sejadi-jadinya di pelukan kakak yang sudah 5 bulan itu pergi meninggalkannya. tidak peduli dengan sakitnya infus yang ada di tangannya, ia memeluk Adam dengan sangat erat.


"hiks... hiks... hiks, kakak kembali, akhirnya kak Dirga kembali" dalam tangisnya, El-Syakir berucap dengan suara tertahan


kepergian Adam adalah hal yang paling menyakitkan bagi El-Syakir. betapa tidak, selama puluhan tahun mereka terpisah sejak kecil kemudian setelah remaja mereka bertemu kembali. namun hanya beberapa bulan bersama, Adam pergi meninggalkannya lagi.


5 bulan kepergian Adam, El-Syakir lalui dengan sebuah perasaan bersalah dan menyakitkan. bahkan di awal-awal dirinya kehilangan Adam, El-Syakir terus saja menangisi kakaknya itu. kalau bukan karena tim samudera, El-Syakir akan terus larut dalam kesedihannya.


"jangan pergi lagi kak, tetap di sini bersama El. El benar-benar nggak bisa kehilangan kakak"


"iya, kakak akan terus di sini bersama kamu" Adam mencium pucuk kepala El-Syakir


kerinduan kepada adiknya itu akhirnya terobati. setelah berjuang melawan maut, Adam akhirnya kembali dapat melihat dunia dalam wujud manusia, ia kembali dalam tubuhnya setelah 4 tahun mengalami koma.


sementara ayah Adnan, Zidan, Edward dan Cecil diantar pulang ke rumah. ayah Adnan akan menjenguk El-Syakir esok hari. ia hanya membiarkan Adam untuk memberikan kejutan kepada adiknya itu.


"Zidan, sebaiknya kami tinggal di hotel saja" Edward membuka percakapan


"no.... selama kalian disini, kalian harus tinggal di rumahku. bagaimana kamu akan memantau kesehatan Dirga kalau kamu tinggal di hotel" Zidan sama sekali tidak setuju dengan usul dari sahabatnya itu


"apa tidak akan merepotkan nantinya, aku tidak enak hati Zidan" ucap Edward


"Ed, kamu itu bukan orang lain melainkan sahabat dan sekaligus sudah aku anggap sebagai saudara. bagaimana bisa kamu berkata seperti itu. kamu dan Cecil akan tinggal di rumahku. lagi pula Pram, Randi dan Helmi akan sangat senang jika melihatmu dan tinggal bersama kami"


"baiklah, terimakasih" Edward tersenyum, persahabatan mereka memang tetap berlanjut walau dulu mereka dipisahkan oleh samudera yang luas


mobil mewah itu masuk ke halaman rumah yang besar dan megah. mereka semua keluar dari mobil. Cecil ternganga melihat rumah yang didatanginya seperti istana, sangat besar dan mewah.


"rumahnya besar banget sayang" bisik Cecil di telinga Edward


"kamu suka yang rumah besar seperti ini...?" tanya Edward


"nggak suka, aku maunya yang biasa aja tapi elegan" jawab Cecil dan mereka berjalan menuju pintu


"impianmu akan terwujud kalau kita menikah nanti" Edward megusap kepala Cecil


mereka pun masuk ke dalam rumah. ayah Adnan langsung menuju kamarnya untuk menemui istrinya begitu juga dengan Zidan. sementara Edward dan Cecil dipersilahkan oleh ART untuk istirahat di kamar masing-masing yang telah disediakan selama mereka di rumah Zidan.


saat masuk ke dalam kamar, tampak ibu Arini tengah melaksanakan sholat magrib. hari memang telah malam, mentari telah meninggalkan bumi dan akan kembali menyapa esok pagi.


ayah Adnan tersenyum melihat istrinya sedang menghadap Tuhannya. setelah selesai sholat ibu Arini langsung menoleh ke arah suaminya.


"ayah" panggil ibu Arini dengan sumringah


ayah Adnan merentangkan kedua tangannya dan dengan cepat istrinya langsung menghambur memeluk dirinya.


"apa kabar bu. ayah rindu sekali dengan ibu" ayah Adnan memeluk erat istrinya


"ibu lebih rindu yah" ibu Arini begitu senang karena suaminya telah pulang


ayah Adnan membawa istrinya duduk di kasur, ia kemudian memegang tangan istrinya dengan lembut.


"ayah punya kejutan untuk ibu"


"kejutan....? kejutan apa...? ibu Arini penasaran


"kejutannya ada dirumah sakit"


mendengar jawaban suaminya, ibu Arini mengernyitkan keningnya.


"kejutan apa yang ada di rumah sakit...?" tanya ibu Arini


"kita akan ke rumah sakit karena El sedang dirawat di sana dan"


belum sempat ayah Adnan menyelesaikan ucapannya, ibu Arini sudah memotongnya.


"ya Allah, kenapa bisa anak aku masuk rumah sakit. itu bukan kejutan ayah, itu musibah" pekik ibu Arini


"tenang dulu bu, makanya dengar dulu ayah mau bicara apa. selain menjenguk El, kejtannya ada di sana juga"


"aku nggak butuh kejutan yah. pokoknya kita ke rumah sakit sekarang" ibu Arini panik saat mendengar anaknya masuk rumah sakit


dengan terpaksa ayah Adnan mengikuti keinginan istrinya. sebenarnya ia lelah namun dirinya juga mengkhawatirkan El-Syakir. ia pulang hanya untuk memberitahu istrinya dan membersihkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


Zidan melangkah lebih cepat untuk sampai ke kamarnya. dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Vania. 5 bulan berpisah tentu membuat rindunya sangat menggebu-gebu. ia sudah tidak sabar ingin memeluk istrinya itu.


cek lek


pintu terbuka dan Zidan masuk ke dalam kamar. ia arahkan pandangan ke segala arah namun ia tidak mendapatkan istrinya itu.


"mungkin di kamar mandi" gumamnya


Zidan melangkah ke kamar mandi dan memeriksa di dalam namun istrinya juga tidak ada di sana.


"dia kemana sih"


cek lek


pintu kembali terbuka, Zidan dengan cepat menoleh dan benar saja kalau Vania yang masuk ke kamar mereka.


"sayang" Zidan tampak sumringah melihat Vania. kakinya melangkah dengan cepat dan segera ia memeluk Vania


"kamu udah pulang yank, kamu bilang sampenya tengah malam" Vania memeluk erat suaminya


"iya, penerbangan kami percepat jadi datangnya juga lebih cepat. aku kangen banget sama kamu" Zidan membalas pelukan Vania dengan erat


"aku juga kangen banget" ucap Vania


"tapi..... tunggu" Zidan merasa ada yang menghalanginya di bawah sana. Zidan melepaskan pelukannya. ia kemudian mundur beberapa langkah dan melihat perut Vania.


deg.....


seketika mata Zidan hampir melompat dari tempatnya.wajahnya pun menjadi tegang saat melihat perut Vania yang membesar. sementara Vania terus tersenyum manis ke arah Zidan. ia tau Zidan pasti sangat kaget melihat keadaannya sekarang.


"sayang.... kamu..... "


"ada apa sayang...?" tanya Vania polos


"kamu hamil....? Zidan menatap Vania dengan penuh tanda tanya


"emang kenapa kalau aku hamil...?" Vania ingin mengerjai suaminya itu


"BEDEBAH, DENGAN SIAPA KAMU HAMIL...? Zidan membentak Vania membuat istrinya itu tersentak kaget. Vania tidak percaya reaksi Zidan akan seperti itu


amarah Zidan sudah sampai di ubun-ubun. bagaimana tidak, dirinya yang baru saja pulang dari LN harus mendapatkan hadiah dari istrinya bahwa istrinya sekarang sedang mengandung. padahal perut istrinya seperti itu karena semua adalah hasil kerja kerasnya setiap malam.


" ngapain teriak sih yank, kalau ada orang dengar gimana" Vania mendelik ke arah suaminya.


"jelaskan padaku, apa yang kamu lakukan selama aku pergi...?" Zidan menatap tajam Vania


"nggak ngapa-ngapain. hanya nonton, ngemil, makan rujak, Jalan-jalan di kompleks sore hari dan tidur" jawab Vania dengan santai, sementara Zidan nafasnya mulai memburu


"lalu kenapa bisa kamu hamil. katakan siapa yang menghamili kamu...? kamu benar-benar tega Vania" Zidan tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya


"kamu benar-benar ingin tau siapa yang melakukan ini padaku...?" tanya Vania


"ya sudah kalau gitu, silahkan hajar diri kamu sendiri"


"haaah...?" seketika otak Zidan langsung bleng


"kenapa aku harus menghajar diriku sendiri...?" lanjut Zidan


"lah kamu kan bilang mau menghajar pelakunya, jadi silahkan kamu memukul dirimu sendiri. mau aku ambilkan ulekkan untuk menggeprek kepalamu sekalian, hemm"


"aku mau hajar bapaknya anak itu, enak saja malah menghajar diriku sendiri"


"bapaknya itu kamu maemunah, kamu..... " Vania dengan jengkel mencubit pinggang Zidan


"aduh... aduh... sakit yank. kenapa malah aku yang kamu siksa sih" Zidan menghindar dari amukan Vania


"biarin, biar aku hajar bapak dari anakku. seenak aja menuduh aku hamil sama siapa. sini nggak kamu, aku geprek kamu, aku unyel-unyel kamu" Vania menyerang Zidan dengan bantal guling


"ampun yank ampun" Zidan langsung berlari keluar dari kamar, Vania menyerangnya tanpa ampun. pria itu melarikan diri turun ke bawah


"kenapa kamu...?" Pram bertanya saat melihat Zidan menuruni tangga dengan tergesa-gesa


ketiga pengawal andalan Sanjaya grup, sedang berada di rumahnya. Edward menghubungi mereka bertiga karena dia ingin sekali berkumpul dengan sahabat yang sudah lama tidak bertemu


"huuufftt... ibu hamil ngamuk" Zidan mengatur nafas karena ngos-ngosan


"lah, bukannya disambut mesra malah diamukin ama bini kau. bikin salah apa kamu" Randi berucap


"aku nggak bikin salah. aku cuman nanya siapa yang bikin dia hamil, eh dia malah ngamuk. salah aku dimana coba" Zidan duduk bergabung bersama mereka


semua orang saling pandang satu sama lain, kemudian seketika mereka melihat ke arah Zidan.


"kenapa melihatku seperti itu...?" tanya Zidan


"bahluuuuuul"


puuuuk


karena gemas, Helmi langsung menggeplak kepala bos sekaligus sahabatnya itu.


"sakit woi, mau di pecat kamu" Zidan meringis menatap jengkel ke arah Helmi


"lagian pertanyaan kamu aneh banget. istri sendiri yang hamil malah nanyain bapaknya siapa. situ waras bos...?" ledek Helmi


"aku kan di LN, masa iya pulang-pulang dia udah hamil aja. nasib.... nasib" Zidan memijit kepalanya


"itu anak kamu markonah. aduuuh gemes banget sih kamu, pengen aku jitak pala kau" tangan Randi mulai gatal


"anak aku....?" Zidan melihat Randi

__ADS_1


"nona Vania sudah hamil satu bulan sebelum pak Zidan ke LN. nona Vania tidak ingin memberitahukan kepada pak Zidan karena dia ingin memberikan kejutan untuk pak Zidan" Thalita yang berada di situ menjelaskan


"apa....?" sontak Zidan melihat ke arah Vania


"kenapa, baru sadar kamu...?" Pram meledek


"jadi dia sedang mengandung anakku...?" tanya Zidan


"bukan, Vania mengandung anak kucing" jawab Helmi


plaaaaaaak


"sembarangan kalau bicara" Zidan memukul lengan Helmi


"ya habisnya kamu, bisa-bisanya masih bertanya seperti itu" timpal Helmi


"jadi aku adalah ayah dari anak yang dikandung istriku...?" ucap Zidan


"macam judul sinetron ikan terbang aja" ucap Pram


"sayaaaaaang"


Zidan segera berlari untuk kembali ke kamarnya, ia bahkan melompati beberapa anak tangga, tidak sabar ingin menemui istrinya.


cek lek


dengan pelan Zidan membuka pintu, saat masuk ia dapat melihat Vania yang sedang bersandar di ranjang sambil membaca buku.


"sayang" panggil Zidan duduk di ujung ranjang


"apa, masih mau tanya siapa bapak dari anakku...?" Vania menatap tajam Zidan


"hehehehe.... nggak kok, anu itu.... eeee itu... " Zidan sangat tidak enak hati kepada istrinya karena telah menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain


"sayang aku minta maaf" Zidan mendekati Vania


"hummm" jawab Vania dengan malas


Zidan kemudian berbaring di paha istrinya dan menghadap ke arah perut istrinya yang buncit.


"halo jagoan papa, sedang apa di dalam...?" Zidan mengelus perut Vania


Vania hanya membiarkan suaminya itu berbicara dengan anak mereka. sesekali Zidan mencium perut istrinya, ia sangat bahagia sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.


"sayang aku minta maaf ya" Zidan bangun dan memeluk Vania


"aku mau maafin tapi ada syaratnya" Vania menatap Zidan


"apa, katakan saja. aku akan penuhi semua keinginan kamu. kamu mau apa, belanja...?"


"bukan"


"oh iya pasti mau makan. bilang aja mau makan apa...?"


"aku nggak mau makanan" Vania menggeleng


"terus kamu mau apa...?"


"aku mau kamu pakai baju seperti ini dan menari seperti ini" Vania memperlihatkan tarian Blackpink yang ada di handphone


gleg.....


seketika wajah Zidan menegang, ia menelan air liurnya dengan susah.


(kamu mau balas dendam sama papa ya nak, tega banget sih kamu nak) Zidan membatin dengan pikiran galau


El-Syakir sedang disuapi oleh Adam. dokter yang datang memeriksa keadaan El-Syakir dan saat itu juga El-Syakir mengatakan kalau dirinya sedang lapar dan dokter tersebut langsung memberitahu perawat untuk membawakan makanan rumah sakit.


"kak Dirga udah makan...?" tanya El, ia terus menerima suapan dari Adam


"aku nanti saja, yang terpenting itu kamu" jawab Adam


"mau minum...?" tanya Adam


"mau kak" jawab El


segera Adam mengambil gelas yang berisi air dan memberikan kepada El. saat kembali menyuapi El-Syakir, pintu ruangan terbuka. tim samudera datang kembali untuk melihat keadaan Adam. Melati, Starla dan Nisda yang berada di mushola rumah sakit kini mereka kembali lagi. saat masuk mereka semua penasaran, siapa laki-laki yang bersama El-Syakir. mereka tidak melihat wajahnya karena Adam membelakangi mereka semua.


Adam berbalik dan tersenyum hangat ke arah mereka. saat melihat siapa yang bersama El-Syakir, seketika semuanya shock dan menganga tidak percaya.


"Hai... kalian apa kabar...?" Adam menyapa mereka dengan senyuman khasnya


"Adam"


"kak Dirga"


semuanya saling tatap, Leo bahkan mencubit lengannya untuk memastikan apakah dia bermimpi atau tidak.


"aw sakit" ringis Leo


Alana berjalan mendekat ke arah Adam, matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"k-kak Dirga...?" ucap Alana


jelas Alana tau bagaimana wajah kakaknya itu. Zidan memperlihatkan foto Dirga di sebuah album yang pernah tim samudera lihat saat mereka menginap di rumah Zidan untuk pertama kali. waktu itu Bara dan Nisda serta Melati belum bergabung di tim mereka. dan saat itu juga mereka tau kalau Adam adalah kakak dari El-Syakir.


"iya, kamu nggak mau peluk kakak...?" Adam merentangkan tangannya


dengan cepat Alana menghambur memeluk Adam. gadis itu menangis terisak di pelukan Adam. bukan hanya Adam, tim samudera langsung menghambur memeluk Adam. mereka semua menangis, menangis bahagia karena Adam yang mereka anggap telah pergi untuk selamanya, kini telah kembali.

__ADS_1


__ADS_2