
"kita mau kemana nona...?" tanya Thalita
"ke butik, aku ingin mencari gaun untuk pesta pertunangan ku" jawab Vania
"baik"
Thalita menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Zidan dan Vania telah membahas pertunangan mereka yang akan diadakan minggu depan. wanita siapa yang tidak bahagia dilamar oleh pujaan hatinya, pastinya akan sangat berbunga-bunga perasaannya, begitu pula dengan yang dirasakan Vania saat ini. wanita itu tidak berhenti tersenyum, akhirnya dapat meluluhkan hati pria dingin seperti Zidan.
"kamu bahagia sekali sepertinya nona" ucap Thalita saat melirik Vania sedang tersenyum sendiri
"tentu saja aku bahagia, hari ini sudah lama aku tunggu-tunggu" jawab Vania
"semoga nona selalu bahagia" ucap Thalita tulus
"terimakasih. bagaimana denganmu Thalita. kamu tidak mempunyai kekasih...?" Vania menatap wanita yang ada disebelahnya itu
"aku tidak mempunyai kekasih nona. pria mana yang mau menerima wanita seperti ku"
"eemmm...kamu tidak mempunyai hubungan dengan Randi...? Vania mengangkat alis
"kenapa nona bertanya seperti itu...?"
"aku hanya bertanya saja, karena aku lihat kalian dekat. dari ketiga pengawal Zidan hanya dia yang aku lihat dekat denganmu"
"Randi pria yang baik, dia...."
"dia kenapa...?"
"ah tidak, tidak apa-apa"
"kamu menyukainya...?"
"apa aku terlihat seperti itu...?" Thalita melirik Vania sekilas
"sangat. aku selalu memperhatikan saat kamu bertemu dengannya senyum mu tidak pernah pudar, bahkan aku pernah memergoki kamu sedang memandangi fotonya"
"uhuk...uhuk" Thalita terbatuk-batuk mendengar pernyataan Vania
"d-darimana nona tau...?"
"taulah, aku kan tiap hari bersamamu terus"
Thalita tidak menjawab, ia sangat malu telah dipergoki oleh Vania. rasanya ingin sekali ia menyeburkan diri ke dalam sungai.
"aku setuju kalau kamu bersamanya. Randi memang pria yang baik, kalian sangat serasi"
"nona terlalu berlebihan, lagipula Randi tidak akan menyukai wanita seperti ku yang pernah melakukan kebodohan"
"itu kan masa lalu. lagipula aku juga sudah memaafkan mu. tau darimana kalau Randi tidak menyukai mu"
"sudah sampai nona" bukannya menjawab, Thalita memberitahu kalau mereka telah sampai di tujuan
"cepat sekali"
Thalita hanya tersenyum. mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik untuk mencari gaun yang akan digunakan Vania di pertunangannya nanti.
"bagaimana menurutmu...?" tanya Vania saat mencoba gaun yang ia pilih
"bos Zidan pasti akan terpana dengan kecantikan nona" jawab Thalita
"aku memang akan membuat dia terpana dan tidak bisa berpaling" Vania tersenyum
"pilih juga untukmu. tidak mungkin kan kamu menghadiri pertunangan ku dengan memakai baju biasa saja"
"baik"
setelah mendapatkan gaun yang cocok, keduanya keluar dari butik dan akan ke sebuah restoran untuk mengisi perut.
"stop... stop"
"ada apa nona...?" Thalita berhenti
"itu Sisil kan...?" tunjuk Vania ke arah wanita yang sedang berselisih dengan seorang pria. pria itu nampak kasar dan menarik paksa tangan wanita itu
"iya, itu Sisil. nona tunggu di sini, aku akan keluar"
"aku ikut"
keduanya keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu.
"Sisil" panggil Vania
"Bu, tolong aku Bu" ucap Sisil memohon, meronta karena pria itu memegang lengannya dengan kuat
"lepaskan dia" ucap Thalita
"heh...aku tidak ada urusan dengan kalian berdua. sebaiknya kalian jangan ikut campur" teriaknya
"lepaskan mas Aris, kita sudah tidak punya hubungan apapun. kenapa kamu datang menggangguku lagi" ucap Sisil terus memberontak
"lepaskan dia atau aku teriak" ancam Vania
"Bu, tolong aku" Sisil menangis kesakitan
Thalita mendekat dan menarik paksa Sisil namun Aris menahannya dan dengan gerakan cepat Thalita melayangkan tendangan ke perut Aris sehingga pria itu tersungkur di tanah.
Sisil bersembunyi di balik tubuh Vania, Thalita berada di depan kedua wanita itu.
"brengsek, cari mati kamu ya"
Aris berdiri dan melayangkan pukulan ke wajah Thalita namun wanita itu menahannya dan menendang ************ Aris sehingga pria itu tidak berkutik dan berteriak kesakitan.
"bos" dua orang pria datang membantu Aris untuk berdiri
"habisi wanita itu, kedua wanita itu kecuali mantan istriku" ucap Aris penuh amarah
"baik bos"
kedua pria itu menyerang Thalita. satu orang memukul namun ditahannya dan satunya lagi menendang perutnya sehingga Thalita terjatuh ke tanah.
__ADS_1
"Thalita" teriak Vania
kedua pria itu menyerang Vania dan Sisil namun Thalita melayangkan tendangan di kepala keduanya.
"berani kalian mengeroyok wanita ya. dasar pecundang" ucap Thalita
"hiyaaaaaa"
kedua pria itu menyerang Thalita, dengan sigap wanita itu berlari dan melompat melayangkan bogem mentah ke wajah pria di sebelah kirinya dan kemudian ia memutar menendang wajah pria satunya. keduanya terpental jauh.
kedua pria itu mengeluarkan pisau tajam. mereka bersiap menyerang Thalita kembali.
"Thalita, hati-hati" teriak Vania
"hiyaaaaaa"
sreeeeet
lengan Thalita terkena sayatan pisau. bajunya terkoyak, darah keluar mewarnai bajunya. Thalita meringis, ia memegang lukanya.
"Thalita" teriak Vania panik
"mati kamu ******"
keduanya kembali menyerang. Thalita menahan dan memutar tangan pria itu sehingga pria itu berteriak dan segera Thalita mengambil pisau dari tangannya. bersamaan dengan itu, pria satunya berlari ingin menusuk Thalita.
jleb....
pisau itu tertancap di temannya sendiri. Thalita mendorong pria yang ia cekal tangannya sehingga pria itu terkena tusukan pisau dari temannya sendiri.
"wanita sialan, akan ku bunuh kamu" Aris bangkit dari duduknya memegang pisau. sayangnya, telah datang beberapa orang yang melihat mereka
"woi, sedang apa kalian. mau copet ya" teriak orang-orang itu
"kabur.... cepat" teriak Aris
kedua pria suruhannya bergegas masuk ke dalam mobil. satu pria dipapah karena luka tusuk yang ia alami.
"kalian tidak apa-apa...?" tanya orang-orang itu
"tidak apa-apa. terimakasih pak, telah datang tepat waktu. jawab Thalita
"tanganmu terluka sebaiknya dibawa ke rumah sakit" ucap salah satu dari mereka
"iya. sekali lagi terimakasih"
orang-orang itu pergi. Vania mengambil sapu tangannya dan mengikatnya di tangan Thalita.
"kita ke rumah sakit. Sisil kamu yang menyetir. bisa kan...?" ucap Vania
"bisa Bu" jawab Sisil
mereka melangkah menuju mobil Vania dan pergi ke rumah sakit. tiba di sana, tangan Thalita segera diobati oleh dokter.
"bagaimana tanganmu...?" tanya Vania
"sudah diobati nona" jawab Thalita
"sama-sama, tidak perlu dipikirkan" jawab Thalita
"sebenarnya mereka siapa Sisil, kenapa mereka bisa bermasalah denganmu...?" tanya Vania
"dia mantan suamiku Bu, aku juga tidak tau kenapa dia datang lagi dan mengusik hidupku. aku sungguh takut saat ini" jawab Sisil
"kamu harus lebih berhati-hati. sekarang kita pulang. aku antar kamu pulang" ucap Vania
"aku harus kembali ke kantor Bu, pak Adnan sedang menungguku sekarang" jawab Sisil
"baiklah, kami antar kamu ke kantor" mereka bertiga meninggalkan rumah sakit
di tempat lain, Aris sangat marah karena telah gagal membawa pergi Sisil.
"lihat saja Sisil, aku akan mendapatkan mu. karena melalui kamu rencanaku akan berhasil" ucapnya mengepalkan tangannya
hari ini sekolah SMA xxx akan mengadakan perjalanan perkemahan di salah satu wilayah yang cukup jauh dari kota, bisa dikatakan terpencil.
El sudah bersiap-siap dengan segala perlengkapan dan kebutuhannya. ia tengah memasukkan beberapa lembar baju dan dan celana ke dalam tas ransel miliknya.
"pokoknya aku mau beli melati banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer. siapa suruh kamu nggak mau pergi petik di kebun melati Leo" ucap Adam yang terus menggerutu karena kesal El-Syakir tidak menuruti keinginannya
"gue kan udah bilang alasannya apa. lagian cuma melati, kita bisa beli di toko bunga" jawab El
"banyak-banyak tapi ya"
"iya, tumpah-tumpah, lumer-lumer" jawab El
"ok deh" Adam mulai memilah milih pakaian yang akan dikenakannya
"jelek semua, aku nggak suka" ucapnya menutup lemari
"nggak suka gimana, itu baju pilihan elu semua" ucap El
"nggak ada yang baru. harusnya ya kemarin kita pergi belanja dulu di mall"
"elu itu ya, di dalam kepalamu isinya kalau bukan melati pasti belanja. sampai elu habiskan semua pakaian di aplikasi. heran gue"
"oh iya, bicara tentang aplikasi, aku kan kemarin baru saja memesan baju. kok belum datang juga ya" Adam mengetuk ngetuk dagunya
"nah tuh kan, habis sudah isinya dompet gue membayar semua paketanmu itu. gue hapus semua aplikasi belanja mu ya"
"hapus saja, pan tinggal download lagi" jawabnya enteng tanpa dosa
"dasar nakal" kesal El
tok tok tok
"kak El" panggil Alana
"masuk dek" ucap El
__ADS_1
Alana hanya memasukkan kepalanya saja ke dalam.
"ada apa...?" tanya El
"ada paket tuh" jawab Alana
"yeeeeiii, paket ku datang" girang Adam
"minta duit" Adam mengadahkan tangannya
"ck, bayar sana pake daun"
"kok pake daun sih kak. kalau nggak punya uang, jangan pesanlah kak. aneh nih kakak" ucap Alana yang masih diambang pintu
"dasar pelit" cebik Adam manyun
"nih, bayarkan paket kakak. bawa ke sini ya" El memberikan uang dua lembar warna merah kepada Alana
"ok" gadis itu melenggang pergi
El-Syakir melihat ke arah Adam yang cengengesan dan mengedip-ngedipkan matanya.
"apa...?"
"hehehehe, sayang banyak-banyak deh" ucap Adam memeluk El dari samping
"cih, mulai lagi gatelnya" El melangkah memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya
"kamu pikir aku ulat pucuk pucuk yang bikin gatel" cebik Adam
"kak, ini paketnya" Alana masuk ke dalam kamar dan menyimpan paket itu di atas kasur
"kakak pergi berapa hari...?"
"dua hari, kenapa. udah mulai kangen...?" goda El
"nggak" jawab Alana ketus
"nanti kalau kamu udah masuk di sekolah kakak, kakak akan bawa kamu. tapi untuk sekarang kakak belum bisa" El mendekati Alana dan memegang bahunya
"benar ya"
"iya princess" El mengacak rambut Alana
Alana langsung memeluk El-Syakir, keduanya saling berpelukan. Adam menatap mereka dengan mata yang nampak mulai berair.
(aku ingin sekali cepat terbangun dan segera memeluk mereka) batinnya
setelah semua perlengkapan sudah di dalam tas, El-Syakir menuju sekolah dimana semua yang mengikuti perkemahan berkumpul termasuk para sahabatnya.
"hai Vin" sapa Nisda
"hai" jawab Vino
"starla mana...?"
"toilet" jawab Vino seperlunya
"elu masih saja terus dingin denganku, padahal dulu elu humoris banget"
"itu dulu, sekarang beda"
"apa sikap itu hanya untuk seseorang yang elu sukai...?"
"bisa dibilang seperti itu"
"berarti dulu elu memang benar-benar menyukaiku...?"
"jangan bahas itu lagi, semuanya sudah lewat waktunya"
"perasaanmu apakah....."
"Nisda stop....gue nggak mau bahas tentang hal yang nggak guna" Vino pergi meninggalkan Nisda yang masih menatapnya
tidak jauh darinya, seseorang sedang mendengar percakapan mereka, dialah Bara. tanpa sepengetahuan Vino dan Nisda, ia tengah memperhatikan mereka.
semuanya berkumpul di lapangan sekolah. hari itu tepat pukul 15.30, mereka berangkat menggunakan bus. sore itu cuaca terasa dingin karena hujan baru saja reda 1 jam yang lalu.
"kamu tidak bawa jaket...?" tanya Bara
"aku lupa" jawab Nisda. mereka duduk berdua
"pakai ini" Bara membuka jaketnya dan memberikan kepada Nisda
"kamu bagaimana...?"
"aku bawa dua jaket"
"kamu selalu memberikan yang aku butuhkan"
"hummm....dan hal itu sepertinya tidak bisa aku lakukan lagi untuk kedepannya"
"maksud kamu...?"
"aku sudah memikirkan matang-matang. selama ini aku terlalu mengekang mu, mungkin itu yang membuat kamu muak padaku. jadi kedepannya, aku akan melepaskan mu seperti permintaan kamu setiap harinya"
"kamu memutuskan ku...?"
"bukankah itu yang kamu inginkan...?" Bara sama sekali tidak menatap Nisda
"kamu masih ingin mengejar Vino. silahkan kejar dia, aku nggak akan melarang lagi. beberapa hari ini aku melihat kamu selalu memperhatikannya, dan itu sudah membuatku yakin untuk kita akhiri semuanya. sebenarnya memang sudah berakhir, aku saja yang terlalu memaksa keadaan" ucap Bara
"maafkan aku kalau selama bersama denganku, kamu sangat tertekan. aku laki-laki yang nggak pantas bersama gadis sebaik kamu"
"Bara, aku....."
"pakai jaketmu dan nggak usah memikirkan hal lain" Bara memasang headset di telinganya dan bersandar menutup matanya
Nisda memakai jaketnya, setelahnya ia mengambil tangan Bara dan menggenggamnya, kepalanya ia sandarkan di bahu Bara. Bara membuka mata dan melirik gadis itu. ia hanya dapat menghela nafas panjang Kemudian menutup kembali matanya.
__ADS_1
bus meninggalkan pekarangan sekolah membelah jalan raya. El-Syakir duduk bersama Leo, Vino bersama starla, Bara dengan Nisda dan Adam, hantu itu melayang duduk bersila di samping El-Syakir.