
Adam menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa dirinya akan terjebak dalam situasi seperti ini. dia yang selalu memberikan solusi untuk setiap hubungan orang-orang di sekitarnya, rupanya saran dan solusinya itu tidak bisa ia terapkan dalam dirinya sendiri.
"aku harus pergi sekarang, ayah pasti sedang menunggu ku" ucap Ragiman
"jadi aku yang pertama yang kamu temui...?" tanya ratu Sundari
"iya, aku memang sangat ingin melihat wajahmu" jawab Ragiman
"Hati-hati. sampaikan salamku pada maharaja Ranangraya dan pangeran Ranggi Aji" ucap ratu Sundari
"tentu saja. kalau kamu ada waktu maka berkunjung lah ke istana, ayah pasti senang kamu datang"
"pasti, aku pasti datang"
pangeran Ragiman diantar oleh ratu Sundari ke pagar istana. setelah menaiki kendaraannya dari awan putih, pria itu tersenyum ke arah ratu Sundari dan awan putih itu membawanya terbang meninggalkan istana kerajaan karing-karing.
ratu Sundari akan kembali ke dalam istana namun langkahnya terhenti karena dirinya melihat Adam sedang berada di sekitar danau sambil melempar kerikil kecil ke danau yang airnya jernih itu.
"Adam" panggil ratu Sundari
Adam menoleh sekilas dan kemudian kembali melempar kerikil.
"sedang apa di sini...?" tanya ratu Sundari
"memancing" jawab Adam asal
"lalu mana tali pancing mu...?"
"nyangkut di atas pohon" jawabnya ketus
ratu Sundari geleng-geleng kepala. ia melangkah mendekat ke arah Adam dan berdiri di samping hantu itu.
"apa ada yang membuatmu gelisah Adam...?"
"iya... eh nggak... ngak ada" pertama Adam mengangguk lalu setelahnya ia menggeleng cepat
"ada apa, katakan padaku. mungkin aku bisa membantu mu" ratu Sundari menatap Adam dengan lembut
"jangan tatap aku seperti itu" Adam memalingkan wajahnya
"memangnya kenapa...?" tanya ratu Sundari
"karena tatapan mu itu, sekarang aku tidak bisa jauh darimu" jawabnya lirih namun masih di dengar oleh wanita cantik itu
"kamu mencintai ku...?"
"memangnya, apakah aku salah kalau aku mencintaimu...?" Adam kembali mengarahkan pandangannya ke arah ratu Sundari
"lalu kenapa dulu kamu kabur dariku...?" ratu Sundari membalas tatapan Adam
"itu karena aku belum menyadari perasaan ku" jawab Adam menatap lurus ke depan
"lalu bagaimana dengan Melati...?"
"cinta yang dipaksa pada akhirnya tidak akan baik bukan...?"
"tapi dia sangat mengharapkan dirimu, aku sudah mengatakan padanya kalau kamu akan memilihnya"
"kamu mengorbankan diriku karena egomu dan membuat aku tersiksa karena tidak bisa bersama denganmu, jahat sekali kamu" Adam menatap ratu Sundari dengan tajam
"bukan seperti itu Adam. dia tidak punya siapapun di alam manusia, dan harapannya satu-satunya hanyalah kamu. aku harap kamu bisa mengerti"
"tidak... aku tidak akan mau mengerti dan tidak akan pernah. jika kamu tidak mau denganku lagi maka aku terima tapi maaf, perasaanku tidak bisa dipaksakan"
Adam melangkah pergi meninggalkan ratu Sundari. dirinya tidak suka dipaksa apalagi tentang masalah hatinya yang jelas-jelas tidak mau dan menolak.
sayangnya baru beberapa langkah Adam menjauh, tubuhnya tertarik kembali ke arah ratu Sundari, seperti magnet. Adam berhenti tepat di hadapan ratu Sundari yang sedang tersenyum lembut padanya.
"aku bilang jangan tatap aku seperti itu" ucap Adam ketus dan memalingkan wajahnya
"dengarkan aku dulu, jangan marah seperti itu nanti ketampanan mu hilang"
"ck... apalagi yang ingin kamu katakan" Adam melangkah ke depan dan duduk di rerumputan yang lembut tanpa sakit jika menyentuh kulit
ratu Sundari ikut duduk di samping Adam. mereka berdua terdiam beberapa saat, hening dan sunyi tanpa suara.
"kamu benar-benar mencintaiku ataukah kamu hanya merasa berutang budi padaku dan ingin membalasnya dengan menyerahkan dirimu...?"
"sudah aku katakan kalau aku mencintaimu"
"baiklah, kalau kamu ingin terus bersamaku berarti bisa kan kamu tidak kembali ke alam manusia...?"
mendengar itu Adam langsung menoleh ke arah ratu Sundari yang juga sedang menatap ke arahnya.
"kenapa, kamu tidak bisa...?"
"maaf, aku tidak bisa" jawab Adam
"lihatlah, untuk permintaan ku ini saja sudah tidak mendukung hubungan kita nanti, bagaimana bisa kita melanjutkan ini"
"aku tidak bisa memenuhi permintaan mu bukan berarti kita tidak bisa menjalin hubungan kan"
"kamu arwah Adam, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan kembali ke tubuhmu. saat itu terjadi maka akan semakin sulit untuk kita bersatu. manusia dan jin tidak mungkin saling menjalin cinta"
"kamu menyerah sebelum memulai...?"
"bukan menyerah, aku hanya tidak ingin terluka lebih dalam lagi jika suatu saat nanti kita tidak bisa bersama. lebih baik mengakhiri sekarang daripada terus berlanjut dan pada akhirnya perjuangan kita akan sia-sia"
"kamu tidak mencintaiku ratu...?" Adam mulai resah
"jangan tanyakan itu karena kamu sudah tau jawabannya" ucap ratu Sundari
"lalu kenapa kamu tidak berjuang untuk tetap bersamaku...?"
__ADS_1
"apapun yang akan kita lakukan semuanya akan sia-sia Adam. kita akan bersama jika kamu tetap berada di sini dan tinggal bersamaku. namun saat kamu kembali terlebih saat kamu bersatu dengan tubuhmu maka mustahil untuk kita bisa bersama"
"apa tidak ada cara lain, misal kamu yang ikut bersamaku dan hidup bersamaku layaknya manusia...?"
"lalu bagaimana dengan Kerajaan yang aku pimpin, tidak mungkin aku meninggalkan istana ku dan semua rakyatku"
"bukankah ratu bisa mempercayakan kerajaan ratu kepada Senggi"
"tidak semudah itu Adam"
"aku tidak peduli, yang aku mau ratu harus tetap bersamaku apapun yang terjadi"
"bagaimana dengan Melati...?"
"ratu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaan ku dan perasaan ratu sendiri...?"
"dia sudah aku anggap adikku Adam, tentu aku harus mengerti perasaannya"
"terserah ratu kalau seperti itu. kembalikan kami ke alam manusia karena kedua temanku telah sadar dan pulih"
Adam berdiri dan pergi tanpa pamit kepada ratu Sundari. perasaannya saat ini benar-benar kacau dan sangat kesal dengan keadaan yang tidak memihak kepadanya dan juga ratu Sundari.
sementara ratu Sundari menatap sayu punggung Adam yang telah menghilang masuk ke dalam istana.
"kenapa ratu rela melepaskan Adam begitu saja...?" Senggi datang menghampiri ratunya
"Melati lebih membutuhkan Adam daripada aku Senggi" jawab ratu Sundari
"tapi bukankah Adam tidak mempunyai perasaan padanya. dia hanya mencintai ratu" ucap Senggi
"lambat laun Adam akan menerimanya, aku tidak mau kejadian aku dan Sri Dewi terulang lagi untuk kedua kalinya. aku tidak ingin Melati membenciku seperti Sri Dewi begitu membenciku"
"lalu bagaimana jika nanti dan seterusnya Adam tetap tidak bisa menerima Melati, sama halnya seperti ratu yang sampai sekarang belum bisa membuka hati untuk pangeran Ragiman"
"apa salah aku berkorban untuk kebahagiaan adikku Senggi...?"
"salah jika itu membuat ratu dan Adam tersiksa karena perasaan kalian masing-masing. dan juga Melati akan lebih tersiksa jika menerima cinta palsu dari Adam yang jelas-jelas Adam lebih mencintai ratu"
"lalu apa yang harus aku lakukan...?"
"ratu jelas tau apa yang harus ratu lakukan"
ratu Sundari dan Senggi masuk ke dalam istana. pemimpin kerajaan karing-karing itu akan menemui Adam dan teman-temannya setelah esok hari.
sementara Adam, dirinya tidak kembali ke kamar peristirahatan, dia lebih memilih menyendiri di tempat lain, di sebuah kamar yang pernah ia tempati waktu pertama kali dirinya datang di tempat itu.
Adam berbaring di ranjang dan menutup matanya dengan lengan kanannya sedang lengan kirinya ia jadikan sebagai bantal.
pagi harinya, ratu Sundari melihat keadaan para tamunya itu. saat masuk mereka langsung memberikan hormat kepada wanita cantik itu.
"aku akan memulangkan kalian hari ini" ucap ratu Sundari
Starla dan Nisda sangat senang mendengar kabar itu begitu juga dengan yang lain. namun tidak dengan El-Syakir, remaja itu terus melihat ke arah pintu menunggu kedatangan Adam.
"kakakku sejak semalam belum datang ratu" jawab El
"Adam belum kembali...?" tanya ratu Sundari
"iya" jawab El
"mungkin sedang menenangkan diri karena galau" ucap Vino asal
tanpa berkata-kata ratu Sundari menghilang begitu saja dari pandangan mereka, membuat mereka menganga dan sulit percaya.
"woooah... aku juga mau punya ilmu menghilang seperti itu" ucap Leo
"ratu sangat keren" puji Vino takjub
ratu Sundari langsung berada di kamar yang ditempati Adam. wanita itu mendekat dan duduk di sampingnya.
"Adam"
Adam mengerjapkan matanya dan bangun saat melihat ratu Sundari telah berada di dalam kamarnya.
"bersiaplah, aku akan memulangkan kalian" ucap ratu Sundari
"hmmmm" jawab Adam lesu
"kamu masih bisa datang ke sini kapanpun kamu mau"
"bukan itu yang aku inginkan"
"lalu...?"
"aku ingin ratu terus bersamaku apapun yang terjadi nanti. aku tidak peduli dengan orang lain, aku hanya melihat ratu Sundari sebagai wanita yang aku cinta"
"akan ada banyak rintangan saat kamu tetap bersikukuh untuk memilihku Adam"
"sebesar apapun rintangan itu, asal bersama ratu, aku akan hadapi. tolong jangan tolak aku ratu" Adam memegang tangan ratu Sundari
"lalu Melati...?"
"kalau bertemu nanti, dia akan aku jaga seperti aku menjaga teman-temanku yang lain"
"baiklah, aku mengalah"
"ratu serius...?"
"iya"
buuuk.....
Adam menghambur memeluk wanita di depannya itu. tidak peduli mereka berbeda, Adam tetap melabuhkan hatinya kepada wanita yang sudah menyelamatkan hidupnya dan juga teman-temannya.
__ADS_1
ratu Sundari membalas pelukan Adam, meskipun ragu dengan keputusan yang diambilnya namun dia tidaknya dapat membohongi hatinya kalau Adam telah memenuhi relung hatinya.
awalnya ratu Sundari tidak begitu peduli dan terlihat baik-baik saja saat akan menjadikan Adam sebagai suaminya, karena Adam hanyalah arwah. namun saat Melati membantu Adam kabur darinya dan juga Melati mengatakan kalau dia mencintai Adam, maka sejak saat itu ratu Sundari berniat akan melepaskan Adam untuk Melati.
"aku mencintai Adam ratu, dan dia lebih pantas bersamaku daripada dengan ratu"
"aku tidak kalah cantik dengan ratu dan aku yakin Adam akan memilihku dibanding ratu"
"tolong lepaskan Adam untukku ratu, aku mencintainya sejak pertama bertemu dengannya"
merasa kesal karena Melati terus mengganggu ratu Sundari hanya karena perihal Adam, akhirnya ratu Sundari menghukum gadis itu dengan memenjarakan dirinya. walau sebenarnya dirinya tidak tega namun karena permintaannya yang seakan merendahkan ratu Sundari, membuat ratu Sundari marah dan menghukumnya namun meskipun begitu, ratu Sundari tetap mengangap Melati sebagai adiknya.
"ratu harus berjanji padaku untuk tetap bersamaku sampai kita mendapatkan jalan keluar agar tetap terus bersama" Adam menangkup wajah ratu Sundari
"apakah itu perlu...?"
"ratu tidak bersungguh-sungguh denganku...?" Adam menatap tajam
"bukan seperti itu. baiklah, mari kita terus bersama sampai kita menemukan jalan untuk bersama"
"janji...?" Adam mengangkat jari kelingkingnya
"janji" ratu Sundari menyambut jari kelingking Adam
Adam kembali memeluk ratu Sundari. hatinya sangat senang sekarang ini, perasaan gundahnya tadi digantikan dengan perasaan bahagia karena wanita yang di peluknya telah membuat komitmen untuk tetap bersamanya.
dibalik pintu Senggi melihat mereka. wanita itu ikut merasakan bahagia saat melihat senyuman terukir di wajah pemimpinnya.
"semoga ini awal yang baik untukmu ratu, meski rintangan di depan sana akan siap menghantam hubungan kalian berdua" ucap Senggi
ratu Sundari dan Adam bersama-sama menuju ke kamar El-Syakir dan yang lainnya. Senggi segera menghilang dan sudah berada di kamar remaja-remaja itu.
"setan setan eh setan... haduuuh hampir copot jantungku" Leo mengelus dada karena kedatangan Senggi yang tiba-tiba muncul di dekatnya
ratu Sundari datang bersama Adam. wajah Adam begitu berseri tidak sama saat dirinya meninggalkan kamar mereka semalam.
"aku merasakan aura-aura yang sedang kasmaran sekarang" ucap Vino melihat Adam tidak hentinya tersenyum
"kepo" ledek Adam
"cih... nggak tuh" balas Vino menjulurkan lidahnya
"kakak darimana...?" tanya El
"dari berjuang mendapatkan cinta sejati" jawab Adam
"hueeek... pen muntah gue" Leo mencebik
"diam kau. Jomblo ngenes mana tau cinta sejati" Adam mencibir Leo
"sakitnya tuh di sini, di ulu hatiku" Bara semakin meledek
"kamprett kau" Leo melemparkan kulit pisang yang baru saja ia makan
"ekhem" ratu Sundari berdehem
mereka semua berhenti bersuara dan diam seribu bahasa saat sang ratu mengeluarkan suara.
"Senggi, bawa bayi itu kemari" perintah ratu Sundari
"baik ratu"
Senggi menghilang begitu cepat dan kemudian datang lagi dengan bayi laki-laki yang ia gendong.
"bayi ini akan kembali bersama kalian" ratu Sundari menggendong bayi itu
"lalu siapa yang akan merawatnya...?" tanya Nisda
"jika hujan maka bertedulah" ucap ratu Sundari
"maksud ratu...?" El kebingungan begitu juga yang lain dan hanya saling pandang
"jika hujan maka bertedulah. simpan bayi ini di tempat itu, ingat itu baik-baik" ratu Sundari kembali mengingatkan
setelah itu mereka di suruh untuk menutup mata. yang lain sudah menutup mata namun tidak dengan Adam, dia malah melangkah dan memeluk ratu Sundari. mereka berpelukan cukup lama, setelah puas memeluk wanita yang ia cintai, Adam bergabung bersama yang lain dan menutup matanya dan saat mereka membuka mata, mereka telah berada di pemakaman tempat mereka bertarung melawan ratu Sri Dewi, mbah Surip dan Samsul.
kendaraan mereka masih berada di tempat itu tanpa ada yang mengambilnya. hari masih gelap, mereka semua segera meninggalkan tempat itu dan pergi dari sana.
dalam perjalanan pulang hujan turun dengan derasnya, mereka memutuskan untuk berteduh di sebuah rumah yang terlihat sederhana. hujan mengguyur bumi, bayi itu terlihat anteng di dalam pelukan Starla.
saat hujan reda, mereka bersiap untuk pulang namun rupanya mereka mendengar percakapan pasangan suami istri yang berada di dalam rumah itu.
"kapan yah mas kita diberikan keturunan"
"sabar dan teruslah berdoa sayang"
"kita sudah menunggu terlalu lama. andai malam ini ada yang menyimpan bayinya di halaman rumah kita, aku akan akan sangat bahagia mas. tentu aku akan mengangkatnya menjadi anak kita"
tim samudera saling pandang, begitu juga kedua pengawal yang bersama mereka. apakah ini yang dimaksud ratu Sundari, jika hujan maka mereka harus berteduh. rupanya bayi itu sudah ada yang menantikan kehadirannya, itulah yang ada dalam pikiran mereka.
sesuai perintah ratu Sundari, mereka menyelimuti bayi itu dan menyimpannya di sebuah kursi yang ada di teras rumah itu.
Leo mengetuk pintu dengan kerasnya kemudian mereka meninggalkan rumah itu namun berhenti tidak jauh untuk memastikan kalau bayi itu diambil oleh pasangan suami istri itu.
"siapa yang ngetuk pintu kencang banget"
seorang wanita membuka pintu dan dirinya langsung mengucapkan takbir saat melihat bayi berada di depannya "
"Allahu Akbar... mas... mas"
wanita itu menjerit memanggil suaminya. dengan tergopoh-gopoh suaminya datang dan dia tidak kalah terkejutnya. mereka mengambil bayi itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"dia telah berada di keluarga barunya" ucap El
__ADS_1
"iya, sekarang ayo kita pulang" ajak Ardi