Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 46


__ADS_3

"El, telpon yang lain gih. nih udah jam 10 malam, kita pulang ya" ucap starla


setelah lelah keliling, mereka berdua duduk di bangku dengan starla menikmati somai yang ada di tangannya.


"El" panggil Leo


dia dan Alana, berjalan mendekat ke arah dua remaja itu.


"liat Vino nggak...?" tanya El


"nggak...telpon deh. kita pulang, udah mau larut nih" Leo mendaratkan bokongnya di samping El dan Alana duduk di samping starla


"mau...?" starla memberikan kantung berisi somai


"nggak... Alana kenyang" tolak gadis cantik itu


📞 El


halo Vin, dimana...?


📞 Vino


di parkiran nih, kalian dimana...?"


📞 El


masih di dalam. tunggu kita di situ, kita mau ke situ sekarang


📞 Vino


ok


klik.... panggil dimatikan


"ayok" ajak El


"kemana...?" Alana bertanya dengan memijat kakinya


"ke parkiran. kita pulang sekarang, nanti ibu cemas di rumah" jawab El


mereka semua segera berdiri dan meninggalkan tempat itu menuju parkiran yang penuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat.


"Vin, tunggu bentar ya, aku mau ke toilet dulu" ucap Nisda yang sedang menahan sesuatu di bawah sana


"mau ditemani...?" mata Vino beralih ke gadis yang rambutnya sebahu itu


"nggak usah, kamu tunggu yang lain aja di sini. nanti mereka nyariin lagi"


"ya udah, hati-hati"


gadis itu mengangguk dan meninggalkan Vino sendirian yang sedang duduk di atas motornya. ia mengambil handphonenya dan berselancar di dunia Maya untuk mengusir kejenuhan di saat sedang menunggu.


"Vin, elu sendirian. Nisda mana...?" tanya Leo yang tidak melihat adik sepupunya itu saat mereka menghampiri Vino


"ke toilet bentar, kebelet dia" jawab Vino. ia menyimpan kembali handphonenya di kantong celananya


"eh Adam mana, kok nggak keliatan...?" tanya Vino yang tidak melihat batang hidung hantu itu


"Adam...?" Alana mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Vino


"seperti pernah dengar namanya ya" lanjut Alana yang sedang memikirkan sesuatu


"teman kakak, yang pernah kakak temui pas kita mau liburan ke kampung neneknya Vino tapi kamu malah sakit" ucap El agar adiknya itu tidak bertanya lagi


"oh iya. pantas saja Lana merasa namanya seperti familiar. memangnya teman kakak itu di sini juga ya"


"iya, tapi udah pulang" ucap El


sebenarnya ia juga hampir lupa dengan hantu itu. bukan hampir bahkan sudah lupa dengan keberadaan dirinya. untung saja Vino mengingatkan, kalau tidak pastinya Adam sudah di tinggal dan tentunya hantu itu akan ngambek tujuh hari tujuh malam.


starla menatap sayu ke arah Vino, ingin sekali rasanya ia mengatakan yang sebenarnya bahwa mereka adalah teman masa kecil di kota Y.


mata gadis itu tidak luput dari Vino. bahkan tanpa sengaja Vino menoleh ke arahnya sehingga tatapan mereka bertemu.


ada perasaan lain saat Vino menatap starla, entahlah... dirinya juga bingung perasaan apa itu. ia hanya tersenyum menanggapi starla namun gadis itu menatapnya dengan sendu dan kerinduan.


"kak Nisda lama banget sih" ucap Alana yang sudah menguap sejak tadi


"eh...iya ya. ini udah hampir 30 menit dia pergi" Vino melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya


"gue susul dulu kalau begitu, kebetulan gue juga mau buang air"


"gue temani" ucap El


"biar gue yang temani. ayo La" ucap Vino


keduanya segera pergi untuk menyusul Nisda. tidak ada percakapan diantara mereka, keduanya membisu dalam diam.


tiba di sana, Vino dan starla kaget Nisda berhadapan dengan seseorang. itu adalah Bara, gadis itu ditariknya dengan kasar untuk mengikutinya.


"woi... lepasin nggak" teriak Vino mendekati mereka dan menarik paksa Nisda dari cekalan Bara


"nggak usah ikut campur deh lu. dia itu cewek gue" Bara menatap tajam Vino


"kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi Bara. stop ganggu gue terus" teriak Nisda menangis. ia yang sudah jengah dengan sikap kekasihnya itu


"lu dengar kan dia ngomong apa, jadi mending lu pergi deh dari sini" ucap Vino


"gue nggak pernah mengiyakan kita sudah putus Nis. elu tetap cewek gue. sekarang, ikut gue" Bara mencoba menarik Nisda namun Vino menepis tangannya dengan kasar

__ADS_1


"elu budeg ya, nggak dengar dia ngomong apa. pantas saja Nisda putusin elu. sikap kasarmu ini yang membuat dia jengah dengan elu"


"bacot lu"


bughhh


satu pukulan mendarat di wajah Vino. tidak terima dirinya dipukul, Vino melayangkan pukulan balasan di wajah Bara.


orang disekitar itu pergi meninggalkan tempat itu karena takut terkena masalah. dua lelaki itu saling pukul dan tendang tanpa ada yang mau mengalah.


"Vin, cukup Vin" teriak starla


"Bara stop" teriak Nisda


namun seakan tuli, keduanya tidak mendengarkan perkataan kedua gadis itu. mereka berdua dengan nafas yang memburu dan amarah yang merasuki jiwa, sama sekali tidak peduli dengan teriakan dua orang gadis yang khawatir dan cemas.


"Bara stop"


bughhh


"Nisda" teriakan starla menyadarkan kedua lelaki itu


Nisda terkena pukulan mereka berdua sehingga ia terpelanting jauh dan menghantam dinding.


"Nisda" Vino bergetar melihat gadis itu tidak sadarkan diri


"Nis, bangun sayang. maafin gue. Nisda bangun" Bara menepuk pelan wajah gadis itu dan sama sekali tidak ada respon


hidungnya mengeluarkan darah, pelipisnya pun berdarah karena hantaman keras di dinding tadi.


"bawa ke rumah sakit, cepat" starla sangat khawatir


"elu bawa mobil...?" Bara melihat Vino


Vino menggeleng dengan tubuh yang masih bergetar dengan perasaan campur aduk.


"tahankan taksi sekarang, ayo" Bara membuyarkan kegugupan Vino


bara menggendong Nisda, starla dan Vino dengan raut wajah cemas dan khawatir mengikuti langkah Bara di belakangnya.


"itu mereka...lah...loh, kenapa tuh...?" Leo menunjuk ketiga remaja itu yang berjalan dengan langkah cepat dan seseorang berada dalam gendongan.


segera mereka menyusul dengan berlari agar tidak ketinggalan.


"taksi" starla memanggil


bara segera masuk ke dalam taksi dengan tetap menggendong tubuh Nisda.


"rumah sakit pak, cepetan" ucap Bara


"tunggu kami di rumah sakit" ucap starla dan Bara mengangguk hingga akhirnya taksi itu meninggalkan mereka


"nanti di ceritakan, sekarang kita kerumah sakit menyusul Bara dan Nisda" ucap starla


"emangnya Nisda kenapa...?" tanya Leo


"kena pukul. ayo" starla menarik tangan Vino yang masih shock dengan kejadian tadi


mereka segera ke tempat dimana motor mereka diparkir. starla di motor Vino sedangkan Alana, gadis itu akan diantar Leo pulang sebelum Leo ke rumah sakit. untuk El, dia harus mencari dulu teman hantunya nanti setelah itu ia akan menyusul ke rumah sakit.


semuanya meninggalkan parkiran, tinggal El sendiri yang masih berada di tempat itu.


"Adam" panggilnya


wuuusshh


"aku di sini" hantu itu sudah duduk manis di atas motor El


"darimana saja lu, lama banget"


"dari mainlah, darimana lagi. aku mendapatkan banyak teman baru di sini"


"sudah puas kan mainnya. sekarang kita ke rumah sakit"


"siapa yang sakit. terus yang lainnya kemana, kok mereka nggak ada...?"


"sudah jangan banyak tanya, ikut saja." El memakai helmnya


perlahan motornya meninggalkan parkiran, tujuannya sekarang adalah rumah sakit. namun baru juga beberapa meter mereka meninggalkan pasar malam itu, El menghentikan motornya karena kejadian yang ada di depannya sana.


"ampun bi ampun" seorang gadis merintih sakit dan menangis


"anak kurang ajar, tidak tau diuntung. kamu dan bapakmu sudah sangat menyusahkan saya. bersyukur kalian tidak jadi gelandangan di luar sana" seorang ibu memukul tubuh gadis itu dengan rotan yang dipegangnya


"kayak kenal" ucap El melihat gadis itu.


"dia kan yang menyiram Nisda di warung mie ayam tadi" jawab Adam


"mau tolong kah...?" tanya Adam


"itu bukan urusan kita, kita jangan ikut campur"


El segera menyalakan motornya kembali dan meninggalkan tempat itu. meskipun ada rasa kasihan, tapi ia tidak berhak ikut campur. sekian detik ia merem mendadak motornya karena mendadak Adam menarik pundaknya satu kali membuat El terperanjat kaget.


"berhenti... berhenti"


"dam, kelakuan elu sekarang ini hampir buat kita guling-guling di aspal tau nggak"


"maaf maaf. tapi lihat itu" tunjuk Adam ke arah gadis dan ibu tadi

__ADS_1


dua orang pria menarik paksa gadis itu dan membawa masuk ke dalam mobil. si ibu sama sekali tidak melarang bahkan dia hanya berdiam diri tanpa melakukan perlawanan. sepertinya dua orang pria itu adalah suruhannya sendiri.


"loh, mau dibawa kemana tuh cewek...?"


"mau dibawa kemana, hubungan kita" bukannya menjawab Adam malah menyanyikan lagu yang dulunya sangat ngetrend


"jadi nggak ke rumah sakitnya...?" tanya Adam


"nanti saja, kita harus menolong cewek tadi. sepertinya dia butuh pertolongan" jawab El yang mulai memutar balik motornya dan mengikuti mobil hitam yang membawa paksa gadis tadi


"lah tadi katanya nggak boleh ikut campur"


"ini lain lagi. jangan sampai cewek tadi diperdagangkan atau dijadikan pelacur sedangkan kita tanpa membantu dan hanya berdiam diri saja. kalau dia dibunuh atau semacamnya gimana"


"ya sudah iya. aku ikut ajalah apa kata Abang"


jalan yang menjelang larut malam masih terlihat ramai dilewati kendaraan. El terus saja mengikuti mobil hitam yang berada beberapa meter di depan mereka.


mobil hitam itu berbelok di sebuah gang sempit yang gelap tanpa penerangan. kemudian setelahnya berhenti di depan rumah mewah yang tidak ada saingannya di sekitar itu


"lepaskan aku. aku nggak mau mengikuti kalian" gadis itu terus saja memberontak saat dirinya di seret masuk ke dalam rumah mewah


"diam kau. wanita tua itu sudah menjual kamu kepada bos kami sebagai pelunasan utangnya. jadi tidak usah melawan dan mengikut saja kalau tidak ingin kami menyiksamu" salah seorang dari pria itu membentaknya


"aaaaggghhhh...gadis sialan"


plaaaaak


satu tamparan keras mendarat di wajah mulusnya karena ia menggigit tangan dari pria yang memegangnya.


"lepaskan aku, aku tidak mau jadi pemuas nafsu bos kalian. lepaskan"


bughhh


bughhh


"aaaaggghhhh" lagi, kedua pria itu berteriak sangat keras karena gadis itu menendang sesuatu yang paling berharga di bawah sana.


gadis itu mengambil kesempatan. ia berlari menyelamatkan diri dari kedua pria yang masih duduk di tanah yang merintih kesakitan.


"kejar" Gun


"ya sama-sama ngejarnya, masih sakit nih si Joni aku" ucapnya merintih dan berusaha bangun


"awas saja kalau ketemu" pria yang dipanggil Guntur itu menggertakkan gigi-giginya


sementara gadis tadi berlari tak tentu arah, menyusuri jalan yang semakin sepi karena malam semakin larut.


"kemana perginya lagi itu cewek ******"


mendengar suara tentu saja gadis itu ketakutan dan harus bersembunyi dimana. belum lama juga ia kabur, ternyata kedua pria itu telah menyusulnya. rupanya tendangannya tadi tidak membuat mereka kesakitan terlalu lama.


(ya Allah selamatkan aku. aku masih ingin bersama bapak) batinnya yang terus berlari menyelamatkan diri)


tiba-tiba satu tangan menarik tubuhnya ke semak belukar membuat gadis itu histeris namun dengan cepat mulutnya dibungkam dengan sebuah tangan.


"ssssttt" orang tersebut menaruh jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar gadis itu diam


meskipun ragu namun gadis itu tidak memberontak dan mengangguk pelan. ia tidak dapat melihat bagaimana wajah laki-laki itu karena helm yang dipakainya.


"hah hah, capek aku Gus. istrahat dulu lah" mereka duduk di pinggir jalan pas dimana gadis dan laki-laki itu bersembunyi


gadis itu ketakutan. takut ketahuan dan mereka akan membawa dirinya pergi lagi. tubuhnya bergetar namun dengan cepat laki-laki itu memeluknya untuk menenangkannya.


"gimana nih Gun, bisa diamuk sama bos nih kita"


"aku juga bingung Gus. anak sialan itu malah kabur lagi. alamat dapat bogem mentah nih kita"


mereka duduk berlesehan di pinggir jalan. namun kemudian seseorang yang bernama Agus memegang sesuatu yang licin saat di raba.


"Gun, aku kok megang sesuatu ini"


"apaan, coba aku lihat"


Guntur mengambil handphonenya dan menyalakan senternya kemudian ia arahkan ke tangan Agus.


"kyaaaa ular Gus ular"


pria yang bernama Guntur teriak melihat seekor ular di samping mereka. Agus langsung bangkit dan melompat digendongan Guntur.


"bang, beli sate nggak bang" suara wanita terdengar dari arah belakang mereka


saat berbalik mereka langsung teriak keras karena di depan mereka seorang wanita dengan pakaian putih nan lusuh dan rambut panjang serta wajah yang menakutkan sedang tersenyum menyeringai ke arah mereka.


"aaaaa setaaaaan"


keduanya lari terbirit-birit. pria yang bernama Agus itu belum juga turun dari gendongan temannya. mereka bahkan sampai jatuh saking ketakutan melihat mba Kun.


"hahahaha.... dasar lekong" ucap Adam yang muncul tiba-tiba


"terimakasih mba Kun atas kerjasamanya" lanjutnya


"hihihihihi" tawa mba Kun melengking kemudian seketika menghilang


rupanya yang menyelamatkan gadis itu adalah El dan teman hantunya. merasa sudah aman, El dan gadis itu keluar dari persembunyian mereka.


"terimakasih sudah menolongku" ucapnya dengan linangan air mata


El membuka helmnya dan terlihat jelaslah wajah tampannya. gadis itu tidak menduga ternyata yang menyelamatkannya adalah pelanggan mereka diwarung mie ayam tadi.

__ADS_1


__ADS_2