Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 65


__ADS_3

lampu yang tadinya mati total kini kembali menyala namun setelah itu mati lagi mirip lampu disko di club malam.


bahkan angin belum berhenti bertiup kencang, semua yang ada di tempat itu berjatuhan ke lantai. bingkai foto, guci yang terpajang cantik di sudut rumah terbanting dan pecah.


Randi dan Helmi terperangah melihat kejadian itu, mereka belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.


sementara di luar rumah, tenda yang dipasang menjadi porak-poranda. kursi-kursi berterbangan, terpal yang dijadikan untuk pelindung ibu-ibu memasak bergoyang-goyang seperti layangan. semua orang berlindung mencari pegangan.


El dapat melihat Adam menatap tajam ke arah luar. wajahnya berubah menjadi bringas, bola matanya merah dan kuku tajamnya siap mencabik-cabik siapa saja.


tau kalau ini adalah perbuatan Adam, El berjalan pelan menghampiri hantu itu meski dirinya kesusahan karena angin bagaikan angin topan.


ibu Lilis dan Kumar serta istri barunya berpegang tangan agar tidak terbawa angin yang entah darimana datangnya.


"hentikan Adam" El memegang bahu Adam namun tidak ada respon dari hantu itu


"Adam hentikan" teriak El membawa hantu itu ke pelukannya seperti yang sudah-sudah. karena biasanya hanya dengan cara itu Adam menghentikan kegilaannya


benar saja, setelahnya angin berhenti bertiup. lampu kembali menyala normal dan awan hitam yang menggumpul tadi telah pergi sehingga cahaya matahari dapat terlihat kembali.


satu persatu mereka berdiri namun yang di herankan oleh Randi dan Helmi serta yang lainnya, orang-orang yang menyerang mereka tidak terlihat, padahal orang-orang itu sudah KO di luar sana.


pak Daud berdiri dari tempat persembunyiannya di bawah meja, saat keluar dia tidak lagi melihat ibu Lilis, Kumar dan juga istri barunya.


"kurang ajar, mereka kabur" ucap pak Daud


mereka semua keluar dari rumah itu. Adam sudah kembali seperti wujudnya semula. El tetap memegang tangan Adam agar hantu itu tidak berbuat seperti tadi saat tidak bisa mengendalikan amarahnya.


ayah Adnan, Randi, Helmi serta pak Daud terkejut melihat lima orang yang menyerang mereka tadi sudah tidak berdaya di depan rumah. hanya El dan Leo yang terlihat biasa saja tanpa ekspresi kaget sedikit pun.


lima orang itu diamankan oleh Randi dan Helmi. kelimanya di ikat menggunakan tali agar tidak melarikan diri.


"ada yang melihat ibu Lilis dan anaknya...?" tanya pak Daud kepada warga yang berkerumun di depan rumah ibu Lilis


"mereka kabur pak naik mobil tadi" jawab seorang pria


"kenapa tidak dihadang, mereka itu pembunuh harus dijebloskan ke penjara" ucap pak Daud


"lapor polisi saja pak biar jadi buronan" timpal salah satu warga


pak Daud memutuskan untuk melapor polisi diantar oleh Randi dan Helmi, sedangkan ayah Adnan, El dan Leo kembali ke rumah ibu Tatik.


Sintia meneteskan air mata melihat anaknya yang sedang terlelap di dalam kamar. wanita itu dengan sayang membelai rambut anaknya meski tidak bisa di sentuhnya.


"anak mama sehat-sehat ya sayang" ucapnya dengan lembut


cek lek


starla masuk ke dalam bersama Vino, Leo dan El. mereka ingin melihat Sintia karena inilah kesempatan wanita itu untuk pergi seperti janjinya setelah ia melihat anaknya.


"kakak ingin memeluk Ainun...?" tanya starla


"iya, tapi aku nggak bisa" ucapnya sedih


"aku bisa bantu"


"caranya...?"


"masuklah ke dalam tubuhku"


"sayang" Vino seakan tidak setuju dengan cara itu


"nggak apa-apa, aku nggak akan kerasukan teriak-teriak dan menyerang, kak Sintia hanya akan memeluk anaknya saja dan itu yang akan dilakukan tubuhku saat dirinya merasukiku" starla menatap lembut Vino memberikan pengertian


"masuklah kak"


"apa tidak apa-apa...?" Sintia terlihat ragu


"nggak apa-apa, masuklah sebelum ada yang masuk ke kamar ini" ucap starla


wanita itu mendekati starla dan masuk ke dalam tubuhnya. starla seketika seperti tersengat listrik. Vino berdiri ingin menghampiri namun El menahan tangannya dan menggeleng kepala.


starla naik di atas ranjang dan mendekati Ainun yang sedang terlelap. ia tatap dalam-dalam tubuh montok anak itu dan mencium keningnya.


"anak mama" ucap starla membelai pipi gembul Ainun


"sehat-sehat ya nak, mama tidak bisa lagi melindungi kamu. tapi percayalah mama akan selalu meminta kepada Tuhan agar kamu terus dilindungi oleh-Nya"


"maafin mama sudah meninggalkan mu, mama menyesal sayang. harusnya mama tetap bersama kamu dan kita tidak akan terpisah dengan jarak dunia yang berbeda seperti sekarang" starla meneteskan air matanya


"mama pamit ya sayang, jadilah anak yang solehah dan membanggakan keluarga"


cup


kecupan hangat nan lembut ia daratkan di kening anak cantik itu. kemudian starla beralih menatap El dan kedua sahabatnya serta Adam.


"terimakasih" ucap starla tulus dan tersenyum

__ADS_1


"sama-sama" jawab mereka semua


setelah mengucapkan kata terimakasih tubuh starla seketika lunglai dan lemas. Vino dengan cepat menangkap tubuh itu agar tidak terjatuh.


"kamu baik-baik saja...?" tanya Vino khawatir


"tenagaku lemas sekali" jawab starla lirih


Vino membaringkan perlahan starla di samping Ainun. ia dibiarkan istrahat agar tubuhnya kembali mempunyai tenaga.


"apa kak Sintia sudah pergi...?" tanya Leo


"dia sudah pergi" jawab Adam menatap Ainun yang sedang tersenyum dalam tidurnya entah sedang bermimpi apa anak itu


pak Daud telah kembali dari kantor polisi bersama Randi dan Helmi. ibu Tatik masih menangis karena tidak percaya Sintia keponakannya telah pergi untuk selamanya.


masih terlintas di kepalanya bagaimana Sintia pergi dari rumah dan lebih memilih Kumar untuk dijadikan suaminya padahal waktu itu ibu Tatik akan mendekatkan Sintia dengan pemuda yang baik-baik namun nyatanya Sintia menolak dan malah memilih meninggalkan rumah ibu Tatik.


"sudah Bu, Sintia sudah tenang di alam sana" pak Daud menenangkan istrinya


"kasian Ainun pak, dia sudah tidak punya ibu lagi" ucap ibu Tatik


"masih ada kita yang akan merawatnya" jawab pak Daud


"bapak sudah melaporkan ibu Lilis dan Kumar ke polisi, sekarang mereka telah menjadi buronan. mereka harus membalas apa yang telah mereka lakukan kepada mas firman dan mba Lani"


"sekarang mereka pasti sudah berkumpul di sana ya pak, kak Sintia menyusul kedua orang tuanya. semoga mereka bahagia di sana" ucap anak gadis pak Daud


"aamiin" semua orang mengaminkan ucapan gadis itu


"terimakasih pak telah datang jauh-jauh untuk memberitahu kami tentang kematian Sintia" ucap pak Daud kepada ayah Adnan


"sama-sama pak, itu memang kewajiban saya karena Sintia bekerja dengan saya" jawab ayah Adnan


"ada yang ingin saya berikan" ayah Adnan mengambil amplop coklat dan memberikan amplop itu kepada pak Daud.


"apa ini pak...?"


"itu adalah hak Sintia selama bekerja dengan saya" jawab ayah Adnan


"ini banyak sekali pak, sepertinya bapak salah hitung"


"sama sekali tidak justru itu tidak seberapa dengan pekerjaan Sintia yang sangat baik di toko saya. mohon jangan di tolak"


"terimakasih banyak pak...."


"Adnan, panggil saja pak Adnan"


"aamiin" semuanya mengaminkan doa pak Daud


hari yang tadi terik kini perlahan berubah menjadi senja sore yang perlahan matahari tidak lama lagi akan meninggalkan siang. ibu Tatik menyediakan makanan untuk para tamunya karena mereka tau sejak datang tadi ayah Adnan dan yang lainnya belum makan.


starla sudah membaik setelah tidur bersama Ainun di kamar tadi. anak montok itu sudah bangun dan sekarang dalam pangkuan starla. anak itu sepertinya tidak takut dengan orang baru dan malah terlihat akrab.


namun satu yang kini mereka sadari sejak tadi anak itu terus memandang ke arah Adam yang juga sedang menatapnya.


"baaaaaa" Adam memainkan anak itu dengan ciluk ba membuat Ainun tertawa senang


El dan yang lainnya saling pandang, bagaimana bisa anak kecil itu bisa melihat Adam yang seharusnya tidak bisa ia lihat.


"hehehehe" Ainun bertepuk tangan senang melihat Adam


"lihat apa sih dek...?" tanya anak gadis pak Daud, Rania namanya yang baru saja dari dapur ke ruang tengah sedang di ruang tamu ada ayah Adnan, dan kedua pengawalnya serta pak Daud


"nggak tau, kayaknya dia senang bertepuk tangan" ucap starla yang berpura-pura tidak tau Ainun bermain dengan siapa


"dia lihat aku lah yang tampannya membahana ini, siapa lagi" ucap Adam


Ainun ingin turun dari pangkuan starla. gadis kecil itu melangkahkan kaki kecilnya menghampiri Adam dan merentangkan kedua tangannya minta di gendong.


Rania menatap heran anak itu yang seakan meminta seseorang untuk menggendongnya padahal tidak ada siapapun di sana.


"Ai, ayo sini yuk" Rania memanggil anak itu


Ainun tidak bergeming dan terus meminta Adam untuk menggendongnya dan itu tidak mungkin Adam lakukan, bisa-bisa Rania jantungan melihat Ainun melayang padahal sebenarnya ia digendong oleh Adam.


"ehek ehek" Ainun mulai menangis karena Adam tidak kunjung menggendongnya


Rania segera menghampiri anak itu dan menggendong menenangkan, namun tetap saja Ainun masih menangis merentangkan tangan ke arah Adam.


"Rania, sini dulu nak" panggil ibu Tatik


"kamu di panggil, sini biar Ainun sama aku" starla mengambil alih Ainun dan Rania segera memenuhi panggilan ibunya


"ni bocah kok bisa liat elu dam...?" tanya Leo


"mana aku tau" jawab Adam memainkan tangan Ainun

__ADS_1


"dong... dong" ucap Ainun merentangkan tangannya


"dong dong apa, kedondong...?" tanya Adam tidak mengerti


"dong dong" ucapnya lagi


"odong odong, apa sih kakak nggak tau" Adam menggaruk kepalanya


"dia minta digendong sama elu, tuh tangannya dari tadi ke elu terus" ucap El mengartikan ucapan Ainun


"oooh gendong, bilang atuh mah kalau mau digendong" Adam langsung mengambil anak itu dari gendongan starla dan mengangkatnya ke atas membuat Ainun cekikikan senang


Adam terus mengangkat Ainun dan membuat anak itu seakan melayang ke udara. Ainun sangat senang bahkan bertepuk tangan dan terus tertawa.


El menatap haru ke arah hantu dan anak itu, dalam benaknya ternyata Adam menyukai anak kecil.


"main apa nak, senang sekali ibu dengar..... astagfirullahaladzim, innalillahi wainnaillahirrajiun" ibu Tatik berteriak keras melihat Ainun yang terbang melayang


seketika El berlari mengambil alih Ainun dan menggendongnya sementara ibu Tatik masih terus beristighfar menutup mata dan saat melihat lagi Ainun sudah anteng di gendongan El.


"lah....loh, tadi Ainun kan" ibu Tatik mengucek-ngucek matanya


"ada toh Bu" tanya pak Daud menghampiri karena mendengar teriakan istrinya


"emm anu pak, itu eee anu"


"anu anu apa Bu, bicara yang jelas"


"ibu lihat Ainun melayang loh pak, serius demi Allah"


mendengar ucapan ibu Tatik, Randi dan Helmi mengernyitkan kening saling pandang sementara ayah Adnan kebingungan.


"ibu ada-ada saja, mana ada Ainun terbang bu, memangnya dia punya sayap" pak Daud geleng kepala


"sudah masak belum Bu makanannya...?"


"sudah pak, ayo semua mari kita makan dulu. sini nak, Ainun biar ibu yang jaga" ibu Tatik mengambil Ainun dari gendongan El


semuanya bergegas ke tempat makan di dapur yang beralaskan tikar karena keluarga pak Daud tidak memiliki meja makan. ibu Tatik pun ikut karena akan menyuapi Ainun. gadis kecil itu melihat ke arah Adam dan tersenyum.


"dadaaaa, nanti main lagi ya" Adam melambaikan tangan dan di balas anak montok itu


selepas makan dan istirahat sejenak, mereka memutuskan untuk kembali ke kota. ayah Adnan sangat berterima kasih kepada keluarga pak Daud yang telah menyambut mereka dengan baik. semuanya bersalaman dan setelah itu masuk ke dalam mobil meninggalkan pekarangan rumah pak Daud.


pukul 5 sore mobil itu meninggalkan perkampungan yang indah dan asri pemandangannya dengan sawah-sawah para warga di sekitar kampung.


Adam telah duduk di kursi belakang bersama Vino dan starla karena jika di atas mobil dirinya sudah tidak mempunyai teman.


karena lelah Vino tertidur di bahu starla, gadis itu diapit oleh Vino dan Adam. Leo pun tertidur di bahu El yang berada di kursi tengah bersama ayah Adnan.


setelah jauh dari kampung dan berada di tempat yang jauh dengan perkampungan, mobil mereka tiba-tiba mogok dan tidak bisa jalan. berkali-kali Helmi menyalakan mesinnya namun tetap tidak bisa.


"kenapa Helmi...?" tanya ayah Adnan


"mogok pak, sebentar aku periksa dulu"


Helmi keluar dari mobil bersama dengan Randi. waktu magrib mulai menghampiri, keadaan sekitar sangatlah sunyi hanya hutan samping kanan kiri.


"sepertinya nggak bakalan nyala nih, gimana Ran...?" tanya Helmi


"aku juga bingung, malah kendaraan nggak ada yang lewat lagi" jawab Randi menggaruk kepala


"bagaimana, bisa tidak...?" ayah Adnan keluar dari mobil


"nggak bisa pak, harus dibawa ke bengkel tapi di sini mana ada bengkel yang ada hanya hutan gini" jawab Helmi


malam menghampiri, mereka belum melaksanakan shalat magrib karena tidak mendapatkan air dan juga tidak ada tempat untuk beribadah.


sebagai penerangan, mereka menggunakan senter handphone yang sebentar lagi akan lobet karena sejak tadi tidak di cas.


"coba aku periksa, semoga saja bisa. ambilkan semua peralatan di belakang mobil Hel" ucap Randi yang mulai menggulung baju kemejanya


Helmi mengambil peralatan yang diperlukan Randi. pria itu mulai melakukan aksinya dengan peralatan yang lengkap karena selalunya setiap bepergian selalu membawa semua peralatan itu.


karena bosan di dalam, akhirnya El keluar bersama Adam, sedangkan Leo starla dan Vino berada di dalam mobil dan sedang terlelap tidur.


sunyi mencekam di tempat itu. suara burung hantu menggema di hutan sana. malam semakin dingin menerpa kulit mereka yang mulai kedinginan.


ditengah sedang duduk memperhatikan Randi yang bergalut dengan mesin mobil, El mendengar suara langkah dari arah belakang mereka, pelan namun sangat terdengar di telinganya.


"elu dengar itu...?" bisik El ditelinga Adam


"ssssttt" Adam mengisyaratkan agar El diam tanpa bicara


"jangan berbalik dan tetap fokus ke depan" ucap Adam


"memangnya ada apa di belakang sana...?" El ingin melihat namun Adam menahan kepalanya

__ADS_1


"ikuti saja perkataanku, tetap fokus ke depan. mengerti"


ucapan Adam penuh penekanan membuat El menganggukkan kepalanya menatap Adam yang memasang wajah serius.


__ADS_2