
setelah pamit kepada ibu Arini, kini El dan kawanannya bersiap untuk pergi ke ujung kota yang lumayan cukup jauh. untuk Alana, gadis itu terpaksa tidak ikut karena tidak diizinkan oleh kakaknya.
"aku mau melati boleh...?" tanya Adam yang duduk anteng di belakang El
"kan udah makan tadi, perutmu terbuat dari apa sih. nggak kenyang-kenyang makannya" timpal El yang fokus memandang ke depan
"dari kulit lah, darimana lagi. lagian pan tadi aku makannya sedikit. boleh ya, ya ya ya" Adam menggoyang-goyangkan bahu El
"ish...nanti jatoh dam. sabar dikit Napa sih" cebik El
"aku selalu sabar kok. sabar disetiap engkau tak menghiraukan keinginan daku dan akhirnya aku merasa tersakiti" Adam mulai mendramatisir keadaan
"ku menangis membayangkan"
"elu kayak bini gue yang tersakiti aja" cebik El, belum juga Adam menyelesaikan nyanyiannya, El sudah memotongnya duluan.
"aku kan cowok, masa iya jadi bini. harusnya kan jadi laki" timpal Adam
"ya kali gue jeruk makan jeruk".
"jeruk enak tapi lebih enak melati. pokoknya aku mau melati titik nggak pakai tanda tanya tanda koma tanda seru apalagi tanda hati, karena hati aku nggak bisa dikasi tanda"
"ck, dasar. iya iya, kita beli melati" ucap El yang mulai memelankan laju motornya
"hehehe... sayang kamu banyak-banyak tumpah-tumpah, lumer-lumer" Adam kegirangan dan langsung memeluk El
"cih, ada maunya baru sayang-sayangan"
El berhenti di depan toko bunga untuk membeli melati. melihat teman mereka menepikan motornya, Leo dan Vino pun ikut menepi.
"ngapain...?" tanya Vino
"beli makan dulu buat si hantu" jawab El
"makan mulu kerjanya, nggak eneg apa makan melati terus" ucap Leo
"oh jelas tidak dan tidak akan pernah" jawab Adam yang duduk bersila di atas motor
semuanya terdiam sambil menunggu El keluar dari toko. kedua remaja itu sibuk memainkan ponselnya sedangkan Adam, entah apa yang dipikirkannya karena terus mengetuk-ngetuk keningnya seperti mengingat sesuatu. seketika ia teringat sesuatu dan senyumnya mengembang.
"hei kamu" teriak Adam dengan kerasnya
"kamu kamu eh kamu" Leo yang kaget langsung berucap latah dan mengelus dada sedangkan Vino karena kaget hampir saja terjungkir jatuh dari motor.
"woi Sukijang, minta digeplak lu ya" kesal Vino memperbaiki duduknya
Adam hanya nyengir kuda dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V membuat Vino mencebikkan bibirnya.
"aku mau menagih janji padamu" tunjuk Adam ke arah Leo
"janji apa sih dam, perasaan gue nggak pernah janji apa-apa" jawab Leo
"ooohh...kalau kamu nggak ingat berarti kamu insomnia seperti aku ya"
"amnesia Adam Hawa, amnesia" Vino menimpali
saking gemesnya, Vino ingin sekali menggeplak kepala hantu itu yang selalu salah dalam mengucapkan kata amnesia menjadi insomnia
"sama aja, huruf terakhirnya sama-sama a juga" Adam tak mau kalah
"serah lu daaah"
"aku mau menagih janji toko bunga yang akan kamu belikan untukku, jangan pura-pura insomnia lagi ya kau" Adam menyipitkan matanya ke arah Leo
gleg....
(*masih ingat aja dia sama ucapan gue kemarin) batin Leo
(mampus lu Le, bangkrut lu daaah) Vino cekikikan dalam hati*
"nggak sekarang juga kali belinya dam. ini kita mau nyusul starla. nanti aja deh" ucap Leo
"tapi benar ya, awas kalau bohong, aku cungkil mata kau" Adam mengancam dengan dua cari ia arahkan ke matanya membuat Leo langsung memegang kedua matanya dan menelan kasar ludahnya
"kayak psikopat aja lu" ucap Vino
"siapa yang psikopat...?" tanya seseorang
ketiganya berbalik dan ternyata ada Nisda juga Bara di tempat itu.
"ayo jalan" El yang baru saja keluar langsung ke arah motornya
"kalian mau kemana...?" tanya Nisda yang ingin tau
"urusan laki-laki, cewek nggak usah tau" jawab Vino yang memakai helmnya
"kalian di sini juga" El berbalik karena tadi ia tidak memperhatikan mereka
"iya, gue mau belikan mama bunga. oh ya, kalian mau kemana terus starla mana...?" tanya Nisda yang tidak melihat gadis yang ia tanyakan tidak ada karena biasanya dimana ada tiga serangkai itu, di situ pasti ada starla
"ini kita mau nyusul starla di ujung kota" jawab Leo
"ujung kota. jauh banget, ngapain dia ke sana" ucap Nisda
"kami belum tau dia ngapain ke sana, makanya itu kami nyusul" timpal El
__ADS_1
"gue ikut"
"emmm, maaf Nis... sebaiknya nggak usah" timpal El
"gue nggak mau tau pokoknya gue ikut. gue bisa bonceng di motor Vino" gadis itu beralih menatap Vino
Bara mengepalkan tangan membentuk tinju, ia mulai emosi. rasa tidak suka dan kesal bercampur menjadi satu.
"cari masalah nih cewek" ucap Adam melihat tangan Bara yang terkepal kuat
"gue nggak bisa" jawab Vino cepat
"kenapa, kamu kan nggak ada boncengan" tanya Nisda
"Nisda plis, gue nggak mau berantem sama cowok lu lagi hanya karena gara-gara elu. bisa nggak sih elu jangan ganggu gue lagi" kali ini terlihat Vino sangat kesal
"tapi gue mau ikut"
"kalau mau ikut, ya bonceng sama pacar elu lah, ngapain sama gue" Vino tidak memperdulikan keinginan gadis itu
"woi...bicara yang sopan sama pacar gue bisa nggak" kali ini Bara ikut menimpali
"kita berdua ikut, kamu tetap bonceng sama aku" Bara menarik Nisda untuk mendekat ke arah motornya
Vino tidak menggubris perkataan laki-laki itu, ia menjalankan motornya pelan mendekati El
"pergi sekarang yuk, gue pengen cepat-cepat ketemu starla, perasaan gue semakin nggak enak memikirkan dia" ajak Vino
segera El dan Leo menyalakan motor mereka dan membelahnya jalan raya. Bara pun menyalakan motornya dan mengikuti mereka. ada perasaan tidak suka saat Nisda mendengar Vino ingin bertemu starla. gadis itu terus berharap bisa bersama Vino walau Bara masih menjadi kekasihnya saat ini karena laki-laki itu tidak pernah merasa putus dengan Nisda.
"kemana mereka akan pergi...?" Ardi pengawal yang ditugaskan bersama Furqon untuk mengawasi El bertanya
"entahlah. kita ikuti saja" jawab Furqon menjalankan mobilnya
Zidan yang berada di dalam mobil kembali mendapatkan pesan dari nomor yang sempat memberikan pesan sebelumnya. di pesan itu, terlihat foto Vania yang memperlihatkan sudut bibirnya berdarah dan ada bekas tangan seperti bekas tamparan yang mencetak di pipi wanita itu.
📱 kasihan sekali, hanya karena dirimu kekasih mu ini menanggung pedih. kalau kamu tidak menandatangani surat pengalihan warisan hari ini juga, aku akan membuat wanitamu menanggung sakit lebih dari ini
(aku bersumpah akan membunuhmu Rudi) Zidan sangat geram
"lebih cepat lagi" ucapnya dengan nada keras
"baik bos" Randi segera mengikuti perintah bosnya
sementara itu, Vania masih terus berusaha membuka ikatan tangannya dengan gunting yang ia pegang. tebalnya tali ikatan itu membuat ia kesulitan untuk membukanya.
"susah banget" keluhnya yang sudah mulai lelah
"sini aku bantu"
"kayaknya nggak bakalan bisa deh"
"jangan menyerah dulu kak. pantang menyerah sebelum berperang. sabarlah sedikit" ucap starla yang masih terus berusaha memotong tali itu
sekian menit berjibaku akhirnya ikatan Vania terlepas juga. dengan cepat ia membuka ikatan kakinya kemudian membuka ikatan starla juga.
"sekarang, apa yang harus kita lakukan...?"
"tunggu bentar, kakak mau ngintip dulu di luar sana bagaimana"
Vania berusaha melihat keadaan di luar dengan mengintip dari pintu lewat lubang kunci. ada seorang yang menjaga di depan pintu, itu artinya tidak mungkin mereka keluar lewat pintu itu.
kemudian ia melangkah lagi mendekati jendela dan di luar sana, banyak yang berseragam hitam dengan wajah sangar berjaga di setiap sudut rumah itu.
"gimana kak...?"
"kakak juga bingung, terlalu banyak penjaga di luar sana" Vania kembali mendekati starla
tap...tap... tap
suara langkah kaki terdengar mengarah ke kamar mereka. secepat kilat mereka kembali memasang tali yang telah dibuka itu dan mengikat tangan serta kaki keduanya.
starla kembali ke tempatnya semula dengan cara seperti semula pula yaitu ngesot.
cek lek
pria tadi masuk kembali dengan tatapan dinginnya. ia masuk bersama dua orang pria yang berbadan kekar dan berotot.
"bawa mereka"
"siap bos"
wanita dan gadis itu di seret secara paksa untuk keluar dari sangkar. mereka di bawa ke arah ruangan yang cukup luas dimana wanita yang bernama Thalita tadi duduk manis di sofa empuk.
keduanya dihempaskan dengan kasar di lantai putih nan bersih itu. starla mulai ketakutan kembali, bahkan tubuhnya bergetar karena gugup.
📲 Rudi
halo Zidan
pria yang bernama Rudi itu ternyata melakukan panggilan video call dengan Zidan.
📲 Zidan
apa maumu brengsek
__ADS_1
📲 Rudi
jangan pura-pura bodoh, kamu tau yang aku inginkan
📲 Zidan
jangan mimpi, aku tidak pernah melakukannya
📲 Rudi
oooh...jadi kamu ingin wanita mu ini aku bunuh sekarang juga...?
Rudi mengarahkan handphonenya ke arah Vania yang sedang dijambak kasar rambutnya oleh seorang pria.
"sayang, jangan ikuti ucapan mereka. aku tidak apa-apa di sini"
ucapan Vania membuat hati Zidan merasakan sakit yang luar biasa. bahkan air matanya menetes melihat penderitaan wanita itu.
📲 Zidan
lepaskan dia bajingan
📲 Rudi
tentu, asal kamu menuruti keinginanku
Rudi kembali mengarahkan handphonenya ke wajahnya.
"jangan Zidan, jangan lakukan itu. aku baik-baik saja" teriak Vania membuat rambutnya dijambak semakin keras
"aaaggghh... lepaskan brengsek"
plaaaaak...
kembali Vania ditampar dengan kerasnya membuat ia tersungkur menabrak tubuh starla. gadis itu hanya menunduk dengan air mata yang terus berjatuhan.
📲 Rudi
lihat Zidan, kalau kamu terus keras kepala maka bukan hanya tamparan yang akan aku berikan melainkan sesuatu yang lebih dari itu. yaaah, bersenang-senang di atas peluh dalam satu selimut mungkin
📲 Zidan
berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu mas. aku bersumpah akan membunuhmu
📲 Rudi
hahahaha, aku tunggu hari itu. dengar baik-baik, tanda tangani surat pengalihan warisan atas namaku hari ini juga. jika aku hubungi lagi dan kamu belum melakukannya maka tunggulah mayat wanitamu ini di depan rumahmu
klik...
Rudi mematikan panggilannya dan melangkah duduk di samping Thalita.
"bunuh saja aku kalau itu yang kalian mau" ucap Vania
"tentu saja, itu akan aku lakukan agar aku dapat dengan mudah mendekati Zidan namun setelah semua hartanya jatuh ke tangan kami" timpal Thalita
"cih, Zidan tidak akan pernah tergoda dengan wanita murahan seperti kamu"
"apa katamu"
Thalita naik pitam, ia mendekati Vania dan menjambak rambutnya dengan keras kemudian mendorongnya sehingga kepalanya membentur ujung meja hingga membuat pelipisnya berdarah.
"tahan Thalita, belum waktunya kamu bermain-main dengannya" ucap Rudi
Thalita kembali duduk, Vania dan starla di seret kembali dan di bawa ke kamar mereka yang tadi. namun di dekat pintu, starla segera membuka ikatan tangan dan kakinya yang ia ikat sembarangan tadi agar tidak dicurigai.
ia menikam pria yang menyeret tubuhnya dengan gunting yang ia pegang. bukan di perut melainkan di lehernya agar pria itu tidak berteriak.
darah keluar dari leher pria itu, kemudian ia tumbang dengan memegangi lehernya. selanjutnya ia kembali menyerang pria yang menyeret tubuh Vania namun laki-laki itu secepatnya menghindar tapi sayangnya starla dengan lincah menendang tubuh pria itu hingga masuk ke dalam kamar yang harusnya jadi tempat mereka. ia menahan pintu itu dan mencari kunci di celana pria yang sudah tergelatak tidak bernyawa lagi. untungnya kunci itu ada kemudian dengan cepat ia mengunci pria yang berada di dalam kamar sana.
setelah melakukan itu, tubuh starla tumbang di ambang pintu. ia terduduk dengan melihat tangannya yang berdarah, darah dari pria yang telah ia bunuh.
"a-aku p...pem...bunuh...aku pembunuh" bibirnya bergetar dan dengan keringat dingin mengucur deras
Vania yang sudah melepaskan ikatannya segera mendekati gadis itu dan memeluknya erat.
"tidak apa-apa, kita dalam keadaan terdesak. kamu tidak salah"
"t-tapi a-aku membunuhnya kak, aku membunuhnya"
"tidak, dia pantas mendapatkan itu. sekarang kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita"
Vania membantu starla untuk berdiri. mereka mencari jalan untuk keluar dari rumah itu. dengan mengendap-endap seperti pencuri, dan perasaan yang was-was, akhirnya mereka keluar dari rumah itu. sayangnya ada seorang penjaga yang melihat mereka hingga akhirnya mereka harus melarikan diri ke dalam hutan.
"woi jangan kabur. cepat beritahu bos kalau tahanan kita kabur"
"baik"
segera seorang pria yang disuruh itu berlari masuk ke dalam rumah sedangkan yang satunya mengejar Vania dan starla yang masuk ke dalam hutan.
"apa, bagaimana bisa mereka kabur. dasar tidak becus. tangkap mereka berdua" Rudi sangat marah mendengar tahanannya kabur
"baik bos"
segera semua pengawalnya ia arahkan untuk mengejar kedua tahanannya. bahkan ia sendiri turun tangan bersama Thalita.
__ADS_1