Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 170


__ADS_3

"brengsek, rupanya paman Ujang abdi dari kuntilanak merah itu" Deva begitu geram mengetahui kenyataan yang sebenarnya


"kita ikuti dia" ucap Adam


dengan mengendap-endap dan bersembunyi di balik pohon, Adam Deva mengikuti pak Ujang yang bersama dengan Wulan. gadis itu terus mengekori kemanapun pak Ujang pergi.


di desa Boneng, suara riuh para arwah di ujung desa mulai membuat penduduk desa ketakutan. mereka yang tinggal di dekat ujung desa menutup pintu rapat-rapat begitu juga jendela agar makhluk-makhluk mengerikan itu tidak dapat masuk ke dalam rumah.


obor yang mereka simpan dan mengelilingi desa membuat mereka tidak dapat masuk ke dalam desa. mereka berdiri beberapa meter sedikit jauh dari obor-obor itu.


"mereka sudah diujung desa" pak Zainal mulai merasakan kehadiran mereka


"ya Allah lindungi kami" ibu Nurma berkata lirih


"sebaiknya kita semua berwudhu dan berdizkir" perintah pak Zainal


mereka bergegas menuju ke tempat wudhu dan saling bergantian untuk bersuci kemudian berkumpul kembali di ruang tengah dan mulai berdizkir.


harapan mereka agar para arwah itu tidak bisa masuk. namun harapan mereka itu harus pupus tatkala suara gemuruh dari langit terdengar, menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi.


"akan hujan" ucap pak Banu


"pada akhirnya apa yang kita takutkan akan terjadi juga. bagaimana ini pak Zainal" pak Samsul mulai ragu mereka akan melewati malam itu dengan aman


pak Zainal tidak menjawab, dari sorot matanya menampakkan bahwa dirinya juga khawatir penduduk desa akan ada yang menjadi korban dari keganasan arwah-arwah itu.


masih terdengar suara guntur namun hujan belum kunjung turun. mereka berdoa semoga saja hujan tidak turun malam itu meskipun sebenarnya sulit ditampik bahwa jika ada guntur maka biasanya akan terjadi hujan.


jam 1 malam, mereka sudah melewati satu jam tanpa gangguan. ketegangan dan kegelisahann belum hilang dari hati jika malam itu belum mereka lewatkan dengan selamat.


sayangnya ketenangan itu hanya berlangsung selama satu jam karena saat itu juga hujan turun dengan lebatnya membasahi semua obor-obor yang menyala dan mematikan api yang sejak tadi menyala.


saat api obor padam, saat itu juga makhluk-makhluk yang mengerikan itu mulai berlumba memasuki desa.


setiap rumah mereka teror dengan mengedor-ngedor pintu begitu keras. tidak akan berhenti sebelum pintu rumah terbuka dan menyeret pemiliknya untu keluar menjadi mangsa mereka.


"ayah, mau kemana" seorang wanita bertanya kepada suaminya yang hendak meninggalkan mereka di kamar


"ayah mau melihat ke depan, kalian di sini saja jangan kemana-mana"


"hati-hati yah, jangan keluar dari rumah" pesan istrinya


suaminya mengangguk dan keluar kamar menuju ruang tamu. pintu rumah mereka di gedor begitu keras. laki-laki itu mendorong sofa untuk menghalangi pintu agar tidak dibuka dengan mudahnya.


"saya bantu yah " anak laki-lakinya datang membantu


"kenapa keluar, cepat masuk ke dalam kamar"


"Doni tidak akan meninggalkan ayah, Doni bantu menghalau mereka. ayo"


Doni dan ayahnya menggeser dua sofa dan diletakkan di depan pintu. bukan hanya pintu yang mereka gedor tetapi juga jendela-jendela, mereka berusaha untuk membukanya.


kericuhan terjadi di desa Boneng. suara-suara yang mengerikan dari arwah-arwah itu benar-benar membuat penduduk desa begitu ketakutan.


"suara apapun yang kalian dengar, jangan sesekali untuk membuka pintu. mereka bisa menyamar menjadi siapapun, agar kalian terkecoh dan membuka pintu" pak Zainal memberitahu


mereka fokus berdizkir meskipun hujan masih turun begitu deras namun mereka semua tetap berdzikir meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa.


makhluk-makhluk itu masih terus meneror warga, hujan sudah tidak sederas tadi namun belum redah dan masih mengguyur desa Boneng walau rintik-rintik.


"pak, buka pintunya ini Aulia" suara dari luar terdengar


"bu, anak kita di luar" seorang laki-laki mendengar suara teriakan anaknya di luar sana


"siapa pak, Sukma kan bersama kita" istrinya menjawab


"Aulia bu, dia ada di luar sana"


"pak sadar, Aulia sedang dirumah ibu, bukan di sini" yang dimaksud ibu oleh istrinya adalah bahwa anak mereka bernama Aulia berada di kota bersama ibu dari suaminya


"pak buka pintunya, ini Aulia. di luar dingin pak"


suaminya segera berlari menuju ke depan. istri dan anaknya mengejar dengan cepat. si suami akan membuka pintu namun dengan cepat istirnya menahan begitu juga dengan anaknya yang bernama Sukma.


"pak sadar, diluar itu setan bukan anak kita" istrinya mencoba menyadarkan suaminya


"pak, bukain Aulia pintu" lagi, suaminya itu mendengar suara anaknya


sang suami mendorong istri dan anaknya hingga mereka terjatuh dan ia segera membuka pintu. saat pintu terbuka saat itu juga satu tangan yang terlihat gosong dan mengelupas menangkap tangan laki-laki itu dan menariknya keluar rumah rumah.


"BAPAK" sang istri teriak histeris melihat suaminya ditarik oleh makhluk mengerikan itu.

__ADS_1


dengan cepat Sukma bangun dan menutup pintu kembali saat satu tangan lagi akan menarik ibunya. setelah pintu tertutup, sang istri meraung histeris karena suaminya telah ditangkap oleh arwah-arwah itu.


"pak, itu teriakan ibu Susi, ibunya Aulia" ibu Nurma memberitahukan suaminya


Leo hendak membuka jendela namun ditegur oleh pak Zainal sehingga ia mengurungkan niatnya.


tangisan ibu Susi yang kehilangan suaminya terdengar di rumah pak Firman karena rumah mereka yang berdekatan. hal itu semakin membuat mereka tegang dan takut.


"suaminya menjadi mangsa para makhluk itu" ucap pak Zainal


"astaghfirullah" ibu Murni menutup mulut


duughhh


duughhh


duughhh


pintu rumah semakin di gedor dengan kuat. Starla memeluk Vino, Nisda memeluk Bara sedang Alana memeluk El-Syakir. Melati hanya merangkul lengan Leo dengan erat.


"El, buka pintunya. ini aku"


suara dari luar terdengar jelas di telinga El-Syakir. itu adalah suara Adam, suara kakaknya yang dicari-cari sejak tadi.


"kak Dirga" El-Syakir berdiri seketika dan hendak ke ruang tamu untuk membuka pintu namun Alana segera menahannya


"mau kemana kak...?" tanya Alana


"itu kak Dirga, dia ada diluar" El-Syakir ingin melangkah lagi namun Leo menarik tubuhnya dan jatuh kembali di lantai


"sadar El, itu bukan Adam tapi setan. jangan sampai pikiranmu dipengaruhi oleh mereka" Leo memperingati


"tapi itu benar suara Adam, itu Adam" El-Syakir tetap kekeuh bahwa di luar sana adalah Adam


"sudah saya katakan mereka dapat meniru suara siapa saja untuk membuat kita terkecoh. tetap di tempatmu, itu bukan kakakmu" pak Zainal membuat El-Syakir diam tidak bergerak lagi


"ayah, ini Wulan. buka pintunya yah" pak Banu mendengar suara anaknya


dengan cepat pak Banu berdiri dan berlari ke ruang tamu. mereka yang melihat gerakan pak Banu langsung mengejar jangan sampai laki-laki itu melakukan kebodohan. benar saja, pak Banu membuka pintu dan saat itu juga tangannya ditangkap oleh beberapa makhluk yang mengerikan.


"aaaaa bu tolong" pak Banu meminta tolong


El-Syakir memeluk pak Banu, menahannya agar tidak terbawa oleh makhluk itu. sementara itu Leo memeluk tubuh El-Syakir, Bara memeluk Leo dan Vino memeluk Bara. mereka dengan tenaga sekuat mungkin menarik paksa pak Banu agar laki-laki itu dapat kembali masuk ke dalam rumah.


"potong tangannya Le" El-Syakir memberitahu Leo agar menggunakan pedangnya untuk memotong tangan makhluk itu


Leo mengeluarkan pedangnya yang berada di dalam tubuhnya. ia membuka pintu sedikit lebar dan menebas tangan-tangan makhluk-makhluk itu hingga pak Banu terlepas dari mereka.


setelah pak Banu di tarik oleh El-Syakir kini Leo yang menjadi sasaran. Leo ditarik keluar, kepalanya sampai pinggang telah berada di luar sementara di dalam mereka menarik kakinya agar Leo tidak dibawa pergi.


"kak Leo" Alana histeris melihat Leo setengah badannya telah berada di luar


Leo dapat melihat betapa mengerikannya makhluk-makhluk itu. untungnya Leo mengeluarkan pedangnya sehingga ia melindungi dirinya dengan pedangnya itu.


El-Syakir ingin keluar namun pak Zainal menahannya. laki-laki itu berdiri tegak menghadap ke arah pintu dan menarik Leo dengan sekali hentakan. tubuh Leo masuk ke dalam dan pintu kembali tertutup rapat.


"kak Leo" Alana menghampiri Leo yang terjatuh tersungkur di lantai


"elu nggak apa-apa Le...?" El-Syakir membantu Leo berdiri


lengan Leo terluka, hal itu dikarenakan dirinya dicakar oleh makhluk-makhluk mengerikan itu.


"maafkan saya, saya tadi benar-benar mendengar suara Wulan. saya hilang kendali dan ingin menemuinya yang jelas-jelas itu adalah setan" pak Banu merasa bersalah telah menimbulkan kekacauan


"untung saja ayah masih bisa diselamatkan" ibu Murni memeluk suaminya


di luar sana, suara teriakan, tertawa dan menangis menggema di malam hari itu. desa Boneng di teror arwah-arwah mengerikan yang mengincar manusia.


sudah ada korban yang berhasil mereka mangsa, dia adalah suami dari tetangga pak Firman dan ibu Nurma.


Leo meringis sakit saat luka dilengannya mulai menghitam dan bertambah parah. pak Zainal memerintahkan ibu Nurma untuk mengambil air di mangkuk kecil. dengan cepat ibu Nurma ke dapur mengambil air di mangkuk kemudian kembali lagi dan menyerahkan kepada pak Zainal.


"sembuhkan dengan senjata sakti mu" pak Zainal menyerahkan air itu kepada El-Syakir


semua orang heran kenapa pak Zainal malah menyuruh El-Syakir untu menyembuhkan Leo sementara dialah yang mereka harapkan. namun tidak dengan tim samudera, mereka tau apa yang dimaksud senjata oleh pak Zainal.


"apa yang bisa dia lakukan pak, kenapa bukan bapak saja yang mengobati Leo" pak Firman sungguh heran


"lakukan atau lukanya akan semakin parah dan bisa jadi lengannya harus diamputasi" pak Zainal masih kekeuh menyuruh El-Syakir


"tapi...keris itu hanya bisa menyembuhkan luka seseorang yang terluka oleh keris itu sendiri" El-Syakir ragu Leo bisa disembuhkan dengan keris miliknya

__ADS_1


"tidak ada salahnya mencoba. kita akan tau setelah mencobanya" timpal pak Zainal


"lakukan El, Leo kesakitan" Vino berbicara


sebenarnya El-Syakir ragu untuk melakukan itu. bukan tidak ingin mengobati Leo namun sebenarnya El-Syakir tidak ingin yang lain tau tentang mereka. tapi melihat keadaan Leo yang sudah sangat tersiksa menahan sakit, akhirnya El-Syakir mengangguk patuh.


"apa yang akan kak El lakukan...?" tanya Seil saat melihat El-Syakir duduk bersila dan menyimpan tangan kanannya di dada


"kenyataan yang harusnya kamu tau tentang El-Syakir, tentang kami" Melati menjawab


Jan sarikan lungurtum Kris larangapati


setelah membaca mantra itu, cahaya putih keluar dari tubuh El-Syakir. semua orang menutup mata karena silauan cahaya itu hingga kemudian perlahan redup dan mereka bisa melihat kembali.


"i-itu....kak El...b-bagaimana bisa...?" Zahra tentu saja terkejut. bukan hanya dirinya namun mereka yang bukan tim samudera begitu kaget melihat kenyataan yang sebenarnya


"dia bukan anak sembarangan" pak Samsul berdecak kagum


"mereka semua bukan anak sembarangan, mereka mempunyai keistimewaan masing-masing" pak Zainal menimpali


"aku butuh bunga melati" ucap El-Syakir


El-Syakir akan melakukan penyembuhan kepada Leo seperti apa yang dilakukan Laksmi dulu kepada Adam. El-Syakir membutuhkan bunga melati, itu sebagai syarat dari tata cara pengobatannya.


"dimana kita bisa mendapatkan bunga melati dalam keadaan bahaya seperti ini" Nisda begitu risau


"bu, apakah di sini tidak ada yang merawat bunga melati...?" Starla bertanya kepada ibu Nurma


"ada, tapi...." ibu Nurma terlihat ragu untuk memberitahu


"katakan dimana, biar kami yang mengambilnya" ucap Starla


"di rumah ibu Tantri, dia merawat beberapa bunga termasuk bunga melati. namun rumahnya jauh dari sini" ibu Nurma memberitahu


"di samping rumah saya, itu adalah rumah ibu Tantri" ibu Murni menimpali


"itu sangat jauh, bisa bahaya kalau kita keluar rumah. siapapun tidak akan selamat" ucap ibu Nurul


"kami yang akan mengambilnya" Bara mengatakannya dengan sungguh-sungguh. keselamatannya Leo lebih penting dari apapun


"jangan nak, kalian bisa celaka bahkan tidak akan kembali lagi" pak Samsul menggeleng tidak mengizinkan


"biarkan mereka pergi, memang hanya mereka yang bisa mengambilnya" pak Zainal menatap satu persatu anak-anak itu


"katakan saja rumahnya dimana. saya, Bara dan Vino akan pergi mengambil bunga itu" ucap El-Syakir


"saya temani, saya tau dimana rumahnya" Seil mengusulkan


"jangan, bibi tidak mengizinkan kamu pergi. biar pamanmu saja yang menemani mereka" ibu Nurma tidak setuju jikalau Seil ikut keluar


"tidak perlu, cukup kami bertiga saja yang pergi. tinggal beritahu dimana rumahnya, kami akan pergi dan akan pulang dengan cepat" Vino melarang siapapun untuk ikut bersama mereka


ibu Murni menjelaskan dimana letak rumahnya, di samping kanan rumahnya adalah rumah ibu Tantri yang mereka maksud tadi. ketiga remaja itu beranjak dan bersiap untuk keluar.


"gue ikut" Nisda ikut berdiri


"gue juga ikut" Starla dan Melati ikut berdiri


"astaga, apa kalian sengaja menyerahkan diri kepada makhluk-makhluk itu...?" ibu Nurul sungguh tidak habis pikir dengan tindakan anak-anak itu


"tetap di sini kalian, biarkan mereka yang pergi. kalian harus berjaga-jaga di sini jikalau nanti terjadi sesuatu" pak Zainal melarang ketiga gadis itu untuk ikut


"benar apa yang dikatakannya pak Zainal, tetaplah di sini. kami akan segera kembali" El-Syakir meyakinkan mereka


hujan sudah mulai reda meski masih tersisa rintik-rintik. pak Zainal menyuruh ketiganya untuk membawa obor, dengan obor itu setidaknya arwah-arwah itu tidak akan berani mendekati mereka meskipun mereka dalam pengintaian.


"hati-hati kak" Alana memeluk El-Syakir sebelum akhirnya dia bersama Vino dan Bara keluar dari rumah


mereka keluar dari pintu belakang. tidak takut untuk bertarung namun yang mereka pikirkan saat ini mereka harus sembunyi-sembunyi terlebih dahulu agar bisa dengan cepat ke tempat tujuan untuk mengambil bunga melati.


"apa mereka akan baik-baik saja pak...?" pak Samsul terlihat begitu ragu


"sudah saya katakan mereka bukan anak-anak biasa" pak Zainal tersenyum simpul


malam itu, El-Syakir, Vino dan dan Bara keluar dari rumah dan berjalan dengan hati-hati agar makhluk-makhluk itu tidak melihat dan menangkap mereka.


_____________________________________


catatan : maaf ya lama baru up karena banyaknya kesibukan di kehidupan nyata yang menyita waktu.


ini saja aku nulisnya sambil nahan ngantuk luar biasa. terimakasih untuk kalian yang terus membaca novel ini 🙏😊🤗

__ADS_1


aku pengen nanya nih sama kalian, kalian setuju nggak kalau Adam sama Melati. jangan lupa komennya ya, terimakasih bestieee 🙏🙏😊🤗


__ADS_2