Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 53


__ADS_3

dengan linangan air mata dan mata yang sudah memerah, Zidan menggendong Vania untuk membawanya keluar dari hutan itu. sebelum pergi, ia melihat ke arah Thalita dan Rudi yang sedang tersenyum mengejek.


"tersenyumlah sepuas kalian karena setelah itu kalian akan melihat malaikat maut datang menjemput nyawa kalian berdua" tatapan Zidan seperti elang yang siap mencakar mangsanya


"dia pantas mendapatkannya. wanita ****** seperti dia harusnya membusuk di neraka. dia tidak pantas bersanding denganmu, aku yang lebih pantas bersama dirimu"


mendengar perkataan Thalita membuat Zidan tersenyum sinis.


"kamu yang membuat wanitaku seperti ini. lihat nanti apa yang aku perbuat untuk membalasmu. sepertinya memasukkan mu ke dalam kandang macan dan menjadi santapan mereka tidak masalah. bukankah kamu wanita pemberani" Zidan menatap Thalita dengan tajamnya membuat wanita itu menelan ludahnya


"bawa mereka ke tahanan bawah tanah, siksa mereka seperti perbuatan keji yang mereka lakukan"


"siap bos" ucap mereka


"Pram ikut aku, biar nanti Randi dan Helmi yang mengurus keduanya"


tanpa banyak kata, Pram mengikuti langkah Zidan yang cepat untuk membawa Vania ke rumah sakit. keduanya kembali ke rumah di hutan itu karena mobil mereka ada di sana.


"itu dia bos" tunjuk Ardi saat melihat Zidan dan juga Pram


"paman" panggil El dan lainnya


"kakak" panggil Bara melihat Pram melangkah mendekati mereka


"loh dek, ngapain di sini...?" Pram mendekati adiknya itu


"kalian tidak apa-apa...?" tanya Zidan kepada El dan kawanannya


"kami baik paman" jawab El


"kak Vania. kak Vania kenapa paman, apa yang terjadi" melihat Vania digendong Zidan dengan wajah pucat, gadis itu langsung panik


"bukan saatnya menjelaskan. paman harus pergi untuk membawanya ke rumah sakit. ayo Pram, kamu yang menyetir"


"baik"


"kami ikut ke rumah sakit paman" ucap El dan Zidan mengangguk


dan di sinilah mereka sekarang, di rumah sakit yang masih jauh dari rumah karena Vania harus segera diselamatkan.


wanita itu sudah berada di ruang UGD, Zidan dan Pram menunggu di luar. Zidan bersandar di dinding dengan wajah kusut dan lelah. masih dengan pakaian yang sudah di penuhi darah Vania, pria itu tidak akan beranjak selangkah pun untuk meninggalkan wanitanya di dalam sana yang sedang bertarung nyawa.


selang berapa menit El dan yang lainnya pun datang, mereka duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu. Adam tidak melepas tangannya dari tangan El, jika dilihat dengan mata batin mereka berdua seperti pasangan kekasih saja.


"takut banget ditinggal sama El" bisik starla di telinga Adam


"aku tidak akan membiarkan kamu merebutnya dariku, bleeeeeee" hantu itu menjulurkan lidahnya


"kak" Bara mendekati Pram dan duduk di sampingnya


"kakak terluka" Bara memegang lengan Pram yang terkena tembak


"hanya luka kecil. jelaskan sama kakak, kenapa bisa kamu berada di tempat berbahaya itu...?"


"aku dan yang lainnya pergi untuk menyelamatkan starla" jawab Bara


Pram melihat ke arah starla yang sedang duduk bersama Vino, lutut gadis itu di lilitkan dengan kain.


"Pram, pergilah obati lukamu, jangan terlalu lama membiarkannya nanti infeksi" ucap Zidan.


"ini hanya luka kecil, tidak apa-apa" jawab Pram


"ini perintah dari bos mu, laksanakan atau kamu dapat hukuman" ancam Zidan


"baiklah, daripada aku kena hukum lagi... mending pergi berobat. dek, ayo temani kakak" ajaknya kepada Bara


"El, La...kalian juga terluka. ikutlah sekalian dengan paman Pram" ucap Leo


"iya, kalian berdua harus diobati juga" timpal Nisda melihat lengan El yang dibalut kain dan juga lutut starla


karena tidak mungkin membiarkan luka begitu saja, Pram, El dan starla pergi mencari dokter untuk melakukan pengobatan. ada Bara dan juga Vino yang mengikuti mereka. sedangkan Adam, hantu itu masih berada di depan ruangan UGD dan terus memperhatikan Zidan.


kini tinggallah Zidan, Leo, Nisda dan juga Adam yang berada di tempat itu.


"paman duduklah" ucap Leo


"paman tidak tenang" jawab Zidan


"serahkan semuanya kepada Allah, insha Allah kak Vania akan baik-baik saja"


dengan langkah gontai, Zidan mengangkat kakinya dan duduk di samping Leo. setelah sekian lama menjalin kasih, baru kali ini Zidan terus memikirkan Vania dan takut untuk kehilangannya.


teringat kembali bagaimana ia dengan begitu cuek dan dinginnya terhadap wanita itu namun Vania selalu memberikan senyum terbaiknya saat bertemu dengannya.


"bagaimana kalian bisa mengenal Vania...?" tanya Zidan


"kami pernah menyelamatkannya dari pencopet paman. sejak saat itu kami mengenalnya" jawab Leo


"pencopet...?" Zidan mengangkat kedua alisnya


"iya"


(aku memang pria yang tidak berguna, melindungi mu saja aku tidak becus) batin Zidan


"a-apakah k-kamu mencintaiku...?"


kalimat itu kembali diingat oleh Zidan, saat wanita itu menutup mata setelah mendengar jawaban Zidan dari pertanyaannya.


(aku mencintaimu, aku mencintaimu sayang. jadi aku mohon, bertahanlah untukku...aku membutuhkanmu) pria itu menangis dalam diamnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya


sementara tak jauh dari Zidan, sosok itu selalu memperhatikan pria tampan itu hingga sudut bibirnya terangkat. tatapan yang tidak pernah lepas sejak tadi, hingga tatapan itu menjadi tatapan teduh dan lembut.

__ADS_1


"bagaimana dokter...?" saat melihat dokter keluar dari UGD, Zidan langsung berdiri dan menghampirinya. Leo dan Nisda pun ikut berdiri


"pelurunya sudah berhasil kami angkat. namun sekarang pasien dalam keadaan koma, banyaknya darah yang keluar membuat pasien sempat kritis hingga akhirnya dia koma. berdoa saja semoga dia cepat sadar dari komanya"


"k-koma...?" bagai disambar petir di siang bolong, perasaan Zidan ngilu dan sakit


"teruslah berdoa agar pasien dapat melewati masa kritisnya. kalau mau melihat pasien cukup untuk satu orang saja. saya permisi"


sebelum pergi, sang dokter menepuk pelan bahu Zidan dan akhirnya melangkah meninggalkan mereka.


Zidan terduduk di lantai dingin rumah sakit. trauma kata koma sangat membekas di benaknya. ia takut Vania akan seperti Dirga yang sampai hari ini belum juga sadarkan diri.


"Zidan" Pram yang baru saja datang mengobati lukanya langsung menghampiri pria yang bertubuh kekar itu namun hatinya hancur untuk saat ini


"Vania koma Pram...aku takut. aku takut kalau..."


"jangan berpikir terlalu jauh. dia wanita kuat, dia pasti bisa melewati semuanya" Pram merengkuh tubuh pria itu


semua yang berada di tempat itu tidak berucap sepatah katapun. bahkan El serta yang lainnya hanya menatap kasihan Zidan yang sangat rapuh dilihat.


"bagaimana kalau dia seperti Dirga yang tidak bangun sampai hari ini. aku benar-benar takut Pram, aku....aku takut Vania tidak akan..."


"ssssttt....jangan berkata seperti itu. kenapa kamu rapuh sekali. mana Zidan yang kuat dan tidak pernah mengalah dengan keadaan bahkan sampai ribuan masalah datang menghantam. kamu harus kuat, Vania butuh kamu" Pram mengelus punggung Zidan


(Dirga) batinnya


salah satu dari mereka memikirkan nama yang disebut Zidan tadi.


sementara El saat Zidan menyebut nama Dirga, ia teringat dengan seseorang. seseorang yang sudah terpisah lama dengannya. El teringat dengan kakaknya, Dirgantara.


namun saat mengingat nama kakaknya itu, ia juga teringat dengan sesuatu. sesuatu yang pernah ia dapatkan saat dirinya dan kedua sahabatnya menginap di rumah Zidan.


(dimana aku menyimpannya ya. semoga saja masih ada di rumah) batinnya


Zidan berdiri dan memperbaiki penampilannya yang sangat kusut. rambut acak-acakan, wajah kusut dan bajunya, darah Vania sudah mengering di pakaiannya itu.


"ganti dulu bajumu, lihatlah, darah dimana-mana" ucap Pram membantu Zidan berdiri


"nanti saja, aku ingin melihat keadaan Vania" jawabnya


"kalau begitu aku akan menyuruh Randi atau Helmi untuk datang membawakan kamu pakaian"


"terserah kamu saja"


Dengan langkah gontai, Zidan melangkah mendekati pintu UGD dan masuk ke dalam ruangan itu. sementara Pram hanya menghela nafas dan menelpon kedua sahabatnya untuk datang ke rumah sakit.


setelah terlepas pandangannya dari Zidan, El mengarahkan matanya ke arah Adam yang terus menatap lurus ke depan, ke arah pintu UGD.


El melihat hantu itu seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya. bukan ketakutan, tapi lebih ke sesuatu yang El juga sangat sulit untuk mengungkapnya.


"kalian pulanglah, orang tua kalian pasti cemas mencari" ucap Pram setelah selesai menghubungi Randi dan Helmi


"kami ingin di sini paman" jawab El


"aku mau pulang sama kakak, lagian di rumah juga sepi kak. hanya ada mama, sedang papa di luar kota" jawab Bara


"kamu mau membiarkan mama kesepian sendirian. dengarkan perkataan kakak, pulang dan temani mama"


"baiklah" jawab Bara lesu


semua remaja itu akhirnya mau tidak mau harus pulang kembali ke rumah. Adam melayang namun sesekali ia berbalik melihat di belakangnya.


"gue antar pulang ya" ucap Vino


starla antara iya dan tidak, karena dirinya tidak enak dengan gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka sedang memperhatikan keduanya.


"Nisda, ayo" ucap Bara yang sudah siap di atas motornya


"ah, iya" gadis itu segera naik di atas motor Bara


"elu nggak mau ya...?" ucap Vino lirih


"mau kok. Ayuk" starla memasang wajah sumringah, tentu saja membuat Vino senang


sepanjang jalan, Adam hanya diam saja. hantu itu hanya menatap jalan yang mereka lewati, bibirnya tertutup rapat. entah makan apa dia sampai menjadi kalem seperti itu.


"dam" panggil El


"ya"


"kenapa...?" El meliriknya di kaca spion motornya


"nggak kenapa-kenapa" jawabnya datar


"ada yang sedang elu pikirkan...?"


"iya"


"apa...?"


"melati dengan tokonya, hehehehe" Adam nyengir lebar


"ck, dasar" cebik El


"sakit ya...?" Adam memegang lengan El yang ia cakar


"nggak kok"


"masa sih"


refleks hantu itu menekan keras luka di lengan El membuat empunya mengerang sakit.

__ADS_1


"sakit Bambang" teriak El kesal.


"lah tadi katanya nggak sakit" Adam memasang wajah tanpa dosa


"ya kalau ditekan gitu jelas sakit lah. elu mau gue sakit terkapar terus nggak bisa bangun"


"nggak mau" Adam menggeleng cepat


"maaf" ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca


"cengeng" ejek El


"ish...aku nggak nangis ya, hanya mimisan"


"mimisan itu darah yang keluar dihidung kali dam bukan air mata buaya"


"huwaaaaa jahat banget sih jadi orang. mana ada buaya berenang di air mata aku, lewat mana dia"


kini ketengilan hantu itu kembali kambuh. sepanjang jalan ia terus mengomel tidak jelas, bahkan sampai-sampai El tertawa terbahak saat hantu itu berniat akan melakukan pemeriksaan mata kepada dokter lelembut untuk memeriksa buaya yang ada di dalam matanya.


makhluk lelembut ternyata punya dokter juga ya...ckckck, luar biasa memang halunya Adam.


sementara Vino, sepanjang jalan ia terus tersenyum di balik helm yang ia pakai. ingin rasanya ia terus berlama-lama berdua dengan starla namun sayangnya tanpa di sadari mereka telah sampai di rumah gadis itu.


starla turun perlahan dan Vino pun ikut turun dari motornya.


"makasih ya" gadis itu tersenyum manis


"masama"


keadaan kembali kikuk, padahal mereka biasanya sering berdebat kata namun sekarang mereka layaknya kucing yang malu-malu.


"masuk gih, istrahat" ucap Vino


"nggak mau mampir...?"


"nggak usah. elu lagi sakit, gue nggak mau ganggu waktu istirahat mu"


"baiklah"


dengan jalan pincang, starla melangkah pelan menuju pintu rumahnya. Vino masih setia tetap di tempatnya. ia akan pergi setelah melihat gadis itu masuk ke dalam rumah.


namun kemudian starla menghentikan langkahnya. ia berbalik dan melihat Vino yang masih ditempatnya sedang menatapnya juga.


"ada apa...?" tanya Vino saat gadis itu berbalik


"gue mau ngomong sesuatu" jawabnya


"ngomong apa...?"


"apakah elu akan ingat dengan apa yang akan gue lakukan ini...?"


"melakukan apa, gue nggak ngerti"


bukannya melangkah masuk ke dalam rumah, starla malah kembali melangkah mendekati laki-laki itu dan mengulurkan tangannya.


"hai, nama aku Lala. nama kamu siapa...?"


"hah...?" Vino semakin bingung, apa yang sebenarnya dilakukan gadis itu


starla memberikan kode kepada Vino untuk menerima uluran tangannya. meski ragu, Vino melakukannya dan menjabat tangan gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"kok diem...?"


"ya terus, gue harus ngomong apa...?"


mendengar jawaban Vino, starla menarik nafas dan menarik tangannya dari tangan Vino.


"rupanya elu sama sekali nggak ingat" ucapnya lirih


"gue masuk ya, hati-hati di jalan"


starla kembali berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Vino yang masih terbengong-bengong dengan kelakuan gadis itu. namun lagi-lagi ia berbalik dan mengatakan sesuatu.


"sampai jumpa lagi, El" ucapnya dengan senyuman manis


"El, gue bukan El...gue Vi....no, tunggu"


"hai nama aku Lala, nama kamu siapa...?"


"aku El"


"mau berteman denganku El...?"


"tentu saja"


(apa mungkin, dia....) Vino lurus menatap starla


"La, tunggu"


sudah mencapai gagang pintu, mendengar namanya dipanggil, starla berbalik lagi. ia melihat Vino melangkah mendekati dirinya dan tepat di depannya, Vino mengulurkan tangannya.


"hai, aku El. nama kamu siapa...?"


kaget bercampur senang, starla tidak dapat menahan air matanya.


"aku Lala" gadis itu menerima uluran tangan Vino


"mau berteman denganku La...?"


"tentu saja"

__ADS_1


dengan cepat Vino menarik starla kedalam pelukannya. gadis itu menangis haru, ternyata akhirnya Vino bisa mengingat dirinya. semenjak kemarin ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada laki-laki itu, namun ia urungkan karena dua hal. pertama, ia takut Vino tidak lagi mengingatnya dan kedua karena Vino terlihat sangat dekat dengan Nisda.


"akhirnya gue menemukanku" Vino memeluk starla dengan eratnya


__ADS_2