Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 219


__ADS_3

Adam melerai pelukan dan menggenggam tangan ratu Sundari. ia membawa wanita itu untuk duduk kembali di tempat dirinya menunggu tadi.


"bagaimana kamu tau kalau aku ada di sini...?" tanya Adam


"kita kan memang sudah janjian untuk bertemu di sini. apa kamu lupa...?" ratu Sundari tersenyum


"hah...? berjanji...? sejak kapan...?" Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"bukankah kamu akan bertemu dengan klien dari LN, dia meminta untuk bertemu di sini bukan. hanya kalian berdua tanpa siapapun"


tentu saja Adam langsung mengerutkan keningnya dan bahkan kedua alisnya hampir bertemu. sedang ratu Sundari menampilkan senyuman manisnya.


"bagaimana kamu tau kalau aku akan bertemu dengan...." Adam seketika menghentikan ucapannya dan menatap dengan lekat wanita yang ada di hadapannya itu "jangan bilang kalau yang bernama Airin Maharani itu adalah kamu" tebak Adam dengan wajah nampak begitu serius


"iya, itu adalah aku" ratu Sundari mengangguk


"tapi... bagaimana bisa kamu...."


ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Adam. ia bahkan belum tau bagaimana wanitanya bisa selamat dan kembali padanya. padahal waktu itu dengan kedua matanya ia melihat Sri Dewi melenyapkan jiwa ratu Sundari.


belum sempat ratu Sundari menjawab, seorang wanita datang menghampiri mereka dengan pakaian santai yang ia kenakan.


"apakah belum selesai melepas rindu...?" wanita itu tanpa permisi langsung duduk di samping ratu Sundari


"S-Senggi" mata Adam membulat sempurna


"kenapa, apa kamu terpesona dengan kecantikanku. ternyata tidak buruk memakai pakaian manusia, aku suka pakaian ini. sepertinya aku juga ingin menjadi manusia seperti kalian berdua"


wanita itu adalah Senggi, abdi sang ratu yang begitu setia kepada penguasa hutan timur kerajaan karing-karing.


"jadi selama ini ratu Sundari bersamamu..?"


"kalau tidak bersamaku lalu dia akan bersama siapa lagi" Senggi menjawab enteng


"lalu kenapa kamu menyembunyikannya dariku. kamu tau aku hampir gila karena kehilangannya. licik sekali kamu menyembunyikan kekasihku dariku" Adam yang kesal meninggikan suaranya


Adam sering berkunjung ke kerajaan karing-karing, mencoba untuk mengobati luka hatinya dengan mendatangi kediaman sang kekasih. meskipun begitu Senggi tidak pernah mengatakan kalau ratu Sundari bersamanya.


"dia tidak salah dam, aku yang menyuruhnya untuk menyembunyikan keberadaan ku padamu" ratu Sundari mengusap tangan Adam yang saat ini sedang dalam pengaruh emosi


"kalian bekerjasama untuk mengerjaiku...?" Adam menatap ratu Sundari dengan tatapan tajam


"kamu pikir jika tidak dengan bantuan ku, ratu Sundari akan kembali bersamamu..? aku bahkan harus bepergian ke istana para jin lainnya hanya untuk mencari obat agar dapat menyembuhkan ratu Sundari. siapa yang akan bermain-main dengan nyawa seseorang, kamu pikir aku sejahat itu" Senggi mencebik dan membuang muka


melihat perseteruan Adam dan Senggi membuat ratu Sundari menghela nafas. ia kemudian menggeser kursi miliknya agar semakin dekat dengan Adam.


"bukankah tadi aku mengatakan kalau aku berjuang dengan sisa tenagaku hanya untuk kembali bersamamu. tidak ada yang mengerjaimu dam, siapa yang akan menjadikan kematian sebagai lelucon" ratu Sundari menggenggam kedua tangan Adam


"Sri Dewi tidaklah melenyapkan ku namun aku sendiri yang memang waktu itu sengaja menghilangkan diri. meskipun begitu aku bahkan terluka parah. Sri Dewi pastinya juga waktu itu kaget tidak bisa memusnahkan ku namun dirinya tidak ingin memperlihatkan itu kepada Kalian dan tetap seperti rencananya kalau dia berhasil menghabisiku hanya agar kamu semakin rapuh dan mudah untuk dikalahkan setelah kehilangan aku"


"Senggi membawa tubuhku agar aku dapat bisa masuk kembali ke dalam tubuhku. aku pikir setelah masuk ke dalam tubuhku semuanya akan baik-baik saja namun keadaan ku tetap semakin parah dan bahkan mungkin hampir....meninggal. aku bahkan tidak sadarkan diri selama berbulan-bulan. untuk mengobatiku, Senggi meminta semua jin yang begitu sakit dari kalangan semua kerajaan bangsa jin, mereka mengobatiku dan sampai akhirnya aku bisa membuka mata"


"dan apakah kamu tau, hal pertama yang ratu tanyakan saat membuka mata adalah menanyakan keadaanmu. ya aku jawab saja kalau dirimu seperti orang gila yang sudah kehilangan banyak uang karena dibawa kabur oleh penghianat" Senggi memberitahu


mendengar hal itu membuat Adam merasa bersalah telah menuduh wanitanya tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu.


"maaf, aku... tidak tau kalau"


"tidak apa-apa" ratu Sundari mengelus lembut lengan Adam masih ingin aku melanjutkan cerita...?" tanya ratu Sundari dan Adam mengangguk


"karena kuatnya keinginan untuk bersamamu, maka dari itu aku berjuang sekuat tenaga untuk bisa sembuh seperti sebelumnya. meskipun membutuhkan waktu yang begitu lama dan bahkan aku diobati oleh pangeran Ragiman dengan syarat aku harus...."


"apa, jadi si ragi-ragi itu ikut andil tapi menginginkan imbalan. katakan apa yang telah dia lakukan padamu. dia tidak menyentuhmu kan, dia tidak macam-macam kan. kurang ajar sekali dia beraninya meminta syarat dari kekasihku. dimana dia, akan aku datangi sekarang juga" mendengar nama pangeran Ragiman membuat Adam naik pitam dan menggulung lengan bajunya bersiap untuk melawan pangeran Ragiman itu. seperti laki-laki itu tengah berada di depan matanya saja


"hei...bisakah kamu tenangkan dirimu kalau tidak aku akan membawa pergi ratu Sundari dan tidak akan pernah kamu bisa menemuinya lagi" Senggi mengancam


"No, tidak akan dan tidak akan pernah aku biarkan itu terjadi" refleks Adam menarik ratu Sundari dan menggendongnya kemudian membawanya pergi menjau dari Senggi


"astaga, kenapa dia selalu koslet seperti itu jika menyangkut ratu Sundari" Senggi menepuk jidatnya


sedang Adam tidak mendengarkan perintah ratu Sundari untuk menurunkan dirinya. ia bahkan membawa pergi wanita itu masih dalam keadaan menggendongnya. semua orang melihat ke arah mereka. merasa malu, ratu Sundari memeluk leher Adam dan menyembunyikan wajahnya di dada Adam.


"turunkan aku dam"


"tidak akan, kamu akan aku kunci di dalam kamar dan tidak akan pernah keluar. kita berdua akan berada di dalam kamar terus. aku harus tetap menjagamu agar Senggi tidak membawamu pergi"


"astaga dam, Senggi tadi hanya menggodamu. ingatlah kalau aku ini adalah ratunya, dia tidak mungkin melakukan hal itu padaku"


Adam tidak mendengarkan ucapan ratu Sundari. ia tetap tidak menurunkan wanita itu sampai mereka tiba di depan vila. tepat di depan pintu, Adam membuka dengan susah payah dan masuk ke dalam. tim samudera yang sedang saling bercerita kaget melihat kedatangan Adam tengah menggendong seorang wanita.


"ya ampun dam. elu nyulik bini siapa, sampai bawa kemari segala" Leo yang sedang menonton televisi langsung mematikan televisi dan duduk menatap Adam dengan heran


"kak Dirga, kakak bawa siapa itu...?" tanya Alana


dengan malu-malu ratu Sundari memperlihatkan wajahnya. hal itu membuat semua orang kaget terutama Melati yang saat ini sedang menikmati cemilannya.


"ratu Sundari" ucap mereka semua


"apa kabar...?" ratu Sundari bertanya


Adam menurunkan ratu Sundari dan membawanya duduk di sofa. seketika itu Melati langsung menghambur memeluk wanita itu. gadis itu bahkan menangis sesenggukan, ia begitu senang ternyata ratu yang sudah menganggap dirinya sebagai adik, masih hidup.


"bagaimana bisa...?" Nisda sungguh tidak percaya


"iya, padahal dulu kan ratu... Sri Dewi...ah gue jadi pusing" Vino menggaruk kepala


Melati masih memeluk erat ratu Sundari. bahkan saat ini ia tidak memberikan Adam tempat untuk bersama wanita itu.

__ADS_1


tiba-tiba Senggi muncul di samping Bara membuat remaja itu terjungkal karena kaget.


"astaga, apakah tidak bisa kamu mendarat baik-baik. seperti setan saja, untungnya aku tidak jantungan" Bara begitu kesal dan bangkit kembali


"maaf. siapa suruh mereka berdua meninggalkan ku" Senggi menunjuk Adam dan ratu Sundari


melihat kedatanganku Senggi, Adam menarik paksa ratu Sundari yang masih di peluk oleh Melati. ia kemudian memeluk wanita itu dengan eratnya.


"jangan coba-coba membawanya pergi dariku ya. aku colok matamu nanti" Adam mengukung tubuh ratu Sundari


"ya ampun kak, nggak harus posesif seperti itu juga kali" El-Syakir geleng kepala


"hei...ratu Sundari belum menjelaskan semuanya kamu sudah main potong cerita orang saja. makanya dengarkan dulu baik-baik syarat apa yang diminta oleh pangeran Ragiman" Senggi memutar bola matanya melihat tingkah Adam


"memangnya apa syarat yang si ragi-ragi itu minta darimu...?" Adam melerai sedikit pelukan menatap manik mata ratu Sundari


"berikan aku ruang untuk bernafas. aku bisa mati kedua kalinya jika kamu memelukku erat seperti ini. kamu mau aku mati...?"


"tidak" Adam menggeleng cepat dan melepaskan pelukannya namun tangannya tetap tidak terlepas untuk menggenggam tangan ratu Sundari


semua orang duduk dengan rapi, bersiap mendengarkan cerita dari wanita itu. Senggi yang tidak peduli meninggalkan mereka untuk melihat keadaan vila tersebut. ratu Sundari mulai menceritakan dari awal yang yang sebenarnya terjadi kepadanya satu tahun yang lalu.


"pangeran Ragiman membantu mengobati dan bahkan membuat aku sembuh dengan satu syarat aku harus merelakan kerajaan karing-karing untuknya" " ucap ratu Sundari


"wah licik sekali dia, bukankah kalian sahabat. kenapa bisa dia meminta syarat seperti itu" Adam akan tetap jengkel jika masih mengenai dengan pangeran Ragiman itu


"lebih baik juga dia meminta kerajaan karing-karing daripada dia meminta ratu Sundari menikah dengannya. memangnya kamu mau...?" tanya Deva


"oh tidak bisa. ratu Sundari itu hanya milik Dirga Sanjaya seorang, titik nggak pakai koma apalagi tanda tanya" Adam kembali merengkuh pinggang ratu Sundari


"lalu bagaimana dengan Senggi jika kerajaan itu akan diserahkan kepada pangeran Ragiman...?" tanya Starla


"dia akan menjadi ratunya dan pangeran Ragiman akan menjadi rajanya. dia meminta kerajaan karing-karing sekaligus meminta Senggi untuk dijadikan istrinya" jawab ratu Sundari


"huufffttt... baguslah, setidaknya dia tidak akan menjadi sainganku lagi" Adam merebahkan kepalanya di bahu ratu Sundari


"aku senang ratu Sundari datang, setidaknya dia tidak akan menjadi orang bodoh lagi yang terus-terusan kerasukan karena mengharapkan kedatangan ratu" Leo mengejek Adam


"suka-suka akulah. berani kamu ya mengejek calon kakak ipar mu. ku tak beri restu baru tau rasa kamu" Adam mencebik


"tinggal kawin lari, iya kan sayang" Leo menatap Alana dan gadis itu hanya tersenyum


"hei...siapa yang akan mengizinkan itu terjadi. gue gantung elu di pohon cabe kalau berani berbuat seperti itu" El-Syakir melotot ke arah Leo


"lihatlah Seil, pacarmu galak banget. pasti dia nggak pernah melakukan hal romantis padamu" ucap Leo


Seil hanya tersenyum menanggapi ucapan Leo dan melirik ke arah El sementara El-Syakir hanya memasang wajah datarnya.


(benar-benar es balok) batin Seil namun meskipun begitu ia tidak pernah ingin melepaskan El-Syakir


"sudah" jawab Adam singkat


"terus kerjasamanya dilanjutkan atau tidak...?" tanya Deva lagi


"entah" Adam mengedikkan bahunya


"Dirga jangan bercanda deh, masa iya jauh-jauh kita kemari namun kamu nggak konsisten dalam bekerja. jangan-jangan kamu nggak mau ketemu dia ya" Deva memicingkan mata ke arah Adam


"udah ketemu kak dan Airin Maharani itu adalah ratu Sundari"


"hah...?"


semua orang terbengong-bengong dan mengalihkan pandangan ke arah ratu Sundari.


"kok bisa...?" tanya Seil


"ya bisalah, apa sih yang tidak bisa aku lakukan. menyembuhkan ratu saja aku bisa" Senggi datang dan duduk di samping Alana


"mulai sekarang jangan panggil aku ratu lagi. aku bukan lagi ratu penguasa hutan timur. sekarang aku sama seperti kalian, manusia biasa. untuk sekarang lebih baik panggil aku Airin saja, aku lebih suka nama itu. nama Sundari biarlah tenggelam bersama dengan kepergian Sri Dewi. aku tidak ingin memakai nama itu lagi" ucap ratu Sundari


"baiklah Airin ku sayang. apa sih yang nggak buat kamu" Adam mengedipkan matanya


"genit" cibir Vino sementara Adam tidak ambil pusing


"karena kalian sudah bertemu sekarang aku pamit dulu kalau begitu. calon suamiku pasti sudah menunggu di istana" Senggi bangkit dari duduknya


"terimakasih Senggi, kapan-kapan aku akan berkunjung ke sana" ucap Airin


"tidak boleh, kalau kamu pergi sendirian aku tidak mengizinkan" Adam menolak


"idih...siapa elu...?" Melati mencibir


"aku adalah calon suami Airin Maharani. mulai hari ini kamu tidak boleh pergi kemanapun tanpa seizin dariku, titik" Adam semakin merengkuh pinggang Airin


"ikat aja sekalian kak Dirga supaya kak Airin tidak kemana-mana kalau perlu pasung saja dia" Bara memberikan ide gila. ia memanggil Airin dengan panggilan kakak karena memang wanita itu usianya jauh di atas mereka


"sekate kate kalau ngomong, kamu pikir Airin ku gila apa" Adam menatap kesal wajah Bara


"ckckck, semoga ratu betah bersamanya. aku pergi dulu" Senggi seketika menghilang dari pandangan mereka


hari itu mereka habiskan waktu untuk bersama. sore harinya mereka bermain-main di pantai tentunya dengan pasangan masing-masing. Vino dan Leo bermain air berlarian bersama pasangan mereka, Bara dan Deva membuat istana pasir bersama Nisda dan Melati. sementara Adam dan Airin, mereka saling berpegangan tangan dan berjalan santai di pinggiran pantai. untuk El-Syakir dan Seil, mereka berdua duduk di pasir, menikmati keindahan pantai yang sebentar lagi matahari akan tenggelam.


"kak El" panggil Seil


"humm" El-Syakir menoleh untuk melihat wajah gadis itu


"apa kakak menyukaiku...?"

__ADS_1


pertanyaan yang lolos dari bibir mungil gadis itu membuat El-Syakir diam seketika.


"aku ingin tau perasaan kakak, apakah kakak menyukaiku. karena selama ini hanya aku yang menunjukkan rasa suka itu sementara kak El....tidak menunjukkan tanda-tanda apapun"


"jangan bermain dengan pikiranmu sendiri. kalau aku tidak mempunyai perasaan padamu, untuk apa sekarang kita menjalin hubungan. sudah aku katakan dari awal bukan kalau aku tidak suka menunjukkan keromantisan yang begitu mencolok, bukankah kamu sudah tau itu"


"maaf, aku hanya..."


tanpa aba-aba El-Syakir menarik tubuh gadis itu dan memeluknya. hanya sebentar kemudian ia menyandarkan kepala Seil di bahunya.


"hilangkan pikiran itu di kepalamu" El-Syakir menggenggam tangan Seil


Seil mengangguk senang karena ternyata El-Syakir bisa juga melakukan hal yang romantis meskipun tidak seromantis tim samudera yang lainnya.


Adam dan Airin terus menyusuri pinggir pantai hingga kini mereka semakin jauh dari tim samudera. Adam sengaja membawa Airin ke tempat yang sepi, yang tidak terlalu banyak orang.


"kamu tunggu di sini ya" ucap Adam


"memangnya kamu mau kemana...?


"ada yang harus aku lakukan. sebentar saja tidak akan lama. tunggu di sini ya" Adam mengecup singkat kening Airin setelahnya ia pergi meninggalkan wanita itu


Airin yang tidak bisa mencegah Adam hanya bisa pasrah dan menikmati pemandangan laut seluas mata memandang. tidak lama ada yang menepuk pundaknya. ia pun menoleh dan begitu kaget mendapati Adam sedang bersimpuh di hadapannya.


"Airin Maharani, maukah kamu menikah denganku...?"


Adam menunjukkan sebuah cincin yang terbuat dari tangkai daun yang ia buat seindah mungkin.


"dam" Airin nampak berkaca-kaca


"jadilah istriku, ibu dari anak-anakku. jadilah teman hidupku sampai ajal memisahkan kita. kau tau bukan kalau hanya ada kamu di sini" Adam menunjuk dadanya


terima


terima


terima


entah sejak kapan tim samudera berada di tempat itu. namun kedatangan mereka membuat orang-orang disekitar itu penasaran dan langsung berdatangan mengerumuni Adam dan Airin.


"terima saja kak" teriak Melati yang ada di pelukan Deva


terima


terima


terima


semua orang bersorak mendukung Adam. Airin begitu tersentuh dan akhirnya mengangguk. dengan bahagia Adam memasangkan cincin buatannya itu ke jari manis Airin. setelahnya ia bangkit dan memeluk Airin membuatnya berputar-putar.


"yeeeii".


tim samudera bertepuk tangan, semua orang bertepuk tangan.


"Putri Alana, maukah kamu bertunangan denganku...?" Leo bersimpuh di hadapan Alana seperti yang dilakukan Adam tadi


"kak" Alana begitu malu


"yes or no...?" tanya Leo memastikan


semua orang kembali heboh melihat tingkah Leo. Adam dan El-Syakir tidak ikut campur, mereka berdua tau kalau Leo sungguh menyayangi adik mereka itu.


"yes or no putri Alana...?" tanya Leo lagi


"yes" Alana mengangguk malu-malu


"yuuuhuuu.... putri Alana, aku mencintaimu" Leo bangkit dan berteriak keras kemudian ia memeluk Alana dan berputar-putar


"mau di lamar juga sayang...?" tanya Vino kepada Starla


"nanti saja setelah kita lulus kuliah" Starla tersenyum manis


"oke darling" Vino merengkuh pinggang Starla


"aku mencintaimu" Bara berbisik di telinga Nisda


"aku tau dan aku juga sama" Nisda ikut berbisik membuat Bara segera memeluknya erat


El-Syakir hanya menggaruk kepala yang tidak gatal. ia melirik ke arah Seil yang sedang tertawa melihat tingkah Leo kepada Alana.


tangan El-Syakir terulur dan menggenggam tangan Seil. gadis itu terkesiap namun kemudian ia tersenyum.


"hanya kalian yang adem ayem, nggak punya rencana masa depan kah...?" tanya Adam kepada Deva dan Melati


dengan senyuman manisnya, Melati memperlihatkan kepada teman-temannya sesuatu yang ia pakai dijari manisnya. seketika membuat mereka semua heboh, ternyata diam-diam keduanya telah merencanakan pernikahan.


____________________________________


catatan :


makasih banyak sudah membaca novel PTM dari awal sampai episode sekarang.


salam sayang buat kalian semua banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer dari author cantik awan biru.


hehehe... puji diri sendiri nggak apa-apa kan 😁🤭


kira-kira ada yang mau nunggu anak Adam dan Airin launching nggak nih, atau kita buat tamat aja. kan udah pada bahagia semua.

__ADS_1


__ADS_2