Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 144


__ADS_3

"sayang kamu capek nggak...?" tanya Zidan


mereka kini berada di dalam kamar. Vania sedang bersandar di ranjang dan Zidan duduk di samping kakinya sambil memijit kaki istrinya.


"nggak mas, aku nggak ngapa-ngapain" jawab Vania


sebenarnya mereka telah bersiap untuk ke pernikahan tiga pengawal Sanjaya grup. namun saat hendak pergi tiba-tiba saja Vania merasakan kram di perutnya dan itu membuat Zidan seketika panik.


Zidan ingin membawa istrinya ke rumah sakit namun Vania menolak, baginya itu terlalu berlebihan. dia ingin menghadiri acara pernikahan bukan ingin pergi terbaring di rumah sakit tanpa harus melakukan apapun dan membuat dirinya bosan.


"kita nggak usah pergi ya" ucap Zidan


"loh kok gitu, harus pergi dong mas. masa iya kita nggak hadir hari istimewa mereka" Vania menolak


"tapi nanti kalau kamu dan anak kita kenapa-napa di sana bagaimana. aku nggak mau kamu sakit lagi seperti tadi" Zidan mendekati istrinya dan duduk disampingnya


"tadi itu hanya kram biasa mas, mungkin anak kita senang karena diajak keluar oleh Daddy-nya. biasanya kan aku cuman di rumah aja" ucap Vania bersandar di dada Zidan


"lagian kan ada kamu yang jagain aku" lanjut Vania


"benar kamu udah nggak apa-apa sekarang...?"


"iya sayang"


Zidan melepaskan pelukannya dan membungkuk mencium perut buncit istrinya. kini kandungan Vania sudah memasuki delapan bulan. terkadang dirinya sudah banyak mengeluh sakit pinggang dan lelah. untungnya Zidan selalu siaga terus mengawasi istrinya.


"halo anak Daddy. kamu jangan nakal di sana ya, kasian mommy kalau kamu nakal. mommy kesakitan, harus tenang di dalam ya" Zidan mengajak anaknya berbicara


Zidan menempelkan wajahnya ke perut Vania dan seketika dia dapat merasakan tendangan dari dalam perut istrinya hingga membuat Zidan seketika kaget dan melihat istrinya.


"itu artinya dia dengar kamu bicara mas dan dia setuju" ucap Vania


"wah pintarnya anak Daddy, jadi anak pintar di perut mommy ya" Zidan kembali mencium perut istrinya


"ok Daddy" Vania menjawab menirukan suara anak kecil


keduanya tertawa dan Zidan memeluk istrinya. dia mencium lembut kening Vania.


"turun yuk, yang lain pasti sudah menunggu kita" ucap Vania


"ayo" jawab Zidan


keduanya turun ke bawah. dengan sangat hati-hati Zidan memegang tangan Vania menuruni satu persatu anak tangga.


"paman lama banget sih" gerutu Adam yang sejak tadi mereka menunggu


"tante kamu tadi perutnya kram" jawab Zidan membawa Vania ke sofa


"tapi sekarang sudah tidak apa-apa kan...?" ibu Arini terlihat khawatir


"Alhamdulillah sudah bu" jawab Vania


"kalau kamu tidak kuat lebih baik kalian di rumah saja. kasian istrimu nanti kecapean di sana" ayah Adnan memberikan usul


"iya benar, kamu harus banyak istirahat Vania. kandungan kamu sudah sangat membesar, di fase itu kamu akan selalu merasakan lelah dan pegal-pegal" Edward menimpali. saat ini dirinya dan Cecil masih berada di Indonesia dan tinggal di rumah Zidan


"aku baik-baik saja Ed, tidak perlu khawatir" ucap Vania


"kalau begitu biar aku berikan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh kamu. sebentar ya" Cecil ke kamarnya untuk mengambil vitamin kemudian kembali lagi dengan air minum di tangannya


"minumlah" Cecil memberikan vitamin itu


"terimakasih Cecil" Vania mengambil dan meminumnya


"kalau misalkan di sana nanti kamu merasa sudah lelah duduk atau berdiri, segera beritahu siapapun untuk membawamu ke kamar" ucap Cecil


"iya, aku senang banget banyak yang perhatian padaku" Vania merasa bersyukur di kelilingi orang-orang baik


"kita keluarga bukan, keluarga harus saling menyayangi" Cecil mengelus bahu Vania


"kenapa kalian berdua tidak ikut menikah saja Edward" ucap ayah Adnan


"nanti saja pak, biarkan mereka saja dulu. kalau aku akan menyusul nanti, dan kalian harus hadir" Edward merangkul Cecil


"udah kayak sunatan massal aja" celetuk Adam


"ngapain sebut-sebut sunat, kak Dirga pengen di sunat...?" tanya El


"aku udah sunat ya, bisa habis burung aku kalau di sunat lagi" jawab Adam


"ada-ada saja" ibu Arini mencubit gemas pinggang Adam


"kamu benar baik-baik saja kan Vania...?" tanya ayah Adnan


"aku baik-baik saja kok pak Adnan, aku tidak ingin melewatkan acara sakral pengawal andalan Sanjaya grup" Vania menggeleng


"ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang" ucap ibu Arini


"ayo, Alana udah nggak sabar" Alana antusias


"nggak sabar ngapain...?" tanya El


"nggak sabar makan banyak, hihihi" Alana cekikikan


"dasar" ayah Adnan geleng kepala


merekapun berangkat ke hotel dimana acara pernikahan akan di laksanakan. Furqon menjadi sopir di mobil Zidan sedangkan Ardi di mobil ayah Adnan.


hingga beberapa menit mereka sampai di tujuan. hotel berbintang itu sangatlah mewah dari kebanyakan hotel lainnya. mereka segera masuk ke dalam dan menuju tempat pernikahan.

__ADS_1


"mas, aku mau ke tempat make up pengantin wanita ya" ucap Vania


"biar aku antar" timpal Zidan


"nggak usah, aku sama Alana dan Cecil saja kan kamu bilang mau ketemu mereka sebelum ijab qobul" Alana menolak


"tapi kamu hati-hati ya" pinta Zidan


"iya mas. Lana, Cecil ayo" ajak Vania


"iya tante" Alana merangkul lengan Vania dan mereka meninggalkan Zidan, sedang Zidan dan Edward kemudian pergi menemui ketiga pengawalnya


disana sudah ada Adam, El-Syakir dan tim samudera laki-laki yang lain. Zidan masuk ke dalam dan duduk di samping Adam.


"paman Randi kenapa mulutnya komat-kamit seperti itu, lagi baca mantra ya...?" tanya Adam saat melihat Randi terus membaca sesuatu entah apa yang dibacanya


"mantra pala kau, paman sedang menghafal teks yang akan paman baca nanti" jawab Randi


"teks apa...? proklamasi kah...?" tanya Adam dengan wajah sedengnya


pluuukk


karena gemas, Helmi menggeplak kepala Adam. untuk apa juga membaca teks proklamasi kemerdekaan dihari pernikahan.


"kok aku dipukul sih" gerutu Adam


"kepala kamu perlu di geplak dulu biar otak kamu mikirnya lancar" jawab Helmi


"lagian elu ada-ada aja dam. ini mau nikah loh bukan perayaan 17 Agustus" timpal Leo geregetan


"kan aku cuman nanya, malah disiksa. sungguh terlalu" Adam menggerutu


"nggak usah tegang juga kali Ran, rileks aja. nanti elu pingsan lagi sebelum ijab qobul dimulai " Zidan menggoda Randi


"kayak mau perang aja kamu" ejek Edward


"gugup aku, sumpah" jawab Randi


"bismillah aja paman, in shaa Allah, Allah melancarkan" ucap El dengan bijak


"aamiin" semuanya mengaminkan ucapan El-Syakir


ditempat lain, Vania sedang menemani ketiga mempelai wanita bersama tim samudera perempuan. mereka ternyata sudah datang lebih dulu daripada Adam, El-Syakir dan Alana.


"kalian cantik sekali" Vania memuji ketiganya


"pasti ketiga mempelai laki-laki langsung klepek-klepek liat kalian" ucap Cecil


"dari dulu mah, Pram udah klepek-klepek sama aku cil" jawab Mita


"elleh, bukannya kamu yang suka ngekor kemanapun Pram pergi" Vania mencibir


"aku gugup nona" ucap Thalita


"rileks aja Tha, lagian kan yang ucapin ijab qobul Randi bukan kamu" jawab Vania


"ya tetap aja aku gugup" Thalita meremas jari-jarinya


"kalau kalian, Sisil sama Mita gugup juga nggak...?" tanya Vania


"aku biasa aja, lagi pula ini bukan pertama kalinya bagiku" jawab Sisil


"jelas gugup lah Van, nggak nyangka aja hari ini aku udah mau nikah aja" jawab Mita


"mau aku ambilkan air minum nggak...?" tawar Melati


"iya boleh" jawab Mita


Melati keluar dari ruangan itu untuk mengambil air minum. setelahnya ia kembali lagi dengan tiga botol air mineral di tangannya dan memberikannya kepada ketiganya.


acara pun akan segera dimulai. Vania dan yang lainnya keluar dari ruangan itu dan menuju ke tempat yang telah disediakan untuk acara ijab qobul.


tiga mempelai laki-laki telah duduk berhadapan dengan bapak penghulu. orang tua mempelai laki-laki dan wanita duduk paling depan. hanya Thalita yang sudah tidak mempunyai orang tua. dia memang diasuh oleh Rudi dan dibawah perlindungan laki-laki itu hingga Rudi membawa Thalita kedalam rencananya untuk menghancurkan Zidan dan mengambil alih Sanjaya grup sesuai perintah Baharuddin.


"bagaimana mempelai laki-laki, apa kalian semua siap...?" tanya penghulu


"siap pak" jawab ketiganya


ijab qobul pun dilakukan. dimulai dari Pram yang hanya satu kali helaan nafas dapat mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan benar. setelah mengucapkan itu, Pram bernafas lega saat para saksi mengatakan kata sah.


selanjutnya giliran Helmi yang akan mengucapkan ijab qobul. sama seperti Pram, dia juga sangat lantang mengucapkan ijab qobul dengan benar.


saat giliran Randi, pria itu malah gagal fokus. sejak tadi dirinya sudah sangat gugup dan bahkan tangannya sangat terasa dingin.


"santai saja mas, tidak udah terlalu tegang" ucap pak penghulu


"iya pak" jawab Randi gugup


"anak kita kok grogi gitu pah" mama Randi berkata kepada suaminya


"namanya juga mau nikah mah, jelas grogi" jawab papa Randi


"semoga dia nggak malu-maluin" gumam mama Randi yang merasakan tidak enak perasaannya


"bisa kita mulai mas Randi...?" tanya penghulu


"ekhem" Randi menetralisir suaranya


"bisa pak" jawab Randi

__ADS_1


"baiklah, jabat tangan saya" ucap pak penghulu dan Randi melakukannya


"saya nikahkan anda, eh" Randi menutup mulutnya. belum juga pak penghulu memulai ucapannya, namun Randi sudah lebih dulu. dan yang membuat semua orang tertawa adalah Randi kini yang akan menikahkan pak penghulu bukan sebaliknya


"hahahaha" Adam tertawa ngakak begitu juga yang lainnya


(ya ampun sayang) Thalita mengigit bibir karena malu


"saking semangatnya tuh si Randi, malah dia yang jadi penghulu" Mita tidak bisa menahan tawanya


Thalita sangat malu karena kelakuan calon suaminya itu. Randi memang sangat blak-blakan dan petakilan.


"astaga pah, baru juga mama bilang" ibu Endang, mama Randi menepuk jidatnya


"anak siapa itu...?" pak Agung, papa Randi menggeleng kepala


"anak kamu loh itu, jangan pura-pura amnesia" cebik ibu Endang


"hehehe, lupa mah" pak Agung cengengesan


"semangat sekali ya mas Randi, sampai aku yang mau dinikahkan" ucap penghulu membuat Randi tersenyum kikuk dan menahan malu


"perlu Aqua paman...?" goda Adam


"ck, dasar" Randi mendelik


"tarik nafas dulu mas Randi" ucap penghulu dan Randi melakukannya


"kita mulai...?"


"iya pak"


"sudah siap...?"


"siap pak"


"saudara Randi Pratama Agung, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Thalita Angelina binti Muzakkir Ahmad dengan mahar cincin emas 10 gram, satu unit rumah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"


"saya terima nikahnya Thalita Angelina binti Randi Pratama Agung, eh salah" Randi kembali menutup mulutnya


semua orang kembali dibuat ngakak oleh ulah Randi. kali ini dirinya bukan menjadi calon suami Thalita melainkan menjadi ayah dari Thalita karena menyebut binti Thalita dengan namanya sendiri.


"astaga naga" ibu Endang kembali menepuk jidatnya


"ya ampun Randi, malu-maluin papa aja" pak Agung geleng-geleng kepala


"loh Tha, kok dia malah jadi bapakmu sekarang bukan calon mempelai laki-laki" Sisil tertawa pelan


"astaga mas Randi, malu-maluin banget" Thalita sungguh benar-benar gemas dengan kelakuan kekasihnya itu


sementara Pram dan Helmi sudah tidak bisa menahan tawa, keduanya memegangi perut karena ulah sahabatnya mereka yang satu itu.


"kita ulangi sekali lagi" ucap penghulu


"kali ini harus benar ya mas Randi" lanjut penghulu


Randi menghela nafas dan membuang secara perlahan.


"saya siap pak" ucap Randi mantap


"Saudara Randi Pratama Agung, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Thalita Angelina binti Muzakkir Ahmad dengan mahar cincin emas 10 gram, satu unit rumah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"


"saya terima nikahnya Thalita Angelina binti Muzakkir Ahmad dengan mahar tersebut dibayar tunai"


"bagaimana para saksi...?"


"sah"


"sah"


"Alhamdulillahirabbilalamain" ucap mereka semua


setelah selesai ijab qobul, mempelai wanita disuruh untuk keluar. ketiga wanita itu keluar dari ruangan mereka dan menghampiri suami mereka masing-masing. ketiganya duduk di samping suami mereka.


ketiga mempelai laki-laki memasangkan cincin di jari manis istri mereka masing-masing dan kemudian mempelai wanita melakukan hal yang sama. setelah itu kemudian pak penghulu menyuruh ketiganya untuk mencium tangan suami mereka. setelah itu mempelai laki-laki mencium kening istri mereka masing-masing.


kemudian kini semua mempelai pengantin akan sungkem kepada kedua orang tua mereka.


Helmi menangis di pelukan ibunya. dia adalah seorang pria yang datang merantau di kota untuk merubah nasib orang tuanya. sayangnya tiba di kota dirinya malah dicopet dan akhirnya menjadi gelandangan. untunglah saat itu dia bertemu dengan Zidan sehingga Helmi dijadikan pengawal Sanjaya grup oleh Zidan.


kehidupan orang tuanya kini mulai membaik tidak seperti dulu. Helmi pernah meminta agar orang tuanya tinggal bersamanya di kota namun mereka menolak dan lebih memilih hidup di desa.


Thalita yang sudah tidak mempunyai orang tua, menangis di pelukan ibu mertuanya.


"sekarang kamu sudah mempunyai orang tua, anggaplah mama sebagai pengganti almarhum mama mu" ibu Endang mencium kening Thalita


"makasih mah" Thalita menjawab serak


Azam sangat senang melihat ibunya akhirnya menikah dengan laki-laki yang selama ini menjadi idolanya. Helmi adalah idola bagi Azam. anak yang berusia 8 tahun itu turut senang ibunya mendapatkan kebahagiaan. meski belum dewasa namun Azam tau bahwa kini ibunya telah dimiliki oleh laki-laki yang tulus mencintainya.


setelah ijab qobul, kini ketiga pasangan pengantin itu akan berganti baju dengan baju resepsi pernikahan.


Zidan menemani istrinya di sebuah kamar yang telah disediakan untuk mereka kalau nanti Vania merasakan pegal atau kecapean.


"aku mau tidur boleh nggak mas...?"


"tentu saja boleh. tidurlah, aku akan menemanimu di sini" Zidan berbaring di samping Vania dan memeluknya kemudian istrinya itu memejamkan mata dan terlelap


sebenarnya resepsi akan dilakukan malam hari namun karena banyaknya kolega bisnis dari keluarga Sanjaya grup dan juga kolega bisnis dari orang tua Randi dan Pram, sehingga mereka memutuskan untuk melakukan resepsi siang hari karena pasti selesainya akan sampai malam hari.

__ADS_1


hanya kedua orang tua Helmi yang berasal dari keluarga sederhana dan tidak berada, namun meskipun begitu Helmi tetap memuliakan kedua orang tuanya. ayah Helmi sangat berterimakasih kepada Zidan yang sudah memberikan Helmi pekerjaan sehingga anaknya itu bisa sukses sampai sekarang.


__ADS_2