
sementara Leo tidak bisa bergerak, sosok yang berdiri di hadapannya yang tidak jauh darinya berjalan pelan menghampirinya. sosok itu adalah gadis yang sama dengan lukisan dan foto yang terpajang di dinding.
gadis itu memakai gaun putih panjang menjuntai sampai mata kaki. rambutnya panjang acak-acakan, matanya mengeluarkan darah bahkan bibirnya pun berdarah. tangan kanannya patah dan bengkok. gadis itu seperti telah mengalami penyiksaan.
tidak semenyeramkan yang biasa mereka lihat namun tetap saja Leo merasa merinding dan takut, apalagi gadis itu
jangankan untuk bergerak, bibirnya saja terasa keluh. padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk memanggil teman-temannya namun lidah itu enggan sama sekali untuk bersuara.
"toloooong" semakin dekat saja gadis itu
(kenapa aku tidak bisa bergerak sama sekali)
"tolong"
tangannya terulur ke depan, dia semakin dekat dengan Leo dan akhirnya dapat menyentuhnya.
gadis itu membisikkan sesuatu di telinga remaja itu.
"tumbal, darah, mati. jiwamu milikku. hihihihihi"
"tumbal, darah, mati. jiwamu milikku"
kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya membuat kepalanya berdenyut dan ia merasakan sakit luar biasa.
"tumbal, darah, mati. jiwamu milikku"
"aaaaggghhhh"
bughhh
Leo jatuh terkuali di lantai. dalam setengah sadar ia melihat gadis itu tertawa cekikikan melihatnya tidak berdaya hingga akhirnya ia benar-benar tidak sadarkan diri.
"euugghh" Leo menggeliat
"Le, elu udah sadar...?" Vino duduk di sampingnya
Leo membuka matanya, semuanya sedang mengelilingi dirinya yang tidur di atas ranjang.
"elu sadar, syukurlah" El merasa lega
"dibangunkan dulu nak Leo, ini ibu membawa minuman untuknya" ibu pemilik rumah masuk ke dalam membawa secangkir air putih
Vino dan El membantu Leo untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang. El mengambil gelas air minum itu dan meminumkan kepada Leo.
"apa yang dirasakan nak Leo...?"
"pusing Bu, kepalaku berat banget" jawab Leo meringis
"kalau begitu istrahat saja dulu, sepertinya kalian tidak bisa pulang dalam keadaan nak Leo seperti itu"
"jangan menginap, kita pulang sekarang" ucap Adam yang baru saja datang
"memangnya Kenapa...?" tanya El pelan melirik hantu itu yang berdiri di samping Vino
"tidak ada alasanku, aku hanya meminta agar kita pulang. jangan membantah dan banyak bertanya" jawabnya dingin menatap ke arah ibu itu
"tapi ini sudah malam Bu dan kami harus pulang. orang tua kami pasti mencari" jawab starla
"iya Bu, kami akan pesan taxi untuk membawa Leo. maaf sekali kami nggak bisa menginap" timpal El
"baiklah tidak apa-apa, kalau itu memang keputusan kalian" ucap si ibu
setelah merasa Leo lebih baik, mereka semua meninggalkan rumah ibu itu. Leo di dalam taxi bersama Adam sementara starla membawa motor Leo karena jelas tidak mungkin meninggalkan motor Leo di rumah ibu tadi.
melihat taxi berhenti di depan rumahnya membuat mama Melisa langsung menghampiri taxi itu karena mengira Leo yang datang dan benar saja putranya itu keluar dari taxi. El dan kedua sahabatnya juga telah tiba di rumah Leo.
"ya Allah kakak, kamu pucat begini" mama Melisa memapah Leo
"biar kami saja tante yang membawa Leo masuk" ucap El memapah Leo
"iya, bawa masuk ke dalam" ucap mama Melisa
Vino dan El memapah Leo masuk ke dalam rumah menuju lantai dua dan masuk ke kamar. mereka membaringkan tubuhnya di ranjang dengan pelan dan hati-hati.
"sebenarnya ada apa ini, kenapa Leo sampai seperti ini...?" tanya mama Melisa duduk di samping Leo dan memegang tangannya
"kakak nggak apa-apa mah, hanya pusing saja kepalanya. nanti juga sembuh, mama nggak usah khawatir" Leo menenangkan mama Melisa
"mama dari tadi nungguin kamu. biasanya kalau kamu mau nginap di rumah El atau Vino, kamu selalu menghubungi mama. tapi dari tadi mama nggak dapat pesan dari kamu jadi mama khawatir"
"kakak baik-baik saja, kepala kakak hanya berat dan pusing. kakak mau istrahat saja"
"istrahatlah"
mama Melisa menyelimuti putra semata wayangnya itu kemudian keluar bersama El dan yang lainnya.
"terimakasih ya sudah mengantar Leo pulang"
"sama-sama tante" jawab Vino
"kalau begitu karena sudah malam kalian menginap saja ya, hubungi orang tua kalian agar tidak cemas"
"baik tante" jawab ketiganya
__ADS_1
"mau tante siapkan kamar atau tidur di kamar Leo...?"
"kita temani Leo, aku ingin di kamar Leo" ucap Adam
"kami di kamar Leo saja tante seperti biasanya. nanti kami tidur di bawah" jawab El
"baiklah. terus untuk kamu, siapa namamu karena baru kali ini Tante melihatmu" mama Melisa melihat starla
"starla tante" jawabnya
"untuk starla, kamu tidur di kamar tamu saja ya. masa iya gabung sama para laki-laki"
mama Melisa nggak tau aja kalau mereka selalu sekamar namun tentu saja tidak melakukan hal apapun. mereka bahkan menjaga starla melebihi sahabat. saat sekamar, starla akan tidur di ranjang dan ketiganya tidur di bawah dengan kasur yang tersedia.
"baik tante. sebelumnya terimakasih banyak" ucap starla
mama Melisa membawa starla ke kamar tamu sementara Vino dan Leo serta Adam kembali ke kamar Leo.
Leo telah terlelap dalam tidurnya, Adam menghampirinya dan duduk di sampingnya sementara El dan Vino duduk di sudut ranjang.
"gue masih penasaran apa yang terjadi tadi sore sehingga Leo pingsan dan jadi seperti ini" ucap Vino
"gue juga penasaran. padahal awalnya dia baik-baik saja tapi kenapa dia malah pingsan di ruang tengah. ini aneh menurutku" timpal Vino
"apa ibu itu memberikan sesuatu ke minuman kita sehingga Leo seperti ini...?"
"hush....jangan ngomong sembarangan. kalaupun iya harusnya kita juga kena tapi ini kita baik-baik saja kan"
"iya juga sih" Vino manggut-manggut
Adam tidak ikut menimpali percakapan keduanya. hantu itu hanya terus menatap Leo dan memegang tangannya.
pagi menyapa bumi, Leo kembali pulih seperti biasanya namun ada yang berbeda dari dirinya. remaja itu tampak diam dan tidak banyak bicara. hanya sesekali menjawab dan menimpali perkataan sahabatnya.
"Le, elu kenapa sih, dari tadi pagi diem mulu kayak ayam betelor" tanya Vino
"nggak kenapa-kenapa" jawabnya singkat
"elu udah baikan kan. gue khawatir kemarin pas lu pingsan kepalamu terbentur dan sekarang elu geger otak" ucap Vino
"elu kalau ngomong suka ngadi-ngadi. mana ada pingsan langsung geger otak" timpal El
"ssstt, Bu Rima datang" Aldo teman kelas mereka mengingatkan
hari itu mereka belajar seperti biasanya dan juga mendapatkan tugas dari guru mata pelajaran. namun saat yang lain sedang menyimak apa yang dijelaskan oleh guru, Leo hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"tumbal darah mati, jiwamu milikku"
kata-kata itu melintas di kepalanya. Leo ketakutan dan menjambak rambutnya. kepalanya berdenyut dan rasanya akan pecah.
"Leo" panggilnya dengan lirih
"Leo"
"tumbal, darah, mati. jiwamu milikku" hihihihihi
"aaaaaagghh.... pergi.... pergi kamu" Leo berteriak keras membuat semua orang di dalam kelas kaget
remaja itu menjambak rambutnya dengan kuat dan membenturkan kepalanya di meja. El dan Vino memeganginya agar Leo tidak menyiksa dirinya sendiri.
"pergi.....aku bilang pergi"
"dia kenapa...?"
"kenapa sih...?"
"kayaknya dia kerasukan"
semua siswa siswi saling berbisik mempertanyakan apa yang terjadi dengan teman kelas mereka.
ngiiiiiiiiiiiiiing......
telinga Adam berdengung. saat ini hantu itu tidak bersama El dan yang lain, dia berada di luar kelas namun saat telinganya berdengung hantu itu langsung menghilang seketika dan sekarang dirinya telah berada di dalam kelas El-Syakir.
"*Leo"
"tumbal darah mati, jiwamu milikku*"
"aaaaaagghh.... pergiiiiiiiii"
"hihihihihi.... hihihihihi"
"kamu milikku...jiwamu milikku"
bughhh
Leo jatuh pingsan. segera dirinya dibawa ke ruang UKS. El dan Vino serta Aldo sama-sama mengangkat tubuhnya.
"dia sebenarnya kenapa. dari kemarin dia tidak baik-baik saja dan sekarang malah mengamuk. gue jadi khawatir" ucap Vino
pintu terbuka, starla baru saja datang dan langsung masuk kedalam.
"dia kenapa...?" tanya starla
__ADS_1
"entahlah, dia ketakutan dan berteriak menyuruh seseorang pergi. namun kalau dia melihat mereka, harusnya kita juga dapat melihatnya namun gue tidak melihat apapun tadi" jawab El
"sama gue juga nggak melihat apapun" timpal Vino
"ada yang telah menyingkatnya di rumah itu" ucap Adam
"maksudnya, mengingkat bagaimana...?" tanya El
"tunggu sampai Leo sadar, dan kita tanyakan apa yang telah dia lakukan di sana. aku merasa ada yang tidak beres dengan rumah itu" jawab Adam
"apakah ibu itu orang jahat...?" tanya starla
"aku tidak bisa menjawab yang itu, karena aku tidak bisa mendengar suara hati manusia. tapi yang jelas pasti ada sesuatu di rumah itu" jawab Adam
lama menunggu akhirnya Leo pun sadar. ia melihat sekelilingnya dan juga teman-temannya yang sedang menunggunya.
"elu sadar, syukurlah" ucap Vino lega
"apa yang elu rasakan...?" tanya El
"kepala gue pusing banget, rasanya berat banget" jawab Leo
"apa seperti yang kamu rasakan saat bangun pingsan kemarin...?" tanya Adam
"iya, gue merasa tubuh gue lemas banget" jawab Leo
"aku ingin bertanya. apa yang kamu lakukan saat berada di rumah ibu itu kemarin...?" tanya Adam
"nggak ada, kita kan sama-sama makan pisang goreng" jawabnya
"setelah itu...?"
"setelah itu kita pamit pulang tapi gue kebelet kencing jadi gue ke kamar mandi dan saat gue balik, gue melihat sebuah lukisan terpajang di ruang tengah"
"lalu...?"
"lalu gue sempat memegang lukisannya dan tangan gue terluka karena kacanya retak. karena nggak punya tisu jadi darah yang terkena lukisan itu gue hapus dengan lengan baju gue. terus....."
"terus apa...?"
belum sempat menjawab, ibu Rima datang untuk melihat Leo. ibu guru itu ingin memastikan kondisi Leo apakah sudah membaik atau belum. setelah melihat Leo baik-baik saja, ia meminta Leo beristirahat saja di ruang UKS dan tidak perlu mengikuti pelajaran jangan sampai dirinya belum pulih sepenuhnya.
pelajaran berikutnya akan segera masuk, dengan terpaksa Vino, starla dan El meninggalkan Leo. hanya Adam yang tidak beranjak, hantu itu tetap menemani Leo yang tertidur kembali karena mengeluhkan sakit kepala tadi.
"aku harus memutuskan ikatannya, tapi.....ini sepertinya akan susah" gumam Adam
sepulang sekolah Bara sudah menunggu mereka di gerbang sekolah bersama dengan Nisda. remaja itu menagih janji El yang telah berjanji kepadanya kemarin.
"bisa lain kali saja Bara, karena sekarang ini kami sedang sibuk" ucap El
"elu mau ingkar janji. gue udah tunggu elu dari tadi di sini. tega banget" ucap Bara
"tapi kali ini gue benar-benar nggak bisa, lain kali saja bagaimana"
"elu mau coba mengelabuiku ya El, gue bisa saja sebarin videonya sekarang juga kalau elu menolak" ancam Bara
tidak ingin memperpanjang masalah, El akhirnya mengiyakan keinginan Bara. mereka pulang ke rumah Leo, itu semua adalah keinginan Adam. hantu itu harus melakukan sesuatu namun dirinya juga harus memastikan terlebih dahulu.
mama Melisa menyambut mereka dengan hangat. Leo yang terus merasakan pusing meminta untuk istirahat di kamar saja.
sementara Leo di kamar, El, Vino, Bara, starla dan Nisda berada di taman belakang rumah Leo.
"apa yang ingin elu ketahui...?" tanya El
"tentang teman gaib kalian yang bernama Adam" jawab Bara
"kalau dia tau aku, bisa jantungan dia menangis tersedu-sedu" ucap Adam yang duduk di samping El
"sampai segitunya, emangnya elu siapanya dia" timpal Vino
"nah tuh kan. elu pasti ngomong sama yang bernama Adam itu kan. gue sama El ngomongnya apa, elu juga ngomongnya apa" Bara menatap Vino
"emang benar ya yang dikatakan Bara, kalian punya teman gaib...?" tanya Nisda penasaran
"haaah. oke, gue akan beritahu tapi elu harus janji kalau elu nggak bakalan bilang sama siapapun tentang hal ini" ucap El
"gue janji" ucap Bara
"elu Nisda...?"
"iya, gue janji"
"baiklah. kami memang nggak ada pilihan" ucap El
di dalam kamar, Leo yang tadinya tenang dalam tidurnya tiba-tiba saja ia membuka mata dan melotot seperti sedang melihat hal yang menakutkan.
tubuhnya kaku tanpa bisa digerakkan. keringat dingin mengucur membasahi bajunya.perlahan sosok gadis yang ia lihat di lukisan merangkak naik di atas tubuhnya, ia tersenyum menyeringai dengan darah yang terus keluar dari matanya.
"tumbal, darah, mati. jiwamu milikku" bisikan itu ia ucapkan di telinga Leo
"jiwamu milikku, jiwamu milikku hihihihihi"
ngiiiiiiiiiiiiiing
__ADS_1
belum sempat memperlihatkan dirinya kepada Bara dan Nisda, Adam tiba-tiba merasakan telinganya berdengung. ia berdiri dengan cepat dan mengepalkan tangannya kuat.
"dia datang, Leo dalam bahaya" teriak Adam yang seketika menghilang dari pandangan El dan kedua sahabatnya yang dapat melihatnya