
"aduh bukan begitu bego. masa kalian nggak ngerti sih. paman Zidan mempunyai keponakan yang sedang koma yang bernama Dirga Sanjaya biasa dipanggil Dirga. kakak El yang bernama Dirga sudah jelas pasti menjadi keponakan paman Zidan saat bunda El menikah dengan kakak paman Zidan" Bara menjelaskan
"kalian tau maksud gue kan" lanjut Bara
sontak mereka semua kaget dan saling pandang setelah mendengar penjelasan dari Bara.
"berarti..... berarti....." starla gagap
"kakak El yang sebenarnya adalah...."
"Adam" ucap semuanya serentak dan menutup mulut tidak percaya
"uhuk uhuk, kampeeeeeeet. siwapa yang seang mengosikan agu nih" Adam terbatuk-batuk dan berbicara tidak jelas karena mulutnya yang memenuhi melati
hantu itu memukul mukul dadanya karena batuk yang tidak kunjung reda dan yang terjadi selanjutnya
bughhh
byuuurrr
Adam menyemburkan makanannya dan seketika batuknya hilang namun kini punggungnya yang sakit.
saat melihat di belakangnya, sosok yang memukul tengkuknya agar makanannya keluar sedang cengengesan menampilkan giginya yang merah.
"sekate kate kamu main pukul, kamu kira aku bola pompong apa" kesal Adam memegang bahunya
"eh, bola pompong apa bola pongpong ya" Adam menggaruk kepalanya dan berpikir berat
"mana yang benar. bola pompong apa bola pongpong...?" Adam bertanya kepada hantu yang di dekatnya itu
hantu itu menggeleng kepala sebagai jawaban bahwa dirinya tidak tau.
"haduh, berarti otakmu perlu digurindam agar bisa berpikir tajam, setajam silet" ucap Adam geleng kepala
Adam kembali mengambil melati yang ada di sampingnya namun hantu yang sedang bersamanya itu menepis tangannya dan mengambil melati itu mengapit ke dalam ketiaknya.
"heh hantu gigi merah, itu melati aku ya. sini kembalikan"
bukannya memberikan melati kepada Adam hantu itu menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Adam pertanda tidak mau dan menunjuk melati serta dirinya sebagai tanda bahwa melati itu adalah miliknya.
"enak aja main ngaku-ngaku. itu melati aku, aku dapat di sini, jadi itu melati aku. kembalikan" Adam mengadahkan tangannya
hantu gigi merah itu menggelengkan kepalanya tetap tidak ingin memberikan melati yang ada di tangannya.
"wah ngajak gulat kamu ya" Adam mengulung lengan bajunya bersiap untuk bertempur
"kembalikan nggak" bentak Adam menyipitkan matanya
"gagagaga" ucap hantu itu tetap menggeleng kepala
"haduuuuh, kamu hidup di zaman purba mana sih. pakai bahasa planet darimana itu" Adam memegangi kepalanya seakan pusing
"gagagaga"
"gagaga....burung gagak...?" tanya Adam melihat ke atas sana
"nggak ada kok" ucapnya melihat kembali hantu gigi merah itu
"gagagaga"
"aku bilang balikin"
Adam menarik kantung melati dari tangan hantu itu sehingga terjadi aksi tarik menarik antara keduanya.
saat Adam menariknya dengan sangat keras, kantung itu malah melayang dan
hap
mba Kun yang ada di atas pohon menangkap melati itu dan kabur dengan tawa cekikikan khas tawa mba Kunti.
"hei mba Kun Kun kembalikan" teriak Adam namun jelas mba Kun tidak menghiraukannya
"ini semua gara-gara kamu tau, lihat makanan kita diambil sama mba Kun" Adam cemberut dan duduk di tanah dengan merajuk
"gagagaga" hantu itu duduk di samping Adam meratapi nasib mereka
sunyi sepi mencekam ditempat itu. tentu saja mencekam karena Adam sekarang berada di tempat pemakaman umum. ia tidak tau harus mencari melati kemana dan akhirnya dirinya malah telah berada di kuburan.
"hantu gigi merah" panggil Adam
"ga" jawab hantu gigi merah
"mau dengar cerita horor nggak...?"
"ga ga" hantu gigi merah mengangguk
Adam mulai bercerita dan hantu gigi merah mendengar dengan baik. rupanya para hantu di dekat mereka penasaran dan ikut nimbrung mendengar cerita horor dari Adam.
cerita semakin menegangkan dan yang menjadi pendengar pun ikut tegang.
"matanya di colok, kepalanya di gorok dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya" Adam menatap mereka dengan serius. para dedemit itu menggeleng kepala dengan wajah tegang
"isi perutnya dikeluarkan dan dimakan oleh makhluk itu"
__ADS_1
"hiiiiiiiii" semuanya ngeri mendengar cerita Adam
"Dan kemudian" Adam menggantung ceritanya
"wanita itu datang dengan wajah menyeramkan dan tertawa cekikikan seperti mba Kun"
"hihihihihi.... hihihihihi" Adam tertawa melengking memperlihatkan bola matanya yang putih
mendengar tawa Adam, semua hantu yang mendengar ceritanya lari kalang kabut dan bersembunyi di balik pohon, di atas pohon bahkan ada yang langsung masuk kembali ke dalam kuburannya.
"lah, kok sepi. pada kemana....?" tanya Adam melihat yang tadi ramai kini para dedemit itu sudah tidak ada. hanya hantu merah gigi yang masih setia di sampingnya
"gagagaga" hantu merah gigi mengangkat bahu
"setan takut setan" ucap Adam geleng kepala
kembali ke markas Sanjaya grup, tim samudera sungguh dibuat kaget oleh kebenaran yang baru saja mereka ketahui. tidak di sangka ternyata hantu yang selama ini bersama mereka adalah kakak kandung dari El-Syakir yang selama ini selalu El rindukan.
"ini sungguh berita yang sangat mengejutkan" ucap Vino
"El pasti akan sangat senang jika tau kalau kakaknya selama ini ada bersamanya" ucap starla
"apa Adam tau ya kalau El adalah adiknya...?" tanya Leo
"mungkin iya mungkin juga tidak" jawab Bara
"semoga kebenaran ini dapat mengurangi kesedihan El. kita tau bagaimana sifat Adam, dia selalu mempunyai tingkah untuk membuat kita tertawa dan pasti dia akan selalu membuat El dalam kebahagiaan" ucap Leo
"kak Dirga itu pasti memakai topeng" ucap Bara
"topeng bagaimana maksudmu, selama ini gue nggak pernah melihat dia memakai topeng" ucap Vino
"ck, pikiranmu dangkal banget sih Vin" ucap Bara
"ya terus apa maksudnya...?" tanya Vino
"gue juga nggak ngerti" ucap Nisda bingung
"kehilangan orang tua itu adalah kenyataan pahit yang dirasakan seorang anak. kalian lihat bagaimana reaksi El saat tau bundanya telah tiada. itu juga pasti yang dirasakan kak Dirga. apalagi dia dengan secara langsung melihat bagaimana orang tuanya dibantai dan di bunuh dengan kejamnya bahkan dirinya pun ikut dihabisi dan akhirnya dia menjadi koma" ucap Bara
"elu tau bagaimana bunda Adam dan ayah tirinya meninggal....?" tanya starla
"mereka dibantai. itu yang gue dengar dari ucapan om Adnan tadi" jawab Leo
"iya benar, mereka di bantai. bunda dan ayah tiri kak Dirga meninggal dan kak Dirga sendiri koma. dia ditembak di kepalanya. kak Dirga kritis dan sempat tidak tertolong tapi Allah maha besar. dengan pertolongan Allah, kak Dirga masih bertahan meskipun dalam keadaan koma dan bahkan sudah 4 tahun" timpal Bara menerawang jauh
"kasian sekali Adam. apa karena itu waktu pertama bertemu dengan kita dia nggak ingat siapa keluarganya, siapa dia. makanya itu El memberikan nama kepadanya karena ia tidak tau namanya siapa" ucap Vino
"pantas saja Adam dan El sangat dekat, ternyata mereka saudara" ucap Nisda
ayah Adnan masih menemani El-Syakir yang belum juga sadarkan diri. pria itu mengusap wajahnya yang sudah berkeriput dibagian tertentu namun tetap tidak menghilang ketampanannya.
cek lek
pintu kamar terbuka, ibu Arini masuk bersama Alana. setelah di telpon oleh suaminya bahwa mereka akan dijemput, ibu Arini segera bersiap-siap dan memberitahu Alana.
"El kenapa yah, kenapa bisa seperti ini...?" tanya ibu Arini duduk di samping putranya
"ayah sudah memberitahu kebenarannya kepada El dan beginilah reaksinya saat ia tau" jawab ayah Adnan
"semuanya...?" ibu Arini menatap suaminya
"tidak, belum selesai ayah menjelaskan El sudah jatuh pingsan" jawab ayah Adnan
"memberitahu apa yah...?" tanya Alana
"sini" ayah Adnan menepuk kasur agar Alana duduk di sampingnya
"ayah akan memberitahu satu kenyataan yang memang sudah saatnya kamu tau"
"kenyataan. kenyataan apa...?" Alana kebingungan
ayah Adnan menceritakan semuanya kepada putrinya itu. dari perpisahan dengan istri pertama ayah Adnan, hingga akhirnya ayah Adnan mengambil El-Syakir dan Ayu istrinya membawa Dirgantara.
selama dua tahun menjadi duda akhirnya ayah Adnan menikah dengan ibu Arini dan mereka dikaruniakan seorang putri cantik yang diberi nama Putri Alana.
semuanya ayah Adnan bercerita, tentang jabatannya sebagai direktur Sanjaya grup, dan juga tentang Dirgantara, kakak El dan Alana yang sedang koma di rumah sakit di LN.
"jadi Alana mempunyai seorang kakak lagi...?" tanya Alana menatap sendu ayahnya
"iya, dia sedang berjuang untuk bangun kembali" jawab ayah Adnan membelai rambut Alana
"kasian sekali kak Dirga. kenapa ayah dan ibu tidak memberitahu kepada Alana selama ini...?"
"kami mencari waktu yang tepat sayang" timpal ibu Arini
"Alana senang, ternyata Lana mempunyai dua kakak laki-laki. tapi Lana juga sedih ternyata kakak Lana yang satunya sedang berjuang melawan maut"
"doakan kak Dirga, agar dia cepat sadar dan berkumpul bersama kita semua. kamu mau kan menerimanya sebagai keluarga kita...?" ucap ayah Adnan
"tentu saja yah. mereka tetap saudara kandung Alana karena kami masih satu ayah"
mendengar jawaban putri mereka, hati ayah Adnan dan ibu Arini merasa lega. pria itu menarik tubuh Alana dan memeluknya. ia mencium pucuk kepala putrinya itu beberapa kali.
__ADS_1
"yah" panggil Alana
"ada apa...?" tanya ayah Adnan
"boleh Lana melihat foto kak Dirga. meski hanya foto setidaknya Lana tau bagaimana wajah kakak Lana"
"sebentar"
ayah Adnan merogoh handphonenya di kantung jasnya dan mencari foto Dirgantara.
"ini dia" ayah Adnan memperlihatkan foto itu
Alana melihat kakaknya itu sedang terbaring lemah dengan alat oksigen di mulutnya dan juga kabel-kabel yang tertempel di tubuhnya. hatinya merasa sakit melihat perjuangan Dirgantara yang sedang melawan maut dan bahkan bisa jadi maut itu membawanya pergi untuk selamanya.
"kasian sekali kak Dirga" ucap Alana dengan suara serak
"ibu ingin lihat yah" ucap ibu Arini karena selama ini ia belum pernah melihat Dirgantara
Alana memberikan handphone ayah Adnan kepada ibu Arini. melihat kondisi Dirgantara, jatuh sudah air mata wanita itu. meski bukan putra kandungnya namun perasaan seorang ibu terhadap putranya memang tidak bisa di pungkiri bahwa seorang ibu sakit jika melihat anaknya juga dalam keadaan sakit.
"ya Allah nak, semoga Allah selalu melindungimu dan membuat mu cepat sadar" ucap ibu Arini
euugghh
El-Syakir bersuara dan kemudian membuka matanya. matanya melihat semua keluarganya telah berada mengelilingi dirinya.
"ibu" panggil El
"iya nak, kamu sudah sadar. syukurlah" ibu Arini mencium kening El
"El dimana...?" tanya El-Syakir
"masih di rumah paman Zidan" jawab ayah Adnan
"ayah" panggil El dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"bunda....bunda yah"
ayah Adnan memeluk putranya. El-Syakir menangis sejadi-jadinya di pelukan ayahnya. perasaan seorang anak hancur ketika kehilangan seorang ibu, ibu yang selama ini El-Syakir rindukan dan berharap bisa bertemu kembali namun nyatanya angannya selama ini tidak akan pernah kesampaian.
"ikhlas nak, ikhlas" ayah Adnan ikut meneteskan air mata begitu juga ibu Arini dan Alana
"hiks hiks....bunda El yah, bunda El" El-Syakir terisak dengan tubuh yang bergetar
ayah Adnan hanya bisa mengelus punggung El-Syakir. ia tidak bisa melakukan apapun karena yang dirindukan putranya sudah pulang kepada sang pencipta. sungguh rindu yang paling menyakitkan adalah rindu kepada seseorang yang telah pergi menghadap yang Maha Kuasa.
"tenangkan dirimu, kuatlah karena kakakmu masih bersama kita meskipun ia dalam keadaan melawan maut" ucap ayah Adnan
El-Syakir melepas pelukannya dan menghapus air matanya, menatap ayah Adnan.
"kak Dirga...?" tanya El dengan suara parau
"iya. kakakmu sedang koma di rumah sakit setelah kejadian naas itu" jawab ayah Adnan
"k-koma...?" tanya El gagap
"iya, dia koma dan sekarang berada di rumah sakit di LN" jawab ayah Adnan
"*melihat kalian, paman jadi teringat dengan keponakan paman"
"memangnya keponakan paman kemana...?"
"dia sedang koma di rumah sakit"
"kalung siapa ini"
"Dirgantara"
"siapa namamu...?"
"aku tidak tau"
"masa iya biar namamu saja elu nggak tau"
"aku benar-benar tidak tau siapa namaku. maukah kamu memberikan aku nama"
"kalau begitu gue beri elu nama Adam"
"Adam. aku suka nama itu"
"kalian semua adalah orang-orang yang aku sayangi namun tidak melebihi rasa sayangku kepadamu karena kamu adalah..... adikku"
"kamu adalah seseorang yang penting dalam hidupku, aku akan mempertaruhkan apa saja untuk melindungi mu termasuk nyawaku sendiri"
"aku akan ikut campur kalau kamu berani menyakiti adikku*"
El-Syakir teringat itu semua. perkataan Zidan dan juga ucapan Adam yang ternyata selama ini mempunyai makna dari ucapannya saat dia mengatakan kalau El adalah adiknya.
"yah, apakah keponakan paman Zidan yang bernama Dirga Sanjaya, sebenarnya adalah kak Dirgantara...?" tanya El
"iya, Dirga Sanjaya adalah adalah Dirgantara kakakmu" jawab ayah Adnan
(j-jadi A-Adam adalah) batin El dengan jantung yang berdetak kencang
__ADS_1