Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 151


__ADS_3

Adam dan El-Syakir tiba di rumah lama. sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumah tersebut. mereka masuk ke dalam dan di sana sudah ada Furqon serta Ardi. Melati dan Nisda pun telah kembali membeli makanan.


"dimana mereka sekarang...?" tanya Furqon


"biar aku antar ke sana" ucap Adam


Furqon dan Ardi serta Adam meninggalkan rumah menuju ke rumah kosong yang ada di paling ujung, sedikit jauh dari rumah yang lain. tiba di sana papa Freya dan anak buahnya merona ingin dilepaskan.


"lepaskan saya, akan ku balas perbuatan kalian" papa Freya menatap benci ke arah ketiganya


"bawa ke polisi dan ingat jangan beritahu ayah dan ibu tentang ini. aku tidak mau mereka khawatir"


"baik tuan muda" keduanya menunduk patuh


semua orang itu di bawa masuk ke dalam mobil. papa Freya yang terus mengumpat langsung disumbat mulutnya oleh Ardi agar pria itu tidak banyak bicara. setelahnya mereka meninggalkan rumah kosong itu dan Adam kembali ke rumah lama.


"gimana kak...?" tanya El


"aman" jawab Adam


"syukurlah. kalau gitu kita makan, gue udah lapar banget" ucap Vino


"minuman ku mana...?" Adam mencari minuman melatinya


"nih" Melati memberikan satu botol frestea melati kepada Adam


"terimakasih"


"iya" Melati tersenyum


mereka semua makan dengan lahap. setelah makan, kini El-Syakir dan Adam akan memberitahu mereka apa yang terjadi di laundry ibu Arini.


El bercerita sedang yang lain mendengarkan. Adam hanya memainkan hp-nya dengan bersandar di bahu El-Syakir.


"jadi kak Dian hilang...?" tanya Vino


"belum di tau juga dia hilang atau kemana tapi yang pasti kak Sinta nggak bisa menghubungi nomornya" jawab El


"apa jangan-jangan kak Dian diculik sama makhluk yang merasukinya itu" ucap Bara


"bisa jadi, dia kan bilang suka sama kak Dian" timpal Starla


"berarti sekarang Alana dalam bahaya. bisa jadi selama ini dia mengincar Alana namun selalu saja gagal karena ada kita yang menolong" ucap Leo


"terus bagaimana sekarang...?" tanya Nisda


"apa sebaiknya kalian perempuan pulang saja, biar kami laki-laki yang mencari tau" El memberikan usul


"kalau mereka pulang, kita nggak bisa punya umpan untuk memancing sosok itu datang lagi" Adam bersuara


"kamu mau menjadikan mereka umpan dam, tega banget sih lu" Vino kesal mendengar ucapan Adam


"yang aku lihat dia mengejar perempuan bukan laki-laki. dengan adanya mereka tetap di sini, aku yakin ada hal yang terjadi lagi seperti yang dialami Alana. entah sekarang Alana atau diantara kalian bertiga namun yang pasti hanya dengan kalian tetap berada di sini dia akan datang" ucap Adam


"tapi berbahaya kak, kalau mereka hilang seperti kak Dian bagaimana" Bara menimpali


"itulah mengapa kita membuat rencana agar tidak teledor. saat siapapun dari mereka yang kerasukan dan tanpa sadar keluar dari laundry, saat itu juga kita ikuti" jawab Adam


"lagipula jangan meremehkan mereka, bukannya mereka punya senjata masing-masing untuk melindungi diri. kita nggak lemah seperti dulu loh ini" lanjut Adam


"apa yang diucapkan Adam ada benarnya juga. lebih baik kalian tetap di sini" ucap Leo


"gue tentu akan tetap di sini. kalau perlu gue yang akan menjadi umpan bagi makhluk itu" ucap Melati


"Lana juga mau tetap di sini, kita kan tim...yang namanya tim harus saling menjaga dan tetap bersama" ucap Alana


mereka sepakat untuk tetap bersama. setelah membicarakan hal itu, mereka kemudian meninggalkan rumah itu dan menuju ke laundry milik ibu Arini.


sudah pukul 9 pagi, usaha laundry itu di buka. ternyata banyak juga yang menjadi pelanggan mereka. ada yang datang membawa pakaian dan juga ada yang datang mengambil.


mereka melayani dengan senang hati. pelanggan pun terkejut tatkala mereka dilayani oleh anak-anak remaja. namun saat melihat El-Syakir dan Alana, mereka berpikir bahwa yang lain adalah teman keduanya.


"pengen ngemil nih, kira-kira apa ya" ucap Vino yang sedang duduk di ruang tengah


"beli cemilan gimana, atau sekalian kita cari yang jual es dawet atau cendol gitu" timpal Leo


"biar aku yang beli cemilan, kalian cari minuman saja" Adam beranjak untuk ke kios samping laundry di rumah Nilam


"mau kemana...?" Melati bertanya saat dia melihat Adam keluar


"ke warung" jawab Adam tanpa menoleh


Adam berjalan pelan namun dirinya kaget saat tangannya tiba-tiba digenggam oleh tangan yang lain. saat menoleh, Melati sedang tersenyum manis ke arahnya.


tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, keduanya berjalan ke arah kios dan setelah sampai barulah Adam melepas tangannya. Melati paham dan dia pun tidak keberatan.


"permisi" ucap Melati sedikit mengeraskan suara

__ADS_1


"permisi" lagi-lagi Melati memanggil karena tidak ada sahutan dari pemilik kios


"ini kiosnya terbuka tapi orangnya kemana coba" Melati menggerutu


"permisi" kini Adam yang bersuara


"yuhuuuu pemilik kios, mau beli" lagi Adam bersuara dan Melati terkekeh


"kenapa tertawa...?" tanya Adam


"kamu lucu" jawab Melati


"ck, lama sekali" gumam Adam memperhatikan ke arah dalam


hingga beberapa lama muncul seorang wanita dari arah dalam. dia menatap dingin ke arah Adam dan Melati.


"mua beli apa...?" tanyanya dengan dingin


"kamu mau apa, cari di dalam" Adam masuk ke dalam kios begitu juga Melati


mereka mengambil apa yang diinginkan. mata Adam sesekali melirik ke dalam rumah yang bersambung dengan kios tersebut. saat itu juga dirinya dapat melihat sekelebat bayangan yang lewat begitu saja di dalam rumah.


"sudah belum...?" tanya wanita itu dengan ketus


"sabar sedikit Napa bu, kami sedang belanja loh bukan menghambur" Adam menjawab dengan ucapan tidak kalah ketus


wanita itu tidak menjawab namun tetap memperhatikan Adam dan Melati yang sedang mengambil beberapa cemilan dan juga roti kemudian memasukkan ke dalam kantung plastik.


"kak, udah belum...?" suara dari luar mengalihkan semuanya


rupanya El-Syakir dan Alana baru saja datang membeli es buah di depan komplek. mereka singgah di kios ibunya Nilam saat keduanya melihat Adam dan Melati.


wanita itu terus memperhatikan Alana sejak dia datang. tatapan matanya tidak lepas dari gadis itu.


"ada yang salah dengan kami tante, kok liatnya gitu banget" El bertanya kepada wanita itu


"apa kalian sudah memilih, kenapa lama sekali" dia tidak menjawab pertanyaan El-Syakir dan memalingkan wajah melihat Adam dan Melati


"sabar bu" jawab Melati


"Nilam dimana tante, aku nggak melihatnya" El bertanya


"dia ke rumah neneknya" jawab wanita itu


"oh, dia nggak sekolah ya"


"libur"


"sudah belum sih...?" dia mulai jengkel karena Adam dan Melati belum selesai belanja


"sudah, nih tante hitung semuanya berapa" Melati menuang semua belanjaan di lantai


wanita itu mulai menghitung sedang El-Syakir berjalan pelan ke arah samping rumah tersebut. entah apa yang dilakukannya namun dia sedang melakukan sesuatu.


dia terus berjalan hingga kemudian dirinya mendengar suara rintihan seseorang yang kesakitan.


"aaaggghh...sakit"


"suara siapa itu" gumam El begitu penasaran


ingin melihat namun tidak bisa karena saat wajahnya menempelkan ke kaca, dia tidak dapat melihat apapun di dalamnya. matanya terhalang dengan gorden yang ada.


"sakiiiit" lagi, suara itu terdengar di telinga El-Syakir


"heh, sedang apa kamu...?" El dikejutkan dengan suara wanita tadi


"sedang apa kamu di situ...?" dia menatap tajam ke arah El


"aku sedang mengikuti kucing ini tante" untungnya ada seekor kucing di depannya, segera dia menggendong kucing itu dan mendekati wanita itu


wanita itu diam menatap dingin El-Syakir kemudian masuk ke dalam rumah dan menutupnya dengan keras. setelah wanita itu masuk ke dalam rumah, El-Syakir melepaskan kucing itu dan kembali ke teman-temannya.


"darimana saja kak" tanya Alana


"dari ngintai, ayo pulang" ajaknya


mereka kembali ke laundry, yang lain sedang bersantai di ruang tengah karena belum ada lagi pelanggan. setelah keempatnya datang, segera es buah yang ada di tangan El-Syakir dan Alana diserbu oleh mereka.


"aaah segernya" Vino begitu menikmati minumannya


"nggak beli makanan ya, ini udah siang loh. lapar nih" Leo mengusap perutnya


"nih" El memberikan kantung plastik yang berisi nasi bungkus. selain membeli es buah, mereka juga membeli nasi bungkus untuk makan siang


Leo mengambil kantung itu dan mengambil satu bungkus nasi kemudian melahapnya. yang lain masih menikmati es buah mereka.


"kenapa gue merasa aneh banget dengan sikap tante Dewi ya" El membuka pembicaraan

__ADS_1


"tante Dewi siapa...?" tanya Bara


"ibunya Nilam" jawab El


"dulu sikapnya nggak seperti itu. orangnya ramah dan lembut tapi ini beda banget, ibaratkan berubah 180 derajat" lanjut El


"bahkan kadang kalau kita main ke rumah Nilam, tante Dewi hangat banget. nah ini kayak macan yang mau nerkam buruannya saja" ucap Vino


"keadaan di rumah itu gelap" timpal Adam


"gelap gimana...?" tanya Melati


"ada aura gelap yang aku rasakan. seperti...." Adam menggantung ucapannya


"seperti apa...?" tanya Nisda begitu penasaran


"seperti... entahlah aku juga bingung menjabarkannya tapi yang jelas di rumah itu memang sangat berbeda dari rumah yang lain. itu yang aku rasakan" jawab Adam


"tadi itu gue mendengar sesuatu di rumah Nilam" El memberitahu mereka


"sesuatu apa...? tanya Starla


"suara seseorang yang kesakitan" jawab El


"elu tau itu suara siapa...?" tanya Leo


"ya nggak tau, tapi kalau gue dengar itu suara cewek. apa itu Nilam ya" jawab El


"apa benar yang kalian katakan kalau saat Alana kerasukan dia pergi di rumah tante Dewi...?" Adam bertanya


"Lana ke rumah tante Dewi, kok Lana nggak tau ya" Alana menimpali


"karena waktu semalam itu kamu sedang kerasukan, mana bisa kamu ingat" jawab Leo


"iya lah masa kami bohong. Alana berdiri di depan pintu, kami juga nggak tau dia ngapain ke rumah tante Dewi" Vino menjawab


"mungkin karena Alana pikir itu rumahnya makanya di ke sana" timpal Melati


"rumah...?" El-Syakir dan Adam berucap bersamaan


El-Syakir dan Adam saling pandang hingga kemudian mereka mengatakan sesuatu dengan serempak.


"rumah makhluk yang merasuki Alana" ucap Adam dan El-Syakir


"hah...?" yang lain bingung tidak mengerti


"kalau bukan karena makhluk yang merasukinya, Alana tidak mengenal tempat itu, untuk apa coba Alana ke rumah tante Dewi. Alana nggak punya urusan dengan tante Dewi, tapi gue merasa makhluk yang merasuki Alana pasti punya tujuan sampai dia ke rumah Nilam" ucap El memberikan pendapatnya


"masuk akal juga sih. berarti kalau makhluk itu punya tujuan membawa Alana ke rumah itu, berarti makhluk itu.... peliharaan" Leo menggantung ucapannya


"tante Dewi maksudnya...?" tanya Bara


"haah yang benar aja kak, masa iya tante Dewi punya peliharaan makhluk gaib" Alana tidak percaya


"itu belum pasti juga kan ya, tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Adam sama El ada benarnya juga" Nisda menimpali


"suudzon loh itu namanya" timpal Alana


"bukan suudzon sayang, tapi hanya asumsi kita saja" Leo menjawab


mendengar panggilan sayang dari Leo membuat kedua pipi Alana memerah dan dia tersipu malu.


"hueeek...pen muntah" Vino mendelik


"nih kantung, atau perlu aku ambilkan loyang sekalian...?" Adam berucap dengan wajah sok polos


"ck, ambil baskom sekalian" Vino mendelik


"cieeee sayang, aaah kapan ya gue dipanggil sayang juga" Melati iri mendengar panggilan Leo


"kode keras tuh" Bara menyenggol lengan Adam


Adam hanya diam tidak bersuara. dirinya hanya melirik sekilas ke arah Melati yang sedang tersenyum mengejek Alana. kemudian dia sibuk meminum es buahnya.


setelah makan mereka sholat dzuhur. untungnya Alana masih mempunyai mukenah di rumah lama sehingga itu yang mereka pakai untuk sholat dengan bergantian.


para laki-laki sholat berjamaah di ruangan tengah itu, sedang perempuan bergiliran sholat di dalam kamar. selesai sholat para perempuan mereka istrahat sejenak dengan menggunakan waktu untuk tidur siang. sementara laki-laki di depan menjaga dan sambil bermain game di hp mereka masing-masing.


pagi berganti siang, siang pergi dan bumi menyambut sore hari hingga sore pun tenggelam dan digantikan dengan malam hari.


El-Syakir bersama Leo pulang ke rumah lama untuk mengambil pakaian ganti mereka, karena tidak mungkin memakai terus baju yang melengket di badan seharian.


sedangkan perempuan sibuk memasak di dapur. di tempat laundry itu, banyak tersedia sayur dan berbagai macam bahan makanan lainnya. sepertinya Sinta dan Dian memang lebih senang memasak sendiri daripada harus membeli makanan.


laundry milik ibu Arini adalah semacam ruko dua lantai. dulunya tempat itu akan dijadikan ayah Adnan sebagai toko minimarket namun karena ayah Adnan telah mendapatkan tempat yang strategis di lokasi lain, alhasil ruko itu pun dijadikan tempat laundry. karena ibu Arini merasa sangat disayangkan jika tempat sebesar itu tidak dipergunakan untuk usaha.


setelah sholat isya mereka makan malam, laundry belum di tutup. sengaja mereka melakukan itu, karena masih ingin melihat suasana di luar pada saat malam hari. hingga menjelang larut malam, mereka menutup laundry tersebut dan bergegas untuk istirahat. para perempuan tidur di kamar sedang laki-laki tidur di ruang tengah dengan kasur yang telah mereka sediakan.

__ADS_1


kali ini mereka tidak tidur bersama. di dalam kamar Alana dan Melati tidur di ranjang sementara Starla dan Nisda tidur di bawah. untuk laki-laki mereka tidur di kasur di ruang tengah.


persis seperti dugaan Adam, malam itu akan terjadi sesuatu dan benar saja larut malam suara teriakan terdengar dari dalam kamar yang di tempati oleh para perempuan.


__ADS_2