Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 194


__ADS_3

POV (El-Syakir)


mendengar teriakan Vino memanggil kak Dirga, aku langsung menoleh. ku lihat Gibran akan melayangkan pukulan kepada kak Dirga. tanpa pikir panjang, ku gunakan keris larangapati milikku. aku melesatkan sihir yang ada di dalamnya hingga cahaya biru itu menghantam tubuh Gibran dan pukulannya melesat karena dirinya langsung jatuh ke tanah.


buaaaak


buaaaak


aku menghajar satu persatu mereka yang masih mengerumuniku. kemudian aku berlari ke arah Dirga.


"kakak nggak apa-apa...?" tanyaku karena merasa begitu khawatir


kak Dirga menarikku untuk menjauh dari Gibran. sementara Vino dan Bara datang menghampiri kami berdua.


"kenapa kelepasan memanggil namaku Vin" ucap kak Dirga


"gimana nggak kelepasan, elu dalam bahaya jelas gue harus memberitahu" jawab Vino


memang ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Vino. aku pun tentu akan melakukan hal yang sama jika saat itu aku yang melihat kak Dirga lebih dulu dalam bahaya.


"semoga saja dia nggak curiga kepadaku nanti" ucap Adam


"dia kan nggak tau wajah kakak sekarang, jadi masih aman" ucap Bara


"ya sudah kita berpisah. habisi mereka yang berniat akan masuk ke dalam rumah" ucap kak Dirga


jika dalam keadaan serius, kak Dirga terlihat lebih menakutkan. apalagi tatapan matanya yang tajam seakan ingin menguliti lawannya hidup-hidup.


"El, kamu hadapi Gibran. aku tidak bisa melawannya karena nggak mungkin mengeluarkan kekuatanku sekarang di hadapannya. bisa-bisa nanti saat aku bersama dia dan melihat kekuatanku sekarang, dia akan curiga denganku" ucap kak Dirga kepadaku


"baik kak" aku menjawab


setelahnya aku melesat ke arah Gibran yang masih berusaha untuk bangun karena serangan mendadak yang aku berikan untuknya.


Vino dan Bara kembali bertarung menghadapi musuh-musuh kami, sementara kak Dirga aku tidak melihatnya lagi kemana ia pergi.


"sial" Gibran mengeluarkan umpatan


"rupanya aku mempunyai lawan yang sebanding denganku" ucapnya menatapku dengan tatapan mata elangnya


orang ini ternyata kuat juga, buktinya tadi saja hampir ia melukai kak Dirga dengan kekuatannya dan untung saja aku dapat menangkis pukulan itu.


"keluarga Sanjaya tidak akan tinggal diam melihat kalian datang ingin menghabisi kami" ucapku dengan dingin


aku mengubah suara agar nanti jika bertemu lagi dengannya, dia tidak akan mengenaliku dan menaruh curiga kepadaku.


"hhh, jika melihat dari postur tubuhmu, sepertinya kamu masih anak remaja. yakin mau melawanku yang lebih kuat darimu...?"


tidak bisa aku pungkiri kalau sepertinya dia memang kuat. aku harus lebih berhati-hati jangan sampai terluka saat melawannya.


"kita lihat saja nanti" ucapku


ku pegang erat keris larangapati yang ada di tangan ku. detik berikutnya pertarungan diantara kami dimulai.


Gibran melesatkan pukulan ke arahku sementara aku menghindar dengan cara kayang dan melesat langsung berganti posisi berada di belakangnya. ku arahkan kerisku kepadanya dan ia berbalik menahan ujung kerisku dengan kedua tangannya. ujung mata kerisku ia tahan menggunakan telapak tangannya.


Gibran menarik ujung kerisku dan tentu saja aku terbawa olehnya. hampir saja perutku terkenal pukulannya namun aku melompat melayang di udara dan melesatkan tendangan sehingga dirinya mundur beberapa langkah.


"rupanya kamu kuat juga ternyata" ucap Gibran


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


saat hendak menyerang kembali, kami dikagetkan dengan suara ledakan yang begitu keras. banyak dari anak buah Gibran yang terluka akibat ledakan itu. bahkan mereka yang mencoba masuk ke dalam rumah langsung terpental begitu saja tanpa bisa masuk ke dalam.


pagar gaib ini hanya aku dan kak Dirga yang dapat membuatnya. jika kak Dirga dengan kekuatannya bisa membuat pagar gaib, maka aku bisa membuat pagar gaib dengan sihir yang ada di dalam keris larangapati. itu berarti kak Dirga yang melindungi rumah ini agar tidak bisa dimasuki oleh para musuh.


"MUNDUR.... MUNDUR SEMUANYA"


Gibran mengomando pasukannya untuk mundur dan meninggalkan tempat ini. mereka yang terluka di bantu oleh teman-teman mereka yang tidak terluka.


"kenapa mundur...?" kak Furqon datang menghampiri Gibran


Furqon melirikku dengan ekor matanya namun tidak menyapa. ya tidaklah mungkin dia menyapaku. masa iya ada musuh yang menyapa musuhnya sendiri. meskipun kami hanya berpura-pura tapi justru itu, kami tetap bersikap tidak saling mengenal


"kita tidak bisa melanjutkan penyerangan jika banyak dari orang-orang kita yang terluka. ayo, pergi dari sini" ajak Gibran kepada kak Furqon


tanpa memperdulikan aku yang masih bersama mereka, mereka berdua pergi begitu saja dan meninggalkan kediaman Sanjaya. aku merasa lega, setidaknya untuk kali ini kami berhasil memukul mundur mereka semua.


aku berlari menghampiri yang lain. ku lihat Melati sedang memapah Deva dimana lengannya terluka dan mengeluarkan darah. astaga, kenapa lagi kak Deva. luka di perutnya belum kering sekarang dia harus terluka lagi.


kami semua berkumpul sedang para pengawal termasuk keempat pengawal andalan, masih belum aku lihat batang hidung mereka. kak Dirga pun belum aku lihat dimana dia sekarang.


"kak Deva, kakak nggak apa-apa...?" Alana bertanya, raut wajah adikku itu menunjukkan kekhawatiran


"aku baik-baik saja, tidak perlu cemas" jawab kak Deva


"maafin aku kak, harusnya aku mendengarkan ucapan kak Deva, mungkin kakak nggak akan terluka seperti sekarang" Melati yang masih memapah kak Deva berurai air mata


dia menangis...?


baru kali ini aku melihat Melati mengkhawatirkan seseorang begitu dalam selain kak Dirga.


"hei...kenapa malah menangis...?" kak Deva memegang wajah Melati dengan tangan kirinya


"maafin aku kak, gara-gara aku kak Deva jadi seperti ini. perut kakak belum sembuh tapi sekarang sudah terluka lagi" Melati malah sesegukan


aku dan yang lain saling pandang namun ketiga gadis yang bersama kami malah senyum-senyum melihat kak Deva dan Melati.


"ini hanya luka kecil. kamu menangisiku seperti aku akan mati saja" kak Deva mengelus punggung Melati untuk menenangkannya


"aaaa kalian berdua so sweet banget sih" Starla malah menggoda keduanya


kak Deva hanya tersenyum sementara Melati salah tingkah. buru-buru Melati mendorong kak Deva agar menjauh darinya namun itu membuat kak Deva kesakitan karena Melati mengenai luka yang ada di perut kak Deva hingga akhirnya Melati panik sendiri.


"aduh..."


"eh maaf kak, mana yang sakit, mana...?"

__ADS_1


Melati mendekati kak Deva dengan raut wajah kecemasan.


"cieeee" Nisda menggoda Melati


"apa sih Nis" Melati kesal di goda terus


"kalian tidak apa-apa...?" paman Helmi dan yang lainnya baru saja datang


"kami baik-baik saja paman, tapi kak Deva terluka" Melati menjawab


"kita masuk ke dalam dan mengobati lukanya" ucap paman Randi


"kak Dirga mana paman...?" tanyaku karena sejak tadi aku tidak melihatnya


"dia mengejar Aris yang kabur. sepertinya dia akan menggunakan Aris untuk masuk ke dalam lingkungan mereka. biarkan saja, dia tau apa yang akan dia lakukan" jawab paman Pram


kami semua masuk ke dalam rumah. penjagaan masih diperketat jangan sampai masih ada lagi serangan mendadak berikutnya. kami tidak boleh lengah sedikitpun, karena jika kami lengah sedikit saja, tentu saja musuh akan semakin mudah untuk menyerang.


ibu datang membawa obat dan mengobati luka kak Deva. Melati tidak beranjak sedikitpun dari sisi kak Deva. mungkin karena dia merasa bersalah makanya itu dia ingin memastikan kalau kak Deva baik-baik saja.


"apakah kita aman sekarang...?" tanya ayah


"untuk sekarang iya pak, namun kita akan benar-benar aman jika kita sudah menangkap Baharuddin dan semua antek-anteknya" jawab paman Pram


aku memilih menjauh dari mereka karena aku ingin menghubungi kak Dirga. aku ingin memastikan keadaannya kalau dia baik-baik saja.


bahkan sudah ketiga panggilan, kak Dirga belum menjawab panggilanku. apa jangan-jangan dia kenapa-kenapa.


pikiran negatif mulai merecoki otakku yang kini sedang mencemaskan kak Dirga. aku mencoba menghubunginya lagi dan barulah panggilan keempat kak Dirga mengangkat panggilanku.


"kakak dimana sekarang...? kak Dirga baik-baik saja kan...? kenapa pergi tanpa sepengetahuan kami...? aku langsung memberikan pertanyaan beruntun saat kak Dirga mengangkat teleponku


"banyak sekali pertanyaan mu, seperti sedang ujian saja" kak Dirga menjawab seperti biasa, dengan gaya suara tengilnya


"gue khawatir tau kak, kalau kakak kenapa-kenapa gimana"


"aku sedang menjalankan misi jadi jangan ganggu dulu. kalau sudah selesai aku akan menghubungi kalian"


tuuuuuuut


suara panggilan terputus, kak Dirga memutuskan panggilan secara sepihak. dasar kakak nggak ada akhlak. sikapnya tidak berubah sama sekali.


aku kembali bergabung bersama yang lain dan duduk di samping Alana.


"Dirga mana..?" tanya ibu. mungkin ibu baru sadar kalau ia tidak melihat putra sulungnya itu


"dia sedang menjalan misi Bu, ibu tidak perlu cemas" jawabku


"bagaimana ibu tidak cemas. lihatlah, Deva saja terluka. kalian semua anak-anak ibu, ibu mana yang tidak cemas memikirkan anaknya sedang mengerjakan pekerjaan berbahaya sekarang" ucap ibu


perkataan ibu membuat aku bungkam dan tidak lagi menjawab. benar kata ibu, ibu mana yang tidak akan khawatir memikirkan anaknya masuk ke sarang musuh yang dapat membahayakan nyawanya. aku saja tadi sangat cemas dengan keadaan kak Dirga, apalagi ibu.


"dia akan baik-baik saja bu, kita doakan saja mereka. El juga akan menyusul Dirga nantinya, hanya doa seorang ibu yang dapat menembus langit ke tujuh. ridhoi apa yang mereka lakukan" ayah merangkul ibu


aku mendekat dan bersimpuh di kaki wanita yang sudah merawatku sejak kecil. meskipun tidak terlahir dari rahimnya, tapi kasih sayang yang ia berikan melebihi kasihnya kepada anak kandung.


"ridho ibu selalu menyertai kalian semua" ibu mengelus lembut wajahku


aku segera memeluk ibu, Alana datang dan bergabung. ayah merangkul kami semua ke dalam pelukannya.


esok harinya aku sudah bersiap untuk dijemput kak Furqon. aku yang menjadi adiknya saat ini, sedang menunggu di bengkel dimana tempat tinggal kami berdua untuk sementara.


sebenarnya pemilik bengkel ini memang bernama Abimana Aryasatya. dia adalah mahasiswa jurusan komunikasi yang sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi miliknya agar bisa cepat lulus. Abimana adalah teman dari paman Helmi. bengkel ini adalah langganan paman Helmi jika mobilnya mengalami kerusakan.


karena saat ini identitas Abimana dipakai oleh kak Furqon maka untuk sekarang Abimana tinggal di tempat lain. hal itu dilakukan agar jangan sampai Gibran atau siapapun datang ke tempat ini dan menyelidiki kami berdua.


para pekerja di bengkel ini telah diberitahu oleh Abimana bahwa sekarang ada yang berpura-pura menjadi dirinya. ia juga memberitahu tujuan dari kami melakukan hal itu. maka dari itu, Abimana menyuruh semua pekerjaannya agar memanggil kak Furqon dengan panggilan Abimana sebagai bos dari bengkel ini.


untuk identitasku sendiri, aku bernama Syakir. karena Abimana tidak memiliki adik dan dirinya adalah anak bungsu, maka dari itu jika akan ditanyakan hubunganku dengan kak Furqon nanti, maka jawabannya kami adalah saudara tapi bukan saudara kandung melainkan aku adalah anak yatim-piatu yang diangkat menjadi adik oleh kak Furqon.


harusnya status anak yatim-piatu itu akan disandang oleh kak Deva sebagai Nabil Pramana, namun karena kak Deva tidak lagi ikut serta maka status sebagai anak yatim-piatu dialihkan kepadaku.


sebelum aku datang ke sini, aku sudah dibekali oleh paman Helmi. tubuhku di pasangkan alat penyadap agar nanti apapun yang aku bicarakan dengan lawan bicaraku akan di dengar oleh paman Helmi dan yang lain. sementara telingaku di pasangkan headset untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. untungnya rambutku sudah sedikit panjang sehingga headset yang aku pakai tertutupi dengan rambutku yang sejak keriting berwarna coklat. aku tidak memakai kacamata untuk dipasangkan kamera, karena hal itu dapat membuat Gibran curiga jika nanti aku dan kak Furqon sama-sama memakai kacamata.


"Syakir, di minum tehnya...kenapa malah melamun...?


seorang remaja yang seusia denganku datang menghampiriku.kami baru saja berkenalan tadi. namanya adalah Hamdan. selama kak Abimana tidak ada disini, dia yang menghandle bengkel.


"iya" jawabku dan aku langsung menyeruput teh yang disiapkan untukku


"kamu akan tinggal di sini kan...? aku harap kamu betah, setidaknya aku punya teman" ucap Hamdan


di belakang bengkel ini, adalah sebuah rumah yang cukup besar untuk di tinggali dua orang. Abimana dan Hamdan tinggal berdua di rumah itu dan mulai sekarang aku dan kak Furqon akan tinggal juga di rumah itu. Hamdan adalah adik sepupu dari Abimana, makanya itu mereka tinggal satu atap.


"iya, semoga kita bisa berteman baik" ucapku tersenyum


"boleh aku tanya sesuatu...?" tanya Hamdan


"silahkan" jawabku


"apa sekejam itu orang yang kalian tangkap sehinga kamu dan kak Furqon harus menyamar"


haduh, sebenarnya aku tidak ingin membahas ini. bagaimanapun juga ini adalah masalah keluarga ku, aku tidak ingin orang lain dapat masalah jika aku bergaul dengan mereka.


"iya, tapi kamu harus janji kak, jangan bocorkan identitas kami ke orang lain selain kalian pekerja di bengkel ini yang sudah tau"


"tenang saja, aku bisa jaga rahasia kok" ucap kak Hamdan


"ya sudah, aku tinggal dulu ya...mau ke kampus soalnya. kamu nggak apa-apa kan menunggu kak Furqon sendirian...?"


"nggak apa-apa kak, aman kok"


kak Hamdan pergi meninggalkan ku. dia memang seorang mahasiswa dan belum lama masuk kuliah. itu artinya, kak Hamdan masih tergolong Maba atau mahasiswa baru.


sekian lama menunggu akhirnya kak Furqon datang juga. dia datang tidak sendirian namun bersama dua orang yang bertubuh kekar dan berotot. mungkin mereka adalah orang-orang Baharuddin yang mengawal kak Furqon. bisa jadi mereka datang untuk memastikan bagaimana kehidupan kak Furqon dan diriku.


"pagi bos" salah seorang laki-laki menyapa kak Furqon saat masuk ke dalam bengkel


kak Furqon sudah mengenal nama semua orang-orang yang bekerja di sini, itu berkat paman Helmi yang mengirimkan semua gambar orang-orang di sini serta nama mereka.

__ADS_1


"pagi juga Man, gimana semua aman kan...?" kak Furqon berlagak seperti seorang bos sebenarnya.


laki-laki yang menyapa kak Furqon adalah laki-laki yang bernama Salman.


"gue yang nggak aman bos, perlu vitamin asupan gizi nih. nasi uduk di sebrang sana enak kayaknya tuh bos"


laki-laki yang sepertinya seumuran dengan kak Furqon, menimpali ucapan mereka. dia bernama Fikri


"nih, beli untuk semuanya" kak Furqon memberikan uang merah tiga lembar


"woaaaah....baik kali lah bos ini. okey, gue cabut dulu" Fikri mengambil uang itu dan keluar dari bengkel untuk membeli makanan


"tunggu kami di sini" ucap kak Furqon kepada dua orang yang bersamanya tadi


"kami ikut ke dalam" salah satunya yang memiliki kulit putih menjawab sementara yang satunya lagi yang memiliki rambut ikal seperti kak Furqon, hanya diam saja namun matanya menelisik ke segala arah


"baiklah" kak Furqon membiarkan mereka ikut


kami berdua keluar dari bengkel lewat pintu belakang. tepat berkata beberapa meter, sebuah rumah lumayan besar berdiri kokoh di hadapan kami.


kami mendekat dan kak Furqon mengambil kunci di dalam jaketnya kemudian kami pun masuk ke dalam.


"ikut kakak" kak Furqon menarik tanganku untuk masuk di sebuah kamar


"kenapa kak...?" tanyaku saat pintu telah ditutup rapat


"Gibran akan membawa kita untuk bertemu dengan Baharuddin" kak Furqon menjawab pelan


"bagus itu, dengan begitu kita tau dimana persembunyiannya" paman Pram menimpali


karena headset yang ada di telingaku dan juga kak Furqon, kami bisa saling berkomunikasi lewat benda kecil itu.


"secepat itu Gibran ingin mempertemukan kalian dengan Baharuddin...?" tanya paman Randi


"sebenarnya, Baharuddin sendiri yang meminta Gibran untuk membawa kami padanya. dan apa kalian tau, tuan muda Dirga sekarang sudah berhasil masuk ke dalam lingkaran mereka. berkat jasanya yang berpura-pura menolong Aris waktu orang suruhan tuan muda Dirga akan menghajar Aris dan di situlah tuan muda Dirga menjadi pahlawan kemalaman" ucap kak Furqon


"kok pahlawan kemalaman sih kak...?" aku mendengar suara Leo yang sedang protes


"karena dia menjadi pahlawan pada malam hari, kalau siang hari jelas pahlawan kesiangan" jawab kak Furqon enteng


satu hal yang aku baru tau dari kak Furqon kalau ternyata dia mempunyai sisi humor yang sama tengilnya dengan kak Dirga. buktinya kami sedang serius mendengarkan ceritanya, masih sempat-sempatnya juga dia menyelipkan kata-kata yang menurutku lucu.


"hihihi, kak Furqon lucu deh" aku mendengar suara Alana


"oh, berani kamu ya muji laki-laki lain di depan aku" suara Leo mulai yang mulai kesal


"hadeeeh....bucin....bucin" paman Randi mengejek Leo


"Fur, rekam dalam memori kamu dimana tempat yang akan kalian tuju untuk bertemu Baharuddin" paman Helmi berucap serius


"kenapa nggak langsung kamu lacak saja di laptop kamu" jawab kak Furqon


"antisipasi Fur, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi" jawab paman Helmi


"baiklah. ayo kita keluar"


kak Furqon membuka pintu. kami berdua menghampiri dua orang tadi dan memberitahu agar kembali ke tempat Gibran berada.


"Man, gue cabut dulu ya...ada urusan" kak Furqon berpamitan kepada kak Salman


"oke bos" Salman mengangkat jari jempol kanannya


"thanks asupan gizinya bos" ucap Fikri yang sedang makan bersama yang lain


"sama-sama kembali" jawab kak Furqon


kami keluar dari bengkel dan masuk ke dalam mobil yang berwarna hitam. aku dan kak Furqon duduk di kabin tengah sementara dua orang tadi berada di depan. satu orangnya yang mempunyai rambut ikal menyetir mobil.


sepanjang jalan bibirku bungkam tidak bersuara. sementara kak Furqon mengetik sesuatu di hp-nya dan memperlihatkan padaku.


"jika nanti kita harus diuji coba untuk melihat seberapa jauh kemampuan kita, jangan pernah kamu keluarkan keris larangapati milikmu" aku membaca tulisan itu


"kenapa...?" tanyaku spontan


"ehem" kak Furqon besuara dan menarik HP-nya kembali karena salah seorang yang duduk di depan memutar kepala melihat ke arah kami.


"dia kan sudah melihatnya semalam, bukannya itu yang kamu gunakan sebagai mainan mu...?" ucap kak Furqon


aku paham maksud dari ucapan kak Furqon. mainan dalam artian aku pergunakan sebagai senjata untuk melawan Gibran.


"maaf bang, kami berdua sedang membahas pacar adikku ini" Furqon memberikan alasan saat dua orang itu mengawasi kami di kaca spion gantung


benar-benar kak Furqon ini, aku dijadikan tumbal atas pembicaraan kami.


"adikku ini selingkuh, makanya aku sedang menasehati dia bang"


uhuk...uhuk


aku tersedak ludahku sendiri bahkan saking kagetnya, air mataku sampai keluar karena batukku yang tidak kunjung berhenti.


"minum" orang yang duduk di samping kemudi memberikan aku botol air minum. dengan cepat aku meneguknya hingga tersisa setengahnya saja


"biasa aja kali tuan muda, baru gitu saja sudah mau jantungan" kak Furqon berbisik di telingaku


"aku punya pacar aja nggak, bisa-bisanya kakak bilang aku selingkuh. fitnah itu namanya" aku mencebik kesal namun dengan suara pelan


"hehehe"


kak Furqon hanya cengengesan, ingin sekali rasanya aku menyumpal mulutnya dengan botol air minum yang aku pegang. ekspresi wajahnya sama halnya dengan kak Dirga. astaga, sepertinya mereka berdua adalah saudara seperguruan, sama-sama menjengkelkan.


_____________________________________


catatan :


terimakasih untuk penilaian kalian tentang novel ini 🙏🙏🙏


mampir juga yuk di novelku yang lain Fatahillah, ceritanya nggak kalah seru dari novel ini.


untuk pembaca setia PTM, sayang kalian banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer dari author Awan Biru 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2