
Vino melepas pelukannya dan menatap wajah sayu starla yang berlinang air mata. ia menghapus air mata itu dengan tangannya yang lembut.
"kok nangis...?"
"elu jahat tau nggak" starla masih terisak
"elu pergi nggak pamit sama gue. gue berhari-hari nunggu elu di tempat biasa kita main"
"maaf, gue nggak bermaksud dan gue nggak tau" Vino merasa bersalah
"kenapa elu ninggalin gue waktu itu...?" starla membalas tatapan Vino
"gue nggak bermaksud ninggalin elu. waktu itu memang bokap pindahnya dadakan dan terpaksa gue juga harus ikut" rasa bersalah menguak di hati Vino.
"gue menunggu seharian tau di tempat itu. elu udah janji buat datang dan elu bilang gue harus nunggu sampai elu datang. nyatanya sampai gue diguyur hujan pun elu nggak datang"
"maaf, maafin gue" Vino kembali memeluk gadis itu.
"gue janji nggak bakal lagi ninggalin elu" Vino menangkup wajah starla
"benar...?"
"iya"
"janji...?" starla mengangkat jari kelingkingnya
"janji" Vino mengaitkan jarinya ke jari gadis itu
"aku sayang kamu" tatapan lembut Vino membuat hati starla menghangat. panggilan mereka pun diubahnya
"aku juga" gadis itu mengangguk cepat
"benaran sayang sama aku, nggak sama El...?" Vino menaik turunkan alisnya
"nggak, nanti aku ceritakan. terus untuk kamu, Nisda gimana...?"
"nggak akan ada Nisda ataupun yang lain selain kita. udah jangan nangis lagi, nanti tambah cantik terus aku nggak mau pulang" godanya membuat gadis itu memukul dada Vino dengan pelan dan mereka kembali berpelukan
sementara Adam, setelah mereka sampai di rumah El, hantu itu langsung menyapa teman-temannya di atas pohon mangga.
"halo mba kuuuuun, mas pociiiii" lambaian tangannya mengarah ke pada dua makhluk astral itu. mba Kun membalas lambaian tangan Adam sedangkan mas poci hanya nyengir dan itu membuat dirinya terlihat menakutkan
"jadi penghuni tetap mereka ya" El melirik kedua makhluk itu
"mereka itu adalah penghuni VIP, nggak bisa diganggu oleh siapapun" jawab Adam langsung melayang ke arah pintu
siang berganti malam, kini waktu magrib menghampiri bahkan suara adzan magrib telah selesai di kumandangkan saat mereka masih berada di perjalanan tadi.
"kok mati lampu ya...?"
"eh iya, kenapa nih. habis pulsa kah"
El mengambil handphonenya yang baterainya sisa beberapa persen saja. ia menyalakan senter handphone dan melangkah mendekati Adam untuk membuka pintu.
cek lek
"assalamualaikum... kyaaaaaaaa"
"kyaaaaaaa"
plaaaaak
dugh
"aduuuh"
El yang baru saja membuka pintu di kagetkan dengan sosok yang berdiri di depan pintu entah siapa itu.
dia dan juga Adam sama-sama teriak. namun Adam teriak bukan karena takut melainkan hantu itu kaget karena El berteriak dengan kerasnya membuat dirinya seketika kaget dan ikut berteriak melompat-lompat kemudian dengan gerakan refleks ia menampar wajah El sehingga kepala El membentur dinding.
"aaww... sakit banget" El mengelus kepalanya yang terbentur
"kakak ngapain teriak-teriak sih" sosok yang berada di depan pintu itu ternyata Alana
"gimana nggak teriak, kamu ngapain berdiri di pintu segala. malah wajah kamu putih kayak gitu juga macam setan. jelaslah kakak teriak. untung kakak nggak kejang-kejang" sungut El dengan kesalnya mengarahkan senternya ke arah Alana
"nggak kejang-kejang tapi aku hampir jantungan" timpal Adam yang ikutan kesal namun tentunya tidak di lihat oleh Alana
"enak aja Alana di bilang setan. ini masker tau, bagus untuk kulit wajah, supaya bisa awet muda terus"
"wah iya kah, kalau begitu aku juga mau pakai supaya bisa tambah awet ganteng terus dan kembali menjadi 15 tahun lebih muda" ucap Adam
"cih. elu mah dibalik. angka 1 di simpan di belakang jadi 51 lebih aki-aki" jawab El masih memegang kepalanya
"iiiih... Lana masih 15 tahun loh kak, tiga bulan lagi 16 tahun. sejak kapan Lana jadi umur 51 tahun, aki-aki pula. emang Lana laki-laki apa" sungut Alana dengan sewotnya
"iya, harusnya iki-iki ya kan.. karena kamu kan perempuan" timpal Adam memiringkan kepalanya menatap Alana
"bahlul" El menggeplak kepala hantu itu membuat Adam cemberut
lampu yang tadinya mati akhirnya menyala juga dan nampak jelaslah wajah Alana yang memang putih memakai masker..
"huftt nyala juga akhirnya. untung nyala cepat kalau nggak aku sunat kamu lampu" celetuk Adam
"elu yang gue sunat" cebik El
El menatap kesal ke arah Adam lantaran tamparannya tadi. yang di tatap hanya nyengir kuda dan mengangkat dua jadi.
"hehehehe...piiiiis" nyengir Adam dan El memutar bola matanya
"udah sholat dek...?"
__ADS_1
"Lana nggak sholat kak, lagi dapat" jawabnya
"lagi dapat....?" kening Adam mengkerut sempurna
"oh ya sudah, kakak masuk dulu mau sholat"
"nggak sekalian jamaah sama ayah aja. ayah juga baru pulang"
"ayah sudah pulang dari luar kota...?"
"udah"
"sekarang dimana...?" wajah El terlihat senang
"di dalam lah kak, dimana lagi"
"di bumi mungkin" jawab asal Adam "eh tapi ini kan memang bumi kan ya...aih insomnia memang membuat aku lupa diri" lanjutnya
"amnesia" ucap El memperlurus
"siapa yang amnesia...?" tanya Alana menatap lurus El
"makhluk astral" jawab El langsung melengos pergi
"ih, kakak aneh" gumamnya
"dia bukan aneh lagi, tapi mendekati miring" ucap Adam yang melayang mengikuti El
karena waktu magrib mendekati habis, sementara El belum melihat ayah Adnan, akhirnya anak itu sholat di dalam kamarnya. selesai sholat menjatuhkan tubuhnya di kasur. hari ini adalah hari yang paling melelahkan untuknya. ia pejamkan matanya hingga akhirnya dirinya terlelap..
"El, bangun"
"bangun nak, sholat isya"
euhghhhh
"ayah"
buuuk....
El-Syakir menghambur memeluk ayah Adnan. beberapa hari tidak bertemu membuat dirinya sangat merindukan sosok pahlawannya itu.
"El rindu"
"ayah juga rindu. udah ah, ayo bergegas sholat. udah jam 9 nih, tidak baik menunda waktu sholat"
"jam 9, lama juga aku tidurnya ya" ucap El melirik jam dinding
"lama banget, aku sampai bosan bangunin kamu yang tidurnya kayak kebo" cibir Adam di meja belajar
El hanya melirik sinis ke arah hantu itu. ia masih kesal karena tadi mendapatkan tamparan yang tak terduga bahkan sampai kepalanya terbentur dinding.
"ayah tunggu di luar ya"
setelah ayah Adnan pergi, El masuk ke kamar mandi dan berwudhu Kemudian melaksanakan sholat isya. untuk Adam, hantu itu hanya mencoret-coret buku El menghilangkan jenuhnya.
"El"
"hmmm" jawab El yang melipat sajadahnya
"lapaaar" rengeknya
"tidur"
"ish, aku lapar bukan ngantuk"
"ya terus kalau lapar harus ngapain...?"
"jungkir balik, salto-salto, sampai poge. yah makanlah. aku lapar mau makan melati banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer" kini Adam menjelma menjadi seperti anak kecil
"yah jangan sampai tumpah-tumpah juga kali dam. kasian nanti mubazir" El mengganti pakaian sholatnya dengan baju biasa
"nggak urus. pokoknya mau melati. ayo beli melati yuk" rayunya dengan wajah yang ia buat-buat
"ini sudah malam, besok aja belinya. sekarang puasa dulu ya"
"tau ah aku ngambek, nggak mau bicara sama kamu" Adam memalingkan wajahnya
El menghela nafas panjang. ia melangkah mengambil handphonenya dan dirinya sibuk beberapa menit dengan benda pipih itu. setelahnya ia menyimpannya kembali di atas kasur.
"mau melatinya berapa...?" tanya El lembut
"banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer" jawabnya masih memalingkan wajah
"kalau tumpah-tumpah kan kasian, nanti mubazir loh"
"aku pungut lagi terus simpan di tempat besar supaya nggak tumpah-tumpah"
"eh, aku kan lagi ngambek" hantu itu tersentak sendiri
"iiiiiih tuh kan, gara-gara kamu nanya mulu aku jadi nggak konsen ngambeknya. adegannya di ulang. sekarang aku ngambek betulan. nggak mau bicara, titik" Adam melirik El sekilas setelahnya ia membuang muka dengan tangannya ia lipat di dadanya
"ada ya ngambek-ngambekkan" ucap El merasa lucu
"adalah" jawab Adam ketus
"seperti elu contohnya"
"nggak"
"eh" Adam tersadar lagi karena baru saja menjawab pertanyaan El akibat terus dipancing untuk bicara
__ADS_1
"hish....kesal kesal kesal, huwaaaaa aku jengkel sama kamu. keluar sana" Adam melayang ke kasur dan malah uring-uringan di sana dengan mengguling-gulingkan dirinya
tanpa menggubris hantu itu, El melangkah keluar kamar yang sudah di tunggu ayah Adnan di ruang tengah.
ibu Arini menyuruh putranya itu untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka menghabiskan waktu bersama karena hanya tinggal El yang belum makan malam.
di tempat lain, Zidan sedang duduk di samping Vania. pria itu menggenggam erat tangan kecil wanita itu seakan tidak sudi untuk melepasnya.
pakaiannya telah ia ganti dengan baju yang dibawa oleh Randi. hanya Randi yang datang ke rumah sakit karena Helmi sedang bertemu dengan seseorang.
"apakah kamu lelah sehingga kamu memilih untuk tidur...?"
"aku akan membiarkan kamu untuk tidur sejenak, tapi setelah itu kamu bangun ya. tidak baik perempuan tidur lama-lama" ia membelai lembut kepala Vania
setelah merasa cukup, ia mencium tangan dan kening wanita itu sebelum akhirnya keluar dari ruang UGD.
"bagaimana kedua orang itu...?" tanya Zidan duduk di kursi yang berhadapan dengan Pram dan Randi
"sesuai perintahmu, kami membawa mereka ke tahanan bawah tanah agar tidak ada seorangpun yang dapat menemukan mereka" jawab Randi
"lalu mana Helmi...?" tanya Zidan lagi
"sebenarnya tadi kami akan datang bersama namun ia mendapat telpon dari seseorang dan mengajaknya bertemu" jawab Randi
"apa dia sedang kencan. siapa yang menghubunginya dalam keadaan tegang seperti ini" timpal Pram
"biarkan saja, itu artinya dia sudah laku tinggal kalian berdua. sekarang aku ingin pergi menemui dua orang itu. suruh pengawal untuk berjaga di depan ruangan ini dan kalian berdua ikut denganku
"baik bos" jawab keduanya
kini langkah panjang ke tiga pria itu memasuki tahanan bawah tanah yang di dalamnya terlihat sangat mengerikan bagi mereka yang berada di dalam.
setelah masuk, seorang penjaganya langsung menyalakan lampu sehingga di lorong tahanan itu menjadi terang benderang.
"dimana...?" tanya Zidan
"sel yang paling Ujung" jawab Randi
ketiganya kembali melangkah menyusuri lorong tahanan itu. rupanya jauh juga dari pintu masuk hingga mereka sampai di ujung lorong dimana dua orang menjadi pengisi tahanan yang saling berhadapan.
Rudi di kurung di tahanan sebelah kanan sedang Thalita berada di ruang sel sebelah kiri.
wajah keduanya pun sudah babak belur dihajar oleh para pengawal Zidan yang geram dengan kelakuan keduanya.
masker dan kaca mata Thalita kini terlepas sehingga semua orang dapat melihat wajahnya.
"bagiamana kamar VIP yang aku sediakan, nyaman kan...?" ucap Zidan
"cih, tidak usah berbelit-belit. jika ingin membunuhku maka lakukan sekarang juga" ucap Rudi
"no no no. tidak secepat itu mas Rudi. aku masih ingin bermain-main dengan Kalian berdua" Zidan berjongkok menatap lurus Rudi kemudian menggoyangkan jari telunjuknya di depannya
"aku harap wanita itu mati" ucap Thalita
Zidan tersenyum smirk kemudian beralih mendekati wanita itu. wajahnya cantik dan kulitnya putih namun bagi Zidan tidak lebih cantik dari kekasihnya yang sekarang terbaring di ranjang rumah sakit.
"ternyata kamu cantik juga, aku jadi berpikir dua kali untuk bersama wanita yang kamu maksud itu" ucap Zidan membuka sel tahanan Thalita
"kamu baru sadar, aku memang lebih cantik dari wanita ****** itu. aku lebih pantas untukmu dibandingkan dia" Thalita memasang wajah yang dibuat seimut mungkin
Zidan mendekatinya dan berjongkok di hadapan wanita itu. ia mendekati telinga Thalita dan membisikkan sesuatu.
"kamu sangat seksi. maukah kamu bermain denganku...?" bisik Zidan di telinga Thalita membuat wanita itu meremang
"aku akan melayani mu dengan sepuas yang kamu mau" ucapnya
Zidan menatap lembut wanita itu. Thalita sungguh dibuat terpesona dengan wajahnya yang tampan.
perlahan Zidan mendekatkan wajahnya ke wajah Thalita. tau apa yang akan dilakukan oleh Zidan, Thalita menutup matanya menunggu aksi liar yang akan dilakukan pria itu. namun siapa sangka, khayalannya tidak sesuai kenyataan.
Zidan mencengkram wajah Thalita dengan kerasnya dan
duuggh
dengan kerasnya pria itu menghantam kepala Thalita di dinding selnya. Thalita berteriak sakit apalagi kepalanya mengeluarkan darah segar.
"kamu gila" teriak Thalita memegang kepalanya
"loh kenapa sayang. bukannya kamu ingin melayaniku bermain sepuas yang aku mau" Zidan tersenyum menyeringai
"nggak aku nggak mau. kamu gila. dasar pria tidak waras" Thalita mundur perlahan saat Zidan kembali mendekatinya
"aku memang seperti ini dari dulu. tapi jangan khawatir, aku akan buat kamu menikmati permainan ku dengan sebaik mungkin"
plaaaaak
tangan besar Zidan mendarat di wajah mulus Thalita. wanita itu tersungkur ke dinding sel.
"bagaimana rasanya di tampar, hmmm. sakit nggak. pastinya sakit ya, melihat wajahmu meringis seperti itu"
"begitu juga yang di rasakan kekasihku saat kamu menampar wajahnya"
Pram dan Randi hanya saling pandang. selama ini bos mereka tidak pernah menyakiti wanita namun kali ini, pria itu ternyata sangat kejam terhadap wanita.
mereka bertiga berniat kembali. urusan menyiksa, Zidan serahkan kepada pengawalnya yang menjaga mereka. asal tidak membuat mereka mati sebelum menikmati penyiksaan yang mereka berikan.
"kamu pikir setelah menangkapku dirimu akan aman. kamu salah, bahkan meski kamu membunuhku semuanya tidak akan berhenti di sini karena dia akan tetap menghabismu seperti dia melakukannya kepada Burhan dulu" ucap Rudi
Zidan dan kedua pengawalnya langsung menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Rudi.
"apa maksudmu...?" Zidan berbalik dan mendekati sel tahanan Rudi menatap tajam lelaki itu
__ADS_1
"hahahaha. kamu hanya menangkap lalat kecil Zidan, sedangkan ikan paus besar di luar sana masih berkeliaran" Rudi tersenyum menyeringai