Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 206


__ADS_3

Adam dan Deva sedang menunggu kedatangan Zulfan yang sampai saat ini belum juga kembali. keduanya duduk di dalam mobil dengan mata tetap fokus ke depan.


"barang ini sudah tidak berguna, sepertinya rusak" Adam melepaskan headset yang ada di telinganya dan membuangnya di tanah


"Zulfan kenapa lama sekali, sudah hampir 2 jam dia belum juga kembali" Deva melihat jam hp miliknya karena ia tidak memakai jam tangan


"apa dia tertangkap oleh ratu Sri Dewi. wanita itu sangat sakti, pasti dia bisa merasakan kedatangan arwah seperti Zulfan. bisa gawat kalau sampai itu terjadi" lanjut Deva lagi


"coba saja kalau ada El, kita bisa memintanya mengeluarkan keris miliknya untuk mencari jejak kemana perginya Zulfan tadi" timpal Adam


"andai aku bisa lepas raga seperti yang aku lakukan dulu saat mengincar kuntilanak merah, tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu lagi" lanjut Adam


"kamu pernah lepas raga...?


"pernah, hanya sekali dan itu yang terkahir kalinya karena sekali aku nggak bisa melakukan itu lagi"


"memangnya kenapa...?"


"entah...aku juga tidak tau" Adam mengedikkan bahunya


wuuuussshhh


angin seketika masuk ke dalam mobil dan seseorang yang mereka tunggu sudah berada di dalam mobil.


"kabur kabur" ucap Zulfan dengan wajah panik dan menepuk cepat bahu Adam


"loh kenapa...?" tanya Deva yang memutar kepala melihat ke arah Zulfan


"banyak setan yang ngejar aku, ayo kabur" jawab Zulfan


"kamu bertemu dengan ratu Sri Dewi...?" tanya Adam


"kabur dulu nanti aku ceritakan, mereka banyak loh memangnya kalian sanggup menghadapi mereka. malah kita di tempat sepi begini" Zulfan nampak panik


Adam segera menyalakan mobilnya dan sayangnya mobil itu tidak bisa dinyalakan. bahkan berkali-kali Adam melakukannya tetap saja mobil itu tidak bisa diajak kerjasama.


"kenapa...?" tanya Deva


"nggak mau nyala"


Buuuuuum


braaaaak


dari atas mobil seperti dihantam benda yang begitu berat sehingga mobil tersebut bergoyang dengan hebat.


"gawat, mereka datang" ucap Zulfan


bugh


bugh


atap mobil di pukul dengan kerasnya hingga menjadi ringsek ke dalam. bukan hanya itu, kaca-kaca mobil tanpa ada yang menyentuh pecah begitu saja. Adam dan Deva menunduk agar tidak terkena pecahan kaca.


Zulfan menembus dinding mobil dan menendang makhluk yang berada di atasnya hingga makhluk itu jatuh ke tanah. Adam dan Deva keluar dan menjauh dari mobil.


makhluk besar berbulu dengan mata merah menyala dan telapak tangan yang lebih besar, dua kali lipat dari telapak tangan manusia. bertanduk dan mempunyai taring yang tajam.


makhluk besar itu tidak seorang diri melainkan di belakangnya sudah berkumpul para makhluk gaib dengan berbagai rupa dan jenis. berbaris seperti pasukan militer dan siap untuk bertempur.


"bukannya bertemu wanita ular itu, kita malah kedatangan tamu yang banyak" ucap Adam


dirinya bersama Deva dan Zulfan berdiri beberapa meter jaraknya dari para makhluk-makhluk yang berwajah mengerikan dan menakutkan itu.


"mereka banyak banget, sedang kita hanya bertiga saja. aku nggak yakin bisa mengalahkan mereka" ucap Deva


"tidak ada cara lain, siapkan mental dan kekuatan penuh untuk melawan. mereka berjumlah ratusan" jawab Adam


"wanita itu kita mengikutinya dan sekarang dia mengirimkan kita pasukannya. lalu bagaimana ini...?" Zulfan sebenarnya ragu untuk melawan para lelembut itu namun seperti yang Adam katakan tidak ada cara lain selain melawan


"kalian siap...?" tanya Adam


"siap" jawab Deva


"bisa ambil pemanasan dulu nggak...?" jawab Zulfan


"kamu kira kira sedang latihan senam, maju sana" Deva mendorong Zulfan sehingga hantu itu terbawa ke depan


"SERANG" teriak Adam


"LARI" teriak Zulfan


bukannya melawan Zulfan malah melayang ingin melarikan namun dengan cepat Adam menangkapnya dan menarik baju hantu itu kemudian menyeretnya untuk ikut bertarung.


ddduuuaaaar

__ADS_1


ddduuuaaaar


Deva memusatkan tenaga dalamnya ke telapak tangan dan mengarahkan tangannya ke depan hingga keluar cahaya merah dari telapak tangannya. setiap dari mereka mengenai kekuatan Deva, para makhluk itu akan meledak. tubuh mereka terbelah dan terpisah kemudian hilang seperti debu.


sedang Adam menghajar satu persatu yang datang menyerangnya hingga ia kini berhadapan dengan makhluk besar yang berbulu tadi.


Zulfan yang seumur hidup baru menghadapai makhluk gaib, langsung melayang ke sana kemari karena terus dikejar oleh beberapa lelembut yang ingin menghabisinya.


"woooi memangnya kalian tidak capek ngejar saya terus" Zulfan melayang dan terus menghindar


"toloooooong...aku tidak mau mati lagi" Zulfan menghampiri Adam dan melompat naik di punggungnya padahal saat ini adalah sedang bertarung dengan makhluk yang bernama genderuwo


"astaga Zul, turun kamu"


swing


swing


genderuwo melancarkan serangannya ke arah Adam, karena tidak bisa menghindar dikarenakan Zulfan yang ada di punggungnya, Adam membuat perisai untuk menahan serangan lawannya. dengan perisai itu tidak akan membuat Adam dan Zulfan terluka. bahkan Adam mengembalikan sihir itu kembali kepada tuannya.


genderuwo menghindar saat akan terkena serangannya sendiri sehingga hanya mengenai tiang listrik dan seketika lampu menjadi padam. yang tadinya terang kini berubah menjadi gelap.


dalam keadaan yang gelap Adam tidak bisa melihat dimana keberadaan Deva dan begitupun dengan Deva, ia tidak tau dimana Adam berada. sedang para lelembut itu mempunyai kesempatan emas untuk menghajar keduanya.


bugh


bugh


Adam terseret beberapa meter ke belakang, hampir saja ia menabrak batang pohon yang ada di depan rumah warga. untungnya Zulfan menahannya dan menariknya menjauh tatkala adalagi makhluk yang akan melancarkan serangan kepada Adam.


"kak Deva, gunakan kekuatan anginmu seperti di puncak Boneng kemarin" teriak Adam


Deva memang tidak mempunyai cara selain apa yang dikatakan oleh Adam. mereka tidak bisa bertarung dalam keadaan yang begitu gelap. bisa membahayakan nyawa mereka kalau mereka tidak melarikan diri atau melakukan sesuatu.


Deva berdiri dengan tegak dan merapat kedua tangannya di depan dada. kemudian ia mengambil kuda-kuda dengan mengangkat kaki kanannya dan tangan kanannya pun ia angkat.


Deva membaca mantra, ia pusatkan tenaga dalamnya di telapak tangannya. kemudian ia menurunkan kakinya dan tangan kanannya memukul tanah.


seketika tanah itu berguncang, angin yang tadinya bertiup sepoi-sepoi kini mulai semakin kencang dan muncullah angin besar ****** beliung. angin besar itu menyapu semua para lelembut di tempat itu. Adam berpegangan di batang pohon sementara Zulfan berpegang di kaki Adam.


semenit kemudian angin kencang hilang begitu saja dan semuanya normal seperti sebelumnya. Adam buru-buru masuk ke dalam mobil dan berusaha menyalakan kendaraan itu, agar lampu mobil dapat menerangi sekitar mereka. untungnya mobil yang tadinya tidak bisa menyala kini normal seperti biasa.


Deva terduduk di tanah karena begitu lelah bertarung dengan banyaknya lelembut, sementara Adam berbaring di atas tanah. Zulfan melayang dan duduk dibagian depan mobil.


"Alhamdulillah kita selamat" ucap Zulfan


"kalau manusia aku tentu akan melawan tapi kan mereka setan" jawab Zulfan tidak ingin dipanggil penakut


"mereka teman kamu tau, kamu juga kan setan" ucap Deva


"aku tidak mau berteman dengan mereka, aku kan sudah punya kalian" jawab Zulfan


"sekarang ceritakan kepada kami, apakah kamu sudah mengetahui dimana tempat persembunyian wanita ular itu dengan Baharuddin...?" tanya Adam


"mereka....."


Zidan, para pengawal serta tim samudera laki-laki menunggu di depan ruangan rawat Vania. sejak tadi dokter yang memeriksa Vania belum juga keluar membuat Zidan begitu khawatir takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


setelah dokter keluar, Zidan menghampiri sang dokter dan menanyakan keadaan Vania.


"bagaimana kondisi istri saya dokter...?" tanya Zidan


"Alhamdulillah, kondisinya kembali stabil" jawab dokter


"Alhamdulillah" mereka semua mengucapkan syukur


"apa aku boleh masuk untuk melihatnya...?"


"tentu boleh. ajaklah bicara istri anda meskipun ia sedang koma namun semoga saja alam bawah sadarnya merespon dan membuat dia berjuang untuk cepat sadar"


"baik dok, terimakasih"


dokter laki-laki itu menepuk pelan bahu Zidan kemudian meninggalkan mereka semua bersama seorang perawat. sementara Zidan langsung masuk ke ruangan Vania. El-Syakir dan ketiga sahabatnya berniat untuk melihat keadaan Gibran. saat mereka masuk rupanya di sana sudah Furqon dan Bagas serta dokter Nathan yang menangani Gibran.


"bagaimana keadaannya dok...?" tanya El-Syakir


"dia berhasil aku selamatkan atas izin Tuhan" jawab dokter Nathan


"kapan dia akan sadar...?" tanya Bagas


"beberapa jam lagi, biarkan dia istirahat. karena kalau dia sadar aku yakin dia akan meminta pulang" jawab dokter Nathan


Bagas menghela nafas dan ia duduk di samping Gibran.


"apa yang harus kita lakukan sekarang Gibran. rencana kita pasti sudah diketahui oleh Baharuddin" gumam Bagas

__ADS_1


cek lek


pintu kamar rawat Gibran terbuka, mereka adalah Zidan dan ketiga pengawal. Zidan menatap lurus ke arah Gibran yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. ia mendekati ranjang yang ternyata status laki-laki itu adalah keponakannya sendiri.


"apa benar dia anaknya Baharuddin...?" tanya Zidan


"aku dan tuan muda El mendengar sendiri percakapan Gibran dan Aris waktu kami akan memindahkan Vania" jawab Furqon


"lalu dimana ibunya...?" tanya Zidan


"ibunya adalah seorang ART. karena kecantikannya Baharuddin jatuh hati kepada ibunya Gibran hingga mereka menikah dan lahirlah Gibran. mereka memiliki dua orang putra namun anak kedua.... dijadikan tumbal oleh Baharuddin. untuk menyelamatkan Gibran agar tidak dijadikan tumbal, ibunya Gibran menitipkan Gibran kepada ibuku dan membawanya pergi jauh dari kota ini. aku tumbuh besar bersama dengannya" dokter Nathan menatap teduh wajah Gibran


"namun tanpa aku dan ibuku tau kalau ternyata didalam hatinya telah tumbuh dendam yang begitu besar dan tekad untuk membunuh Baharuddin saat ia mendapatkan kabar kalau ternyata.... ibunya menjadi gila dan meninggal karena dibunuh oleh ayahnya sendiri dan dijadikan tumbal kepada iblis pemujanya"


"sejak saat itu dia menjadi laki-laki yang pendiam, dan terus berlatih bela diri kemudian kembali ke kota ini. Baharuddin tidak pernah tau bagaimana wajah anaknya setelah dewasa makanya itu Gibran mendekat Baharuddin, mendapatkan kepercayaannya dan menjadi tangan kanan laki-laki itu"


"padahal kan Baharuddin mencintai ibunya Gibran, kenapa dia tega membunuhnya dan menjadikannya tumbal, bahkan anaknya pun dia jadikan tumbal...?" tanya Helmi


"Baharuddin curiga kepada istrinya kalau ibunya Gibran selingkuh dengan laki-laki lain. dengan alasan itu dia menyiksa ibunya Gibran sampai mentalnya rusak dan menjadi gila kemudian membunuh anak dan istrinya padahal semua itu tidaklah benar"


"keluarga yang menyedihkan" ucap Pram


"dia keponakan mu bos, sepertinya kehidupannya selama ini begitu sulit" ucap Randi


"aku baru tau kalau ternyata aku mempunyai keponakan yang umurnya sepertinya seumuran Dirga" ucap Zidan


"dia berumur 25 tahun" timpal dokter Nathan


"lah, aku pikir Gibran seumuran paman Zidan, karena pertama kali aku melihatnya dia terlihat begitu sangat dewasa" ucap El


"sejak masih kecil dia memang dipaksa untuk bersikap dewasa" timpal dokter Nathan


padahal rencana awal mereka adalah mencari informasi tentang Baharuddin dimana tempat ia bersembunyi dengan cara mendekati Gibran namun ternyata laki-laki itu kini malah menjadi target dari kebiadaban Baharuddin.


"apakah dia tau dimana keberadaan Baharuddin...?" tanya Zidan


"laki-laki itu, datang tiba-tiba dan pergi begitu saja seperti jelangkung. jika Gibran tau dimana keberadaannya, sudah dari dulu ia merencanakan sesuatu untuk membunuh ayahnya itu. namun sayang Baharuddin kadang berada di kantornya, dan kadang memilih tempat lain jika ingin bertemu dengan Gibran atau dia yang mendatangi Gibran sendiri"


"kenapa susah sekali mencari manusia iblis itu" geram Furqon


"lalu kenapa bisa dirinya menjadi seperti ini...?" tanya Helmi


euughh


Gibran telah sadar, ia meringis sakit dan memegang perutnya.


"Nathan" panggil Gibran dengan lirih


"kamu sudah sadar, ada yang sakit...?" dokter Nathan panik melihat wajah Gibran meringis


"perutku sakit"


"itu karena obat pereda rasa sakit telah hilang. akan aku suntikan lagi"


dokter Nathan berdiri mengambil jarum suntik yang ada di samping Gibran kemudian benda itu ia tusukkan di botol infus Gibran.


Gibran melihat satu persatu semua orang yang ada di dalam ruangannya. ia nampak kaget kenapa bisa keluarga Sanjaya ada bersama dengannya.


"kamu belum mati...?" Gibran menatap Zidan


"kamu berharap pamanmu ini mati...?" timpal Zidan


"aku bukan bagian dari keluarga Sanjaya jadi kamu bukan pamanku. aku membenci keluarga Sanjaya"


"tapi sayangnya takdir berkata seperti itu"


Zidan mendekat Gibran dan duduk di sampingnya, Bagas berpindah tempat agar keduanya dapat leluasa untuk berbicara.


"silahkan kamu benci aku, aku tidak masalah. di sini aku hanya ingin bertanya apakah kamu tau keberadaan Baharuddin sekarang...?"


Gibran bergeming dan tidak ingin menjawab, bahkan wajahnya ia palingkan ke arah lain.


"andai aku tau kalau mas Baharuddin mempunyai anak, tentu aku akan cari tau siapa anak itu. jika aku tau anaknya menderita selama ini, tentu aku akan membawanya tinggal bersamaku dan tidak akan ada kebencian di hatimu terhadap keluarga Sanjaya. tapi sayangnya saat kamu baru saja lahir, aku baru berumur 10 tahun. dan saat kamu berusia lima tahun, aku baru 15 tahun. saat kamu kesulitan aku juga dalam keadaan terpuruk. kedua orang tuaku meninggal dan semua karena ulah ayahmu, saudaraku sendiri. kamu pikir aku bisa membantumu dimana aku masih begitu remaja dan kehilangan tujuan hidup setelah kedua orang tuaku pergi"


usia Zidan dan kedua kakaknya memang terpaut jauh. saat dia baru balita, kedua saudaranya akan beranjak remaja.


Gibran memutar kepala dan melihat Zidan yang kini tengah menatapnya dengan lekat.


"keluarga Sanjaya tidak semuanya bersifat iblis seperti ayahmu. jika kamu merasa ditelantarkan maka aku meminta maaf atas semua yang pernah terjadi padamu"


Zidan menghentikan ucapannya kemudian menghela nafas dan kembali berbicara.


"jika kamu tidak menganggap aku keluargamu, tidak mengapa. tapi aku akan tetap menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga Sanjaya karena kamu memang mempunyai darah yang mengalir dari keluarga Sanjaya"


Zidan bangkit dan berjalan menjauhi Gibran yang belum ingin mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


"kita keluar" ucap Zidan kepada tim samudera dan pengawalnya


__ADS_2