Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 108


__ADS_3

kini tim samudera berada di belakang kelas, tempat yang mereka jadikan tongkrongan saat jam istrahat. El, Leo dan Vino masih belum berganti pakaian. mereka masih mengenakan baju olahraga.


"nih kak" Alana memberikan minuman botol yang telah ia buka penutupnya kepada Leo. gadis itu ikut bergabung bersama mereka. tidak ada Seil karena gadis itu sedang bersama temannya yang lain


"thanks Lana" Leo mengambil dan meminumnya


"bentar jadikan nginap di rumah gue. nyokap gue udah bikin kue kayak kemarin, bahkan gue ikut bantuin" Vino berucap


"berarti sekarang udah tau bikin kue dong yank" Starla menimpali


"paling bantuin kasi ancur dapur tante Nifa. benar kan" prediksi Leo


"elu kalau ngomong suka benar deh Le" jawab Vino manyun


"jadi lah. gue udah izin sama bokap nyokap gue kalau nginap di rumah teman" ucap Nisda


"pulang langsung ke rumah gue atau gimana...?" tanya Vino


"pulang dulu ke rumah lah. nanti sore baru ke rumah elu" jawab Bara


"siapin melati banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer ya buat aku. aku suka lemas kalau nggak ada melati soalnya. hidupku tanpa melati bagai petir tanpa kilat" Adam berucap di atas pohon sana


"petir sama kilat sama aja sukijang" cebik Vino melihat ke atas kepala mereka


"apa hubungannya pulang ke rumah sama petir dan kilat kak Vino...?" Alana bertanya karena heran tiba-tiba saja Vino mengatakan hal yang tidak nyambung dengan ucapan Bara. padahal sebenarnya Vino sedang menjawab ucapan Adam


"hehehehe... iya ya, apa hubungannya ya" Vino nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sedang Alana mengernyitkan keningnya melihat tingkah remaja itu


Starla hanya geleng-geleng kepala, pacarnya itu menurutnya memang lain daripada yang lain. selalu saja ada tingkah konyolnya yang ia perbuat.


ting....


handphone Alana berbunyi. gadis itu memeriksa siapa yang mengirim pesan dan ternyata pesan itu dari Seil.


"kak, aku kembali ke kelas ya. ada urusan sama Seil" Alana berpamitan


"cepat banget baliknya Lana" ucap Leo menatap gadis itu


"Seil manggil aku kak. Lana pergi dulu ya" Alana beranjak dan meninggalkan mereka semua


namun saat tubuh Alana tidak terlihat lagi tiba-tiba saja ia kembali lagi dengan berlari kecil.


"roti aku ketinggalan, hehehehe" Alana mengambil rotinya, roti yang dibelikan El untuknya dan kemudian gadis itu menghilang di balik tembok


Leo gemas dengan tingkah gadis itu. semakin hari dirinya ingin terus melihat senyuman gadis itu.


"abis nginap di rumah Vino, kapan-kapan nginap lagi di rumahku gue ya" ucap Bara setelah beberapa menit hening tanpa suara


"emang ada apaan di rumah elu...?" Leo melirik sekilas


"ada kursi, meja, sofa, televisi, dan moni" bukan Bara yang berbicara melainkan Adam yang menjawab


"moni...?" kening mereka semua mengkerut mendengar ucapan Adam


"moni itu kucing gue" ucap Bara saat semua mata tertuju padanya


"masih ada itu kucing sampai sekarang ya. padahal udah lama loh aku koma di rumah sakit. udah bertahun-tahun dan si moni masih nafas aja dia belum metong" celetuk Adam dengan santai ia menggelantung di atas pohon. kepala di bawah dan kaki di atas


"ck, kakak sumpahin moni cepat mati. jahat banget sih" Bara mencebik


"bukan sumpahin, hanya takjub aja kalau si moni masih nafas belum metong"


"nah tuh kan, kakak sumpahin moni mati" Bara tetap menuduh


"haduuuuuh... otak mu terbuat darimana sih. lalot banget kayak siput. beli jaringan sana supaya otakmu langsung terkoneksi dan nggak lambat loading" jawab Adam


"ck, otak gue malah mengalahkan jaringan 4G. enak aja ngatain otak siput" Bara mencebik kesal


"ngambek lagi. itu bibir pengen aku cium deh, gemes banget kayak mulut ikan" Adam melayang turun dan menghampiri Bara


"gue masih normal ya kak. mending cium si moni daripada kakak"


"hooooo ketahuan kamu yaaa.... sering kissing kissing sama si moni" Adam menggoda Bara


"wah Nis, elu dimadu sama si moni" kali ini Vino yang bicara


"beruntung banget itu si moni ya. dia udah kissing kissing, lah gue aja belum pernah" Nisda menimpali dan melirik Bara. niatnya hanya ingin menggoda saja


"uhuk.... uhuk" Bara terbatuk-batuk mendengar ucapan Nisda, wajahnya bahkan merah padam merasa malu


"berarti kamu harus jadi seperti moni Nisda, supaya bisa di kissing sama Bara" ucap Adam

__ADS_1


"jadi kucing maksudnya...?" timpal El


"ho'oh" Adam menjawab santai tanpa dosa


"ogah banget gue. mending nggak usah kissing sekalian, selamanya juga nggak apa-apa" timpal Nisda


"kenapa malah bahas yang begituan sih. cari topik lain deh" ucap Starla yang merasa hal seperti itu tidak perlu dibahas oleh mereka


"mau cari topi dimana. di sini nggak ada yang pakai topi" Adam menimpali dengan wajah sok polosnya


"topik maemunah..... topik" Leo ingin sekali menjitak kepala Adam


"oh topik, aku kira topi" Adam cengengesan memperlihatkan giginya yang rapi


"eh, bicara topik yang lain nih ya. gue ada topik, sekolah kita kedatangan guru baru" Nisda berbicara sambil memakan kacangnya


"guru baru. cowok apa cewek...?" Starla bertanya


"ayang apaan sih nanya kayak gitu. semangat banget aku liat" Vino memicingkan matanya


"hanya pengen tau aja kok yank. nggak usah liat kayak gitu napa" Starla menjawab lembut


"gue denger-denger sih katanya cowok, single pula. banyak yang bilang dia ganteng kayak oppa oppa" Nisda menjawab tersenyum


"oma oma ada nggak. aku mau guru perempuan, seperti oma Shi Min Ah" Adam menoleh ke arah Nisda


"oma oma pala kau. namanya nggak pakai oma Adam Hawa. ada-ada aja elu ini" Leo menggeleng kepala


"kan yang laki-laki sering dipanggil oppa, berarti kalau perempuan dipanggil oma dong. iya kan El" Adam meminta pembelaan kepada adiknya


"entah" El mengangkat kedua bahunya


pembicaraan mereka terhenti karena bel pelajaran kedua telah terdengar di telinga. mereka semua beranjak dan kemudian berpisah di depan kelas untuk masuk ke kelas masing-masing.


Starla yang merasa ingin buang air kecil langsung berlari ke toilet. sudah tidak ada siswa-siswi di luar kelas, semuanya telah berada di dalam kelas menunggu guru yang akan masuk mengajar.


selesai dengan urusan toilet, Starla kembali ke kelasnya. ia berlari karena takut guru mata pelajaran kedua telah masuk dan dirinya akan dihukum karena terlambat.


bughh


tidak sengaja dirinya menabrak seseorang. pria dengan kemeja merah maron dan memegang beberapa buku di tangannya. Starla sampai terduduk di tanah karena ia menabrak pria itu dengan sangat keras dan dirinya terjauh. namun pria itu tidak terjadi apa-apa dengannya.


"kamu tidak apa-apa...?" tanya pria itu


"lain kali hati-hati. jangan berlarian seperti tadi. bisa bahaya kalau kamu tersandung dan jatuh" ucapnya memperingati


"iya pak. sekali lagi maafkan saya" Starla mengangkat kepala untuk melihat pria itu


Starla mengernyitkan keningnya karena baru pertama kali melihat pria itu. dan saat itu juga tercium bau bunga melati yang sangat menusuk hidungnya.


(bau melati) batin Starla


"kembali ke kelasmu" perintahnya


"baik pak"


Starla berlalu dan sesekali melihat ke belakang dimana pria itu juga melangkah menuju kelas yang akan ia ajar. rupanya pria itu memasuki kelas dimana ada El-Syakir, Leo dan Vino di dalamnya. wangi bunga melati masih menyeruak di indra penciumannya. hingga saat pria itu menjauh darinya, wangi bunga melati sedikit demi sedikit menghilang


"apa dia guru baru yang dimaksud Nisda ya" ucapnya berpikir


"eh tapi, bau bunga melati tadi darimana ya" Starla mencoba kembali untuk mencium bau wangi bunga melati namun ia tidak merasakannya lagi


"tau ah, mending gue masuk kelas" ia berlalu masuk ke dalam kelasnya


pria yang ditabrak oleh Starla tadi telah berada di dalam kelas. semua siswi heboh karena mereka kedatangan guru baru yang tampan dan menawan.


"aaaa ganteng banget"


"ya ampun calon imam gue"


"fix, gue harus pdkt sama dia"


berbagai respon ditunjukkan oleh semua siswi yang ada di dalam itu. El hanya geleng-geleng kepala. tidak habis pikir, semua perempuan di kelasnya tidak bisa melihat laki-laki yang tampan. dulu juga dirinya sangat di Idolakan bahkan sampai sekarang. namun dirinya bersikap cuek dan tidak menggubris para siswi yang berusaha mengambil perhatiannya.


"selamat pagi menjelang siang semuanya" sapanya dengan ramah


"pagi menjelang siang juga pak" jawab semuanya


"perkenalkan nama saya Aldiano, guru baru di sekolah ini. saya harap kita bisa berinteraksi dengan baik ya dan saling menghargai sebagai siswa dan guru" guru baru itu memperkenalkan diri


"kok bau melati ya" Leo berucap pelan

__ADS_1


"iya. baunya nyengat banget" Vino menimpali


El pun sama, dirinya bisa mencium wangi bunga melati setelah guru baru itu masuk ke dalam kelas mereka. bahkan wanginya sangat begitu menusuk hidung.


"El, elu cium wangi melati juga nggak...?" tanya Leo


"iya" jawab El mengangguk


"Aldo, elu cium bunga melati nggak...?" Vino bertanya kepada teman sebangkunya itu


"wangi melati apaan sih. gue nggak cium apa-apa. malah yang gue cium bau keringat gue" jawab Aldo melihat ke arah Vino


"masa elu nggak cium sih. Siska, elu cium wangi bunga melati nggak...?" Vino bertanya pelan ke siswi yang duduk di depannya itu


"nggak, gue nggak cium bau bunga-bunga. emang kenapa sih...?" Siska berucap pelan


"nggak, nggak apa-apa" jawab Vino menggeleng


ketiganya merasa aneh. jelas sekali mereka mencium bunga melati namun kedua teman mereka saat ditanya, mereka tidak mencium bau apapun.


El menatap guru baru itu. tidak ada yang aneh dari gerak-geriknya, semuanya biasa saja sama seperti guru yang lain. bahkan sikapnya sangat ramah dan mudah mengakrabkan diri dengan semua siswa-siswi di kelas itu.


(darimana asalnya wangi melati ini) batin El


"aneh nggak sih El. sejak pak Aldiano masuk di kelas kita, gue langsung nyium bunga melati. bunga melati kan identik dengan " mereka", tapi gue nggak melihat sosok makhluk halus di dekat pak Aldiano " Leo berucap pelan, matanya tetap fokus ke depan


"gue juga sama seperti elu. ini kak Dirga kemana sih. kalau ada dia kan kita bisa tanya, mungkin dia tau sesuatu" timpal El


semenjak tadi saat mereka masuk, Adam memang tidak menampakkan dirinya. bahkan Leo yang duduk di samping jendela tidak melihat hantu itu di tempat mereka nongkrong tadi.


"Jalan-jalan mungkin. bosen juga kali dia ngintilin kita terus" ucap Leo


pelajaran mulai berlangsung, pak Aldiano menjelaskan dengan ramah dan semua siswa-siswi dapat mengerti dengan cepat. hingga tiba mata pak Aldiano bertemu pandang dengan El, pria itu menatap dalam ke arah El membuat El tidak nyaman dan menundukkan kepalanya.


"siapa ketua kelasnya...?" tanya pak Aldiano


"saya pak" El mengangkat tangannya


pak Aldiano melihat ke arah El. tatapannya dingin tanpa ekspresi namun sedetik kemudian senyumnya tersungging di bibirnya.


"kumpulkan semua tugas-tugas temanmu, setelah itu bawa ke meja saya"


"baik pak"


"siapa namamu...?"


"El-Syakir pak"


"kamu sepertinya tidak bisa diremehkan" pak Aldiano menatap lurus ke arah El-Syakir


"hah...?" El bingung dengan ucapan yang dilontarkan oleh guru baru itu


Leo dan Vino saling pandang, mereka juga bingung apa maksud dari guru baru mereka itu.


"maksud saya, kemampuan otakmu tidak bisa diremehkan. bukankah kamu juara kelas dan juga juara umum di sekolah ini...?" pak Aldiano tersenyum


"bapak tau darimana...?" El menelisik


"tentu saya tau. siswa yang berprestasi tidak mungkin tidak dikenal oleh para dewan guru. kalau begitu saya tunggu tugas teman-teman mu di meja saya"


"baik pak" jawab El


pak Aldiano keluar dari ruangan itu. melati yang tadinya terus tercium di telinga mereka perlahan menghilang dan dan tidak tercium lagi.


"baunya hilang" ucap Vino seketika


"apa yang hilang...?" Aldo bertanya


"nggak, bukan apa-apa" jawab Vino berbohong


"kok gue rada gimana sama itu guru ya" ucap Leo menyerahkan buku tugasnya kepada El


"rada gimana maksud lu Le...?" tanya Aldo yang juga memberikan tugasnya kepada El


"rada minder karena dia terlalu ganteng melampaui kegantengan gue" jawab Leo nyengir


"idih...PD banget anda tuan Leo Sebastian" Aldo memutar bola matanya


setelah semua tugas teman-temannya terkumpul, El-Syakir segera menuju ke kantor untuk memberikan tugas-tugas itu kepada pak Aldiano. sepanjang jalan otaknya terus berpikir, berpikir tentang ucapan guru baru itu saat di dalam kelas tadi.


"kamu sepertinya tidak bisa diremehkan"

__ADS_1


"kenapa gue merasa ucapannya itu punya makna lain ya" gumam El


__ADS_2