
"ratu Sri Dewi" Adam dan El serempak menyebut nama wanita itu
di foto gadis yang bernama Seil indriani itu, wanita yang pernah mereka hadapi beberapa waktu lalu tertangkap kamera. entah apa yang dilakukan wanita penguasa kegelapan itu namun yang pasti berhubungan dengannya adalah salah satu langkah yang sangat menjerumuskan diri sendiri ke liang dosa.
"dia ngapain di tempat ini" El terus memperhatikan kembaran ratu Sundari itu
"apa kamu tau dimana ini...?" tanya Adam. karena jujur dia penasaran kenapa bisa ratu Sri Dewi ada di tempat itu. Jangan-jangan wanita itu telah mendapatkan budak baru untuk mencarikan dirinya tumbal
"nggak tau gue kak. pantai di sini kan banyak" jawab El. ia berjalan menggantung handuknya dan setelah itu ia memakai pakaian sholatnya karena magrib sebentar lagi menyapa
"haaaaah, semoga dia nggak mencari tumbal lagi" Adam menghela nafas
"harusnya waktu di alam ratu Sundari, kita tanya apakah ratu Sri Dewi sudah dikalahkan atau belum. wanita itu sangat berbahaya. gue takutnya dia mencari manusia tamak lagi untuk dijadikannya budak dan mencarikannya tumbal bayi seperti kemarin"
"kita harus cari tau pantai dimana ini, agar kita bisa tau dia ada di sana atau nggak" ucap Adam
"kakak mau berurusan lagi dengannya...? dia berbahaya kak"
"kalau dia mencari tumbal lagi, nggak mungkin kita biarkan begitu saja kan"
"kita tidak sepadan dengannya kak, dia sangat sakti. lawannya itu harus yang mempunyai ilmu sakti seperti dirinya. ratu Sundari tepatnya"
"entahlah. mungkin dia punya titik kelemahan dan dengan itu kita bisa mengalahkannya tanpa merepotkan ratu Sundari lagi. aku jadi rindu dia, kalau lihat wajahnya" Adam teringat ratu Sundari. karena wajah keduanya begitu mirip
"tinggal ke tempatnya aja kali kak. kakak nggak takut ya LDR" El duduk di kursi belajar menunggu adzan magrib
"takut untuk apa. dia juga nggak bakal ngapa-ngapain" Adam menyimpan handphone El-Syakir dan kembali ke laptop
"masih ingat pangeran Ragiman nggak kak...?"
"ingatlah, kenapa...?"
"dia kan suka sama ratu Sundari. Jangan-jangan nih ya, mereka berdua sering bertemu. kakak kan nggak tau apa-apa, malah sibuk di sini" sepertinya El-Syakir mulai nakal
Adam yang mendengar perkataan adiknya langsung mempause film yang ia nonton dan duduk bersilah.
"yaaa nggak apa-apa juga mereka bertemu. mereka kan teman" Adam tidak ingin termakan ucapan El begitu saja
"tidak ada yang murni dalam pertemanan antara pria dan wanita kak. entah yang satunya ngarep, entah dua-duanya ngarep. hal itu sudah lumrah terjadi. apalagi pangeran Ragiman yang jelas-jelas suka sama ratu Sundari"
"darimana kamu tau kalau pria itu menyukai ratu Sundari...?"
"dari dayang istana. tapi sepertinya mereka cocok sih. gimana menurut kakak...?"
"no..... ratu Sundari punya aku ya, enak aja main tikung. berani merebutnya dariku aku sikat dia pakai sikat wc" Adam menekuk wajahnya dan memanyunkan bibirnya
(hehehehe, kakak lucu banget) El terkekeh dalam hatinya
adzan magrib terdengar, setelah adzan selesai El segera melaksanakan sholat magrib. sementara Adam, ia kembali memainkan laptop El-Syakir namun pikirannya tertuju kepada wanita yang berbeda alam dengannya itu.
"kira-kira kalau aku panggil, dia datang nggak ya" gumam Adam
"ratu Sundari, kamu dengar aku tidak. aku rindu" lanjutnya lagi dengan lirih
"apa aku ke tempatnya saja ya. nanti sajalah lah. kumpul-kumpul saja dulu kangennya, nanti membludak baru ketemu"
"gini nih kalau LDR, beda dunia lagi. percintaanku unik sekali ya" Adam tersenyum lucu dan kembali fokus dengan tontonannya
selesai dengan kewajibannya, El-Syakir mengambil buku latihannya dan mengejarkan tugas yang diberikan oleh guru.
"El, melati ada nggak...?"
"di tas"
adam melayang mengambil tas El-Syakir untuk mengambil melati yang mereka beli tadi saat perjalanan pulang dari rumah Vino.
"kak, gue boleh tanya sesuatu...?" El duduk menyamping menghadap ke arah Adam
"tanya apa...?" Adam sibuk memakan melatinya
"kalau nanti kakak ketemu dengan gadis yang bernama Melati, bagaimana. apa yang akan kakak lakukan...?"
"yaaa nggak melakukan apa-apa"
"dia suka sama kakak" kalimat El-Syakir membuat Adam terdiam
"tapi aku nggak. aku juga nggak memberikan harapan ke dia" Adam menaruh melatinya
"tapi ratu Sundari memberikan dia harapan. ratu Sundari mengembalikan Melati ke alam manusia dengan mengatakan kalau dia bisa mengejar cintanya di sini. sudah jelas cinta yang ratu maksud adalah kamu. Melati cinta sama kakak"
__ADS_1
"aku akan mengatakan sama dia kalau aku tidak bisa membalas perasaannya. hati nggak bisa dipaksa El dan aku harap dia bisa terima"
"yah, hati memang nggak bisa di paksa" El kembali fokus dengan tugasnya
malam berganti pagi, seperti biasa tim samudera akan mengikuti pelajaran seperti hari-hari sebelumnya. kini di kelas El sedang berada di tengah lapangan mengikuti pelajaran olahraga.
Adam pun begitu semangat mengikuti pelajaran itu. dirinya selalu melebih-lebihkan gaya yang ia buat, membuat El, Leo dan Vino menahan tawa karena tingkah hantu itu. seperti yang di lakukannya sekarang ini, bukannya mengikuti gerakan yang dilakukan pak Salman guru olahraga, hantu itu malah sibuk PBB di di depan mereka.
"hadap kanan grak, hadap kiri grak, tendang kanan grak, tendang kiri grak. tonjok kanan grak"
bughh
tanpa sengaja saat mengulurkan tangannya ke samping kanan, Adam malah meninju pak Salman membuat guru itu kaget bukan main.
"haduh, salah sasaran" Adam menggaruk kepalanya
"siapa yang meninju ku" pak Salman begitu heran dan bingung. pasalnya tidak ada orang di sampingnya namun tiba-tiba saja ia merasa seperti dipukul oleh sesuatu
El kaget melihat tingkah kakaknya itu, sementara Leo dan Vino menggigit bibir agar suara mereka tidak lepas dari mulut karena tawa mereka yang ingin meledak.
"maaf Pak guru, aku sengaja" ucap Adam
"eh maksudnya nggak sengaja" ia meralat kembali ucapannya
"pak guru kenapa...?" tanya Aldo
"tidak kenapa-kenapa" pak Salman kembali memberikan intruksi
semua siswa-siswi mengikuti gerakan pemanasan yang di lakukan oleh pak Salman. namun Leo dan Vino serta El tidak konsen karena ulah dari teman hantu mereka.
"siaaaaaaap grak. hormaaaaaat grak" Adam berteriak seakan dirinya pemimpin upacara
"tegaaaaaaap grak, haaaachi" Adam seketika bersin membuat adik dan kedua temannya tertawa ngakak. pasalnya Adam bersin menghadap ke arah pak Salman membuat air liurnya menyemprot guru olahraga itu
"hujan kah...?" pak Salman mengangkat kepalanya melihat langit yang begitu cerah
"tidak ada hujan, tapi ini kok muka ku basah begini" pak Salman melap wajahnya
"El-Syakir, Vino Erlangga, Leo Sebastian. apa yang kalian tertawakan...?" pak Salman bertanya dingin membuat ketiganya diam seketika
"maaf pak" ucap El menunduk
"1 2 3 4 5 6 7 8
1 2 3 4 5 6 7 8"
pak Salman menghitung dan melakukan gerakan untuk semua siswa-siswi ikuti. bosan dengan PBB, Adam mengikuti gerakan yang mereka lakukan.
"1 2 3, 1 2 3" Adam menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri
"auoooooo.... uooooo" kini Adam sudah berada di tiang bendera bergelantungan seperti monyet
tiga jam mengikuti pelajaran olahraga, El dan kedua sahabatnya keringatan dan bahkan sekarang mereka baring di bawah pohon yang rindang.
"yaaah kok berhenti sih. aku kan masih ingin main" keluh Adam
"main aja sendiri sono" timpal Leo ngos-ngosan
"haus banget gue. panas lagi. kulkas.... gue butuh kulkas" Vino berteriak mengipas dirinya dengan daun
"cari minum yuk, gerah banget nih" ajak Leo
"ke toko depan aja yuk, malas di kantin gue. pasti padat lagi" El yang bersandar di punggung Adam memberikan usul
"kuy lah, sekalian beli cemilan banyak di sana" Vino bangun begitu juga dengan Leo
ketiganya menuju gerbang sekolah. setelah meminta izin kepada satpam yang ada di tempat itu mereka segera keluar dan akan menyebrang ke sebrang jalan untuk ke toko yang mereka tuju. bukan hanya mereka yang belanja di toko itu tapi banyak juga siswa-siswi yang lainnya yang lebih memilih membeli cemilan daripada ke kantin sekolah.
"gue ambil coklat deh, Starla kan suka coklat" Vino mengambil beberapa coklat
mereka mencari minuman dan juga beberapa snack yang akan dijadikan cemilan nantinya. Adam yang tidak memakan makanan manusia, ia hanya sibuk mencari sabun wajah di rak lain. hantu itu bahkan mengambil beberapa produk yang menurutnya akan membuat wajahnya kinclong dan bersih.
"ngapain kak...?" El bertanya karena keranjang yang ia pegang sudah terisi dengan belanjaan hantu itu
"belanja lah ngapain lagi" jawabnya santai
"kakak mau pakai semua ini...?" El mengernyitkan keningnya
"ho'oh supaya aku awet muda dan selalu tampan. yang ini sepertinya bagus ya" Adam mengambil masker wajah
__ADS_1
El memutar bola matanya namun tetap membiarkan kakaknya itu mengambil sesukanya. ia memilih beberapa roti selai coklat untuknya dan juga untuk teman-temannya nanti. saat sibuk mencari cemilan, dua orang siswi datang menghampirinya.
"Hai El" sapa keduanya
El yang disapa menoleh dan melihat kedua gadis itu sudah tersenyum manis ke arahnya.
"Hai" jawab El tersenyum. dia tidak ingin dianggap sombong oleh orang lain
"aaaaa senyumnya manis banget" mereka seperti cacing yang kepanasan melihat senyuman tampan El-Syakir
"ada apa ya...?" tanya El yang sebenarnya risih dengan tingkah kedua gadis itu
"jaket dari gue udah diterima nggak. semoga elu suka ya" gadis yang berambut panjang dan punya papan nama yang tertulis Freya berucap
"kalau jam tangan dari gue gimana, elu suka kan. itu jam tangan dari LN loh" gadis berambut sebahu yang bernama Anggi berucap
"jadi jaket dan jam tangan itu dari kalian...?" tanya El
"iya" mereka mengangguk cepat dan tersenyum manis
"lain kali nggak usah kasih hadiah yang seperti itu. gue nggak butuh dan sayang uangnya kalian membeli barang yang begituan"
"elo nggak suka ya...?" Freya bertanya dengan wajah lesu. pemikirannya, El tidak menyukai jaket yang ia berikan
"suka dan terimakasih. tapi lain kali nggak usah kasih gue apapun itu" El tidak memberitahu kalau semua hadiah-hadiah itu tidak diambilnya
"sepertinya bukan hanya mereka yang memberikan hadiah. hadiah kemarin kan banyak, bukan hanya jaket dan jam tangan" Adam menimpali dan bersandar di rak kumpulan makanan
"aaaaa gue senang banget kalau elu suka. emmm, boleh minta nomor elu nggak" Freya menampilkan gigi gingsulnya
"kak El" Alana yang ternyata berada di toko itu langsung menghampiri El-Syakir. ia bersama dengan Seil
Freya dan Anggi yang melihat kedatangan Alana dan Seil seakan tidak suka. terlebih lagi saat Alana menggaet lengan El-Syakir membuat mereka berdua meradang.
"kalian di sini juga, belanja apaan...?" El bertanya kepada adik dan temannya
"roti. aku mau yang itu dong kak, coklat kacang" Alana menunjuk roti yang berada di dekat mereka
"udah kakak ambil. elu Seil mau beli apa, nanti gue ambilin" El-Syakir melihat ke arah Seil
"gue roti juga deh. yang selai nanas ya" jawab Seil tersenyum
"ok. ada lagi yang mau kalian beli...?" El bertanya sambil mengambil roti kesukaan Seil
"aku mau coklat kak, boleh nggak...?" ucap Alana
"boleh dong, apa sih yang nggak buat kamu" El mengacak rambut Alana
"aaaa kak El emang pengertian deh. Alana memeluk El-Syakir"
"gatel banget sih nih cewek" cebik Anggi yang tidak suka dengan tingkah Alana
"iya, sok cantik banget" Freya jengah
mereka berucap pelan jangan sampai El-Syakir mendengarnya tanpa mereka tau kalau Adam mendengar perkataan mereka.
"El, boleh kan gue minta nomor lu...?" Freya kembali bersikap manis
"maaf Freya, lain kali aja ya. ayo Lana, Seil" El memegang tangan Alana meninggalkan dua gadis itu yang semakin kesal dan jengkel terhadap Alana
"nyebelin banget sih tuh cewek. awas aja lu" Freya mengepalkan tangannya
"harus dikasih pelajaran tuh cewek. kegatelan banget sama calon pacar gue" Anggi menghentakkan kakinya
"enak aja calon pacar lu. El itu calon gebetan gue ya, nggak usah halu deh lu" Freya menatap sinis ke arah Anggi
"idih PD banget lu. elu tuh yang nggak usah ngehalu tingkat dewa. lagian cantikkan juga gue daripada elu" Anggi mengibaskan rambutnya
"El punya gue"
"nggak bisa, El punya gue"
mereka mulai bersitegang. Adam hanya geleng-geleng kepala dan tanpa sengaja ia menjatuhkan beberapa roti karena sandarannya. kedua gadis itu kaget, kenapa tiba-tiba roti yang ada di depan mereka jatuh begitu saja. dan yang paling membuat mereka langsung ketakutan adalah saat roti yang jatuh itu melayang di depan mereka.
"kyaaaaaaa setaaaan" Freya dan Anggi lari tunggang langgang
"lah, pada kabur" ucap Adam yang sedang memungut roti yang ia jatuhkan
Adam kembali menyimpan roti-roti itu di tempatnya semula dan kemudian ia menyusul El dan yang lainnya yang tengah membayar belanjaan mereka di kasir.
__ADS_1