Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 198


__ADS_3

"JANGAN"


suara teriakan Adam, Deva dan Vino membuat bapak yang membuka kotak kayu itu tersentak kaget dan dengan refleks menjatuhkan penutup kotak kayu tersebut.


"astaghfirullah.... kalian mengagetkanku saja" bapak itu mengelus dada


kepalanya yang memutar melihat ke arah tiga remaja itu langsung memutar lagi untuk melihat isi kotak di depannya. untungnya Adam berlari cepat dan menutup mata si bapak dengan kedua tangannya.


"loh kenapa mata saya ditutup...? " tanya si bapak dimana Adam membawanya menjauhi mobil yang mereka sewa


"maaf pak tapi isi di dalam kotak tidak boleh dilihat oleh orang lain. bisa bahaya pak, nyawa kami bisa terancam" ucap Adam


"memangnya ada apa dengan isi di dalamnya sampai harus membahayakan nyawa kalian semua" tanya Lanang dimana matanya melihat ke arah kotak-kotak kayu tersebut


Vino segera mengambil penutup kotak kayu itu dan menutupnya dengan rapat kemudian menutup bagasi mobil karena semua kotak telah di pindahkan.


"kami juga tidak tau kak, kami hanya menjalankan tugas dari bos kami. dia berpesan agar isi di dalam kotak ini tidak boleh di lihat oleh orang lain. kalau dia tau bapak sama kak Lanang membuka kota ini, bisa mampus kami kak. bos kami orangnya tempramental, rada-rada gila" jawab El-Syakir


"loh bukannya kalian bilang itu untuk ibu Aida, istri dari paman kalian" ucap si bapak


bapak itu mulai curiga kepada ketiga remaja yang ada di hadapannya. bahkan ia begitu penasaran apa isi di dalam kotak tersebut.


"kalian sedang tidak membawa narkoba atau semacamnya kan...? " tanya si bapak


Adam, Deva dan Vino saling pandang. mereka terkesiap si bapak bisa menebak isi di dalam kotak.


"waduh, bahaya kalian kak" ucap El yang mendengar percakapan ketiganya lewat headset yang ada di telinganya


"hahaha" Adam tertawa


"iya kali pak kami bawa narkoba. kalau kami bawa barang-barang itu sudah ditangkap kami di jalan saat menuju ke sini" lanjut Adam


"lalu kenapa kami tidak bisa melihatnya...?" tanya si bapak lagi


"tidak bisa pak, kalau bapak mau lihat bisa dipecat kami pak oleh si bos. masa bapak tega kami jadi pengangguran. aku punya istri loh pak, mau diberi makan apa istriku kalau aku pengangguran" Deva memasang wajah kasihan


"sejak kapan kakak ijab qobul kak Deva" ucap Alana merasa lucu dengan pengakuan Deva


"sudah pak Romi, kita juga tidak berhak tau apa isi kotak itu. kasian nanti kalau mereka sampai kehilangan pekerjaan hanya karena gara-gara kita" ucap Lanang


"baiklah" ucap bapak yang bernama Romi itu


ketiganya bernafas lega yang sejak tadi begitu tegang jangan sampai mereka ketahuan.


"sebenarnya kami datang ke sini memang ingin menjenguk tante Aida tapi kami harus membawa barang-barang ini terlebih dahulu" ucap Vino


"jadi itu bukan untuk ibu Aida...? " tanya pak Romi


"bukan pak, untuk ibu Aida kami telah menyiapkan yang lain. tunggu sebentar" Adam masuk ke dalam mobilnya kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil semua uang yang ada di dalamnya setelah itu memasukkan ke dalam sebuah amplop yang ada di mobil itu. setelahnya ia keluar dan menghampiri mereka.


"ini untuk tante Aida, tolong bapak berikan padanya. dan ini untuk bapak karena telah membantu kami" Adam memberikan amplop itu kepada pak Romi serta juga menyelipkan beberapa uang merah di tangan pak Romi


"lah kenapa di kasih ke saya, bukan kalian saja yang ngasih langsung ke ibu Aida" pak Romi bingung


"kami masih harus ke suatu tempat pak untuk membawa barang-barang ini, nanti kami akan kembali lagi ke sini untuk bertemu dengan tante Aida langsung dan mengambil mobil kami" jawab Adam


Adam memang berniat untuk memberikan rejekinya kepada ibu yang bernama Aida itu setelah mendengar cerita dari pak Romi kalau ibu Aida hidup susah bersama anaknya setelah ditinggal mati oleh suaminya. namun mereka tidak mungkin bertemu dengannya sebab akan terbongkar penyamaran mereka jika bertemu wanita itu karena jelas-jelas ibu Aida tidak mengenal mereka semua. maka dari itu Adam mempercayakan pak Romi untuk memberikan bantuannya itu kepada ibu Aida.


"ya sudah kalau begitu akan saya berikan kepada ibu Aida tapi maaf saya tidak bisa menerima ini" pak Romi memberikan kembali uang yang diberikan Adam untuknya


"tidak apa-apa pak, saya ikhlas memberikan ini kepada bapak" Adam menolak untuk mengambil kembali uangnya


"dan saya juga ihklas membantu kalian. ambillah dan berikan kepada yang lebih membutuhkan"


alhasil Adam mengambil kembali uangnya karena pak Romi tidak mau menerima. dalam hati ketiga remaja itu mengagumi pak Romi yang ternyata tidak seperti kebanyakan orang lainnya.


Lanang dan pak Romi meninggalkan ketiganya, sedang kini ketiga remaja itu masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.


"huuuffttt.... untung belum sempat dilihat tadi" Vino membuang nafas


"tapi kan meski dilihat mereka tidak akan curiga sebenarnya, kan isinya hanya ikan" ucap Furqon


"eh iya juga ya" Deva menggaruk kepala


"ya tetap saja mereka akan curiga, masa ngirim ikan sampai ke tempat jauh begini" timpal Adam


" tapi aku salut loh sama pak Romi tadi, dia benar-benar ikhlas membantu tanpa mengharapkan imbalan " ucap Alana


di tempat rahasia yang ada di rumah kediaman Sanjaya, para perempuan tim samudera tetap setia berada di samping para pengawal untuk memastikan keadaan teman-teman mereka. bahkan kini mereka semua makan di tempat itu. ibu Arini dan para istri pengawal yang telah menyediakan makanan membawakan makanan ke tempat kerja mereka semua.


"makan dulu mas" ucap Mita menghampiri Pram


"iya sayang" jawab Pram


"woi paman, bagi makanannya napa" ucap Leo


mereka yang pergi membantu Adam, El-Syakir dan Furqon dipasangkan alat pendengar di telinga mereka agar mereka semua dapat berkomunikasi.


"iya nih, kami juga lapar tau... pas berangkat tadi kan belum makan" ucap Bara


"makan angin saja kalian, nanti juga kenyang" timpal Adam


"cih, elu aja... kita mah ogah" cibir Leo


"saat kalian pulang nanti, nanti paman traktir makan sepuasnya" ucap Randi


"asik.... paman Randi emang paling the best" Vino girang mendengar ucapan Randi

__ADS_1


"sekarang fokus pada tugas kalian, ingat... pulang dalam keadaan baik-baik saja dan jangan terluka. kalau ada yang ingin mencelakai kalian, hajar saja sampai babak belur" ucap Helmi


"siap paman" jawab mereka


"siap" jawab Furqon dan Ardi


Deva menggantikan Adam untuk menyetir karena Adam mengatakan dirinya lelah. ia bersandar di kursinya dan memejamkan mata.


"jangan tidur Dirga, sebentar lagi kita akan memasuki tempat tujuan" ucap Deva


"aku ngantuk loh kak, aku mau tidur sebentar saja" jawab Adam


kalau begitu aku juga mau tidur ah" Vino mulai membaringkan tubuhnya karena dirinya hanya sendirian di kabin tengah.


alhasil kini tinggal Deva seorang diri yang masih sadar karena dirinya yang mengambil alih kemudi. mereka sudah jauh dari ujung kota tadi dan sekarang akan memasuki hutan wilayah timur. tempat itu ada tempat dimana dulu tim samudera ke kampung Sintia. pegawai toko ayah Adnan yang meninggal karena ledakan besar. mereka pergi bersama ayah Adnan, Randi dan Helmi.


namun kali ini mereka tidak akan sampai di kampung itu, karena sesuai alamat yang diberikan Gibran, mereka hanya akan sampai di perkebunan kepala sawit yang entah siapa pemiliknya. Jacob menunggu kedatangan mereka di gudang perkebunan kelapa sawit.


namun di tengah perjalanan, Deva yang ingin buang air kecil langsung menghentikan mobilnya dan menepi di pinggir jalan.


"udah sampai kak...?" tanya Adam saat membuka matanya


"belum, kebelet aku" Deva keluar dari mobil dan mencari tempat yang aman untuk dirinya


Adam pun ikut keluar dan merenggangkan otot-ototnya. suasana di sekitar itu sangat sejuk karena pepohonan yang rindang dan tinggi.


dari kejauhan Adam melihat Deva datang dengan tergesa-gesa dan bahkan sedikit berlari.


"kenapa kak...?" tanya Adam


"a-ada mayat" ucap Deva dengan ngos-ngosan


"mayat...?"


dengan tergesa-gesa keduanya berlari untuk melihat mayat yang dimaksudkan oleh Deva sedang Vino dibangunkan dan disuruh berjaga jangan sampai ada orang yang mendatangi mereka.


"mana mayatnya kak...?"


"di balik pohon itu"


Deva menunjuk pohon besar di depan mereka tempat ia buang air kecil tadi. mereka mendekat dan di balik pohon itu seseorang dalam keadaan menggantung dengan tali melilit lehernya. sudah pasti orang itu telah mati.


Adam mengambil pisau kecil yang ada di saku celananya. sejak menjadi bagian dari antek-antek Baharuddin, ia selalu membawa benda tajam itu karena sewaktu-waktu dapat dibutuhkan seperti sekarang ini.


"tangkap ya kak"


"iya"


Adam memanjat pohon itu dan dirinya memotong tali yang terikat di batang pohon kemudian orang itu jatuh dan Deva langsung menangkapnya kemudian membaringkan di tanah.


"kak" Adam memanggilnya dari atas sana


"ada apa, ayo cepat turun" ucap Deva


"pasti nggak bisa turun" ucap Leo yang menyahut mereka


"hehehe" Adam cengengesan


"ya salaaaaam"


Deva menepuk jidatnya sementara yang lain mengejek Adam yang bisa naik namun tidak bisa turun.


tidak ada jalan lain, akhirnya Adam melompat dan hal itu membuat dirinya menubruk tubuh Deva yang belum siap untuk menangkapnya.


"lain kali nggak usah turun deh. kamu menggelantung aja di pohon" kesal Deva karena di tindis oleh Adam


"marah-marah mulu kayak emak-emak" cebik Adam


"saranku tidak usah mengurus mayat itu, kalian bisa terkena masalah lain nanti" Pram memberikan usul


"tapi kasian dia kalau tidak di urus" ucap ayah Adnan


"lalu kami tinggalkan saja di sini, kok aku nggak tega ya" ucap Deva


"kalian juga tidak tau keluarganya siapa, lebih baik biarkan saja karena ada hal penting yang harus kalian lakukan" ucap Pram


"emang nggak ada arwahnya ya di situ...?" tanya Melati


"nggak aaa.... da" Adam yang menjawab seketika langsung bisa melihat seseorang yang sedang berdiri di samping mereka


"eh ada" ucap Adam lagi


"tugas baru kayaknya tuh kak, pasti dia mau minta tolong sebelum dia pulang ke alam lain" ucap El-Syakir


Adam saling tatap dengan arwah orang yang sedang terbaring tidak bernyawa di depan mereka.


"tolong" ucapnya lirih


"pemulangan jiwa yang tersesat lagi" ucap Adam


karena mereka tidak mungkin membawa mayat laki-laki itu ke keluarganya, Adam dan Deva sepakat untuk menguburkan laki-laki itu di bawah pohon tersebut. dengan alat seadanya, keduanya menggali tanah kemudian menguburkan mayat laki-laki itu.


"huuuffttt... selesai" Deva melap keringatnya


"maaf ya kami tidak bisa membantumu, kami harus menyelesaikan urusan kami" ucap Adam kepada arwah laki-laki itu


"tuan muda Dirga benar-benar berbicara dengan arwah...?" tanya Pram yang sangat sulit untuk ia percaya

__ADS_1


"kenyataannya memang seperti itu paman" jawab Starla


mereka tidak bisa melihat aktivitas yang dilakukan Deva dan Adam karena mereka tidak mempunyai kamera tersembunyi seperti yang digunakan oleh Furqon.


Adam dan Deva kembali ke mobil mereka. di sana Vino menunggu keduanya di dalam mobil.


"lama banget sih kalian" ucap Vino saat keduanya masuk ke dalam mobil namun tanpa mereka sangka rupanya arwah laki-laki tadi mengikuti mereka dan menembus masuk duduk di samping Vino


"yaaaa salaaaaaaaam" Vino histeris karena kaget arwah itu tiba-tiba sudah berada di dekatnya


Adam dan Deva menoleh dan mereka berdua langsung melihat arwah laki-laki tadi.


"tolong" ucapnya lirih


"heh mas, ngomong kek kalau mau masuk. kaget gue" Vino mengelus dadanya


"dia setan" ucap Deva


"hah...?" Vino melongo


"tolong" ucap arwah laki-laki itu lagi


"bawa aja deh, nanti kita pikirkan cara untuk menolong dia" ucap Adam


"kalian ketemu dia dimana...?" tanya Vino yang sedang menelisik hantu yang sedang bersamanya itu


"di hutan" Adam dan Deva menjawab serempak


Adam kembali menyetir, karena perjalanan mereka belum sampai di tujuan. mereka terpaksa membawa arwah laki-laki itu karena mereka tidak punya waktu untuk mencari tau siapa dan dimana laki-laki itu tinggal.


"kamu kenapa bisa mati di hutan...?" tanya Vino


"aku.... dibunuh" jawabnya dengan bibir yang sudah pucat


Vino dapat melihat leher laki-laki itu yang memerah.


"kamu di cekik...?" tanya Vino


"di gantung" jawabnya pelan


"biadab sekali orang yang melakukannya" Adam geram karena dirinya pernah merasakan bagaimana dulu ia pernah akan dibunuh dan sampai mengalami koma di rumah sakit.


"siapa yang membunuhmu...?" tanya Deva


"dia..... wanita iblis... wanita setan" laki-laki itu seperti ketakutan


Vino dapat melihat ketakutan dalam laki-laki itu. bahkan sudah menjadi arwah saja dirinya masih begitu takut dengan sosok yang telah membunuhnya.


"kamu di bunuh oleh seorang wanita...?" tanya Vino


"dia manusia jelmaan iblis. Baharuddin menumbalkan anakku pada wanita iblis itu. aku harus balas dendam sebelum aku benar-benar pergi. bahkan istriku di bunuh oleh mereka"


ciiiiiit


karena kaget Adam menginjak rem secara mendadak hingga Deva dan Vino terbentur ke depan.


"dia bilang Baharuddin" ucap Nisda yang juga ikut kaget


"apa yang mereka ceritakan...?" tanya Randi penasaran karena yang mereka dengar habuan suara ketiga remaja itu saja dan mereka tidak mendengar suara arwah laki-laki tadi kecuali tim samudera


"laki-laki itu dibunuh oleh Baharuddin" jawab Melati


kaget tentu saja mereka semua kaget. ternyata Baharuddin adalah orang yang begitu jahat dan licik.


"wanita iblis.... rupanya sampai sekarang dia masih meminta tumbal bayi laki-laki" Adam begitu geram


Adam pikir setelah kedua anteknya waktu itu mbah surip dan Samsul di ringkus, ratu Sri Dewi tidak punya lagi orang untuk menyediakan dirinya tumbal namun ternyata Baharuddin yang bersekongkol dengan wanita itu yang kini memberikan tumbal kepada wanita tersebut.


"apa jangan-jangan karena tumbal bayi laki-laki itu sehingga dirinya semakin kuat" ucap Bara


"bisa jadi memang seperti itu. sepertinya Kita akan benar-benar kewalahan untuk melawannya" ucap El-Syakir


"kalian kenal Baharuddin...?" tanya laki-laki itu


"dia adalah orang yang kami incar sekarang" jawab Deva


"apa Baharuddin yang kamu maksud adalah orang ini...?" tanya Adam seraya memperlihatkan gambar yang ada di hp-nya


"iya dia orangnya. dia yang tidak memiliki jari manis dan jari kelingking di tangan kanannya dan mempunyai tato ikan paus


" apakah kamu tidak tau dimana tempat persembunyiannya...?" tanya Adam


"tidak... tapi aku bisa mencari tau. aku ingin sekali mencekik leher laki-laki itu" ucapnya dengan kemarahan yang ada dalam dirinya


Adam, Deva dan Vino saling pandang. sepertinya mereka memikirkan hal yang sama.


"kalau begitu bagaimana kalau kita bekerjasama...?" Deva memberikan tawaran


mereka berpikir mungkin dengan arwah laki-laki itu mereka dapat menemukan keberadaan Baharuddin. karena ratu Sri Dewi dan Baharuddin tidak bisa dilacak keberadaan mereka oleh ratu Sundari. sudah pasti dirinya menggunakan sihir. mereka akan meminta arwah laki-laki itu untuk mengikuti Gibran kemanapun ia pergi karena hanya Gibran yang tau dimana keberadaan bosnya.


mungkin sihir yang dilakukan oleh ratu Sri Dewi hanya berlaku kepada ratu Sundari agar mereka tidak ditemukan. maka dari itu dengan mengikuti Gibran dan mengetahui letak dimana musuh mereka berada, maka selanjutnya mereka hanya perlu memikirkan cara bagaimana menghacurkan tabir gaib yang dipasang oleh ratu Sri Dewi.


"kalian akan membunuh Baharuddin brengsek itu...?" tanya laki-laki itu


"aku yang akan membunuhnya. dendammu akan aku balas dengan membunuhnya" ucap Adam dengan sorot mata yang begitu tajam


"baik.... aku bersedia berkerjasama" ucap laki-laki itu dengan yakin

__ADS_1


__ADS_2