
"katakan padaku siapa pelakunya" Adam menatap dalam ke arah Aldiano
"dia....... saudara kembarku Albian, lebih tepatnya iblis yang merasuki tubuh Albian yang menjadi dalang dari semuanya
" saudara kembar...?"
"iya, aku punya saudara kembar namanya Albian. sebenarnya dia tidak sejahat itu namun semua berawal dari......."
flashback
"jadi papa selama melakukan pesugihan...?" ekspresi kaget dari seorang wanita tidak dapat dielakkan. rasanya sangat sulit untuknya bernafas saat tau suaminya ternyata selama ini bersekutu dengan setan
"papa lakukan semua itu karena untuk kamu juga mah" pria itu mencoba meraih tangan istrinya namun ditepis oleh wanita itu
"tapi bukan seperti itu caranya pah. mama tau mama depresi harus keguguran beberapa kali, bahkan mungkin tidak bisa punya anak lagi karena keguguran itu. tapi bukan dengan meminta kepada setan untuk memberikan kita anak. ya Allah pah, mama benar-benar nggak nyangka papa sampai melakukan hal seperti itu" ada rasa kecewa yang tidak bisa di utarakan
"kalau bukan seperti itu lalu harus dengan cara apalagi untuk menyembuhkan depresi mama. mama harus ingat berkat cara papa kita diberikan anak bahkan dua sekaligus"
"dan karena cara papa itu salah satu anak kita harus menjadi tuan dari setan yang papa pelihara jika papa mati. kalau tau seperti ini dari dulu, lebih baik mama mendekam di rumah sakit jiwa daripada harus membiarkan anakku bersekutu dengan setan"
"jangan seperti itu mah, papa tidak bisa hidup tanpa mama"
"dan mama tidak bisa harus merelakan anakku menjadi budak setan dengan terus mengambil tumbal wanita perawan yang tidak berdosa" sang istri berteriak di depan suaminya. tidak habis pikir baginya kenapa suaminya yang dikiranya alim tenyata menjadi Sekutu iblis
"tobat pah tobat, apa papa tega Aldiano atau Albian menjadi Sekutu setan dan menjadi pembunuh. kita berjuang punya anak bukan untuk menjadikannya pembunuh pah" sang istri mulai berkaca-kaca
"tapi semuanya sudah terlanjur mah, sudah tidak bisa dihentikan. papa sudah mulai sakit-sakitan dan dia sudah menagih janji untuk disediakan wadah baru baginya yaitu salah satu anak kita"
"papa gila benar-benar gila. sampai kapanpun mama tidak akan biarkan iblis terkutuk itu masuk ke dalam tubuh anakku"
"baiklah kalau begitu bawa Aldiano dan Albian pergi dari tempat ini, pergi sejauh mungkin agar papa tidak bisa menjangkau kalian. papa sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi" sang suami menatap teduh mata istrinya
"pasti ada cara untuk mengeluarkannya pah, bila perlu kita panggil ustad untuk menolong papa" sang istri meneteskan air mata
"apa bisa...?"
"bisa jelas bisa, mama akan panggilkan ustad untuk mengeluarkannya" sang istri mengangguk
"maafin papa ya mah, papa sayang kalian bertiga" sang suami memeluk erat istrinya
tanpa mereka sadari, salah satu anak mereka, Aldiano namanya mendengar percakapan keduanya. ia sebenarnya berniat untuk mengetuk pintu kamar orang tuanya dan meminta izin untuk ke luar bersama adiknya Albian namun tanpa di duga dirinya mendengar hal yang tidak terdua dari kedua orang tuanya
"kak lama banget sih" Albian datang menyusul Aldiano
"ssstttt" telunjuk Aldiano ia simpan di bibir adiknya
"ada apa...?" tanya Albian dengan suara pelan
"ayo" Aldiano menarik tangan adiknya untuk meninggalkan kamar orang tua mereka
sepasang suami istri tadi ke luar dari kamar untuk mencari anak mereka dan ternyata kedua anak kembar itu sedang berada di ruang tengah.
"kalian mau main bola...?" wanita yang menjadi ibu mereka mendekati kedua putranya bersama sang suami
"iya mah, boleh kan...?" Albian menjawab
"tentu boleh dong, tapi sebelum itu papa dan mama mau mengatakan sesuatu kepada kalian berdua" ucap sang ibu
Aldiano tidak bicara hatinya sakit dan tidak percaya bahwa pria yang ia jadikan panutan dalam hidupnya ternyata bersekutu dengan iblis.
"mau bilang apa mah...?" tanya Albian
"papa sama mama mau keluar kota untuk melakukan pengobatan kepada papa kalian" jawab sang ibu
"loh emangnya papa sakit apa...?" Albian panik saat ibunya mengatakan kalau ayahnya harus melakukan pengobatan
"sakit biasa aja kok Bi, kamu nggak perlu khawatir" sang ayah tersenyum ke anaknya
"kalau sakit biasa kenapa harus ke luar kota, di sini kan juga bisa" Albian berucap
"nggak apa-apa, sekalian papa mau jalan-jalan. kalian nggak apa-apa kan papa sama mama tinggal...?" sang ibu menatap kedua putranya
__ADS_1
Aldiano dan Albian saat itu baru saja berumur 20 tahun tapi meskipun begitu mereka berdua adalah tetap anak kecil bagi kedua orang tua mereka dikarenakan sifat manja mereka.
"nggak apa-apa mah, Al dan Abi akan tunggu papa sama mama pulang" kali ini Aldiano bersuara
"tapi jangan lama-lama ya, Abi nggak bisa jauh dari papa dan mama" si bungsu mulai merengek
sang ayah beranjak dan memeluk kedua putranya, tanpa terasa air matanya jatuh tak tertahan. terbesit dalam hatinya untuk tetap berjuang dan tidak akan membiarkan salah satu dari putranya menjadi seperti dirinya.
esok harinya Aldiano dan Albian ditinggal pergi oleh orang tua mereka. bukan untuk berobat tapi mereka akan ke tempat ustad terkenal yang menangani hal semacam yang dialami ayah Aldiano dan Albian.
sepasang suami istri ibu Laras dan pak Agung diantar oleh sopir mereka menuju ke sebuah pesantren yang cukup terkenal di kota B. sepanjang perjalanan pak Agung meminta sopirnya untuk mempercepat laju kendaraannya karena dirinya sudah tidak bisa mengendalikan iblis yang sedang memberontak dalam tubuhnya. tentu saja memberontak karena sang iblis tidak ingin dimusnahkan begitu.
lima jam perjalanan mereka sampai di sebuah pesantren yang cukup besar, salah satu milik pesantren teman pak Agung yang sekarang menjadi kiayi.
"keluar dari mobil mah" pak Agung sudah berkeringat dingin
"tahan pah kita sudah sampai, ayo turun" ibu Laras memegang lengan sang suami namun langsung di tepis oleh pak Agung
"papa bilang keluar mah" mata pak Agung tiba-tiba menjadi merah kemudian normal kembali
"pah, papa kenapa...?" ibu Laras panik melihat istrinya
sang sopir keluar dari mobil untuk meminta bantuan karena tuanya butuh pertolongan. di dalam mobil kini mata pak Agung berubah sempurna menjadi merah, bahkan senyumannya membuat ibu Laras meneguk ludahnya.
"wanita sialan, beraninya kamu ingin memusnahkan ku" pak Agung mencekik leher istrinya. suaranya bukan lagi suara pak Agung melainkan suara iblis yang terdengar menakutkan
"p-pah... i-ini mama" mata ibu Laras mulai memerah
"mati kau" pak Agung mencekik dengan keras leher istrinya
"astaghfirullahalazim, pak Agung" seseorang yang berpakaian layaknya ustad membuka pintu dan kaget pak Agung akan membunuh istrinya
sopir tadi berlari ke dalam pesantren dan menuju masjid yang sepertinya seorang ustad sedang melakukan tausyiah. ia meminta tolong kepada ustad tersebut dan segera mereka menuju mobil.
"pak Agung lepas pak Agung"
"jangan ikut campur kamu" pak Agung melihat ke arah ustad tadi dengan tatapan marah
"iblis laknat"
ibu Laras terbatuk-batuk di dalam mobil, nafasnya hampir habis jika ustad tadi tidak datang menolongnya. sang sopir membantu majikannya itu keluar dari mobil dan memberikan air minum.
pak Agung bangun dan menatap tajam ke arah ustad tadi dengan matanya yang merah.
Buuum....
pak Agung memukul tanah dengan tangannya, ustad tadi terpental dan menabrak mobil milik pak Agung.
"ustad" santri dan santriwati teriak histeris
beberapa ustad lainnya datang menolong ustad itu, mereka membantunya untuk berdiri.
"ustad Malik, dia bukan manusia biasa" ustad yang bernama Zaki berucap. ustad tadi bernama Malik
"dia memang bukan manusia karena iblis bersarang di tubuhnya" jawab ustad Malik
"lalu apa yang harus kita lakukan...?" tanya ustad Samir
"kita perlu tali tambang yang kuat" jawab ustad Malik
"aku akan mengambilnya" ustad Firman berlari untuk mencari tali tambang
"apa Kiyai belum akan datang...?" tanya ustad Malik
"sepertinya belum, mungkin besok. kalau ada kiayi kita tidak akan kesusahan seperti ini" jawab ustad Zaki
pak Agung menyerang ke tiga ustad itu, iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya sangatlah kuat namun betapapun kuatnya tidak akan bisa mengalahkan kekuatan pertolongan dari Tuhan.
"ustad Samir, tolong adzan ustad" perintah ustad Malik disela menghindari serangan dari pak Agung
tanpa pikir panjang ustad Samir menghadap ke arah kiblat dan mulai mengumandangkan adzan. sementara para santi dan santriwati disuruh untuk membaca Ayat kursi, surah Al-jin dan asma Allah.
__ADS_1
"hentikan... hentikan kalian semua" pak Agung berteriak dan mengguling dirinya di tanah
ibu Laras menangis pilu melihat keadaan suaminya. pria yang ia cintai itu menutup telinganya dan berteriak kesakitan.
"ya Allah pah" gumam ibu Laras
"aaaaggghhh"
bughh
bughh
bughh
pak Agung menyerang para santri dengan kekuatan iblisnya sehingga mereka terlempar jauh dan bahkan menubruk pagar.
"para santriwati jangan berhenti untuk mengaji" ustad Malik berteriak mengingatkan
meski ada rasa takut namun semua santriwati itu tetap melanjutkan membaca surah yang diperintahkan. ustad Samir pun masih mengumandangkan Adzan dengan suara keras.
pak Agung kembali akan menyerang namun sebuah sajadah dipukulkan ke tubuhnya dan sebuah tasbih melingkar di lehernya. pak Agung pingsan tidak sadarkan diri.
"abah" panggil ustad Malik
"kiayi panggil semua ustad yang lain"
"ikat tubuhnya dan bawa masuk ke masjid" perintah kiayi
"baik kiayi"
tubuh pak Agung digotong oleh beberapa santri dan membawanya ke dalam masjid pesantren. umi Fadilah istri kiayi Mustofa merangkul Laras dan membawanya ke rumah mereka yang ada di samping pondok santriwati.
setelah sholat magrib masjid pesantren di penuhi banyak orang. para santri dan santriwati duduk melingkar bersama kiayi Mustofa, ustad serta istri pak Agung yang duduk di samping umi Fadilah, sedang tubuh pak Agung masih dalam keadaan terikat dan berada di tengah-tengah mereka semua.
"Bismillahirrahmanirrahim, mari kita mulai" ucap kiayi Mustofa
para santri melantunkan dzikir, santriwati mulai mengaji begitu juga dengan beberapa ustad dan ustadzah sedang kiayi Mustofa terus melafalkan asma Allah.
perlahan tubuh pak Agung bergetar dan kemudian terbang ke atas berputar-putar seperti gasing lalu setelahnya tubuh itu jatuh dengan kasar di lantai masjid.
"aaaaggghhh.... hentikan.... hentikan"
suara pak Agung menggelegar di masjid besar itu. tubuhnya yang diikat berputar-putar dan ia terus berteriak meminta agar semuanya menghentikan apa yang mereka lakukan.
ibu Laras sangat kasihan dengan suaminya, air matanya mulai kembali jatuh melihat penderitaan suaminya.
"hentikan.... hentikan"
"mah... tolong papa, sakit mah, sakit" pak Agung menatap nanar ke arah istrinya
Laras hanya terus meneteskan air mata, dirinya tidak dapat berbuat apa-apa bahkan tangannya sekarang di pegang oleh umi Fadilah agar ibu Laras tidak terkena godaan iblis itu.
"fokus bu Laras, dia iblis bukan suami ibu" bisik umi Fadilah saat ibu Laras hendak mendekati pak Agung
"mah... tolong papa" rintih pak Agung
"aaaaggghhh" pak Agung mulai kembali berteriak
kiayi Mustofa mendekati pak Agung dan duduk di kepalanya. ia memegang kepala pak Agung dan membacakan ayat Al-Quran. seketika tubuh pak Agung kejang dan bahkan matanya melotot ke atas, nafasnya tersengal seperti seseorang yang mengalami sakaratul maut.
"Allahu Akbar"
kiayi Mustofa berteriak dan menarik paksa iblis itu dari tubuh pak Agung kemudian memasukkan ke dalam botol yang ia bawa. pak Agung pingsan seketika.
setelah kejadian itu pak Agung mengalami koma di rumah sakit. botol yang berisi iblis tersebut diberikan kepada ibu Laras untuk di buang jauh dari tempat mereka, mengembalikan iblis itu ke tempat asalnya. sayangnya karena kecerobohan dirinya Albian anak bungsunya mendapatkan botol itu dan membukanya dan iblis itu masuk bersemayam ke dalam tubuh Albian.
flashback end
"begitulah kejadiannya. aku meminta tolong agar kamu dan teman-teman mu serta adikmu membantuku untuk menangkap Albian dan membawanya ke pondok pesantren kiayi Mustofa" Aldiano menatap Adam penuh harap
di tempat lain, tepatnya di TPU tim samudera bersiap untuk pulang setelah memakamkan mayat Melani. mereka bergegas untuk menuju kendaraan yang terparkir di luar pemakaman
__ADS_1
"kalian di sini...?" seseorang datang menghampiri mereka dengan senyuman di bibirnya
"pak Aldiano" ucap mereka semua