Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 120


__ADS_3

masih di rumah sakit dengan nuansa cat yang serba putih, tim samudera dan Aldiano duduk di depan ruang IGD menunggu operasi Albian yang belum selesai sampai saat ini.


wajah tampan Aldiano kini sangat kusut, rambutnya acak-acakkan dan bajunya penuh darah, darah dari saudara kembarnya yang sedang berjuang di dalam sana.


tidak ada yang bicara sepatah katapun, semuanya larut dalam pikiran masing-masing.


El-Syakir terus memikirkan bagaimana keadaan Adam sekarang dan juga kedua temannya yang di bawa oleh iblis yang merasuki tubuh Albian.


"kalau begitu setelah ini selesai, kalian jangan lagi berteman dengan mahkluk hina sepertiku"


ucapan Adam terus terngiang di telinga El-Syakir. betapa ia menyesal telah meragukan kakaknya itu yang selama ini selalu melindunginya dari siapa saja yang memerlukan bantuannya.


tiga jam di dalam ruangan operasi, dokter yang menangani Albian akhirnya keluar. Aldiano segera mendekat ke arah dokter muda tersebut.


"bagaimana dokter...?" tanya Aldiano


"operasinya sudah selesai namun pasien masih dalam keadaan kritis, kita berdoa saja semoga pasien cepat melewati masa kritisnya" jawab dokter pria tersebut


pintu ruangan operasi kembali di buka, para perawat sedang mendorong brankar yang di atasnya terdapat seseorang yang sedang berbaring dalam keadaan mata tertutup dengan rapat.


Albian di pindahkan ke ruangan perawatan setelah menjalani operasi. setelah mengecek kondisi Albian, dokter keluar dari ruangan itu dan kini hanya Albian serta saudara kembarnya dan tim samudera.


"mirip banget ya" ucap Vino yang sedang menatap Albian di atas ranjangnya


"namanya juga kembar Vin, jelaslah mirip" Leo menimpali


Aldiano duduk di kursi, di samping ranjang Albian. sedari kecil dimanapun Aldiano berada di situ pasti ada Albian. mereka begitu akur dan hampir jarang sekali untuk bertengkar hingga suatu saat iblis tersebut masuk ke dalam tubuh Albian dan merubah sifat pria itu. namun meskipun begitu ia masih peduli kepada Aldiano, meskipun terkadang iblis dalam tubuhnya selalu mengambil alih tubuhnya.


"Bi" panggil Aldiano dengan lirih


"cepat bangun ya, kakak selalu ada di sini menunggu kamu" lanjutnya lagi


Aldiano kemudian melihat ke arah para siswanya itu.


"sebaiknya kalian pulang, ini sudah jam 22.00 malam, orang tua kalian pasti khawatir di rumah" ucap Aldiano


"apa nggak apa-apa bapak kami tinggal...?" tanya El-Syakir


"nggak apa-apa, terimakasih kalian sudah membantu dan menemaniku" Aldiano berucap tulus


"sama-sama Pak, kalau begitu kami pulang dulu. kami akan datang lagi untuk menjenguk kak Albian" ucap El


"iya, hati-hati dan ini ambillah" Aldiano memberikan sebuah botol berukuran kecil namun tidak juga begitu kecil


"apa ini pak...?" tanya El


"botol ini adalah kurungan iblis tesebut yang diberikan oleh kiayi Mustofa. kalian pasti masih akan menghadapi iblis itu dan kalian butuh ini untuk mengurungnya" jawab Aldiano


"terimakasih pak" El mengambil botol itu dan menyimpan ke dalam tasnya


keempatnya keluar dari ruangan itu. mereka menuju lift untuk turun ke lantai satu karena sekarang posisi mereka berada di lantai empat.


setelah tiba di lobi rumah sakit, mereka berjalan menuju pintu keluar. rumah sakit pada malam hari apalagi sudah pukul 10 malam, membuat gedung besar itu mulai sepi. hanya ada para dokter dan beberapa perawat yang berjaga.


"kalian pulang saja, gue mau ke tempat yang tadi" ucap El


"ngapain ke sana El, udah malam. lagian Adam juga nggak ada di sana" Bara menimpali


"siapa tau kan saat keluar dari portal, mereka keluar di tempat itu. kalau kalian nggak mau pergi, gue akan pergi sendiri" ucap El


"ya nggak mungkinlah kita biarin elu pergi sendirian. kita akan ikut" kali ini Leo yang bicara


mereka pun meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke tempat rel kereta api tadi. mereka bukan anak remaja yang mempunyai kekuatan sakti dan ilmu sihir seperti Adam. mereka hanyalah anak remaja yang mempunyai penglihatan khusus dan bermodalkan keberanian meskipun pada akhirnya mereka selalu takut.


kini mereka tiba di tempat tujuan. angin malam berhembus menerpa kulit mereka. masih menggunakan seragam sekolah, sebagai penghangat tubuh mereka.


tidak ada siapapun di tempat itu, bahkan warung makan yang berada di sebrang sana sekarang sudah tutup. hanya suara binatang malam dan angin malam yang berhembus menemani mereka.


"apakah kita perlu meminta bantuan kepada ratu Sundari...?" Vino bertanya


"mau meminta bantuan bagaimana, tempatnya sangat jauh" Leo menjawab


"iya juga sih" ucap Vino


"kita tunggu saja di sini. aku yakin kak Dirga pasti akan muncul di sini" El menatap lurus ke depan

__ADS_1


"elu khawatir padanya, padahal tadi kamu meragukannya bahkan memanggilnya dengan makhluk yang hina" Bara berucap


"gue menyesal telah berbuat seperti itu" jawab El


"sudah berbulan-bulan kak Dirga bersama kita dan elu ternyata mencurigainya seperti tadi. kak Dirga pasti sakit hati dan kecewa padamu" lanjut Bara


"iya, dia pasti kecewa dan gue sangat menyesal" jawab El


"sebenarnya gue sangat menyayangkan elu bersikap seperti tadi El. kita tau Adam bagaimana, rencana yang ia buat tidak sekalipun gagal meskipun kita harus berjuang terlebih dahulu. banyak manusia yang sudah kita selamatkan dan di bantu oleh Adam, bagaimana mungkin dia akan membunuh seseorang sementara selama ini dia yang membantu orang lain agar tidak celaka" kali ini Vino angkat bicara


El tidak menjawab. benar apa yang dikatakan Vino, bagaimana mungkin Adam akan membunuh sementara selama ini dia yang selalu menyelamatkan seseorang ketika dalam bahaya.


"eh apaan tuh...?" Leo menunjuk ke sebrang sana yang terlihat seperti lingkaran yang bercahaya


mereka semua saling pandang dan setelahnya berlari secepat mungkin agar bisa sampai di lingkaran itu karena perlahan cahaya lingkaran itu akan hilang begitu juga lingkaran tersebut.


di tempat lain Adam menatap sekitarnya, dirinya sekarang sudah tidak berada lagi di rel kereta api melainkan sudah berada di tempat yang sangat asing baginya.


Adam berada di sebuah hutan yang luas. keadaan gelap tapi bukan gelap gulita melainkan auranya sangat kelabu dan sendu. Adam tau kalau dirinya bukan berada di hutan yang ada di dunia melainkan ia berada di hutan alam gaib.


keris larangapti masih ada di tangannya. ia memegang erat senjata pusaka itu, dirinya melangkah perlahan menyusuri hutan yang sama sekali tidak ada manusia di tempat itu, begitu juga dengan makhluk gaib. sunyi dan sepi, seperti kuburan.


Adam melangkah menggunakan instingnya kemana ia harus pergi. kemudian di depan ia mendapatkan dua arah jalan, satu ke arah kanan dan satunya ke arah kiri.


dengan menimbang-nimbang jalan mana yang harus dirinya ambil, akhirnya ia mengambil jalan ke arah kanan namun kemudian langkahnya terhenti dan kembali lagi ke titik dimana ia menemukan kedua jalan itu.


"sepertinya jalan kanan adalah tempat keluar dari hutan ini" ucapnya dengan yakin


"dan kiri adalah tempat yang membuat siapapun akan semakin tersesat"


Adam menancapkan keris larangapti di jalan kiri, kemudian dirinya berbalik melihat di belakangnya. kemudian ia kembali menghadap ke arah depan.


setelahnya ia melangkah dengan yakin mengambil jalan kiri sedang keris larangapati ia tinggalkan di tempat itu, mungkin ada sesuatu hal sehingga keris itu ia tinggalkan di sana.


tadinya tidak ada satupun makhluk halus namun sekarang Adam mulai merasa banyak pasang mata yang sedang mengawasinya, ia dapat merasakan itu.


diawasi seperti itu tentu tidak akan membuat Adam takut. ia bahkan terus melangkah hingga di depannya berdiri seorang anak kecil dengan rambut gondrong, mata berwarna hijau dan mempunyai gigi taring.


anak kecil itu yang berumur seperti Bayu berdiri tepat di depan Adam. ia tersenyum ke arah Adam kemudian berlari ke arah Adam dan memeluk kaki Adam.


"mainnya nanti saja, kakak harus pergi" Adam melepaskan pelukan anak itu di kakinya


anak itu terus memaksa untuk bermain namun Adam tidak meladeninya hingga akhirnya anak kecil itu marah dan kini dirinya berubah. anak kecil itu berubah menjadi wujud yang menyeramkan. ia kini berubah menjadi besar dengan taring yang tajam, mata hijau yang tajam dan rambut gondrongnya yang berantakan.


"ayo main" ajaknya lagi namun kali ini suaranya sangat terdengar menyeramkan


"main saja sendiri" jawab Adam yang kemudian pergi meninggalkan makhluk itu


"main" ucapnya lagi dengan suara yang menggelegar


Adam tidak mempedulikannya sehingga makhluk itu menyerang Adam dengan mencakar bahunya membuat bahu kiri Adam terluka.


bughh


satu tendangan ia layangkan ke perut makhluk itu membuat makhluk itu menghantam pohon dan mendarat dengan kasar di tanah.


kini makhluk itu kembali menjadi kecil seperti sebelumnya dan menangis dengan kencang. tangisannya mengundang dua makhluk yang berbadan besar dan bentuk mereka sama seperti anak kecil itu.


keduanya terlihat marah, sepertinya anak kecil itu adalah anak mereka. keduanya menyerang Adam dan pertarungan pun terjadi, dua lawan satu.


"lah dimana nih kita...?" tanya Vino saat mereka malah tiba di tengah hutan di saat memasuki lingkaran cahaya tadi


"ini hutan, gitu aja nggak tau" jawab Leo singkat


"ck, gue juga tau kalau ini hutan" kesal Vino


"terus ngapain nanya" jawab Leo lagi


"Le berantam yuk" ucap Vino. ia kesal Leo menjawab asal pertanyaannya


"bisa diam nggak sih" ucap El


"oke" jawab Leo dan Vino


mereka berjalan menyusuri hutan itu. sangat terasa aura yang begitu mistis di hutan itu. sangat sepi tanpa ada seorang pun manusia.

__ADS_1


"kayaknya kita berada di dimensi lain lagi" ucap El dan tidak ada yang menjawab ucapannya


"tempat ini aneh kan, kayaknya kita memang berada di alam lain" lanjut El lagi dan tidak ada sama sekali yang menjawabnya


"kalian kenapa sih, diam aja dari tadi" El melihat ketiga sahabatnya


"lah tadi elu suruh kita diam, gimana sih" Leo menyahut


"ho'o" jawab Vino yang merapat ke tubuh Leo karena takut


"ya maksud gue diam dan jangan berisik bambang, bukan diam nggak mau bicara lagi" El kesal kepada kedua sahabatnya itu


"oooooh" Leo dan Vino manggut-manggut


"diam" kali ini Bara yang berbicara


serentak ketiganya diam dan melihat ke arah Bara.


"ada dua arah jalan, kita mau ambil jalan yang mana...?" tanya Bara


mereka sekarang telah berada di jalan yang ditemui Adam tadi. jalan ke arah kanan dan jalan ke arah kiri.


"kanan aja gimana...?" ucap Leo


"gue kiri" ucap El


"kanan atau kiri...?" tanya Bara lagi


"dua-duanya aja deh. kita bagi kelompok. gue sama Bara ke arah kiri dan Vino sama Leo ke arah kanan. bagaimana" El memberikan ide


"nggak mau gue, kita nggak boleh mencar gitu. kita harus bersatu padu dalam menghadapi masalah" Vino menggeleng cepat


"alah bilang aja lu takut" cibir Bara


mereka bingung harus mengambil jalan arah yang mana, hingga akhirnya Bara yang berada di jalan kiri tanpa sengaja menginjak sesuatu di bawah kakinya.


"apaan nih" Bara mengambil sesuatu yang diinjaknya itu


"El, ini kan keris..... " Bara menunjukkan keris itu kepada El


"kita ke arah kiri" El mengambil keris itu dan seketika keris itu masuk ke dalam tubuhnya


pertarungan Adam dan dua makhluk tadi masih berlangsung sengit. anak kecil yang mengajak Adam bermain bertepuk tangan melihat pertarungan orang tuanya dan Adam.


bughh


satu tendangan mendarat di perut Adam. ia terseret beberapa langkah ke belakang. penghuni hutan itu melihat aksi ketiganya dan bahkan mereka ingin menyerang Adam juga.


"berani kalian maju, ku bunuh kalian semua. kalian pikir aku takut dengan setan lemah seperti kalian. kuku tajam ku bisa merobek perut dan tubuh kalian" Adam berucap dengan aura yang menakutkan membuat semua penghuni hutan mengurungkan niat mereka


"kalian berdua mengganggu saja" ucap Adam menatap dua lawannya yang ada di depannya


keduanya kembali menyerang Adam. Adam merubah bentuknya dengan kuku tajam dan mata merahnya. ia menghindari serangan dan melesat ke arah anak kecil tadi kemudian mencekik lehernya.


"berani kalian maju, ku patahkan lehernya" ancam Adam


kedua makhluk itu tidak lagi menyerang Adam, mereka takut anak mereka akan dihabisi oleh Adam.


"aku tidak berniat bertarung tapi kalian yang mulai. aku datang ke sini untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yang di kurung dan kedua temanku"


"akan aku lepaskan anak ini namun kalian tidak boleh lagi menyerang ku dan membiarkan aku pergi"


kedua makhluk itu mengangguk. Adam melepaskan anak kecil itu dan kemudian memegang bahunya.


"ayo main" ajak anak kecil itu


sepertinya ancaman Adam tadi tidak membuatnya takut dan malah mengajak Adam kembali bermain.


"bermain bersama orang tuamu. aku harus pergi"


Adam meninggalkan tempat itu. ia harus menemukan jiwa-jiwa yang di tahan oleh iblis itu dan juga menyelamatkan kedua temannya. Adam yakin keduanya belum mati hanya saja pasti di tahan oleh iblis tersebut.


rupanya di depan sana, sang iblis ternyata sudah menunggunya. rupa dengan kedua tanduk di kepalanya. matanya yang merah dan lidah yang panjang sampai di dadanya serta taring yang tajam dan telinganya yang panjang. siapapun manusia yang melihatnya pasti akan sangat ketakutan. tapi sepertinya pak Agung yang bersekutu dengan iblis tersebut tidak mempunyai rasa takut, buktinya iblis musuh manusia itu ia sembah hanya untuk mendapatkan keturunan yang seharusnya ia meminta kepada sang Pencipta.


iblis itu tidak sendirian, ia sedang mencekik seorang gadis, gadis yang sangat Adam kenal dan bahkan sudah lama mereka tidak bertemu. betapa kagetnya Adam saat tau gadis itu menjadi sandra dari sang iblis, bukan hanya kedua temannya.

__ADS_1


__ADS_2